
Setelah telpon dimatikan Aarav pun langsung kembali masuk ke dalam kamar, cuci muka dan siap-siap untuk menyusul Hadi di rumah sakit.
"Sayang ... Sayang" Aarav membangunkan Lydia yang masih pulas tertidur.
Dengan perlahan calon ibu tiga anak itu pun membuka matanya. Lydia mengerutkan keningnya ketika melihat suaminya sudah rapih dengan sweater dan celana panjang.
"Mau ke mana Mas?" tanya Lydia terlebih wanita itu heran ketika melihat jarum jam sudah menunjukan jam dua belas malam. Namun justru Aarav berpenampilan rapih.
"Mas mau ke rumah sakit. Hadi sakit, dan tidak ada yang menjaga Mas mau minta izin jaga Hadi sampai keluarganya nanti datang," pamit Aarav sembari membantu sang istri untuk duduk. Hamil anak kembar membuat Lydia di usia kehamilan yang sudah naik ke usia jalan enam bulan semakin membesar perutnya. Sehingga tidur dan bangun sudah sulit.
"Mas Hadi sakit apa? Apa yang tadi gara-gara angkat Iko yah, Lydia malah jadi kepikiran." Tidak hanya Aarav yang cemas dengan Hadi. Lydia pun sama.
"Entahlah, Hadi belum cerita sakit apa, tapi kalau tidak salah dengar tadi Hadi bilang kalau besok mau jalani operasi. Mas juga kaget tiba-tiba kok jatuh sakit. Padahal dia termasuk orang yang jaga pola makan cukup ketat.
"Ya Alloh separah itu yah, pantesan kayaknya tadi Mas Hadi lebih banyak diam. Ya udah kalau gitu Mas cepat ke sana, takutnya Mas Hadi malah butuh sesuatu. Mana nggak ada siapa-siapa."
Setelah mendapatkan izin dari sang istri Aarav pun langsung berpamitan ke rumah sakit. Tidak harus menempuh waktu yang lama karena di jam segini kendaraan juga sudah mulai lenggang. Setelah tanya pada security akhirnya Aarav sampai di kamar yang ditempati oleh Hadi. Setelah mengetuk dan memastikan kalau yang ada di sana adalah Hadi, Aarav pun langsung masuk.
Hadi menatap ke arah pintu, di mana Aarav masuk dengan wajah yang cemas.
"Loe sakit apa, kenapa bisa tiba-tiba jadi tahanan rumah sakit? Apa yang loe alami ada hubunganya dengan tadi loe angkat Iko?" cecar Aarav, dengan langsung duduk di samping Hadi.
"Enggak, emang tadi mungkin sebenarnya gue udah tidak enak badan, dan kebetulan pas angkat Iko langsung berasa. Dokter tadi bilang ada penyempitan di usus besar, dan infeksi atau apalah, tapi besok lihat hasil lebih baru dilakukan operasi," jawab Hadi, untuk kali ini Aarav benar-benar merasa kasihan dengan Hadi karena dia sakit pas nggak ada keluarganya.
__ADS_1
Sikap Hadi pun sangat berbeda dengan biasanya, sehingga Aarav tidak bisa bercanda, padahal biasanya Aarav dan Hadi sangat rame meskipun hanya berdua saja. Namun, kali ini Hadi lebih banyak diam dan hanya melamun. Eh, bukan melamun, tapi memang mungkin sedang merasakan sakit yang teramat.
"Mimin, sudah loe kasih tahu?" tanya Aarav.
"Jangan lah, ini sudah malam. Makanya gue telpon loe karena tidak enak kalau harus ganggu Mimin," balas Hadi.
"Terus keluarga loe dikasih kabar nggak?" tanya Aarav, apalagi kalau melakukan operasi untuk penyembuhanya butuh waktu yang cukup banyak kalau Hadi tidak didampingi keluarganya kasih juga pastinya.
"Handan sudah tahu, tapi gue bilang jangan kasih tahu Mamah dan Papah, tidak enak kalau mereka tahu pasti langsung cemas," balas Hadi.
"Terus yang jaga loe siapa? Proses penyembuhan paska operasi butuh waktu yang tidak sedikit Hadi, loe sepertinya harus tetap kasih tahu sama orang tua loe. Karena takutnya mereka beranggapan kalau loe malah seperti tidak menganggap mereka. Bukan gue nggak mau jaga atau temanin loe, tapi loe tahu kan kalau gue juga harus bekerja, sedangkan loe dan Mimin juga belum sah menjadi pasangan suami istri. Loe pikirkan deh kalau orang tua loe tahu loe lagi sakit malah jadi beranggapan negative nantinya." Aarav pun mencoba menasihati Hadi.
"Jangan mentang-mentang loe bisa sendiri, terus loe nggak mau orang tua loe datang ke sini, dengan alasan nanti merepotkan. Namanya orang tua kalau anaknya sakit apalagi sampai operasi pasti ingin menemani sampai sembuh. Jadi lebih baik kasih tahu orang tua loe. Mereka mau datang atau tidak itu urusan mereka, tetapi kalau kata gue yang sudah punya anak sangat sedih kalau anak kita ada apa-apa malah tidak jujur dengan kita," imbuh Aarav menasihati sahabatnya.
"Nah itu mungkin loe bisa gunakan momen ini juga untuk mendekatkan orang tua loe dengan Mimin. Lagian pasti loe juga pernah dengar istilah, anak di mata orang tua tetap kecil. Jadi kasihan kalau orang tua loe nggak tahu kalau anaknya sakit." Aarav sih dukung banget kalau Mimin dan Hadi secepatnya menikah kasihan temanya sakit nggak ada yang ngerawat juga. Kalau ada istri mungkin kan enak ada yang manjain sekaligus ada yang merawat.
*******
Di tempat yang berbeda.
Mimin yang sedang tidur tiba-tiba terbangun ketika ia mimpi buruk.
"Astaghfirullah, kenapa aku mimpi buruk sekali yah." Mimin duduk menatap jam masih pukul satu malam, tapi tiba-tiba ia terbangun. Memang wanita itu sudah biasa bangun malam untuk melakukan sholat malam, tapi tidak di jam segini. Biasanya Mimi bangun di setengah tiga baru akan dilanjutan ke sholat subuh.
__ADS_1
Namun, malam ini ia seperti ada yang membangunkannya. Sebelum melakukan sholat malam, Mimin lebih dulu melihat ponselnya. Seperti biasa mengecek pesan dari calon suaminya yang biasanya mengabarkan sudah sampai rumah. Mimin tidak melihat adanya pesan yang dikirimkan oleh Hadi, melainkan Mimin malah membaca setatus online pada aplikasi hijau.
"Mas Hadi jam segini kenapa belum tidur? Mana belum mengirimkan pesan sudah sampai rumah atau belum lagi. Apa jangan-jangan ada apa-apa dengan Mas Hadi?" gumam Mimin, sangat heran karena biasanya tidak sampai satu jam ia sudah mendapatkan pesan dari Hadi mengabarkan kalau ia sudah sampai di rumahnya.
Untuk memastikan kalau Hadi sudah sampai rumah Mimin pun akhirnya telepon calon suaminya.
Sedangkan Aarav yang sebenarnya sedang memakai ponsel Hadi pun langsung kaget ketika Mimin malah telpon.
Aarav menatap Hadi yang sudah tertidur.
"Aduh gimana ini. Mana Hadi udah tidur," gumam Aarav bingung mau angkat telpon dari Mimin atau tidak.
Namun, belum juga Aarav mengangkat telepon dari Mimin tetapi sudah terputus sambungan teleponnya.
"Alhamdulillah, akhirnya mati juga." Aarav mengusap dadanya. Namun belum juga sepenuhnya lega Aarav sudah dikagetkan dengan pesan masuk dari Mimin.
[Kenapa tidak di angkat? Bukannya lagi online? ] Itu adalah pesan yang Mimin kirimkan.
"Astaghfirullah, aku baru ingat, Mimin bisa lihat kalau Hadi lagi online." Aarav menepuk jidatnya.
"Bangunkan Hadi gak yah?" Aarav pun mulai bingung, satu sisi kasihan karena Hadi baru istirahat kalau gak diangkat juga Mimin pasti kepikiran macam-macam.
Bersambung....
__ADS_1