
"Tidak usah Sayang, aku sudah selesai kok. Kamu tidak usah cape-cape panggil Mas." Suara mas suami menahan langkahku yang hampir meninggalkan meja makan, untuk naik ke kamar mengabarkan mas suami ada tamu yang minta harta gono gini.
Aku pun tersenyum manis menyambut kang mas bojo yang semakin hari semakin tampan.
"Maaf Mas, Lydia nggak izin dulu untuk mengajak Mbak Siska masuk," ucapku ketika Mas Aarav sudah ada di sampingku, dengan wangi yang aduh membuat otakku lumpuh. Meskipun aku tahu Mas suami tidak akan keberatan kalau aku ajak Mbak Siska masuk.
"Tidak apa-apa, mungkin mau numpang sarapan. Maklum dia di rumah nggak bisa masak. Kamu keluarkan masakan kamu, yang bikin aku setiap hari bertambah jatuh cinta Sayang," balas mas suami yang membuat aku sedikit GR dan merasa di hargai karena ucapanya membuat hati ini tidak sia-sia mengajak Mbak Siska masuk. Pasti Mbak Siska dalam hatinya udah gondok banget tadi saja mengira aku pembantu, sekarang dengan bukti, terpampang nyata siapa aku sebenarnya.
"Maaf yah Mbak, aku hanya masak ini, abis sudah dua hari menginap di rumah mertua dan baru pulang dari kampung juga silahturahmi," ucapku sembari membawa hasil olahanku yang sudah pasti enak. Tidak lupa aku juga melayani Mas bojo dengan sebaik mungkin.
"Mas mau satu atau dua," ucapku sembari mengambilkan cup Zuppa Soup yang dari harumnya saja sudah menggoda lidah untuk segera bergoyang.
"Dua saja Sayang, mana cukup satu, kalau kamu yang masak." Aku sih tahu emang mas bojo sengaja memanas-manasi Mbak Siska benar saja, aku lihat wajah wanita yang selalu berpenampilan seksi itu, wajahnya sudah ditekuk dengan kesal.
"Sejak kapan kalian nikah, dan kenal dari mana? Kayaknya aku nggak pernah lihat wanita udik ini?" tanya Mbak Siska dengan tangan menyingkirkan zuppa soup yang aku hidangkan tepat di hadapanya. Aku pun menarik kursi dan duduk lalu menikmati sarapanku setelah selesai menyiapkan makanan untuk mas suami.
Seperti yang sudah-sudah aku hanya duduk dan menyimak pertunjukan yang pasti seru, aku tidak usah cape-cape melakukan pembelaan karena kang mas suami sudah pasti membelaku.
"Kapan dan ketemu di mana itu bukan urusan kamu, untuk apa lagi ingin tahu urusan yang bukan urusanya. Lagian kamu datang ke rumah orang sepagi ini apa kamu nggak ada kerjaan. Dan juga ingat yah, aku lebih memilih yang udik tapi bisa melayani suaminya dengan sempurna, dari pada yang modern dan kekinian, tapi kerjaanya hanya kelayaban tidak karuan." Mas Aarav tidak menyentuk makanan yang aku buat, mungkin selera makanya langsung hilang karena wanita yang sudah menjadi mantan istri memancing emosinya di pagi hari.
"Aku nggak akan datang setiap saat kalau kamu memberikan harta gono gini yang aku minta. Kamu yang seolah memancing aku untuk datang terus," balas Mbak Siska semakin membuat Mas Aarav terlihat tambah marah.
"Bukanya permintaan kamu ditolak oleh pengadilan, karena kamu yang selingkuh. Padahal saat kita menikah juga kita sudah berjanji siapa yang selingkuh dia akan keluar tanpa harta sepeser pun dan perjanjian itu sah secara hukum," balas Mas Aarav lagi. Aku tetap menikmati saranku yang sangat lezat tetapi telingaku menguping dengan sangat baik agar aku semakin tahu apa yang sebenarnya membuat Mas Aarav dan Mbak Siska bersitegang terus.
__ADS_1
"Itu karena kamu licik Aarav, kamu sengaja kan membuat aku selingkuh dengan teman kamu dan setelah itu kamu ceraikan aku, dengan maksud agar uang-uangku selama
a kerja bersama kamu menjadi miliki kamu. Padahal nyatanya kamu yang selingkuh dengan wanita udik ini, buktinya baru satu tahun bercerai, kamu sudah menikah lagi," tuduh Mbak Siska, aku langsung mengangkat wajahku. Sepertinya saat ini aku harus angkat berbicara agar tuduhan wanita itu tidak semakin menjadi.
"Apa Mbak Siska punya bukti menuduh saya selingkuh dengan Mas Aarav, saat Mas Aarav masih menjadi pasangan Mbak? Kami kenal saja baru beberapa bulan ini. Hati-hati Mbak jangan menyebar fitnah jatuhnya dosa sendiri sama Mbak Siska, sebentar lagi puasa bertobatlah, dan perbaiki diri. Masalah harta sebaiknya selesaikan di pengadilan atau kalau perlu tanya ulama bagaimana cara membaginya. Aku juga tidak mau Mas kalau harus tinggal di rumah yang ada uang mantan istri kamu. Kalau memang sebaiknya dibagi, maka bagi saja, tapi kalau memang menurut pandangan islam Mbak Siska tidak ada haknya dalam harta kalian. Saya harap Mbak Siska juga menerima dengan baik. Jangan menyebar fitnah hanya untuk menutupi kesalahan sendiri," ucapku langsung membuat semuanya diam.
"Lagian jangan sampai masalah harta memutus tali silahturahmi, masalah harta menimbulkan fitnah," imbuhku lagi, jujur kesal enggak di rumah enggak di Jakarta tuduhannya jadi selingkuhan orang terus, bosen banget dengarnya.
"Gini aja deh Sis, apa kalau aku bagi harta-hataku pada kamu sebagian, kamu akan berhenti mengganggu aku dan pergi dari masa laluku, karena jujur aku tahu kamu bolak balik datang bukan karena harta, lagian aku juga tidak membiarkan kamu kosong banget pergi dari rumah ini, dan uang-uang dari selingkuhan kamu, Vila, apartemen dan beberapa aset lain aku rasa cukup untuk kamu hidup mewah. Kamu hanya ingin cari perhatian saja dari orang yang kamu anggap masih mencintai kamu dengan membuat masalah harga gono gini. Kamu wanita jangan bikin harga diri kamu jatuh di depan orang lain. Aku rasa yang seperti ini yang norak dan kampungan. Memang pakaian mahal, fasilitas mewah, uang berlimpah tidak bisa membuat orang itu di pandang berwibawa. Justru cara kamu seperti ini sangat menjijihkan," ucap Mas Aarav yang langsung membuat wajah Mbak Siska merah, entah malu atau malah tidak terima karena ucapan mas suami.
"Udah Mas sarapan dulu, nanti malah sakit, biar masalah kalian lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin dan tanyakan pada orang yang lebih tahu tentang hukum terutama hukum pembagian warisan, dan satu lagi, aku nggak keberatan tinggal di rumah sederhana sekali pun dari pada tinggal di rumah mewah tapi bukan sepenuhnya hak kita," ucapku sembari mengusap punggung tangan mas suami yang terlihat masih kesal itu.
"Ok besok kita cari rumah jangan lagi tinggal di rumah ini, tapi kalau sudah pindah rumah masih diganggu juga sama kamu Sis, aku rasa kamu harus periksa kejiwaan," ucap Mas Aarav lagi membuat aku lebih tenang, karena itu tandanya tidak akan ada bayang-bayang mantan lagi.
"Aku pulang!" ucap Mbak Siska dengan ketus.
"Ngak lapar," balasnya lagi semakin ketus.
"Udah, orang kaya gitu jangan di baikin, ngelunjak dia." Mas Aarav meminta aku fokus pada sarapanku.
"Ah, tidak kok Mas, aku hanya meledek saja, lagian cape banget ngurusin urusan orang, urusan aku sendiri saja pusing," balasku sembari mengambil cup yang ke dua kalinya.
"Laper?" tanya Mas bojo sebari melederkku yang dari tadi ngunyah terus.
__ADS_1
"Enggak juga, cuma ini memang enak banget, yang masak memang jago. Jadi selera makan langsung naik." Kembali aku melupakan selingan di pagi hari, dan mengganti dengan suasana yang hangat.
Aku lihat Mas Aarav beberapa kali menganggukan kepalanya. "Asli ini adalah Zuppa Soup yang paling enak yang pernah Mas makan," pujinya nggak tanggung-tanggung padahal isianya hanya seadanya tapi penilaian mas bojo membuat aku ingin menjelajah angkasa.
"Mbok yo kalau muji itu jangan terlalu berlebihan, aku sampai nggak bisa nafas," balas ku dengan nada yang manja.
"Tapi memang ini enak asli deh. Oh iya besok kamu ikut ke kantor yah, mau ada syukuran kecil-kecilan Papih kasih kabar barusan, tadinya mau hari ini, tapi kamu belum siap-siap dan takut kamu mau istirahat juga jadi di undur besok," ujar Mas Aarav, berhasil membuat aku semakin tidak menentu. Di mana ini adalah pertama kalinya aku akan kembali bertemu orang banyak, pasti ada rasa takut malu-maluin, dan perasaan lainnya.
"Kamu tenang saja, acaranya hanya orang-orang dekat saja, nggak sampai seluruh karyawan ikut hadir. Ini hanya perkenalan anggota baru saja," balas mas bojo yang seperti tahu keresahanku.
"Apa dulu waktu Mbak Siska juga diperlakukan seperti itu?" tanyaku, hanya ingin tahu.
Mas Aarav hanya membaalas dengan gelengan kepala. "Siska dulu teman bisnis, jadi karyawan dan rekan bisnis sudah tahu makanya saat kasus perselingkuhan mulai terbongkar jadi trending gosip," jawab Mas Aarav tersenyum getir.
Kami pun menghabiskan sisa waktu sarapan dengan bercerita sedikit atas apa yang terjadi di masa lalu mas bojo, dan aku berharap kalau yang diceritakan mas bojo tidak ada yang ditambahkan atau di kurangi untuk membuat Mbak Siska salah sepenuhnya. Mungkin juga pasti Mas Aarav ada andil yang kuat mengapa istrinya bisa selingkuh, dan bercerai kalau bisa sih jangan saling. menjatuhkan. Si A bilang si B yang salah, dan si B selalu nuduh si A yang salah sehingga tidak bisa introspeksi diri kalau dua-duanya salah. Kalau sudah tidak sejalan. sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik bukan. saling serang.
Setelah sarapan aku pun mengantarkan Mas Aarav sampai depan pintu.
"Kamu istirahat yah, kalau Siska balik lagi, tidak ada aku di rumah jangan dibukakan pintunya. Biarkan dia pulang lagi. Besok kalau ada waktu kita cari rumah baru biar nggak ada gangguan lagi dari mantan," ucapan Mas Aarav sebelum berangkat kerja.
Aku pun semakin merasakan benar-benar dihargai karena itu tandanya Mas Aarav tidak ingin masa lalunya membayangi rumah tangga kita terus.
Aku mengangguk dengan memberikan senyum terbaik untuk mas suami.
__ADS_1
"Semangat kerjanya yah, semoga berkah dan selalu dimudahkan dalam urusan apapun," balasku, sembari melambaikan tangan.
Aku kembali masuk ke dalam rumah tetapi aku tahu mobil Mbak Siska masih ada di ujung jalan. Aku jadi kepikiran pesanan Mas Aarav. Takut kalau wanita itu punya sifat seperti Lyra.