Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kegalauan Mimin


__ADS_3

Setelah berpamitan pada Hadi dan yang lainnya. Mimin pun langsung mengayunkan kakinya untuk pergi ke kantor, tetapi wanita itu justru membelokan kakinya menuju kamar mandi. Mungkin sedikit mengeluarkan air mata bisa mengurangi sedikit bebannya. Yang akhir-akhir ini terasa sangat berat.


Wanita cantik itu kembali ditempatkan dalam situasi yang sulit. Menikah? Lagi-lagi ia di desak untuk menikah sedangkan nasihat Abah dan Ambu masih sangat Mimin ingat.


"Jangan dulu nikah, sebelum kamu mendapatkan restu atau izin dari ayah kamu Min, karena kalau tanpa izin dari ayah kamu sedangkan kamu masih punya wali yang sah, yaitu ayah kamu atau tidak abang kamu. Menikahnya tidak sah. Itu sama saja kamu berzina," ucapan dari Abah kembali teringat di ingatan Mimin, ketika tahu bahwa pernikahan yang tanpa izin dari wali sedangkan wali masih hidup itu tidak sah.


Cukup pernikahan pertama salah dan dikatakan tidak sah.


Sedangkan sampai saat ini Mimin masih belum bisa memaafkan ayah dan abangnya. Bukan ia tidak ingin menikah dengan Hadi, tapi Mimin masih tidak mau bertemu dengan ayah dan abangnya. Kemarahan dalam hatinya masih sangat berkobar. Ingin ia mengalah dan datang ke rumah ayahnya dan setidaknya meminta izin pada laki-laki yang menjadi ayah biologisnya, tetapi rasa benci tidak semudah itu hilang. Entah Beberapa kali Mimin mencoba membuka hati untuk memaafkan ayah dan abangnya, tapi ia tidak bisa. Bayang-bayang ibunya yang meninggal di hadapannya kembali teringat kembali ketika mengingat dua orang itu.


"Kenapa Tuhan, masalah ini harus datang padaku. Kenapa dalam menikah harus ada rukun sah nikah dengan wali dari perempuan. Sedangkan tidak semua anak beruntung bisa berhubungan baik dengan ayahnya." Mimin menjerit dalam hatinya.


Ia sudah pernah melakukan kesalahan dan dosa besar dari pernikahannya dengan David. Di mana belakangan ini Mimin mendapatkan pencerahan dari Abah, dan Ambu bahwa pernikahannya dengan Davis tidak sah dalam pandangan agama. Karena Mimin tidak meminta izin pada ayah maupun abangnya sebagai wali sahnya. Seharusnya Mimin datang ke rumah ayahnya meminta izin untuk menikah dan setidaknya ayah atau abangnya memberikan perwaliannya menggunakan wali hakim. Namun Mimin justru berbohong kalau ayahnya sudah meninggal. Yang sama saja selama pernikahannya dengan David di mata agama tidak sah dan hukumnya sama dengan berzina.


Mimi masih terus teringat nasihat dari Abah dan Ambu, apalagi Mimin menghasilkan anak satu dari pernikahan terdahulunya yang artinya nasab Iko pun jatuhnya ke ibunya. Iko tidak berhak dapat nasab ayahnya meskipun pernikahan mereka sah di mata Negara tapi di mata Agama tidak sah.


Mimin terus mengeluarkan air matanya. Ini adalah ujian terberatnya memaafkan orang yang sangat ia benci. Bahkan Mimin pernah berkata kalau ia tidak ingin bertemu dengan dua orang itu lagi, tetapi takdir justru seolah mempermainkannya. Kini dibuat Mimin yang harus menemui ayah dan abangnya kalau memang ia ingin menikah dengan Hadi.


Namun, meminta maaf dan memaafkan memang terlihat ringan, tetapi sangat berat untuk Mimin.


"Kenapa nikah haris ada wali dari ayah?" Mimin masih bertanya, meskipun Abah dan Ambu sudah menjelaskan. Padahal Mimin sudah merasa nyaman dengan Hadi, dia juga merasa Hadi adalah sosok yang baik dan bisa ngertiin dirinya dan Iko. Keluarga Hadi juga mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya. Namun, masalah justru datang dari Mimin sendiri.


Ia pun tidak enak dengan Lydia dan Aarav yang sudah sangat baik dan selalu membantu dirinya hingga urusan jodoh mereka benar-benar selektif memilihkan jodoh untuk dirinya, tapi lagi-lagi Mimin mengecewakan sahabatnya. Dan yang jelas Mimin mengecewakan Hadi.


"Apa aku harus datang ke rumah Ayah?" Isakan Mimin semakin keras, dadanya sesak ketika takdir menarik ulur hidupnya. Ia belum bahagia sepenuhnya sekarang ia harus berperang dengan perasaanya.

__ADS_1


"Bu, kenapa tidak ajak Mimin ke rumah Ibu? Kenapa tidak ajak Mimin untuk berkumpul di rumah-Nya?"


"Bu, kenapa harus Mimin tahu semuanya? Apa Ibu senang lihat Mimin benci Ayah dan Abang? Atau Ibu sedih?"


"Apa kalau Mimin batalkan pernikahan ini Mimin jadi orang jahat Bu. Mimin nggak mau ketemu Ayah dan Abang, Bu. Mimin nggak mau." Wanita itu benar-benarĀ  betah di dalam kamar mandi. Meskipun jam sudah menunjukkan makin siang, tetapi sepertinya Mimin justru tidak ingin datang ke kantor.


"Apa aku pergi dari sini? Bukanya Iko juga sudah bersama dengan Lydia dan Aarav, Iko pasti tidak akan kekurangan kasih sayang dengan Lydia dan Aarav," gumam Mimin.


Mimin ingin menghindar dari Hadi yang mana pastinya ia kalau tidak menikah dengan Hadi, tidak akan harus bertemu dengan ayah atau abangnya untuk meminta sebuah restu.


Dengan yakin Mimin pun beranjak dari duduknya ia ingin pergi untuk mencari kehidupan yang baru. Di kota ini urusan dengan David, Wijaya sudah selesai. Iko pun sudah tidak harus dicemaskan lagi keluarga angkatnya sangat menyayangi Iko. Sehingga Mimin pun yakin ia pasti bisa meninggalkan kota ini tanpa masalah lagi.


Dokter Sera dan keluarganya pasti akan mengerti kondisinya. Hadi, ia pasti bisa melupakan Mimin, toh hubungan mereka juga belum terlalu jauh sehingga Mimin masih bisa meninggalkan Hadi dengan yakin. Hadi tidak akan kenapa-kenapa sakitnya pasti akan sembuh. Orang tuanya pasti akan menjaga Hadi dengan aman.


"Anggap saja aku tidak berjodoh dengan Hadi."


Wanita itu tidak ingin bertemu dengan ayah dan abangnya sehingga ia kembali memilih pergi dari kota ini. Menjalani hidup seperti dulu hanya sendiri di dunia ini. Dari pada harus bersama dengan yang lain dan membuat sedih banyak orang.


********


Di kamar rawat Hadi.


"Di, apa ucapan aku tadi keterlaluan?" tanya Lydia ketika melihat gelagat Mimin yang tiba-tiba berubah.


Hadi menggeleng. "Kalau dari yang aku kenal Mimin bukan tipe orang yang dengan mudah tersinggung," jawab Hadi kali ini laki-laki itu sudah rebahan di atas kasur.

__ADS_1


"Tapi aku lihat Mimin seperti tertekan, pandangan matanya juga langsung berubah ketika aku menyarankan kalian menikah. Aku takut kalau aku malah salah ucap."


Yang dikatakan Hadi memang benar selama Lydia kenal dengan Mimin dia bukan tipe orang yang gampang tersinggung dengan ucapan Lydia, tetapi hari ini Mimin sangat berbeda.


"Mungkin Mimin kecewa karena aku merahasiakan sakit ku," ucap Hadi.


Sontak Lydia mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban dari Hadi. Kepalanya diselenggarakan dengan pelan.


"Mimin, berubah wajahnya ketika aku membahas soal menikah, Hadi. Bukan saat tahu kamu mau operasi." Lydia kembali berpikir.


"Ah sudahlah, mungkin memang Mimin sedang datang bulan jadi dia baperan," ucap Lydia ia baru ingat kalau Hadi akan operasi jangan sampai laki-laki itu justru jadi stres karena memikirkan Mimin.


"Iya kayaknya dia lagi datang bulan. Sama kaya kamu dulu yang marah-marah terus." Hadi pun tak kalah berkelakar, membalas ucapan Lydia. Ia masih ingat saat Lydia tiba-tiba marah-marah terus dan ternyata sedang ada tamu bulanan. Korbannya bukan hanya Aarav tapi Hadi juga.


Lydia mencebikan bibirnya, ketika mendengar gurauan Hadi. "Udah kamu istirahat dulu Di, setidaknya tidur dua atau lima jam sampai hasil lab keluar dan kamu dilakukan tindakan operasi, jangan terlalu cape dan mikirin Mimin, nanti juga dia baikan lagi. Mimin kan kaya gitu kalau mau datang bulan galak banget." Lydia mencoba menghibur Hadi yang dari tadi malah melek terus nggak ada rasa ingin tidur-tidurnya.


"Ya kamu juga lebih galak, dan kayak macan kelaparan yah kalau mau datang bulan." Hadi terlalu senang meledak Lydia.


"Iya, dan Mas Aarav selalu jadi korbannya, salah nggak salah kena marah, tapi sekarang berhubung sedang hamil nggak ada datang bulan jadi romantis terus." Lydia sengaja meledek Hadi, padahal namanya rumah tangga ya tidak selalu romantis ada ajah masalah yang datang.


"Aduh jadi pengin romantis terus."


"Makanya cepat sembuh." Lydia beranjak bangun untuk melihat anaknya yang sedang main di sofa. Dan membiarkan Hadi istirahat. Kalau diajak ngobrol terus yang ada Hadi gak tidur-tidur.


...****************...

__ADS_1


Teman-teman sembari nunggu kelanjutan kisah Mbak Mimin yuk mampir ke novel bestiee othor dijamin seru.



__ADS_2