
Telingaku terusik dengan bunyi tangisan dari jagoanku. Mata yang masih berat, aku paksa buka dan senyum tersungging ketika jagoan ternyata menangis, mungkin dia akan membangunkan bunda dan papahnya untuk sahur. Ku sibakan selimut yang menutupi tubuh polos ini, segera ku raih pakaian luar (Bathrobe) untuk menutupi tubuhku, dan segera aku menghampir jagoan yang memang sudah dua malam ini jagoan bobo di ranjang sendiri.
"Selamat malam jagoan. Kamu haus yah," sapaku sembari mengangkat tubuh jagoan dan segera membuatkan susu.
"Jagoan mau bangukan Bunda dan Papah sahur?" tanyaku lagi, yah aku selalu melakukan ini agar aku terbiasa untuk mengajak berkomunikasi dengan jagoanku. Sebelum aku membangunkan mas suami aku pun memberikan susu terlebih dahulu pada Iko mengingat ini juga masih jam dua pagi sehingga terlalu awal untuk sahur. Lagipula untuk kerjaan menghangatkan rendang sudah dikerjakan oleh Mbok Jum dan Bi Lilis.
Sembari memberi susu Iko aku pun membuka ponsel karena berniat untuk menghubungi Bapak dan Ibu, sekedar menanyakan sahur hari pertama dengan menu apa dan lain-lain agar Ibu dan Bapak tidak merasakan bahwa aku jauh dari mereka. Namun pandangan mataku tergelitik dengan pesan dari dokter Sera.
[Hari ini Mimin meminta saya mengantarkan ke sebuah pondok pesantren di ujung Jawa barat, dia ingin menghabiskan ramadhan tahun ini di tempat yang sepi, dan setelah survei ke beberapa pesantren hanya ada satu pesantren yang mau menerima Mimin untuk tinggal di sana. Bahkan tadi Abah bilang bahwa beliau bisa sekalian membantu mengobati Mimin. Lydia tolong doain agar Mimin di tempat itu bisa sembuh. Saya saksi betapa putus asanya dia atas cobaan hidup ini. Doakan agar Mimin bisa menemukan semangat untuk menjalani hidup ini. Dia tidak menginginkan banyak atas tadir ini. Saya tahu dia hanya ingin sembuh.] itu adalah pesan dari dokter Sera yang membuat air mataku jatuh saat membaca pesan singkat itu. Tenggorokanku sakit sekali. Aku menatap bayi tampan yang ada di atas pangkuanku. Rasanya hati ini semakin tercabik-cabik.
Aku tidak tahu atas sakit apa yang diderita oleh Mimin, pantaskan aku berpikiran buruk kalau ada yang sengaja membuat Mimin seperti ini? Yah, diam-diam aku banyak mencari artikel kesehatan yang menunjukan ciri-ciri kangker kulit, baik Milanoma, Karsinoma sel skuamosa, Karsinoma sel basal. Namun, semua dari ciri-ciri yang aku baca dari internet tidak ada yang merujuk pada yang dialami oleh kulit Mimi. Aku pun bingung sebenarnya sakit apa yang dialami oleh sahabatku. Sedangkan untuk memeriksakan diri secara pasti ke rumah pasti yang memadai untuk mengetahui sakit yang Mimin derita wanita dengan satu putra itu tidak mau.
[Lydia berharap, di tempat itu Mimin bisa menemukan semangat untuk sembuh, dan juga saya tak henti berdoa agar Mimin bisa sembuh, dan semoga apa yang dikatakan Abah memang benar adanya dia bisa mengobati sakit Mimin. Lydia sangat tahu maut, rezeki, dan jodoh sudah diatur oleh Tuhan, dan Lydia sangat tahu kalau sepasrah dan semenginginkan dia untuk kematianya, kalau Tuhan tidak mengizinkan Mimin pasti akan tetap bertahan. Lydia tidak bisa membantu banyak selain doa yang selalu tertuju untuk kesembuhan dan kekuatan untuk Mimin menjalani ujian ini semua.] Aku pun tanpa sadar membalas pesan tersebut.
Jujur dalam hati ini aku sedikit mendapatkan harapan baru untuk Mimin, yah aku yakin dengan Mimin memilih mendekatkan diri pada Allah adalah jalan yang sudah paling betul. Tidak ada sakit yang tidak mungkin disembuhkan oleh Allah. Aku berharap Mimin bisa mendapatkan ketenangan hati dan sakitnya juga sembuh. Dan andai kecurigaanku benar ada yang dengan sengaja membuat Mimin sakit, aku hanya berdoa apa yang dia perbuat akan berbalik pada keluarganya, atau justru berbalik pada dirinya sendiri. Tuhan maha adil semua yang dilakukan oleh kita di atas muka bumi ini selalu atas kehendak Tuhan aku yakin kalau Tuhan tidak pernah tidur. Dan akan membalas semua perbuatan kita.
Setelah aku membalas pesan dokter Sera, dan juga aku juga bertukar kabar pada orang tuaku di kampung. Aku pun membangunkan kang mas suami untuk bersih-bersih dan sahur hari pertama.
Seperti sebelum-sebelumnya kalau mas suami akan langsung mengebangkan senyumnya ketika Iko aku tempelkan di atas dada mas suami dan seolah bayi tampanku membangunkan sang papah dengan menggosok-gosok pipinya ke kulit mas suami.
"Loh, Jagoan mau ikut puasa juga?" tanya mas suami dengan mengambil Iko dan merebahkannya di samping mas suami dan memeluknya dengan posisi yang makin nyaman untuk jagoan.
__ADS_1
"Iko udah sahur dong Pah," balasku dengan menirukan suara anak kecil.
"Wah, kok pintar dan rajin sekali ini jagoan, jam segini udah sahur. Emang mau ikut puasa beneran," oceh mas suami dengan Iko.
"Mas, biasa yah nitip Iko. Lydia mau mandi dulu nanti gantian dengan Mas." Kami, harus pandai-pandai mengatur waktu mengingat sekarang tidak bisa mandi berdua jadi hemat waktu. Eh sebenarnya bisa sih tapi kasihan Iko kalau ditinggal.
Tidak sampai waktu lama pukul setengah empat kami pun turun, sama seperti biasa Mbok Jum dan Bi Lilis kaget ketika melihat Iko ikut bangun sahur. Yah jagoan tampanku tidak tidur lagi setelah perut kenyang seolah ingin mencicipi rendang buatan Mbok Jum yang mana kata Mamih pun rendang buatan Mbok Jum itu juara banget rasanya, dan bener saja aku merasakan sendiri kalau rendang Mbok Jum itu juara, bahkan dimakan pakai nasi anget pun sampai menghabiskan nasi dua piring.
Rendang buatan Mbok Jum
"Tadi udah Mbok bungkusan pake keras nasi Mbak, kasihan kalau mau pulang malam-malam kerumahnya," jawab Bi Lilis.
"Oh, ya udah kalau sudah di beri makan untuk sahur, besok-besok juga yah Bi siapkan saja untuk Lek Man atau Lek Jono, biar makan di sini sekalian, dan jangan pake kertas nasi pakai saja piring," ucapku yang mungkin bagi mas suami terlalu heboh mengatur ini dan itu. Maklum mas suami tidak suka terlalu ribet urusan hidupnya, ingin selalu praktis dan beres.
Sahur pertama pun berjalan dengan lancar, dan tentunya semangat itu semua karena jagoanku ikut meramaikan keriwehan saat sahur.
"Ramadhan tahu ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jujur dari banyaknya Ramadhan yang pernah mas lewati. Ramadhan tahun ini adalah yang paling berbeda, jauh lebih baik, dan perasaanya jauh lebih tenang. Lebih semangat dan juga lebih ingin memperbaiki diri terus. Mas harap Ramadhan tahun depan bisa jauh lebih baik lagi," ucap mas suami saat kita sudah selesai makan sahur dan menunggu adzan subuh dengan bercengkrama dengan jagoan kamu.
"Amin, Lydia senang kalau Mas merasakan itu semua. Mungkin karena kita ikhlas jalaninya jadi saat Ramadhan adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh kita. Jujur Lydia juga merasakan itu semua. apalagi sejak adanya Iko, Lydia seolah benar-benar harinya berjalan dengan cepat, tidak ada lagi bosan dan cari kesibukan karena ternyata hari-hari Lydia sudah disibukan oleh Jagoan.
__ADS_1
**Ketenangan Jiwa**
Telah mereka daki bukit-bukit harta, diburu disembah, jadi berhala
Tiba di puncak, apa yang ia rasa? Hanya sunyi yang ia rasa
Di padang rumput nan luas, berkuda dengan gagahnya, hatinya bersemangat berburu kuasa
Di garis batas kejayaan, hatinya terasa hampa
Girang dan senang nafsu menggebu, dicumbu dan didekap di setiap jengkalnya
Cairan surga sebagai tujuan utama, di coba sepenuh hasrat hingga sampai puncak, hatinya masih belum puas juga
Rasa haus dan lapar akan kuasa, harta dan cinta akan terus memburu, andai yang ia tuju adalah dunia
Bersujudlah adukan semua cerita pada Semesta, serahkan semua takdirnya pada Sang Puja
Cinta-Nya akan menjawab atas semua doa, atas semua rasa sunyi, rasa hampa, dan segala rasa yang masih tak engkau temukan jua
#Mohon maaf baru up, kelupaan kirain udah di up taunya masih ke save di draf, selamat menyiapkan bukaan puasa.
Kenalan sama Tia dan Pak Gala yukkk...
__ADS_1