
Marah, kesal, dan kecewa juga dirasakan oleh Aarav, meskipun saat ini laki-laki itu tidak lagi ada hubungan spesial dengan Mimin, tapi ia juga kecewa karena laki-laki itu mengenal Julio dan juga Lukaman. Mereka dulu kenal sudah sangat akrab dan yang Aarav tahu mereka baik ramah dan juga tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Namun, nyatanya kebaikan itu hanya kedok untuk menutupi kejahatannya.
"Aku memang tidak ada hak untuk menghakimi kalian, tapi rasanya aku sangat kecewa dengan perbuatan kalian. Minta maaf lah pada adik kalian, dan semoga saja Mimin mau memaafkan kalian." Tanpa menunggu jawaban dari Julio, Aarav memilih meninggalkan kakak dari Mimin itu. Ia harus bekerja, ngomong sama laki-laki itu malah membuat Aarav jadi emosi dan malas untuk bekerja.
Julio pun kembali menunduk, ia sendiri merasa dijebak oleh papahnya, tapi dia tidak tega kalau harus meninggalkan papahnya yang sedang sakit. Sama halnya dengan Mimin, Julio pasti awalnya tidak percaya ketika ada yang mengatakan kalau papahnya melakukan pembunuuhan untuk ibunya. Karena ia tahu sang papah adalah orang baik dan bertanggung jawab, tapi tiga tahun kebelakang tepatnya setelah ibu tirinya pergi dan berpisah dengan papahnya semuanya terungkap.
Sama juga dengan Mimin, dan yang lainya Julio juga sempat marah dan pergi dari rumah, ia memilih tinggal di rukonya untuk menghindari konflik dengan papahnya, saat itu kondisi Lukman belum terlalu parah, tetapi beberapa bulan Julio tidak pulang, kondisi Lukman semakin memburuk hingga tidak bisa berjalan dan selalu memanggil Mimin.
Mau tidak mau ia tidak ingin menyesal sama seperti kepergian ibunya, hingga akhirnya Julio kembali ke rumah mereka dan mencoba berdamai dengan hatinya, untuk kembali membuka maaf untuk papahnya.
******
Di ruangan VIP, bagaimana hasil pemeriksaannya Dok, saya sudah boleh pulang kan?" tanya Hadi sudah sangat tidak nyaman apalagi pikiranya juga kali ini terpecah dengan memikirkan calon istrinya.
"Kondisinya bagus, hasil USG juga luka sudah sedikit mengering, jadi untuk sekarang boleh pulang, dan seminggu lagi kontrol yah untuk melihat luka jahitan dan hasil operasinya ada masalah atau tidak, dan untuk keseluruhan makan dan juga aktifitas berat hindari dulu yah. Makan tetap pilih makanan lembek dulu hingga nanti kondisi usus sudah ok baru boleh yang keras asal jangan batu yang dimakan," jelas Dokter setengah berkelakar. Sontak saja Hadi dan kedua orang tuanya terkekeh, mendengar candaan dokter itu.
"Baik terima kasih Dok."
Lega rasanya ketika Dokter memperbolehkanya pulang. Hadi merentangkan tanganya ketika selang infus telah dicopot dari tanganya.
"Ini kita pulang mau naik taxi atau ada yang jemput?" tanya Ahmad, bukan hanya Hadi yang senang terntu ke dua orang tuanya juga senang ketika sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Mamah dan Papah pulang dulu gimana? Hadi ada urusan dulu," tawar Hadi dengan nada suara yang ragu-ragu.
Sontak saja kedua orang tua Hadi langsung menujukan wajah tidak suka. Ini belum ke luar dari ruang rawat inap, sudah mau ngurus sesuatu ya jelas orang tuanya panik dan tidak menyetujui.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana lagi, pulang jangan keluyuran. Kamu itu masih sakit butuh istirahat jangan aneh-aneh," balas Arum dengan menujukan wajah tidak suka.
"Mau jenguk Mimin, semalam dia dilarikan ke rumah sakit juga." Akhirnya Hadi pun menceritakan apa yang terjadi dengan calon istrinya pada ke dua orang tuanya.
"Astaga, kenapa kalian kompak banget, sampai sakit aja kompak gini. Ya udah ayo Mamah dan Papah juga ikut masa kamu jenguk kami diam saja." Kan, akhirnya Arum dan Ahmad pun ikut mengantarkan anaknya menjenguk Mimin tentu di rumah sakit yang berbeda dengan dirinya di rawat.
Sebagai calon mertua yang baik Arum dan Ahmad pun memilih ikut menjenguk calon menantinya yang sedang sakit juga.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh kini Hadi pun sudah sampai di rumah sakit di mana Mimin di rawat dan tentunya dokter Sera juga sudah pulang karena kasihan sudah jaga Mimin semalaman. Kini Mimin dan Lydia serta Iko yang sedang sakit. Iko sendiri sedang tidur bareng Mimin setelah minum obat. Kondisinya sudah jauh lebh baik hanya tinggal lemasnya karena memang untuk makan masih sulit.
Tok ... tok ... tok ... Hadi mengituk pintu dengan pelan. Dan setelah mendengar sahutan meminta masuk dari dalam sana Hadi pun masuk diikuti ke dua orang tuanya di belakanya.
"Dokter datang, udah pasti langsung sembuh yah," bisik Lydia meledek Mimin.
"Apaan sih Lyd yang sakit perasaanku jadi kayaknya nggak nagru," balas Mimin dengan suara di tahan.
"Mas Hadi sudah sembuh?" tanya Mimin ketika Hadi mengusap rambut Iko yang sedang tidur di ranjang Mimin.
"Udah dong kan semalam dapat vitamin banyak jadi langsung sembuh. Jagoan sakit juga?" tanya Hadi karena tumben banget Iko diam, biasanya anak itu akan sangat aktif dan rame.
"Ya gitu Mas, dia kalau Mimin sakit atau ada apa-apa ya ikutan." Kali ini Lydia yang ambil alih pertanyaan dari Hadi.
"Pantes kasihan banget."
"Sama ibunya nggak kasihan." Lydia sangat demen ngeledek pasangan itu yang sudah jelas-jelas malu-malu.
__ADS_1
"Wah kalau itu sih jangan diragukan lagi, sudah jelas kasihan, makanya datang ke sini karena kasihan dan berharap biar cepat sembuh juga. Siapa tau udah dikasih vitamin langsung sembuh." Hadi menatap Mimin yang sedang menunduk.
"Kamu sakit apa emang Sayang?" tanya Arum dengan mengusap punggung Mimin.
"Hanya kecapean Mah, biasa kalau kecapean suka tiba-tiba pingsan, sebenarnya nggak ada yang serius hanya kecapean, tapi langsung dibawa ke rumah sakit, kayaknya sakit parah aja." Yah, itu yang memang dirasakan oleh Mimin baik-baik saja, tapi bagi dokter Sera dan yang lainnya tentu itu berbahaya ketika denyut nadi tiba-tiba lemah belum dia mimis'an, takut kalau ada apa-apa dengan kesehatanya.
"Ya sukurlah kalau tidak ada yang serius, jadi bisa cepat-cepat pulang kasihan itu jagoan juga harus ikutan sakit." Arum pun bergantian mengusap Iko, mereka tentu berbicara dengan suara yang bisik-bisik, karena takut Iko bangun lagi.
"Iya paling juga nanti malam kalau tidak besok sudah boleh pulang Mah."
"Amin, jadi kalian bisa istirahat di rumah. Mamah juga ikut cemas kalau kamu sakit juga. Jelas kalau kamu sakit Hadi juga jadi ikut murung, buktinya dia dari pagi murung terus dan juga pengin buru-buru pulang ternyata kamu sedang sakit." Arum dan Mimin pun tampak ngobrol dengan hangat.
Sedangkan Lydia sendiri memilih mendekat pada Hadi.
"Kamu sudah bertemu dengan kakaknya Mimin?" tanya Lydia dengan suara setengah berbisik.
"Belum, belum sempat nemui karena kemarin langsung sakit," balas Hadi dengan suara tak kalah lirih.
"Dia ada di depan, kamu temui dan sekalian gantikan Mimin minta restu untuk menikah." Lydia tidak menyia-nyiakan ini, sehingga langsung meminta Hadi menemui Julio, dan meminta izin untuk menikahi adiknya.
"Serius yang mana?" Dia tadi saking paniknya sampai tidak lihat ada orang di kursi depan kamar.
"Yang pakai sweater gray dan celana levis, pokoknya mirip dengan Mimin, cuma ada satu namanya Julio, kamu coba lihat aja tadi duduk di kursi pojok."
"Ya udah aku coba keluar." Hadi pun tidak menyia-nyiakan lagi ia akan mengantikan Mimin meminta restu untuk nikah.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...