Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Bayi Gede


__ADS_3

Aku kembali terenyuh ketika melihat pemandangan yang menyejukkan hati. Sungguh Tuhan sangatlah baik dengan hidupku ini. Dengan hadirnya Iko di tengah tengah keluarga kecil yang baru seumur jagung ini, aku seolah merasakan bahagia yang tiada henti. Contohnya hari ini, hari pertama Iko datang ke rumah ini, mas suami dan juga keluarganya menyaambut dengan antusias.


Ketakutankau kalau Iko tidak diharapkan dalam keluarga ini, nyatanya tidak sama sekali terjadi, justru kedatangan Iko bak segelas air di tengah-tengah rasa dahaga yang melanda. Sangat berarti dan juga membuat semua bahagia. Tanpa terasa aku merasakan kelopak mataku menghangat ketika melihat bayi kecilku tidur tengkurap di atas dada mas suami.



Mas Aarav pun seolah sangat pandai membuat Bayi Iko nyaman, buktinya dengan di letakan di atas dadanya sudah tenang dan tidak rewel. Padahal aku sudah bersiap-siap kalau malam datang kata dokter Sera, Baby Iko akan sedikit rewel, nyatanya semuanya tidak terjadi Baby Iko tetap anteng, bangun sesekali ketika lapar dan haus, setelah itu bermain sebentar lalu tertidur lagi.


"Mas... udah makan belum?" tanyaku dengan mengusap lembut rambut mas suami.


Mas Aarav pun yang ternyata belum tidur langsung membuka matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Coba Bun, lihat Iko bobo tidak?" tanya Mas Aarav yang memang wajah Iko menghadap selain arah seolah malu kalau dilihat. Aku pun terkekeh ketika mengintip wajah bayi mungilku.


"Tidak mas lagi mainan jari-jari. Matanya kedip-kedip," ucapku sembari menirukan mata bayi Iko.


"Oh ya Tuhan, Mas pikir dari tadi bobo, makanya Mas ikut pura-pura bobo juga ternyata dia udah pintar ngeprank." Kami pun tertawa bersama, dan lagi-lagi bayi Iko tidak terganggu dengan suara kami.


"Mas mau makan di sini atau ke bawah?" tanyaku yang tahu kalau mas suami itu mager. Sejak punya mainan baru mas suami sangat malas untuk bergerak inginnya selalu dengan Iko.


Mas Aarav pun menunjukan gigi-giginya dengan nyengir kuda. "Kalau makan di sini kena marah nggak sama Bunda?" tanya Mas suami, sesuai tebakanku kalau mas bojo mager untuk ke bawah.


"Eh... kira-kira enaknya dimarahi atau dihukum yah." Aku mengetuk-ngetuk jari telunjuk di keningku.

__ADS_1


"Kayaknya dihukum lebih bagus Bun, kalau gitu Mas mau makan di sini saja. Maaf yah Sayang minta tolong ambilkan makan malam. Baby Iko tidak mau kalau Mas pergi," elak mas suami dengan menunjukkan wajah sedihnya.


Aku pun karena hari ini sedang mode bahagia yang pake banget tanpa pikir panjang langsung menuruti apa yang jadi keinginan mas suami.


"Kalau gitu, Lydia ke bawah dulu yah ambil makan. Jagoan, Bunda ke bawah dulu yah ambil makan untuk Papa. Jagoan jangan rewel." Aku memberikan kecupan hangat di pipi mulus baby Iko.


"Bun, Papah nggak dicium? Nanti iri loh," tanya Mas Aarav dengan menunjuk pipinya. Semakin seru ketika punya suami yang irian.


"Ya elah Pah, cuma cium doang masa iri," jawabku ketika aku sudah berdiri dan siap melangkah ke dapur.


"Tetap saja loh Bun, iri ini Papah, masa jagoan dapat puisi, dapat cium juga. Papahnya hari ini kurang vitamin, lemes," jawabnya dengan  menunjukan wajah masam. Aku pun kembali berjalan ke arah mas suami dan mencium pipinya kanan dan kiri dengan gemas.


"Udah yah itu pake bonus juga," balasku setelah memberikan bonus yang manis di bibir manis mas suami.


Aku pun hanya menggelengkan kepala dengan pelan, seru sih menjalani rumah tangga ini. Banyak sekali kejutan-kejutan yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan sebelum menikah. Apalagi sejak adanya anak di tengah-tengah keluarga kecil ini rasanya aku sekarang bingung mau meminta apa lagi sama Tuhan, karena Tuhan sudah menghadiahkan apa yang aku minta bahkan jauh dari pemikiranku.


Pikiranku jadi teringat Mimin, mungkin kali ini aku akan mengencangkan doa pada Tuhan, agar Mimin diberi kesembuhan. Setidaknya diberikan semangat untuk melewati penderitaan ini. Diberikan semangat untuk berjuang, untuk kesembuhannya. Aku yakin kalau Mimin adalah orang yang sangat kuat buktinya Tuhan memberikan ujian yang aku sendiri saja untuk membayangkannya sangat nyesek dan sakit hati yang berujung jadi membenci keluarga Wijaya. Apalagi Mimin, entah sabar seperti apa yang dia miliki hingga di detik ini masih bisa tersenyum. Meskipun dalam hatinya kita tidak pernah tahu.


"Pesanan datang..." Aku masih melihat mas suami dan jagoan dalam posisi yang sama hanya saja kali ini wajah jagoan tidak di sembunyikan.


"Hari ini Lydia tidak masak, dan hanya ada makanan ini Mas Aarav nggak apa-apa kan makan ini?" tanyaku tentu hanya basa basi sudah jelas pasti mas bojo tidak keberatan kan suami sayang istri.


"Oh jelas tidak Sayang apalagi kalau kamu yang suapin apapun makanannya pasti jadi enak,"  ucapnya dengan mengerlingkan sebelah matanya. Yah memang sudah bukan hal yang tabu, ketika ada maunya maka jurus untuk mendapatkannya adalah dibumbui dengan rayuan seperti yang mas suami lakukan.

__ADS_1


"Baiklah sebagai istri yang baik, maka Lydia akan suapi Mas Aarav, tapi apa nggak malu tuh diliatin sama anak. Nanti dipoyokin (Ejek) loh." Aku menunjuk bayi Iko yang menatap mas suami dengan heran.


"Enggak apa-apa, paling juga Iko mau juga makan pake ikan jaer," ucap mas suami yang mana asal tebal. Aku pun memastikan lagi ikan yang ada di atas piring.


"Sejak kapan ikan kembung di katai ikan jaer?" balasku sembari menunjukkan isi di dalam piring yang jelas dan nyata ikan kembung goreng bukan ikan jaer seperti yang mas suami katanya.


"Oh, abis sama-sama ikan nggak boleh protes."


"Jelas harus protes hidupnya saja beda kembung di laut, air asin, dan ikan jaer di empang air tawar," jawabku lagi.


"Iya-iya Papah kalah, udah A... lapar." Mas suami membuka mulutnya dan aku pun mulai menyuapi dengan telaten.


"Tuh kan kalau kamu yang menyuapi rasanya sangat enak," puji mas suami yang sudah sangat paham dan tahu kalau ini adalah salah satu pujian yang membuat hati berbunga-bunga.


Padahal hanya makan bersama di tengah-tengah bermain sama anak tetapi hati ini sudah sangat damai. Bahkan rasanya aku melupakan masalah-masalah yang  telah menghampiriku. Aku yakin bahagia akan terus kita raih asal kita tetap saling mendukung.


Hidup itu soal pandai menerima rencana-Nya. Yang pahit tidak selalu buruk, dan yang manis tidak pula selalu baik. Tidak ada yang sia-sia dalam pilihan hidup ini. Yang ada hanya kita merasa lelah, ketika menerima ujian dari semua keputusan yang kita pilih sendiri. Itulah yang pernah aku alami, hingga aku rasanya lelah untuk  menghadapi hidup ini. Namun, ternyata semua itu adalah proses untuk menemukan arti bahagia yang sesungguhnya.


Hidup itu memang tidak mudah, apalagi jika kita hanya berpangku tangan, tanpa adanya usaha dan kerja keras. Bersyukurlah, untuk kita yang masih diberikan limpahan nikmat. Lihatlah ke bawah, masih banyak insan lain yang tengah mencoba menapaki tangga kehidupan yang mana kita dulu pernah berada di posisi itu. Namun sebaliknya jangan pula terlalu sering melihat ke atas karena akan membuatmu merasa kerdil hingga lupa bersyukur bahwa apa yang kita dapat ada tangan Allah yang senantiasa menyayangi kita.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2