
Malam ini pun dimanfaatkan oleh Jadi dan juga Mimin dengan sangat baik. Mereka benar-benar bekerja dengan sangat keras untuk mendapatkan hadiah terindah.
Pagi hari Mimin dan Hadi akan seperti biasa bangun lebih awal untuk menjalankan kewajibannya sebagai hamba Alloh dan menikmati kebersamaan mereka dengan obrolan yang ringan. Menikmati masa-masa bersama, karena kalau sudah ada anak maka mereka akan semakin sulit untuk menikmati kebersamaan itu. Baru di jam enam mereka akan pulang ke rumah mereka untuk berganti pakaian. Setelahnya sarapan dan berangkat kerja bersama lagi.
Kedatangan Hadi dan Mimin di kantor pun tidak banyak menarik perhatian karyawan lainnya karena memang sebelumnya mereka sering datang bersama-sama bahkan pulang pun sering bersama juga sehingga ketika keduanya datang ke kantor dengan status yang berbeda dari sebelumnya. Mereka pun tidak banyak mengundang tanya dari karyawan yang lainnya.
Apalagi karyawan di tempat Mimin kerja tahunnya selama ini Mimin tidak masuk karena orang tuanya meninggal dunia. Tidak ada yang curiga kalau tidak hadirnya Mimin di kantor karena suaminya yang melarang untuk bekerja.
Hari-hari Mimin dan Hadi pun terus berjalan dengan perasaan bahagia. Sesuai kesepakatan bersama Iko akan nginap di rumah Hadi dan Mimin setiap sabtu dan minggu. Mimin dan Hadi pun tidak keberatan karena Aarav dan Lydia memang lebih berhak atas Iko sesuai hukum. Sehingga ketika mereka masih membiarkan Mimin andil dalam menjaga putranya itu bisa dikatakan suatu kebaikan Aarav dan Lydia.
Di rumah yang mewah Aarav dan Lydia pun sedang bersiap untuk menyiapkan pakaian dan segala keperluan buah hatinya nanti selama di rumah sakit. Meskipun hari ini hanya jadwal rutin seperti biasa. Namun, Aarav dan Lydia tetap mengikuti apa kata dokter yang mengatakan kalau ia ada kemungkinan akan melahirkan lebih awal.
Sehingga dirinya lebih baik mempersiapkan semuanya dari pada respon nanti kalau tiba-tiba dokter berkata kalau ia akan melahirkan.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Misel yang baru datang.
"Ini lagi siap-siap Min." Lydia menunjukkan koper yang tengah diisi dengan pelengkapan si kecil.
Misel pun membantu sang menantu untuk siap-siap sedangkan Aarav mengasuh Iko. Hari ini Mimin akan datang juga untuk mengambil Iko, karena bunda dan papahnya akan ke rumah sakit.
Pukul sembilan Aarav pun bersiap akan ke rumah sakit diikuti dengan Hadi yang mengantarkan Mimin dengan Iko juga, mereka ingin tahu bagaimana hasil dari pemeriksaan Lydia.
Wajah bahagia terlihat dari Aarav dan juga Lydia. Sedangkan wajah cemas justru ditunjukkan oleh Mimin.
"Kenapa Mimin jadi deg-degan gini yah," ucap Mimin dengan memegang dadanya. Ketika mereka sudah sampai di rumah sakit.
Hadi pun tersenyum melihat kelakukan istrinya Lydia yang akan melakukan pemeriksaan dan bahkan kalaupun mau lahiran ya Lydia seharusnya yang nampak cemas, tetapi yang tidak tenang dari tadi justru Mimin.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Sayang, kok malah nadi kaya gitu, kaya yang mau lahiran aja." Hadi mengusap kening Mimin yang mengeluarkan keringat besar-besar, bahkan udah kaya mau lahiran beneran.
"Entahlah Mas, aku merasa perutnya mules dan tidak tenang, takut terjadi apa-apa dengan Lydia. Padahal Lydia sendiri terlihat asik-asik aja. Padahal makan apa pun dengan enak," jawab Mimin dengan heran.
Mau heran tapi ini nyata, yang justru Mimin merasakan sebaliknya justru terlihat pada dirinya yang sudah tidak nafsu makan lagi gara-gara cemas takut ada sesuatu dengan sahabatnya.
"Dulu waktu lahiran Iko kaya gini juga?" tanya Hadi yang kasihan melihat sang istri yang terlihat sangat cemas. Bahkan sepanjang perjalanan ke rumah sakit Mimin beberapa kali mengatakan mulas, tapi tidak ingin buang air besar.
Mendengar pertanyaan Hadi, Mimin pun langsung menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Dulu melahirkan Iko justru diberikan kemudahan banget. Tidak ada drama mulas yang berlebihan makanya sekarang aneh Lydia yang akan periksa dan belum tentu akan langsung lahiran, tapi mules banget dan deg-degan."
"Ya udah kalau gitu jangan ke rumah sakit, ikut ke kantor saja, nanti kalau sudah pasti melahirkan kita datang kalau semuanya sudah aman," balas Hadi, tetapi lagi-lagi langsung ditolak oleh Mimin yang merasa kalau ia harus menyaksikan temannya lahiran.
"Kenapa, bukan kalau di kantor kan tidak harus merasakan mulas," balas Hadi bingung cewek memang sulit ditebak.
"Tidak kalau di kantor malah makin mulas dan tidak tenang karena tidak melihat langsung. Jadi malah kalau jauh lebih tidak bisa tenang." Nah kan jawaban Mimin membuat Hadi semakin tidak tahu cewek itu maunya bagaimana. Sulit ditebak yah Om kalau cewek itu, ya itulah kaum hawa termasuk othor.
Mimin dan Hadi pun untuk hari ini Senin, tanggal tujuh belas bulan Juli, ia tidak ke kantor dulu karena ingin menemani Lydia yang akan melakukan pemeriksaan kehamilan.
Beruntung Lydia baru menjalankan pemeriksaan saja yang mengawal banyak ada suami mami mertuanya dan juga tentunya ada Mimin juga Iko yang tidak kalah antusias karena akan mendapatkan adiknya lahiran.
"Kenapa wajah kamu pucat?" tanya Lydia meskipun wajah Mimin tertutup niqab, tetapi Lydia tahu kalau wajah sahabatnya pucat, dan sorot mata yang seperti bingung.
"Entahlah, aku deg-degan, padahal yang mau periksa dan lahiran kamu tapi aku deg-degan dan tidak nyaman perutnya," balas Mimin dengan jujur, sama halnya dengan apa yang ia katakan tadi pada sang suaminya. Mendengar jawaban Mimin Lydia, Aarav dan mami Misel pun tertawa dengan renyah.
"Jangan terlalu tegang, aku pasti akan baik-baik saja," ucap Lydia sembari mengusap punggung tangan Mimin dengan mesra.
Mimin pun mengangguk dengan apa yang dikatakan oleh Lydia.
__ADS_1
"Aku mau masuk dulu kamu mau ikut tidak?" tanya Lydia pada Mimin, yang langsung dibalas gelengan kepala.
"Aku di sini saja. kalian masuk ke dalam saja aku akan menjaga Iko," balas Mimin padahal bukan hanya menjaga Iko, tetapi memang rasanya perutnya tidak nyaman banget.
Lydia pun akhirnya masuk untuk melakukan pemeriksaan dan didampingi oleh Aarav, dan juga mami mertuanya. Sedangkan Mimin memilih menjaga Iko, mengajaknya ke taman untuk menghilangkan kecemasannya.
"Mamah kenapa?" tanya Iko ketika melihat Mimin menunduk dengan memegang perutnya yang terasa mulas yang luar biasa, tetapi ketika ke kamar mandi rasa mulas itu kembali hilang. Begitu seterusnya hingga Mimin dan Iko cape bolak balik ke toilet.
Mimin yang merasa tidak kuat, dan cape harus menjaga Iko yang sedang aktif-aktifnya pun akhirnya meminta Hadi mengirimkan sopir untuk menjemputnya untuk ke kantor dan kalau di kantor Iko bisa ada yang jaga, dan Mimin sendiri mungkin akan jauh lebih tenang karena tidak terus-terusan terpikirkan Lydia dan anaknya.
*****
Sedangkan di saat Mimin sedang merasakan kecemasan yang luar biasa. Lydia dan keluarga kecilnya pun sedang bahagia karena semua buah hatinya sehat.
"Jadi bagaimana Dok apakan akan diadakan persalinan sekarang atau menunggu jadwal HPL (Hari Perkiraan Lahiran) yang dokter sebelumnya jadwalkan?" tanya Aarav dengan harap-harap cemas.
"Kenapa harus tunggu HPL, emang mau lahiran normal. Kalau Cesar kita tunggu janinnya kuat kalau sudah kuat dan berat badan sudah normal kita adakan operasi saat ini juga. Semuanya sudah dipersiapkan kan?" tanya Dokter, yang yakin kalau saat ini juga akan diadakan operasi cesar.
"Sudah siap Dok." Mamih Misel yang mengambil alih jawaban atas pertanyaan dokter. Aarav dan Lydia pun langsung memanjatkan doa, dan menghubungi keluarga Lydia di kampung untuk meminta doa agar semua urusannya lancar.
Lydia dan Aarav pun tidak lupa meminta doa pada reader untuk meminta doa agar persalinan si kecil. lancar dan tidak ada kendala apa pun.
Teman-teman reader sekalian do'akan yah agar Lydia bisa melahirkan baby twins dengan lancar.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1