
Mimin dan Hadi pun menikmati malam mereka dengan kegiatan yang bermanfaat terutama untuk melestarikan keturunan yang berkualitas. Meskipun kemarin-kemarin ada Iko atau ada ke dua orang tuanya tetap urusan kebutuhan batin tidak ada penghalangnya. Apalagi sekarang orang tuanya sudah pulang dan sampai rumah dengan aman dan sentosa. Iko pun sedang menikmati kebersamaannya dengan keluarga angkatnya. Maka perjuangan pun dilanjutkan kembali.
Malam ini pun sangat dimanfaatkan oleh Hadi dan Mimin untuk mencetak generasi pernerus. Seolah tidak ada kata lelah baik Mimin maupun Hadi selalu kembali mengulang kegiatan yang membakar kalori, dan menyehatkan jantung
"Mas, sekarang kan Iko sedang tinggal dengan Lydia, besok Mimin ikut kerja kembali yah. Bosan kalau tidak ada Iko," rayu Mimin setelah melewati dua kali penyatuan yang panas. Hadi yang sudah memejamkan matanya pun kembali membuka mata dan mengusap rambut Mimin yang bersandar di dada bidangnya.
"Iya boleh, udah yuk tidur. Besok kita harus bangun pagi, dan pulang ke rumah sebelum ke kantor untuk berganti pakaian," ucap Hadi, laki-laki itu selalu memberikan izin dengan apa yang Mimin inginkan asalkan tidak membuat Mimin cape.
"Lagian kenapa harus ke hotel sih Mas, padahal di rumah juga sama aja. Enak-enak juga." Mimin yang belum ngantuk pun terus mengajak Hadi berbicara tentu berbeda dengan Hadi di mana sudah mencapai puncaknya laki-laki kebayakan akan ngantuk dan langsung merangkai mimpi yang indah.
Mendengar ucapan Mimin, Hadi pun mengulas senyum meskipun ke dua matanya masih terpejam.
"Kalau di rumah bosan Sayang, kita cari susana baru dan terbuktikan baru dua jam di sini sudah dapat dua tarikan. Gimana kalau kita datang dari tadi sore mungkin udah penuh kali."
Brug!!
"Awh ... sakit Sayang." Hadi memegang dadanya yang dipukul oleh Mimin.
"Abis bisa banget, jadi pengin datang dari sore?" tantang Mimin, mumpung masih baru dan tenaga masih ok jadi dia pun tidak keberatan kalau sang suami minta datang dari sore.
"Kamu mau?" tanya Hadi sok pura-pura tanya lagi.
"Kata pak Ustadz tidak boleh menolak permintaan suami," balas Mimin dengan mengulas senyum. Sedangkan Hadi justru tertawa cukup puas dengan jawaban sang istri.
"Mas, nanti kalau ada waktu kita datang ke rumah Abah dan Ambu yah. Kangen sekalian pengin silahturahmi, bagaimanapun Abah dan Ambu banyak membantu Mimin terutama saat Mimin putus asa dan pernah berdoa ingin Tuhan mengambil nyawa ini, tetapi berkat beliau. Sekarang malah selalu berdoa agar umurnya panjang, dan bahagia selalu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Mimin, Hadi pun kembali membuka kedua matanya dan kali ini duduk dengan setengah bersandar.
"Emang pernah doa kaya gitu?" tanya Hadi dengan nada obrolan yang serius. Mimin hanya membalas dengan anggukan.
"Pernah banget, malah sampai pernah berpikir untuk bunuh diri," balas Mimin dengan mata berkaca-kaca.
Melihat sang istri yang sedang melow dan butuh dukungan dan telinga yang siap mendengarkan Hadi pun langsung sigap memerikan tempat ternyaman untuk sang istri. Karena ia masih ingat nasihat dari guru ngajinya. Istri itu kadang membutuhkan suami hanya untuk menjadikan pendengar yang baik. Dan kini Hadi sedang mempraktekannya.
"Sekarang jangan lagi yah. Kalau ada apa-apa cerita, kita selesaikan masalah bersama. Jangan punya pikiran malu atau tidak enak. Ketika kita sudah memutuskan untuk menikah maka urusan kamu sudah menjadi tanggung jawab Mas, termasuk kebahagiaan kamu. Kalau kamu tidak bahagia nanti Mas yang berdosa." Hadi mengusap rambut Mimin dan mencium pucuk kepalanya dengan mesra.
Medengar ucapan sang suami. Mimin yang sedang melow pun justru semakin terisak.
"Kenapa sih, Tuhan mempertemukan kita sekarang? Kenapa tidak dari dulu. Jadi aku tidak harus merasakan hidup yang penuh dengan perjuangan bahkan sampai pernah mengingkan kematian, dosa banget kan. Masih beruntung Tuhan tidak mengabulkannya kalau mengabulkan aku nggak ketemu kamu dong." Mimin semakin terisak.
Hadi bukanya sedih mendengar ucapan istrinya justru semakin tertawa dengan renyah.
"Tuhan itu tahu mana yang terbaik untuk hambanya termasuk apa yang terjadi pada kamu. Tuhan sudah menggariskan semuanya termasuk kapan kita ketemu. Mungkin justru kalau kita ketemunya lebih dulu tidak akan sebahagia ini. dan kamu mungkin tidak akan tahu bagaimana perjuanga. Kamu tidak jadi wanita kuat yang menarik hatiku. Jalan dari Tuhan itu sangat indah." Hadi kembali memberikan wejangan yang berhasil membuat hati Mimin sejuk.
"Apa yang Mas katakan itu sangat benar. Tuhan sungguh luar biasa tahu apa yang kita butuhkan." Mimin memeluk tubuh suaminya lebih kencang. Air matanya tidak keluar lagi. Karena Hadi yang benar-benar bisa mengentikan air matanya. Tanpa janji-janji manis, hanya nasihat yang menurut Mimin sangat tepat dengan suasana hatinya.
"Aduh Sayang jangan peluk terlalu kencang, kamu membangunkan adik kecilku lagi," ucap Hadi dengan memberikan senyum nakalnya.
"Emang kenapa kalau bangun lagi. Bukanya katanya bulan madu. Kita ke sini buat senang-senang kan?" Mimin justru seolah menantang sang suami dengan ucapan yang tidak kalah nakal dari tatapan suaminya.
"Mas takut kita keterusan dan besok pagi tidak bisa bangun pagi. Maklum jam sembilan kita harus menghadiri meeting. Jadi jangan sampai telat. Kalau telat bisa-bisa kita jadi bahan ledekan oleh Aarav dan Om Sony." Meskipun itu hanya alasan Hadi saja. Sesungguhnya Hadi sedang memancing apakah Mimin bisa merayunya atau justru pasrah dan berakhir ke menggapai mimpi bersama.
__ADS_1
"Oh, jadi kalau diberi bakal ditolak nih?" goda Mimin dengan mendekatkan tubuhnya semakin dekat dengan sang suami. Meskipun mereka memang sudah dekat banget.
Hadi masih mencoba menahannya, ingin tahu apakah Mimin akan marah kalau menggoda dan diabaikan atau justru akan mencari cara lain agar Hadi goyah pertahanannya.
"Sayang banget padahal tadi udah belajar dari internet bagaimana cara memanjakan suami. Ya udah berati ilmu yang baru dipelajarin tadi tidak ada manfaatnya. Sia-sia deh belajar dengan serius." Mimin benar-benar menguji keimanan Hadi. Ketika Hadi berpura-pura kuat dengan tawaran sang istri. Maka Mimin juga berpura-pura langsung menurup tubuhnya dengan selimut yang tebal.
"Hay Sayang aku tadi cuma berpura-pura. Gimana kalau ilmu yang sudah kamu pelajari kita praktekan." Hadi memeluk tubuh Mimin dengan erat. Dalam baik selimut Mimin pun mengulas senyum kepusan karena sudah berhasil membuktikan kalau dia adalah istri yang pandai memberikan apa yang suaminya butuhkan.
"Bukanya tadi katanya mau tidur. Besok akan meeting. Ya udah ilmunya kapan-kapan saja dipraktekannya." Kini gantian Mimin dong yang mengerjai sang suami.
"Tidak Sayang, itu hanya alasan Mas saja ingin tahu apakah kamu akan diam saja atau merayu terus, dan kamu sudah lolos jadi istri yang Mas mau."
"Bohong, kan Mas sukanya cewek yang kalem dan nggak kaya Mimin yang suka menggoda." Mimin kembali memerankan aktingnya.
"Kata siapa, justru Mas suka yang seperti kamu. Menggoda dapat pahala loh kalau menggoda suami lebih dulu. Bukanya katanya ingin masuk surga."
Ah Hadi memang pandai menggoda Mimin, siapa tidak ingin masuk surga.
Mimin membalikan tubuhnya dan menatap Hadi dengan tatapan yang kagum.
"Jadi mau di tes sekarang ilmu yang barusan Mimin pelajari?" tanya Mimin dengan tatapan yang serius.
"Gas lah!!" Ranjang pun mulai bergoyang lagi mengikuti irama yang Mimin mainkan. Kini wanita itu mengambil kendali untuk permainan ke tiga kalinya. Ilmu yang dipelajari pun tidak sia-sia karena Hadi sampai memujinya berkali-kali.
#Pak supir lihat nih, majikan kalian lagi ngapain, ....
__ADS_1
Bersambung....
...****************...