Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Maaf?


__ADS_3

Aarav menatap sinis lawan bicaranya. "Kamu cukup buruk di mataku, sekali dikecewakan akan sangat sulit untuk aku percaya lagi pada kamu. Bukan aku yang jahat tetapi aku hanya tidak ingin menambah masalah lagi."


David mengangguk lembut. "Yah aku tahu, memang aku sebelumnya pernah membuat kamu kecewa, tetapi percayalah kali ini aku benar-benar ingin Iko tetap dengan kalian, hanya itu."


"Alasanya?"


"Mungkin alasan aku dan Mimin sama, aku percaya kalau Iko diasuh sama kalian. Aku masih bisa menemuinya, tapi kalau dengan Papah, aku sangat sulit untuk bertemu dengan Iko." David berbicara dengan cukup meyakinkan.


Mendengar ucapan David, justru Aarav tersenyum sinis.


"Tuan Wijaya itu papah kamu, seharusnya kamu lebih percaya papah kamu dari pada dengan aku yang tidak ada hubungan apa-apa."


David pun mengangguk. "Yah kamu memang benar dia papahku, oleh sebab itu aku sangat paham bagaimana pola asuh yang Papah akan terapkan pada Iko, pasti sama dengan  Papah mengasuhku dulu. Aku kurang mendapatkan sosialisai dengan siapa pun, bahkan Papah tidak segan-segan mengurung aku kalau apa yang aku lakukan tidak sesuai dengan keinginan Papah, sehingga ketika aku diizinkan keluar rumah aku banyak melakukan hal yang membuat Papah marah, kisah cintaku yang tidak sesuai dengan keinginan Papah menjadi korbanya. Aku takut Iko akan bernasib denganku. Kalian mungkin tidak akan tahu seberat apa berada di bawah tekanan menjalani apa pun itu yang tidak kita suka. Menjalani hidup tetapi diatur-atur terus itu sangat membuat gila dan tertekan."


Kali ini Aarav mengangguk samar, mencoba mengerti perasaan David.


"Lalu rencana kamu apa? Kamu yang lebih tahu dengan papah kamu, mungkin dengan masukan dari kamu, kami tidak harus membuat  pertengkaran ini terus, jujur cape yah, hampir dua tahun aku tidak tenang memikirkan masalah kamu dan Mimin, yang  secara tidak langsung masuk juga ke masalah rumah tanggaku."


Kali ini David tidak langsung menjawab. "Aku juga tidak tahu apa saja yang sedang papah rencanakan, yang jelas saat ini aku tidak setuju dengan  rencana Papah, yang aku tahu hanya papah tengah membuat laporan kamu dan Mimin?"


"Apa mereka punya bukti? Kenapa ngotot sekali  melaporkan yang belum pasti kebenaranya."


"Papah pasti sudah mempersiapkan semuanya."


"Yah aku tahu, dan kami pun tidak akan tinggal diam difitnah dengan tuduhan yang tidak  masuk akal."


"Lupakan soal itu, aku sebenarnya punya rencana tetapi belum tahu berhasil atau tidak."


"Katakanlah, aku akan mencoba memikirkan ulang rencana kamu," titah Aarav.


"Aku dan Papah belum tahu bagaimana wajah Iko saat ini, bukankah itu bisa kamu gunakan untuk mengganti Iko yang palsu, biarkan papah ambil Iko palsu dan Iko yang asli tetap dengan kalian."

__ADS_1


Mendengar ucapan David, Aarav langsung menggelengkan kepalanya. " Itu sangat sulit, sama saja kamu meminta aku mencari anak lain untuk ditumbalkan. Dari mana aku dapat anak itu? Beli? Kalau iya, itu tandanya kamu tengah menjebak aku agar aku benar-benar masuk ke sindikat jual beli bayi. Itu tidak mungkin."


David langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Bukan itu maksudku Rav,  kamu bisa adopsi dari orang lain lagi."


"Adopsi anak tidak segampang itu David, aku aja hampir gila ngurus surat-suart adopsi anak kamu, sekarang aku dibikin gila dengan adopsi anak lagi. Kenapa bukan kalian saja yang mencoba adopsi anak orang lain dan jangan rebutkan Iko lagi, anak adopsi maupun kandung sama saja, ada anak kandung yang tidak berbakti pada orang tuanya, dan justru anak angkat yang berbakti pada orang tuanya. Semuanya sama saja asal kita didiknya benar pasti juga mereka akan menyayangi orang tua angkatnya layaknya orang tua kandung."


Dengan suara yang cukup keras Aarav membalas ucapan David.


"Maafkan aku, tidak ada maksud aku untuk menambah masalah baru untuk kalian. Aku hanya tidak ingin Papah ambil Iko."


"Yah, aku tahu apa yang kamu cemaskan, aku dan Hadi sudah sepakat akan tetap diam dan membiarkan Wijaya melaporkan kami karena kami yakin bukti kami untuk menyangkal tuduhan papah kamu cukup kuat. Kamu hanya perlu doakan kami, doakan yang terbaik untuk anak kamu, dan jangan sekali-kali kamu merencanakan sesuatu lagi, karena aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan kamu," ancam Aarav.


Ia cukup lelah dengan masalah Wijaya dan David, dan Aarav berharap kalau ini adalah terakhir berurusan dengan Wijaya.


"Kamu tidak akan penjarakan Papah kan?" tanya David dengan wajah sedih.


"Tergantung, kalau Wijaya masih terus mengusik kami, aku tidak akan biarkan. Termasuk terror yang papah kamu kirimkan itu bisa aku laporkan ke polisi."


David mengernyitkan dahinya. "Papah terror kalian, terror apa? Jujur aku malah baru tahu soal ini."


"Tapi kayaknya nggak mungkin Papah melakukan itu Rav, memang papah meminta aku mengalihkan perhatian kalian, tetapi dengan menggunakan Mimin, buka melakukan terror seperti itu."


"Kita tunggu hasil dari polisi, karena aku sudah melaporkan kejadian tidak menyenangkan itu."


"Yah, mudah-mudahan cepat ketemu pelakunya, itu cukup membuat tidak nyaman pastinya."


Aarav membalas dengan anggukan samar.


"Aku tidak bisa lama di sini, ada banyak kerjaan yang harus aku kerjakan." Aarav berdiri lebih dulu di susul oleh David.


"Terima kasih telah menyempatkan kamu datang ke sini, aku sangat senang. Aku titip Iko yah. Maaf sebelumnya sudah beberapa kali membuat kamu kecewa dengan ku."

__ADS_1


Aarav cukup kaget mendengar ucapan David.


"Iya aku maafin, dan soal Iko kamu jangan khawatir kami semua menyayanginya. Tidak pernah aku membedakan dia anak kandung atau angkat."


Seulas senyum terlihat di wajah lelah David. "Aku percaya itu."


"Yah, kalau gitu aku pulang, kamu banyak-banyaklah berbuat kebaikan semoga hukuman ini bisa merubah kamu jauh lebih baik lagi." Aarav bersiap untuk membalikan badan. Namun segera David memanggilnya lagi.


"Rav..."


Aarav yang  merasa David ada yang ingin dibicarakan pun mengurunkan untuk pergi. Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya. "Ada yang masih ingin kamu bicarakan denganku?"


"Apa boleh akau bertemu dengan Iko?"


Terdengar David ragu-ragu untuk mengucapkan kalimat itu.


"Kamu bertanyalah dengan Mimin, karena dia adalah anak Mimin, aku dan istriku hanya diberikan amanah untuk mengasuhnya." Aarav tahu ucapannya pasti akan  membuat hati David sedih, tetapi dia tidak bisa memberikan izin seenaknya dia karena ada yang lebih berhak untuk memberikan izin.


David menunduk mendengar jawaban Aarav.


"Mimin saat ini masih di rumah sakit, selain fisiknya yang terluka juga mentalnya terganggu. Yang seharusnya mendengar kata maaf dari kamu adalah Mimin. Dia yang paling terluka dari semua perbuatan kamu dan Tuan Wijaya."


David mengangguk lemah. "Aku akan berusaha meminta izin dan maaf dengan Mimin."


Kini Aarav pun gantian memberikan seulas senyum. "Semoga Mimin mengizinkan, karena aku juga ingin Iko tahu siapa ayah dan ibu kandungnya."


"Sekali lagi terima kasih banyak, sudah datang membesuk."


Aarav hanya membalas dengan anggukan, dan setelah pembicaraannya dirasa selesai Ia pun kembali berpamitan.


"Semoga kamu memang benar-benar berubah David."

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2