Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Sogokan Buat Camer


__ADS_3

Hadi nampak berpura-pura tidak tahu dengan apa yang akan Mimin katakan.


"Katakanlah jangan bikin aku menunggu dan penasaran."


"Ini soal Mas Hadi ngajak ke hubungan yang lebih serius. Saat itu aku belum bisa memberikan jawaban karena urusan aku dengan ayahnya Iko dan juga kakeknya Iko belum selesai, tapi saat ini insyaAlloh aku bisa memberikan jawaban, tapi sebelumya aku ingin bertanya apakah orang tua Mas Hadi bisa menerima aku sebagai menantunya apabila aku menerima tawaran Mas Hadi. Jujur berangkat dari pengalaman sebelumnya aku benar-benar ingin memulai niat baik dengan restu orang tua terutama orang tua Mas Hadi."


Hadi pun langsung mengulas senyum, apa yang ia bayangkan benar, kalau Mimin akan membahas pertanyaanya waktu itu. Padahal Mimin belum pasti akan menerima dirinya, tetapi Hadi sudah berbunga-bunga dalam hatinya.


"Apa perlu Mamah dan Papah ku datang ke sini untuk mengatakan kalau mereka merestui kamu sebagai calon menantunya?" tanya balik Hadi.


Mimin mebalas dengan gelengan kepala. "Aku hanya ingin restu dari mereka, tanpa mereka datang kalau memang mereka merestui hubungan kita itu udah lebih dari cukup."


"Baiklah." Hadi terus mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi orang tuanya.


"Mas Hadi mau ngapain?" tanya Mimin yang justru panik.


"Telepon Mamah dan Papah untuk memberikan restu pada hubungan kita," jawab Hadi dengan santai.


"Ya tapi nggak sekarang juga," jawab Mimin dengan setengah berbisik dan meminta agar Hadi tidak melakukan telepon di jam malam seperti ini.


"Niat baik harus disegerakan," balas Hadi dengan tetap santai. Mimin pun hanya diam dan tidak bisa menahan lagi. Apalagi sepertinya panggilan Hadi sudah diangkat. Mimin hanya menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Ia belum siap, untuk berbicara dengan calon mertuanya.


[Hallo, Bang apa kamu tidak tahu Mamah dan Papah kamu sudah mau tidur?] protes seseorang dari tempat yang jauh di sebrang sana.


[Iya tahu Mah, maaf kalau Hadi ganggu jam istriahat Mamah, tapi ini penting," ucap Hadi dengan serius.


[Ada apa sih Bang, bilang saja.] sahut papahnya yang tentu saat ini mamah dan papahnya sedang bersama.


[Ini soal wanita yang Hadi ceritain tempo hari, sekarang dia bertanya apakah Mamah dan Papah merestu hubungan kita berdua?] tanya Hadi, agar Mimin bisa tenang.

__ADS_1


[Kenapa ditanyakan lagi, kan Mamah dan Papah sudah bilang. Mamah sudah suka dengan wanita itu, jadi ya pasti merestui lah.]


Hadi mengulas senyum dan Mimin juga pasti dengar jawaban dari orang tua Hadi.


[Kalau Mamah dan Papah ngomong dengan calon menatu apa mau?] tanya Hadi, yang mana Mimin malah langsung menggerak-gerakan tanganya tanda ia tidak mau berbicara dengan calon mertuanya. Bukan Mimin sombong, hanya saja dia bingung mau ngomong apa. Belum pernah ia ngobrol dengan calon mertua atau bahkan mertua, jadi dia bingung mau ngomong apa. Hubungan sebelumnya tidak direstui oleh mertuanya sehingga ini pengalaman pertama untuk Mimin berbasa basi dengan calon mertuanya.


[Jelas mau, mana coba Mamah dan Papah pengin ngomong.] Tanpa pikir panjang Hadi memberikan ponselnya pada Mimi.


"Mamah dan Papah mau ngomong dengan kamu," ucap Hadi dengan memberikan ponselnya pada Mimin.


"Aku bingung Mas, harus ngomong apa dengan Mamah dan Papah kamu," balas Mimin dengan jujur, tanpa ia ketahui orang tua Hadi mendengar percakapan mereka.


"Sapa biasa saja, as'salammualaikum atau apa lah. Mamah hanya ingin dengar suara kamu kok." Hadi kembali menyodorkan ponselnya. Mimin yang tidak enak pun akhirnya menerima ponsel Hadi dan mencoba menyapa seperti apa yang Hadi katakan.


[Hallo, As'salamualaikum,] sapa Mimin dengan suara yang lirih. Perasaanya campur aduk bahkan perutnya langsung mulas ketika berbicara dengan orang tua Hadi. Norak memang tapi itulah yang Mimin rasakan. Deg-degan bahakan sampai keringat dingin keluar.


[Wa'alaikumussalam, ini Mimin kan?] tanya wanita dari sebrang telepon.


[Hadi dan Handan sudah banyak cerita dengan kamu. Mamah juga sudah lihat anak kamu, lucu banget. Kapan-kapan Mamah dan Papah boleh dong ketemu dengan anak kamu,] ucap wanita itu dengan ramah. Yah, Mimin bisa menyimpulkan kalau orang tua Hadi memang tipe yang sangat jauh berbeda dengan Wijaya. Bahkan orang tua Hadi pun membiasakan Mimin untuk memanggil Mamah dan Papah. Canggung tentu yang Mimin rasakan, ketika dengan mudah diterima oleh keluarga calon suaminya, tidak pernah sebelumnya hal seperti ini Mimin rasakan.


Mimin menatap Hadi, dalam otaknya banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkan pada Hadi. Terutama dengan apa saja yang Hadi katakan dengan orang tuanya.


[Iya Tan, tentu boleh sekali. Iko juga pasti bakal senang ketemu Tante dan Om,] balas Mimin, kali ini suaranya tidak selemah pertama kali menyapa orang tua Hadi, bahkan wajah Mimin tidak sepucat tadi.


Mimin dan orang tua Hadi pun terus bercerita seperti yang sudah lama bertemu, Mimin sih lebih banyak menjawab, orang tua Hadi yang sangat terbuka dengan Mimin, sehingga Mimin justru tanpa sadar hampir setengah jam sendiri ngobrol sampai akhirnya diakhiri oleh Hadi karena mungkin orang tuanya akan istirahat.


"Gimana setelah ngobrol sama Mamah dan Papah?" tanya Hadi setelah sambungan telepon terputus.


"Lega, ternyata orang tua Mas Hadi baik dan terbuka tidak membedakan aku bahkan tadi orang tua Mas Hadi bilang ingin ketemu Iko, tapi ngomong-ngomong apa aja yang sudah Mas katakan ke orang tua Mas Hadi kok sepertinya mereka sudah tahu banyak tentang Mimin?" tanya Mimin dengan tatapan yang serius.

__ADS_1


"Jujur bukan aku yang ngomong, awal-awal Handan yang bocor, bahkan yang kasih foto-foto Iko ya kerjaan Handan. Makanya sebagai hukumanya tidak aku bayar kerja dia selama setengah tahun di sini. (Mimin langsung memberikan tatapan kaget mendengar kalau Handan tidak dibayar) Biar dia tahu rasa, bocor sih orangnya. Gara-gara dia orang tua aku langsung minta biar buru-buru nikah lagi. Makanya kamu kalau mau nikah sekarang-sekarang juga aku dan keluragaku siap-siap saja." Hadi memberikan tatapan yang serius.


"Maaf Mas bukan Mimin nggak mau buru-buru, tapi ikuti alurnya aja, lagian ...." Mimin menghentikan ucapanya seolah ragu.


"Iya aku tahu kok, kamu juga kan butuh wali nikah, kita cari papah kamu kalau nggak abang kamu," ucap Hadi yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Mimin.


"Jangan cari mereka nanti besar kepala, kita bisa nikah meskipun tanpa mereka," balas Mimin dengan menunjukan tatapan tidak suka.


"Min, aku rasa ilmu agama kamu jauh lebih baik dari pada aku, dan hukum menikah kamu juga pasti sudah tahu syarat-syaratnya. Kalau wali kamu masih ada seharusnya wali kamu dulu baru bisa diserahkan ke wali hakim, kalau memang wali kamu sudah meninggal dunia. Kamu masih punya papah dan abang laki-laki jadi sebaiknya cari yang jauh berkah dulu. Aku akan siap nunggu kok."


"Yah, tapi aku nggak mau ketemu mereka lagi." Mimin masih bersikeras tidak mau bertemu mereka lagi.


"Andai aku mau menemui mereka sangat gampang untuk aku yang masih tahu alamat rumah mereka, tapi aku sudah menganggap mereka tidak ada di dunia ini."


Hadi hanya mengagguk-anggukan kepalanya dengan serius. "Baiklah kalau itu bisa membuat kamu lebih tenang." Hadi pun memutuskan akan mencoba mencari tahu siapa dan di mana orang tua Mimin dan abangnya tinggal. Biar mungkin Hadi bisa mendaptkan restu itu dan sekalin cari tahu apa yang terjadi dengan Mimin dan papah serta abangnya kenapa Mimin sampai marah besar apakah benar papahnya yang menyebabkan ibunya Mimin meninggal dunia ataukah kesalah pahaman saja?


"Ya udah kalau tidak ada obrolan lagi kita pulang yuk, sudah malam kasihan nanti dokter Sera nungguin lagi."


"Ya udah ayo." Seperti biasa Hadi pasti membelikan makanan juga untuk keluarga dokter Sera yang sudah seperti keluarga Mimin, terlebih setelah ada tragedi salah pukul mereka sangat baik dan akrab dengan Hadi. Mungkin karena rasa bersalah jadi mereka jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Apa lagi itu Mas?" tanya Mimin ketika Hadi menyerahkan bungkusan makanan untuk calon mertua angkatnya.


"Biasa sogokan untuk camer."


#Abang sekalian bungkusin buat othor dong 😁


Bersambung....


...***************...

__ADS_1


Buat yang suka novel sad ending sok mampir ke novel othor yang ini. Ini mah asli cinta buta. Sok lah biar nangis berjamaah...



__ADS_2