
Dalam hati Lydia tidak henti-hentinya mengucapkan syukur karena bisa kembali makan bersama dengan keluarganya di kampung halaman. Meskipun masih ada yang kurang, karena tidak adanya adik-adiknya, tetapi setidaknya ia bisa mengobati rasa rindunya. Toh sejak dulu memang ia sangat jarang makan bersama dengan keluarga lengkap dengan adik-adiknya, kecuali ketika masih kecil-kecil, ketika beranjak dewasa persodaraan dengan adik-adiknya tidak seberuntung orang lain.
Makan bersama pun dikagetkan dengan bunyi ponsel Rubi dan tidak lama bunyi ponsel Isah, seolah sedangkan bersaing keras. Lydia pun tidak terlalu memperhatikanya ia sedang menikmati makanan yang diolah oleh sang ibu.
"Sebentar yah Mbak ada telpon." Isah bersamaan dengan Rubi pamit ke belakang. Lagi-lagi Lydia tetap fokus dengan makanannya. Wanita yang tengah berbadan tiga hanya membalas dengan anggukan sabar dan senyum tipis.
*******
[Lyra, di rumah ada Mbak kamu dan suaminya. Kamu mulailah minta maaf dengan Mbak kamu, Ibu mohon jangan kaya gini, kamu juga terutama harus minta maaf sama Lyka, dia paling sakit dari yang kamu lakukan. Ibu mohon sebelum Ibu dan Bapak pergi kamu perbaiki hubungan dengan kakak-kakak kamu. Kamu yang mulai permusuhan dalam sodara kita, jadi kamu juga yang harus mengakhirinya." Isah kembali menasehati putri bungsunya. Isah tahu Lyra memang tidak bisa dikerasi, sehingga berbicara pun harus lemah lembut.
[Tapi, Lyra malu Bu, bagaimana kalau nanti Mbak Lydia dan Lyka tidak memaafkan Lyra?] tanya Lyra dengan suara liriknya.
[Tuhan saja maha pemaaf jadi Ibu yakin mbak kamu juga akan maafin kamu. Setidaknya kamu harus coba dulu.] balas Isah memberikan kekuatan lagi.
[Baiklah Bu, Lyra akan minta maaf pada Mbak Lydia, dan Mbak Lyka.]
Mendengar kesanggupan Lyra untuk minta maaf hati Isah pun lega. Wanita itu kembali ke ruang makan masih dengan sambungan telepon yang masih nyala.
Begitu pun Rubi yang mengangkat telpon dari anaknya Lyka.
[Lyka, di rumah ada Mbak Lydia dan suaminya, dan Lysa juga sedang telepon. Kamu mulailah mencoba memaafkan Lysa, adikmu sudah ingin meminta maaf sama kamu, Lyka. Bapak mohon jangan kaya gini, kamu juga terutama harus memaafkan sama Lyra, beri kesempatan untuk Lysa memperbaiki kesalahannya. Bapak mohon sebelum Ibu dan Bapak pergi kamu perbaiki hubungan dengan adik kamu. Bapak tidak ingin ada permusuhan dalam sodara kita, jadi kamu dan Lysa juga yang harus mengakhirinya. Bapak tahu kamu sangat sakit, tapi apa salahnya memberikan kesempatan pad adik kamu untuk bertobat dan memaafkan adik kamu." Rubi kembali menasehati putri ke duanya. Rubi tahu luka yang Lysa tingglkan untuk Luka sangat dalam tetapi tidak ada salahnya mencoba membuka pintu maaf.
__ADS_1
[Tapi, Lyka memaafkan Lyra pun tidak bisa langsung maafkan Pak, luka itu sulit dihilangkan,] jawab Lyka dengan jujur. Maafkan mungkin bisa untuk Lyka tetapi tidak dengan hubungan yang dekat seperti dulu.
[Tuhan saja maha pemaaf jadi Bapak yakin kamu juga akan maafin Lyra. Setidaknya kamu harus coba dulu. Bagaimanapun hasilnya nanti serahkan pada Alloh.]
[Baiklah Pah, Lyka akan coba memaafkan perbuatan Lyra.] Mungkin ini yang. lebih baik untuk keluarganya., itu yang Lyka pikirkan.
Mendengar kesanggupan Lyka untuk memaafkam Lyra, hati Rubi pun lega. Laki-laki itu kembali ke ruang makan menyusul istrinya yang lebih dulu kembali, tentunya masih dengan sambungan telepon yang masih nyala.
*****
"Lydia, Lyra ingin bicara sama kamu." Isah memberikan ponselnya di mana di sana ada gambar Lyra yang sebenarnya sudah mulai belajar memakai hijab.
Mendengar ucapan ibunya untuk sesaat Lydia terkejut, senang, sedih, kaget campur jadi satu. "Apakah ini tandanya hubungan kami akan seperti dulu yah Alloh," batin Lydia, belum berbicara dengan sang adik, tetapi Lydia sudah berkaca-kaca.
Tanpa menunggu lama Lydia pun menerima telpon sang ibu.
"As'salamuallaikum ...] sapa Lydia setelah beberapa kali menenangkan diri dan menghirup nafas dalam.
"Wa'alaikumussalam ..." balas Lyra dengan suara lirinya.
[Mbak, Lyra mau minta maaf, terserah Mbak maafin Lyra atau tidak, tapi Lyra benar-benar minta maaf.] Suara Lyra pun langsung berubah. Lydia bisa mendengar isakan dari adiknya.
__ADS_1
[Mbak sudah maafin kamu jadi kamu jangan kaya gini Mbak udah maafin kamu Dek.] Lydia sangat senang karena pada akhirnya ia bisa kembali akur dengan adik-adiknya. Bukan hanya hubungan dengan Lyka, Lysa yang sebelumnya sudah terjalin cukup baik, kini Lyra pun meminta maaf dengan bersungguh-sungguh sehingga Lydia sangat senag.
[Mbak harap setelah kamu keluar dari pondok, kamu akan jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.]
[Amin ....]
Tidak hanya pada Lydia, Lyra pun meminta maaf pada Lyka. Awalnya Lyka tidak mau apabila berbicara dengan adiknya yang sudah diam-diam menjalin hubungan dengan suaminya tetapi setelah beberpa kali dinasihati oleh Rubi, Lyka pun akhirnya luluh mau memaafkan Lyra. Meskipun mungkin setelahnya akan tetap ada jarak setidaknya Lyra sudah berani meminta maaf pada kakaknya. Di mana butuh waktu dua tahun lebih untuk memberanikan diri meminta maaf pada kakak-kakaknya.
Tidak sia-sia Lydia pulang kampung karena pada kenyataanya dia mendapatkan apa yang dia harapkan selama ini. hatinya sangat tenang ketika kini hubungan dengan adik-adiknya sudah membaik.
Tuhan memang memberikan cobaan yang berat, tetapi Tuhan juga tidak pernah meninggalkan hambanya. Tuhan selalu menemani setiap hambanya sampai mendapatkan jawaban atas doanya.
**Kehendak** **dari Alloh**
*Tidak ada daun yang jatuh atas kehendak-Nya. Tidak ada ranting yang patah atas kodrat-Nya. Begitu pula nasib dan jalan hidup manusia atas takdir-Nya. Masa lalu adalah sekenario-Nya. Masa sekarang adalah rasa syukur atas karuniakan-Nya. Sekali lagi kelopak mataku mulai menghangat. Air mata bahagia tengah mengukir cerita memori yang indah. Sebuah goresan bernama kenangan kembali terurai dalam memori ini. Bahagia yang sempat Engkau renggut dari ke*hidupku. Kini telah Engkau kembalikan sebagai hadiah atas semua kesabaran kami. Aku pernah sangat sabar saat diinjak-injak harga dirinya, aku juga sabar saat diperolok. Namun hari ini Tuhan hadiah kado yang sangat berharga. Kado yang aku sendiri membayangkannya terlalu lancang. Namun sekali lagi Tuhan berkata tidak ada yang tidak mungkin selama Tuhan berkehendak.
*********
Untuk kisah Lydia sampai sini dulu yah. Kalau ada yang tanya kok Lydia sudahan kan belum lahiran?
Tenang novel ini masih berlanjut insyaAlloh satu bulan lagi, tetapi untuk episode berikutnya mau fokus di kisah Mimin, Lydia nanti akan tetap dibahas hanya tipis-tipis saja. Di episode berikutnya akan selesaikan konflik Mimin terutama dengan keluarganya dan jodoh barunya apakah dengan sultah Hadi atau kembali alias CLBK dengan David?
__ADS_1
Nanti untuk louncing anak-anak Aarav akan tetap dilanjut.
Terima kasih untuk yang sudah ikuti novel ini sampai kisah Lydia selesai, othor ucapkan terima kasih tambahan buat yang masih mau lanjut ke kisah Mimin, semoga bisa menghibur, kurang dan lebihnya othor minta maaf tidak ada yang sempurna dalam hidup ini termasuk othor.