
"Ini untuk Mas." Lydia memberikan kotak kado yang sudah dibungkus dengan sederhana.
Kali ini Aarav yang nampak bingung ketika melihat sang istri benar-benar memberikan kado. Ia tadi mengira kalau maminya akan memberikan kado itu hanya bohongan agar dirinya mengizinkan Lydia menemani sang mami. Namun, kali ini dia justru kaget ketika istrinya yang memberikan kado. Dan itu tandanya yang dikatakan sang Mami memang benar adanya, bahwa mereka ke luar rumah untuk membeli kado. Yang entah acara apa, kenapa dirinya diberikan kado.
"Tunggu, kamu kasih kado dalam rangka apa? Hari ini Mas ingat-ingat tidak ada yang sepesial," tanya Aarav justru tidak langsung mengambil kado yang ada di hadapannya. Ia ingin mendengar jawaban dari sang istri dulu.
Tidak ada, emang kalau mau kasih kado harus ada hari sepesial?" tanya balik Lydia, dan Aarav membalas dengan gelengan kepala.
"Tidak sih, tapi setidaknya kasih tahu dulu kalau mau kasih kado biar Mas juga belikan sesuatu untuk kamu."
"Kalau kaya gitu, tidak sepesial dong. Kalau ini kan spesial dan Mas pasti suka, buka." Lydia kembali mendorong kado yang ada di tangannya agar Mas suami mengambil dan segera membukanya.
Aarav pun dengan ragu mengambil kado yang ada di tangan sang istri.
"Ini beneran buat Mas?" tanya Aarav ulang untuk memastikan lagi.
"Beneran Mas, masa Lydia bohong, buka deh.. Penasaran kan isinya apaan?"
Kini dengan perlahan Aarav pun membuka kado yang tidak terlalu besar. Namun, berhasil membuat rasa pemanasan laki-laki dengan satu anak itu.
"Sumpah deh, Mas deg-degan banget. Kira-kira isinya apa yah," gumam Aarav dengan tangan perlahan membuka kotak itu dan Lydia hanya bisa tersenyum, dengan jantung yang terus bergemuruh hebat.
Seperti ini kura-kura isi kado yang Mbak Lidi berikan untuk pak su. Sebentar lagi baby Lyar (Lydia Aarav) bakal launching. Pokoknya singkatannya aja udah Liar kebayangkan gimana nanti hebohnya. Tapi tenang nanti bakal ada pawang biar baby Lyar jadi jinak.
Hah.... Kedua mata Aarav melebar sempurna dan kepala yang terus menggeleng, seolah laki-laki itu tidak percaya apa yang dia lihat. Aarav mengangkat wajahnya dan kini menatap Lydia seolah bertanya lewat sorot matanya yang memerah.
Dan Lydia mengangguk dengan pelan sebagai jawaban, kalau yang laki-laki itu lihat adalah nyata. "Itu kado untuk Mas, maaf baru kasih sekarang, dan semoga Mas suka."
Yes!!! Aarav langsung berdiri dan melakukan selebrasi seperti Bang Dodo.
__ADS_1
Parankkkk.... Pyarrrrr....
Huaaa... suara tangisan Iko. Aarav pun tidak kalah panik dan bingung kenapa bisa dalam hitungan detik kamarnya jadi ramai.
"Mas, pelan-pelan." Lydia mulai panik karena jagonya bangun dan langsung menangis."
"Aarav kamu kenapa?" Mami Misel yang sejati tadi ikut penasaran di ruang keluarga pun langsung masuk ke kamar sang anak, dan tentunya terkejut bin heran kenapa bisa kamarnya kacau seperti ini. Seharusnya Aarav bahagia, tapi kenapa malah membuat gaduh.
"Ya Tuhan ini kenapa?"
"Maaf Mih, diluar prediksi BMKG!" Aarav nampak bersalah dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Yah, laki-laki itu napak panik, ketika dirinya yang saking senangnya hingga tidak sengaja tangannya menyenggol lampu tidur yang ada di atas nakas dan terpental ke lantai berserakan pecah. Belum sang jagoan yang kaget karena kegaduhan yang dibuat oleh papahnya pun nangis seketika. Kebanyakan kan betapa ceroboh nya papah Aarav.
"Kamu emang anak teledor banget, lihat tuh gara-gara ulah kamu cucu Mami jadi nangis." Mami Misel pun memberikan tatapan yang kesal pada putranya. "Udah, biar Iko sama Mami saja Sayang. Kamu sedang hamil jangan angkat-angkat Iko, salahkan tuh suami kamu yang bikin anak nangis. Pasti cucu Mami kaget." Lydia pun tidak diizinkan mengangkat putranya yang sedang aktif-aktifnya, karena takut terjadi sesuatu. Mami Misel langsung mengambil alih cucunya dan mencoba memenangkan bocah kecil itu.
"Teriama kasih Mih," balas Lydia setelah mami mertua membawa Iko untuk kembali bermain di taman belakang. Sedangkan Aarav masih kaget dan terlalu senang dengan kabar bahagia ini pun terus mengulas senyum bahagia.
"Maaf kamu pasti kaget yah," ucap Aarav dengan memeluk sang istri, tentunya setelah memastikan maminya sudah ke luar kamar.
"Kaget sih, tapi paling kaget Iko, kasihan pasti kaget banget sampai nangis gitu. Lagian Mas itu ngapain kenapa harus jingkrak-jingkrak," protes Lydia.
"Jujur, Mas sebenarnya sudah pasrah, apabila memang kita tidak juga dipercaya memiliki buah hati dari rahim kamu, toh ada Iko, tetapi Tuhan ternyata mempercayakan Mas dan kamu untuk menambah momongan. Mas janji akan terus memberikan yang terbaik untuk kamu, dan anak-anak kita. Dan Mas juga akan tetap menyayangi Iko seperti darah daging Mas. Meskipun dia anak adopsi." Aarav merebahkan tubuhnya di atas pangkuan sang istri dengan wajah menghadap ke perut datarnya yang mana di dalam sana ada calon buah hatinya.
"Hai Sayang, kamu di dalam sana baik-baik yah. Jangan nakal dan jangan bikin Bunda cape. Papah sayang sama kamu. Sehat selalu yah, nanti kalau sudah lahir kamu main sama Abang Iko." Aarav mengusap perut sang istri dan mengajak ngobrol calon buah hatinya.
Sedangkan Lydia terlalu senang bermain rambut mas suami. "Lydia juga tidak menyangka Tuhan ternyata sangat baik pada kita. Bahkan Lydia masih belum percaya kalau ternyata rumah kita akan semakin ramai dengan anak-anak kita nanti. Sekarang saja Lydia sudah membayangkan keramaian itu ketika Iko bermain dengan adik-adiknya," gumam Lydia. Entah berapa ratus ia mengucapkan syukur dan rasa terima kasih pada Tuhan yang telah mempercayakan dirinya merasakan wanita seutuhnya dengan dititipkan buah hati dalam rahimnya.
"Tunggu, maksud kamu apa Sayang? Adik-adik Iko? Apa itu artinya..."Aarav langsung bangun dan duduk menatap sang istri dengan tatapan yang tajam.
"Emang tadi Mas tidak lihat, apa yang Lydia berikan? Bukanya di sana ada jawabannya?" tanya balik Lydia yang sudah yakin kalau sang suami pasti tidak lihat betul apa yang ada di dalam kotak kado yang tadi dia berikan.
"Tunggu, tadi kotaknya di mana? Mas tidak memperhatikannya." Aarav kembali mencari kotak kado yang saking senangnya dia malah buang. Dengan awas Aarav mencari di antara pecahanĀ lampu yang berserakan.
__ADS_1
"Ketemu." Aarav dengan hati-hati mengambil kembali kotak itu, dan... kembali kedua bola matanya melebar sempurna.
"Sayang, apa ini artinya anak kita ada dua sekaligus?" tanya Aarav dengan pandangan menatap sang istri yang sedang tersenyum dengan teduh.
"Bukanya itu yang Mas mau, kalau rumah kita ramai, dan Tuhan lagi-lagi mengabulkannya."
Arkkkhhhh... Laki-laki itu benar-benar bahagia, dia bahkan langsung loncat ke kasur dan memeluk sang istri, dan menghujani ciuman hampir di seluruh wajahnya, hingga wanita berhijab itu terkekeh dengan kelakuan sang suami.
"Katakan Sayang, kamu mau apa? Rujak, asinan, rujak jambu kristal, biji, air atau batu, pepes, baso atau apa? Katakan Mas akan cari saat ini juga," ucap Aarav dengan bibir tak berhenti menunjukan senyum bahagia.
"Tidak usah Mas, bahkan apa yang Mas tawarkan, saat ini sudah ada semua."
"Maksud kamu, sudah ada semua? Memang siapa yang membelinya?" tanya Aarav lagi.
"Mami Misel, bahkan sepertinya semua jenis makanan sudah ada, dan sekarang Lydia bingung mau makan yang mana dulu karena saking banyaknya," balas Lydia tidak sembari terkekeh, setiap mengingat kelakuan sang mami mertua Lydia sangat beruntung karena diberikan rezeki yang luar biasa nikmat, yaitu mertua dan orang-orang di sekitarnya yang sangat baik.
"Mami beli apa aja? Apa ada rujak? Mas tiba-tiba malah pengin rujak," tanya Aarav yang dalam otaknya sudah membayangkan makan rujak pasti sangat nikmat.
"Ada, malahan segala jenis rujak ada, bahkan bukan rujak saja. Segala jenis asinan ada, dari bogor sampai betawi ada semua bahkan mungkin kalau ada yang jual asinan kereta Mami bakal beli," kelakar Lydia, dan memang benar semua dibeli oleh mertuanya dengan alasan takut dirinya ngidam.
"Alhamdulillah, yuk keluar kita makan rujak, untung Mami sangat pengertian. Mas jadi bisa makan rujak. Padahal tadi sebenarnya pengin nitip rujak, tapi sudah dibelikan sama kanjeng Mami, dan saatnya kita makan rujak." Aarav pun langsung turun dari atas kasur dan bersiap untuk makan rujak, dan diikuti oleh sang istri yang justru tidak merasakan ingin makan sesuatu. Benar saja Aarav makan rujak sangat rakus, seperti orang yang kelaparan, makan dengan lahap. Dan semua jenis rujak dicobanya. Bahkan sang suami yang biasanya sangat jeli dengan asupan kalori masuk ke tubuhnya, sepertinya sa'at ini prinsip hidup sehatnya sudah lupa.
"Sayang, kamu tidak ikut makan rujaknya? Ini enak sekali, Mas suka makan rujak ini," ucap Aarav dengan terus bibirnya bergoyang menikmati rujak, yang maminya beli.
"Tidak Mas, Lydia lihat Mas makan seperti itu saja sudah sangat senang, dan kenyang," balas Lydia dengan menatap sang suami yang nampak nikmat sekali bahkan wajahnya sampai banyak keluar keringat. Dan Lydia dengan telaten mengusapnya dengan tisu.
"Wah... Wah... kayaknya enak sekali tuh, makan rujak tidak tawar-tawar..."
#Nah loh suara goib siapa itu.
Bersambung....
__ADS_1
Silaturahmi yuk ke novel balu othor, dijamin Abang Jati dan Neng Qara bakal bikin nano nano.