Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Curhatan Sahabat


__ADS_3

"Kamu mau makan apa?"


"Apa aja. Aku sudah boleh makan apa aja kok."


Mendengar ucapan Mimin, Lydia baru ingat kalau wanita itu sebenarnya masih dalam tahap menjaga pola makan.


"Astaga Mimin, pantasan kamu kemarin beli bakso lebih makan baksonya aja tanpa kuah, itu pasti kami masih..."


"Tidak apa-apa sekali-kali kalau terlalu taat malah nanti tubuhnya jadi manja." Mimin yang tahu Lydia merasa bersalah karena mengajak makan bakso pun langsung memotongnya.


"Maaf yah, aku lagi-lagi ngacak-acak jadwal menu makan kami." Lydia merasa bersalah sekali karena justru mengajak makan ke restoran yang pasti makananya tidak sesuai dengan makanan yang Mimin harus konsumsi.


"Santai saja aku bisa riquest masakanya kok. Aku juga sering sama Mas Ha...." Mimin langsung menghentikan ucapanya dan langsung memanggil pelayan.


"Kenapa kaya ada yang di tutupi?" tanya Lydia mengorek informasi dari Mimin yang seperti ada yang sengaja dirahasiakan dari Lydia.


"Tidak ada, bukanya kamu tadi bilang kalau sudah lapar, ayo pesan dan segera makan lalu cari ikan untuk Iko." Mimin mencoba mengalikan topik obrolan.


"Min, kamu ada apa sih sekarang kaya tidak percaya sama aku, apa kamu takut kalau aku nanti bakal nikung kamu, dan Hadi?" tanya Lydia yang bermaksud menyindir.


"Apaan sih, Ingat Aarav dia sudah cinta mati sama kamu, dan ingat di perut kamu ada dua nyawa masa mau nikung Hadi."


"Abisan kamu kaya takut banget kalau cerita sama aku, apa jangan-jangan kamu sudah ehem-ehem sama Hadi?"


"Apa sih Lyd, jangan sebar gosip deh. Aku masih hubungan teman, buruan mau pesan apa, tuh mbaknya sudah nungguin." Mimin kembali mengalihkan obrolan Lydia yang makin ngaco. Lydia pun mengikuti apa kata Mimin segera memesan makanan, lalu kembali menatap Mimin yang sejak tadi tampak sibuk dengan ponselnya.


"Siapa, Hadi?"

__ADS_1


Mimin mengangkat wajahnya. "Handan."


Setelah membalas pesan Handan, Mimin kembali meletakan ponselnya di atas meja. "Sebenarnya aku, pengin tanya ke kamu Lyd, tapi enak nggak yah kalau ngomong di sini?" Mimin mengedarkan pandanganya di mana tempat ini cukup rame.


"Enakin aja, lagian kamu ngomong juga nggak akan pake toa jadi nggak akan ganggu orang lain, dan hanya aku yang dengar. Udah cerita aja kaya sama siapa aja. Ini tentang siapa, Hadi, Handa, David atau malah Wijaya." Lydia sengaja menyebutkan nama kakek tua yang sangat menyebalkan itu.


"Bisa nggak jangan bawa-bawa kakek tua itu, jujur jadi malas makan." Mimin memberikan tatapan jengah.


"Iya-iya bercanda. Jadi tentang siapa?" tanya ulang Lydia yang makin penasaran.


"David. Handan sudah tiga kali ini meminta aku datang menemui David katanya ada yang ingin David katakan berdua dengan aku, tetapi aku jujur masih marah, kesal dan kecewa sama ayahnya Iko, tapi aku juga sudah banyak dengar cerita tentang David terutama niat dia yang hijrah, aku jujur takut Lyd..." Suara Mimin melemah.


"Kamu takut apa takut disakiti oleh David lagi, atau takut karena kamu masih ada rasa dengan laki-laki itu?" Yah, meskipun Mimin tidak pernah mengatakan kalau dia masih mencintai David, tetapi sebagai wanita Lydia kalau dalam hati Mimin masih ada rasa cinta pada laki-laki yang hampir membunuhnya.


Mimin menunduk mendengar pertanyaan Lydia. "Melupakan orang yang sudah lama mengisi hati itu tidak semudah yang aku bayangkan. Meskipun aku sudah berulang kali mengingat keburukanya tetap saja kalau membahas dia hati ini masih merasakan ada yang aneh. Aku takut kalau lihat dia berubah baik hatiku yang sudah aku bentengi malah kembali jatuh ke lubang yang sama."


"Kalau gitu kamu harus mencoba mengisi hatimu dengan laki-laki yang lain."


Untuk sesaat di antara Lydia dan Mimin terlibat kebisuan.


"Kamu nggak suka Hadi, dia baik dan setia?" tanya Lydia dengan serius.


"Dia terlalu sempurna untuk aku, aku tidak tahu di mana kurangnya laki-laki itu, sedangkan aku adalah hamba yang penuh dengan scandal. Bahkan aku sampai bingung dalam diriku semuanya terlibat masalah, termasuk, keluarga, dan diri sendiri."


Lydia menggenggam tangan Mimin memberi kekuatan. "Kalau menurut aku lebih baik dicintai Min, dari pada kita mencintai, karena kalau dicintai kita akan mudah jatuh cinta kalau kita yang mencintai biasanya lebih banyak sedihnya."


"Tapi Hadi terlalu sempurna, aku takut dia nanti akan kecewa kalau tahu berapa buruknya aku."

__ADS_1


"Sebelum Hadi dekat dengan kamu sebelumnya dia sudah cari tahu kamu jadi, aku rasa dia sudah tahu banyak tentang kamu."


"Jadi kamu lebih setuju Hadi?" tanya Mimin. Akhirnya wanita itu mendengarkan nasihat Lydia dan Aarav. Bahkan bukan hanya Lydia dan Aarav saja yang menasihati Mimin, tetapi Mami Misel pun dengan sabar memberikan dukungan pada Mimin, di mana wanita itu masih sangat muda dan masih bisa mendapatkan jodoh dan memulai hudup baru dengan keluarga kecilnya. Mimin dan Lydia berbeda empat tahun di saat Lydia usia tiga puluh tujuh tahun, maka Mimin usianya baru tiga puluh tiga tahun, masih sangat muda untuk memulai percaya pada laki-laki lagi.


"Bukan karena aku lebih dekat dengan Hadi yah, tapi bagi aku jauh lebih bisa menghormati wanita itu Hadi, mungkin David tobat tetapi kita tidak tahu keluarganya, jadi jangan berpikir yang penting David yang berubah, kedua orang tuanya pun harus mendukung hubungan kalian. Kalau aku lihat keluarga Hadi lebih terbuka, termasuk Handan, bahkan dia sama kamu cukup akrab, ada kemungkinan keluarganya juga menerima kamu dengan baik. Itu juga dipertimbangkan Min. Apalagi kamu sudah punya Iko jadi yang sayang sama Iko, dan bisa menjadi ayah yang bisa mengerti Iko, aku rasa Hadi masuk juga, bahkan dia laki-laki yang baik pada Iko, sebelum ia kenal dengan kamu loh, Jadi sudah baik dengan anak kamu."


Mimin mengangguk dengan lemah tanda ia bisa mengerti apa yang Lydia katakan.


"Terus masalah David yang ingin bertemu Iko, menurut kamu gimana?"


"David ayahnya Iko, sampai kapan pun, jadi jangan kamu tutupi fakta itu, kamu ada masalah dengan David tapi Iko tidak, kalau kata aku sama dengan Mas Aarav biarkan Iko tahu siapa ayah kandungnya sama dengan ibu kandungnya dia juga tahu. Seiring berjalanya waktu dia akan memahami apa yang terjadi dengan keluarganya. Dan malah dia banyak yang menyayanginya."


"Aku takut kalau dia akan ambil Iko." Mimin kembali menunduk.


"Itu tidak mungkin Mimin, mengambil Iko tidak semudah itu, apalagi David sekarang tidak punya power lagi, dia akan sulit mengambilnya, dari pada mengambil lebih baik bersikap baik karena kalau baik dia bisa bertemu kapan pun dia mau. Itu yang aku dengar dari Mas Aarav."


Mimin menghirup nafas lega dan dalam.


"Kalau  gitu, aku izinkan kalian pertemukan Iko dengan David," ucapnya dengan suara lirih.


Lydia mengerutkan keningnya. "Kok kami, kenapa tidak kamu saja. Aku pertemukan Iko dengan David tetapi setelah itu kamu jangan terlibat urusan lagi, dan kalau David mau bertemu dengan Iko lewat kuasa hukumnya dan kuasa hukum kamu baru ada pertemuan. Aku disini hanya sarankan Min, kamu ibunya dan David ayah Iko, lebih baik kalian tetap baik-baik meskipun tidak lagi bersama."


Mimin mengembangkan senyuman manisnya. "Tapi kamu ikut yah, aku gak mau hanya berdua dengan Iko."


"Itu bisa diatur. Sekarang makan dulu, udah lapar kan."


Dua sahabat itu pun menikmati makan siang yang tertunda dengan sesekali terlibat obrolan yang entah membahas apa saja, tapi mereka sesekali mengulas senyum dan tak jarang terdengar tawa renyah.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2