
Malam ini aku pun menemani mas suami yang sedang kerja, dan aku sangat senang karena Mas Aarav itu cukup terbuka dengan aku, mengenai konsep-konsep usaha yang akan dia buka, dan bahkan Mas Aarav tidak segan-segan dan tidak gengsi bertanya pendapat dan juga mendengarkan masukan-masukan yang aku berikan. Maklum biasanya cewek itu akan lebih detail terutama bahan makanan seperti yang mas suami akan jual, sehingga survey tidak harus dari masyarakat luar saja, tetapi jeritan dari ibu-ibu yang sering di dapur pun penting sehingga meminimalisir produk yang kurang di minati karena survey kurang lengkap.
Malam ini aku sangat bahagia karena Ibu dan Bapak sedang dalam perjalanan ke rumah kami, mas suami yang sebentar lagi akan buka usaha baru, Mimin yang setiap hari perkembangan kesehatannya makin membaik. Hanya selera makan yang belum stabil, tetapi menurut penuturan dokter Doni hal ini biasa ketika mengikuti kemoterapi. Selera makan akan sangat buruk bahkan rasa mual dan tubuh panas dan masih banyak gejala-gejala yang sangat tidak nyaman. Namun apabila semua sudah terbiasa akan membaik dan buka tidak mungkin selera makan akan naik, dan itu membuat tubuh Mimin akan kembali berisi.
Aku segera meraih ponsel ketika melihat ponsel yang di letakan di atas meja berkedip. "Suster Maria, ngapain tumben malam-malam telpon," gumamku dalam hati tetapi tidak menunggu lama aku pun menekan ikon berwarna hijau.
[Hallo, Assalamu'alaikum Sus, tumben telpon malam-malam?] tanyaku dengan setengah berbisik dan pindah dari samping mas suami agar tidak mengganggu pekerjaan Mas Aarav.
[ Walaikumsalam, Lydia ini aku Mimin, sebelumnya maaf kalau aku ganggu waktu istirahat kamu. Sebenarnya ini kejadian sudah dari tadi siang tapi, aku masih kepikiran, dan tidak bisa istirahat dengan tenang makanya aku telpon kamu. Untuk cerita dan minta solusinya, mungkin setelah aku cerita sama kamu aku bisa istirahat dengan tenang] ucap Mimin, yang kalau didengar dari cara berbicara dan nada bicaranya aku bisa artikan kalau Mimin sedang ada masalah.
[Kamu tenangkan perasaan kamu dulu Mimin, dan kamu harus yakin kalau ini semua pasti akan baik-baik saja. Kamu jangan panik yang malah bisa memicu kamu setres dan bisa memperlambat kamu sembuh. Kamu boleh ceritakan tapi pelan pelan dan jangan panik yah] Aku memberikan contoh berbicara dengan tetap tenang.
Beberapa kali aku dengan Mimin mengucapkan istigfar dan mencoba menyebut asma Allah, untuk mengurangi ke cemasan dirinya, dan aku pun memberikan waktu untuk Mimin mengolah kecemasanya.
[Jadi gini Lyd, tadi siang pas aku lagi ngantri terapi di poliklinik kulit, tiba-tiba ada yang duduk di samping aku. Aku pikir sama dong pasien, aku nggak coba lihat karena udah biasa ada yang seperti itu, dan selama ini selalu sama-sama pasien yang tiba-tiba duduk di samping. Tapi lama-lama aku curiga orang itu terus ngamati aku dan tiba-tiba dia nyebut nama aku. Aku yang merasa namanya di sebut reflek noleh, dan ternyata dia adalah orang yang sangat aku hindari selama ini.] Mimin menjeda ucapanya.
Aku sudah mendengar suara Mimin yang berbeda seperti sedang menahan takut atau bahkan menahan tangis.
__ADS_1
[Maksud kamu siapa? Apa dia adalah ayah biologis Iko?] tanyaku langsung. Meskipun sebenarnya tidak usah aku bertanya karena jawabanya sudah bisa dipastikan pasti iya. Siapa lagi orang yang sangat Mimin coba hindari. Bapak dan abangnya? Aku yakin mereka tidak akan sebegitu mengenali Mimin terlebih Mimin kabur sudah belasan tahu dan tidak bertemu pasti untuk tahu ciri-cirinya juga rasanya tidak mungkin.
[Aku sempat pura-pura tidak kenal Lyd untuk menipu, tapi rupanya dia sangat hafal suaraku, coba kamu tebak apa yang di ucapkan?" tanya Mimin dengan suara yang semakin bergetar dan lantunan dzikir aku pun terus dengar di sela-sela ucapanya yang bergetar itu.
[Dia bilang apa?] tanya aku balik, jujur meskipun bukan aku yang berada di posisi itu, tetapi aku sudah bisa bayangkan betapa tegangnya di situasi itu tadi siang.
[Seperti yang kamu cemaskan Lyd, dia tanya anak aku.] Kali ini aku dengan isakanĀ samar Mimin.
[Min, kamu tetap sabar Iko pasti aman dengan kami, kamu tidak usah cemas. Kamu tadi tidak bilang kan kalau Iko ada sama aku dan juga Mas Aarav?] Aku terus meminta Mimin agar sabar.
[Tidak Lyd, aku bilang kalau Iko sudah mati, sesuai yang Tuan Wijaya inginkan, awalnya aku lihat kalau David percaya, tetapi pas terakhir mau pergi David bilang bakal cari tahu kebenaranya. David tidak percaya kalau Iko udah meninggal. Lyd kira-kira aku harus gimana kalau ketemu David lagi. Aku takut David akan sadar dan tahu kalau yang aku ucapkan itu memang bohong, dan dia bisa mengambil Iko,] ucap Mimin dengan beberapa kali bicaranya terhenti karena mengatur emosinya.
Aku pun menghirup nafas lega. Baru saja aku bersyukur dengan sangat yakin, kalau aku sedang beruntung, tetapi rupanya aku salah. Aku bukan tengah beruntung, tapi seiring ada kabar bahagia ada juga masalah yang melanda.
[Kira-kira kalau pindah rumah sakit, biar kamu tidak ketemu laki-laki itu lagi bagaimana?] tanyaku, ini hanya ide asal saja yang mana aku belum bercerita dengan Mas suami sehingga tidak bisa mengambil keputusan sepihak.
[Pindah rumah sakit, kemana? Sedangkan kamu bilang ini sudah rumah sakit terbaik, belum aku juga sudah dekat dengan dokter Marni, dengan dokter Doni, dan Bunda Mara (Psikolog yang mendampingi Mimin agar semangat sembuh).
__ADS_1
[Kalau memang harus pindah bisa ditanyakan pada dokter Doni atau yang lainya, rekomendasi rumah sakit yang terbaik untuk kamu,] jawabku meskipun aku tidak yakin.
[Aku heran padahal aku baru saja merasakan tenang dan semangat banget sembuh dan bertemu dengan Iko, tapi kenapa sekarang aku merasa kalau David tidak akan membiarkan kami tenang,] eluh Mimin yang membuat aku cemas dengan kesehatan Mimin yang bisa saja kembali turun karena kondisi ketenangan hati dan pikiran Mimin terusik.
[Min, justru dengan adanya David yang seolah mengganggu kamu, kamu harus memompa semangat lebih banyak lagi, dan kamu bisa yakin dan membuktikan untuk membuat David dan keluarganya nyesel karena sudah membuat kamu sengsara. Jujur dari sisi lain aku pengin suatu saat David dan keluarganya lihat kamu bahagia dengan Iko, bagaimana kira-kira mereka apakah akan meyesal atau justru merencanakan kejahatan lain,] Aku yang bukan wanita baik-baik banget memiliki rasa ingin balas dendam dan bikin mereka nyesel sampai kerak-keraknya. Yah, meskipun bukan aku yang ngalamin secara langsung tetapi rasanya hati ini tidak ikhlas kalau David dan keluarganya bahagia.
[David bisa menggunakan alasan aku sakit Lyd, dan dia bisa mengambil hak asuh Iko, itu yang David katakan tadi. Aku tidak pantas mengasuh anakku.]
[Kalau gitu ini kesempatan kamu untuk sembuh dan membuktikan kalau kamu bisa merawat Iko dengan baik dan jangan biarkan laki-laki itu besar kepala karena sehat dan berkecukupan, serta punya kuasa sehingga punya hak untuk menindas kamu. Kamu harus segera sembuh dan tutup mulut dia, kalau perlu bikin dia nyesel sudah ninggalin kamu] Aku justru yang semakin panas hatinya dengar cerita Mimin.
[Terus kalau nanti David juga gunakan alasan materi, apalagi kamu tahu sendiri biaya berobat saja aku dari kamu, hutang-hutang aku sama kamu banyak banget. Aku yakin banget kalau David ngajuin ke pengadilan untuk hak asuh, Iko bisa lepas dari tanganku Lyd] Mimin terus terdengar ketakutan.
[Aku belum tahu betul soal masalah ini, tapi nanti aku coba tanya Mas Aarav dan juga Papi Sony dan mungkin mereka bisa cari solusinya. Kamu santai dulu saja, kalau ketemu laki-laki itu lagi kamu bersikap santai dan tetap tenang agar tidak curiga,] ucapku, dan setelah aku mengatakan akan menanyakan kelanjutannya dengan mertuaku Mimin pun terlihat bisa tenang dan tidak terisak lagi, aku pun benar-benar menitipkan Mimin pada Suster Ria agar menjaga Mimin dan memberikan pengertian yang baik terutama tentang Iko agar Mimin tidak khawatir dan berpikir macam-macam dengan apa yang belum tentu terjadi. Dan biasa saja kalau pikiran Mimin terus di cuci oleh David bisa semakin sulit untuk sembuh.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1