
"Mas, saya minta maaf, tadi kelupaan telpon dengan Lydia sampai ponselnya mati," ucap Mimin dengan memberikan ponsel yang sudah mati, pada Hadi yang sudah bangun tidur.
"Oh tidak apa-apa bisa dicash lagi, ngomong-ngomong gimana kabarnya Iko?" tanya balik Hadi dengan suara yang serak dan berat khas bangun tidur.
"Baik dan makin pintar, dia tumbuh dilingkungan yang baik sehingga banyak mendapatkan ke baikan juga."
"Alhamdulillah, aku ikut senang ngomong-ngomong aku mau ke luar dulu yah mumpung belum terlalu malam, mau cari makan lapar banget." Hadi memang tadinya tidak niat tidur, tetapi malah ketiduran alhasil perut kelaparan.
"Oh iya terima kasih sudah temenin saya, kalau Mas Hadi mau pulang tidak apa-apa di sini banyak perawat kok."
Tentu Mimin merasa tidak enak kalau Hadi yang harus menjaganya di rumah sakit ini. Apalagi status Hadi selain sebagai bosnya laki-laki itu juga bukan mahramnya.
"Kalau kamu merasa tidak enak, apabila aku ini bos kamu, atau apapun itu, kamu anggap saja aku ini abang kamu. Maaf tapi aku tidak bisa tinggalin kamu sendirian di sini. Aku tidak percaya pada perawat atau siapa pun itu. Aku belum percaya David menyerah dengan dia di penjaga. Saat ini dia
memang di penjara, tetapi tidak dengan anak buahnya, mereka tetap bisa melakukan apa pun itu. Jadi aku akan tetap di sini untuk jaga, dan memastikan David tidak macam-macam lagi," balas Hadi yang seolah tahu apa yang sedang Mimin pikirkan.
"Kalau gitu terima kasih, sudah mau direpotkan untuk menunggu saya di sini." Mimin pun tidak bisa menolak lagi, karena ia tidak bisa memungkiri kalau dia memang butuh perlindungan dari bosnya itu. Ia yang sudah berjuang melawan sakit yang begitu berat, masa harus mati sia-sia di tangan David, sehingga Mimin sangat butuh perlindungan.
"Ya udah aku ke luar dulu." Hadi pun tidak menunggu lama meninggalkan Mimin di ruang rawatnya dan tentunya laki-laki itu juga tidak meninggalkan Mimin begitu saja, ia menugaskan satu perawat untuk menemani Mimin, lebih baik jaga-jaga dari pada nanti kecolongan lagi. Sedangkan laki-laki itu memilih mencari makan untuk dirinya dan juga Mimin.
Tidak harus menunggu lama untuk ke luar rumah sakit untuk mencari makan, dan tentunya Hadi sudah kembali dengan bawaan yang cukup banyak, bukan hanya makan malam yang dia beli tapi buah dan segala jenis macam yang nantinya ia butuhkan selama di rumah sakit.
"Assalamualaikum..." Hadi membawa barang bawaannya dengan meminta sopir membawa sebagian barangnya.
"Wa'alaikumsallam... astaga Mas, kamu beli apa aja?" tanya Mimin, bener-benar Hadi memang royal banget selain itu juga laki-laki itu benar-benar baik dan tidak pernah perhitungan dengan materi. Bahkan sama Iko saja sangat baik, tidak jarang ia membelikan mainan atau pakaian, bahkan memberi angpau untuk Iko.
"Ini hanya buah dan perlengkapan mandi ada selimut sama bantal juga, aku kurang nyaman kalau tidur terkena AC langsung. Sus, ini untuk Suster dan teman-teman terima kasih yah sudah mau diminta tolong." Hadi juga memberikan makanan untuk suster yang menjaga Mimin bahkan membelikannya cukup banyak untuk dibagi-bagi, dan tentu untuk sopir yang membantunya.
"Terima kasih Tuan...."
Hadi membalas dengan anggukan.
__ADS_1
"Untuk kamu..." Hadi memberikan satu paper bag yang tanpa dibuka Mimin sudah tahu isinya apa pastinya.
"Untuk apa ini?" tanya Mimin sebelum menerima barang yang Hadi berikan.
"Ganti ponsel yang disita oleh polisi untuk dijadikan barang bukti. Ponsel kamu tidak bisa diambil dalam waktu singkat, setelah selesai masalah ini baru ponsel dan barang bukti lainya bisa diambil. Jadi untuk sementara kamu pakai itu. Kamu pasti butuh ponsel untuk saling bertukar kabar dengan Lydia maupun anak kamu."
"Iya, tapi kenapa tidak beli yang biasa saja. Ini terlalu mahal, saya sudah sangat banyak merepotkan Mas Hadi," balas Mimin setelah melihat tipe apa ponsel yang Hadi belikan.
"Tidak apa, aku ikhlas, manfaatkan ponsel itu dengan baik, agar apa yang aku berikan jadi pahala untuk aku."
"Terima kasih banyak. Saya akan manfaatkan dengan sangat baik benda ini, dan semoga Mas Hadi rezekinya makin banyak lagi. "
"Amin... kamu mau makan apa? Aku tadi hanya beli ayam bakar dan bebek bakar tidak banyak yang jualan makanan di sekitar ini, banyakan nasi padang, baso, mie ayam dan semacamnya dan hanya ini yang aku rasa masuk dengan kamu. Aku sengaja tidak pakai kecap, karena kamu masih jaga pola makan kan?" Hadi membuka menu yang di khususkan untuk Mimin dan juga untuk dirinya.
"Sekali lagi terima kasih."
Hadi memberikan seulas senyum. "Kamu bisa makan sendiri kan?" tanya Hadi karena mau disuapin juga pasti Mimin tidak mau. Kalau Hadi sih mau-mau saja.
"Bisa Kok, masa makan sendiri saja tidak bisa."
Sedangkan di tempat lain.
David masih penasaran dengan orang-orang setiap dengar Adzan, narapidana yang lain saling berjalan berbondong-bondong menuju tempat yang ada dipojok tidak terlalu besar, tetapi seperti memiliki daya tarik tersendiri. David yang masih diselimuti rasa penasaran pun memberanikan diri untuk bertanya pada orang-orang yang yang berjalan paling akhir.
"Bang kalian kalau ke tempat itu untuk apa?" tanya David dengan bingung.
"Sholat lah Bang." Dengan tatapan yang bingung juga orang yang ditanya David pun menjawab singkat.
"Kalau Sholat seperti itu Abang dapat apa di sana? Kenapa sepertinya kalian bahagia sekali setiap berjalan ketempat itu begitupun sebaliknya." David justru semakin tertarik dengan apa yang mereka dapatkan ditempat itu.
"Maaf Bang, kita mau sholat dulu. Nanti di sambung lagi, takut ketinggalan imamnya." Laki-laki itu meninggalkan David dengan kebingungannya.
__ADS_1
Namun, rasa penasaran yang tinggi pun mendorong ia semakin ingin tahu apa sebenarnya yang didapat orang-orang itu ketika sholat. Ia akan kembali bertanya apabila ada kesempatan untuk bertanya lagi.
"Pak, apa Anda habis sholat juga?" tanya David kali ini pad laki-laki bertubuh tegap baju coklat dengan peci putih di atas kepalanya.
"Iya kenapa?" tanya balik laki-laki itu.
"Kalau sholat di tempat itu dapat apa?" David melemparkan pertanyaan yang sama dengan ia ladi menanyakan pada narapidana yang lain, dan ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Yang didapatkan tentu ketenangan."
David mengernyitkan dahinya sebagai tanda kalau ia belum mengerti betul dengan maksud dari laki-laki itu katakan.
"Ketenangan? Maksudnya? Yang saya tanya dapat apa? Apakah dapat uang atau mungkin makanan enak?" tanya David yang merasakan jawaban yang di berikan tidak sesuai dengan yang ia maksud.
"Tidak ada uang atau makanan enak, hanya ketenangan dan juga doa yang kita panjatkan pada Tuhan. Di sana kita bisa berdoa, cerita pada Allah dengan aman, tanpa adanya cerita yang keta ceritakan bocor ke orang lain."
"Tapi bukanya kalau cerita dengan Tuhan kita tidak bisa dapat solusi dan berkomunikasi layaknya dengan manusia, lalu apa hebatnya?" tanya David yang merasa makin penasaran.
"Yah Tuhan memang tidak pernah membalas curhatan kita seperti kita curhat dengan teman, tetapi Allah berikan solusi dan jalan keluar. Kamu cerita dengan teman pun belum tentu teman memberikan solusi dan jalan keluar yang baik. Bakan tidak jarang teman atau lawan bicara kita hanya merespon seadanya dan itu hanya ingin dilihat mereka seolah perduli, solusi yang mereka bicarakan ada yang tulus dan banyak yang justru menginginkan kamu semakin terpuruk dan terlilit masalah. Berbeda dengan Alloh."
David menggerak-gerakan kepalanya sebagai tanda ia maksud dan tahu apa yang laki-laki itu katakan.
"Untuk doa apa harus di tempat itu?" tanya David lagi.
"Tidak, berdoa dimanapun, Allah juga kadang mengabulkan doa bukan yang saat kita berdoa di masjid. Ada juga Allah kabulkan saat kita berdoa di atas kendaraan, di jalan atau di mana saja."
"Nah, kalau Tuhan bisa kabulkan doa ketika kita di mana saja, lalu untuk apa pergi ketempat itu untuk berdoa?"
#Hayo siap yang bisa kasih jawaban atas pertanyaan David. Siapa tahu David langsung tobat ketika dapat pencerahan dari readers...
Bersambung....
__ADS_1
...****************...