Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Masakan Spesial


__ADS_3

Setelah mas bojo sholat kami langsung menuju lantai bawah untuk makan malam.


"Ngomong-ngomong kamu masak apa Sayang? Katanya masak yang spesial jadi tidak sabar ingin buru-buru makan yang spesial," ucap mas suami ketika kami masih menyusuri anak tangga satu per satu.


"Nanti juga akan tahu. Pokoknya kata Mamih ini bangus untuk Mas Aarav juga bagus untuk Lydia."


"Tunggu!! Kayaknya Mas tahu apa yang kamu maksud. Toge bukan?" tanya Mas Aarav sembari tersenyum masam.


"Kok Mas tau?" balasku. Yah pasti tahu sih, karena kata orang toge itu baik untuk pasangan yang sedang program hamil sehingga pasti Mas Aarav jauh lebih tau dari pada aku yang baru beberapa hari jadi istri.


"Tau lah, kan dulu waktu sama Siska di cekokinya sayur toge terus," balas Mas Aarav, tetapi hati ini mendengarnya sedikit nyeri. Memang aku tahu namanya menikah dengan duda harus siap dengan bayang-bayang mantan. Meskipun secara langsung atau tidak pasti kenangan akan mantan akan sesekali aku dengar.


Yah, aku pun kembali diam dan menuju meja makan, dan membuka tudung saji di mana sudah sejak tadi aku menyiapkan masakan spesial itu.



"Mas kayaknya sayurnya sudah dingin apa mau dihangatkan dulu?" tanyaku, yang melihat kayaknya Mas Aarav tidak terlalu menyukai masakan aku yang aku bilang spesial itu.


"Tidak usah, kan nasinya masih hangat," balas Mas Aarav sembari menatap aku yang baru ambil nasi dari megic com.


"Atau Mas nggak suka sayur toge. Lydia bisa masak yang lain. Abis tadi Mamih bilang katanya harus sering makan sayur toge. Jadi Lydia masaknya sayur serba toge." Aku merasa dari wajah Mas Aarav seperti kurang menyukai olahan dari toge.

__ADS_1


"Tidak usah Sayang, aku senang kok. Memang seperti itu kalau kata orang kalau sayur toge bagus untuk suami dan istri yang sedang program hamil. Kata orang jika dikonsumsi secara teratur, tauge dapat meningkatkan kualitas sel telur dan sper-ma, sehingga kesempatan untuk terjadinya pembuahan menjadi lebih tinggi. Tauge juga mengandung vitamin E yang tinggi, yang merupakan antioksi dan Kandungan ini dapat membantu melindungi sel sper-ma dan sel telur dari kerusakan akibat radikal bebas, sehingga juga dapat meningkatkan terjadinya pembuahan. Nah, dari manfaat ini dapat disimpulkan bahwa tauge memiliki manfaat jika dikonsumsi seccara rutin oleh pasangan yang sedang program hamil." Mas Aarav pun yang mungkin melihat wajah aku sedih kurang bersemangat langsung tahu kalau aku membutuhkan senyum teduh dari mas suami, dan mencoba menjelaskan dengan manfaat sayur toge.


"Yah, tapi reaksi Mas itu kayak orang yang tidak suka. Beda kayak biasanya Mas itu reaksinya akan senang gitu," ucapku dengan jujur. Kita harus saling terbuka bukan? Itu yang aku lakukan aku ingin kita jujur dalam urusan apapun.


"Bukan tidak suka, lebih seperti nggak percaya gitu. Abisan dulu makan sayur seperti ini hampir setiap hari, tapi nggak hamil juga. Jadi kayak malas untuk ngerajinin makan kaya ginian karena hasilnya nggak ada." balas Mas Aarav sembari menyuapkan makanan pertamanya. Seperti biasa Mas Aarav akan memuji masakan aku.


"Jadi Mas Aarav dan Mbak Siska tidak punya anak? Terus kamar anak dan juga permainan yang banyak itu punya siapa?" tanya aku heran karena di rumah ini perkakas bayi sudah lengkap semua.


"Yah, itu dulu Siska saking pengin anak jadi siapin ini itu dulu, tapi beberapa kali program ke dokter tidak juga ada yang berhasil jadi. Makanya aku kurang percaya dengan program seperti itu," balas Mas Aarav di sela-sela makan malam.


"Emang Mas dan Mbak Siska nikah berapa tahun?" tanyaku, meskipun hati ini sakit setiap berceita tentang mantan dari mas suami, tetapi kekepoanku selalu ingin  tahu, sampai ujung. Selain alasan perceraian hal-hal kecil juga rasanya hati ini selalu ingin tahu terus.


"Lima tahun," jawab Mas Aarav singkat. Aku pun cukup terkejut dengan jawaban mas suami.


"Bagus bahkan semuanya bagus, tapi mungkin aku dan dia tidak ada rezeki soal anak. Jadi sekali pun berusaha sampai mati-matian akan sulit untuk mendapatkan rezeki itu."


Aku pun mengerti karena memang anak itu adalah rezeki dan Allah lah yang bisa memberikan rezeki itu. "Tapi kalau misalkan Lydia juga nanti tidak bisa memberikan anak apa Mas Aarav akan meninggalkan Lydia dan mencari wanita yang lain, yang bisa memberikan buah hati untuk Mas?" tanyaku pada sang Suami yang hati ini justru berpikir kalau pernikahan sebelumnya suamiku gagal mungkin karena adanya rasa rindu hadirnya buah hati.


Aku mencoba mengerti bagaimana berada di posisi Mbak Siska yang pasti sudah sangat ingin mempunyai momongan.


Mas Aaraav yang tahu kalau aku sedang merasa tidak tenang pun menggenggam tanganku dan kemudian menatapku dengan tajam. "Pernikahan ini  jangan terpokus sama anak, fokuslah dengan perbaikan diri dan yang saling memahami. Kalau tidak ada anak, insyaAllah banyak anak yang kurang beuntung yang bisa menjadi anak kita." Jujur jawaban dari Mas Aarav cukup membuat hati ini jadi teduh.

__ADS_1


"Amin, semoga kita akan selalu jadi pasangan yang saling mengertiin, dan bisa menghadapi masalah yang datang menghadang rumah tangga kita," ucapku. Kini rasanya selera makanku semakin naik.


"Amin, ngomong-ngomong kamu orangnya padai berkelahi yah?" tanya Mas Aarav lagi. Sontak saja aku cukup kaget.


"Berkelahi? Berkelahi apa? Perasaan Lydia tidak ada pernah berkelahi, kenapa Mas Aarav ngomong gitu?" tanyaku pura-pura polos, meskipun aku menebak dari kejadian pagi tadi yang mana aku sempat bersitegang dengan Mbak Siska.


"Tadi pagi dengan Siska, kamu keren. Aku sampai balik lagi ke kantor, padahal tadinya mau balik lagi ketika satpan telpon kalau Siska balik lagi ke rumah kita, tapi pas cek dari CCTV kayaknya kamu nggak butuh bantuan aku. Kamu keren," ucap Mas Aarav sembari mengacungkan dua jempolnya ke arah ku. Kembali wajahku merah merona, malu-malu karena pujian mas suami.


"Itu namanya jurus kepepet, dan kalau nggak kepepet mana  mungkin Lydia bisa melawan Mbak Siska tahu sendiri badan Mbak Siska lebih besar dari pada badan Lydia." Rasanya aku justru malu apabila mas bojo memujiku.


"Ya tetap saja mau kepepet atau pun tidak kamu adalah orang yang hebat. Aku suka dengan cara kamu menghadapi Siska, tenang dan tidak grasak grusuk. Siska yang memang orangnya kurang baik dalam mengolah emosi jadi kesal banget kayaknya lihat kamu."


Justru malah kami selesai makan masih membahas tentang aksiku tadi pagi yang kata mas suami hebat dan keren.


"Tapi di mana sih Mas ada CCTV kok Lydia nggak tahu kalau di rumah ini ada kamera pemantau," ucapku sembari pandanganku sejak tadi menatap ke setiap penjuru.


"Ada di depan dan ada juga di bagian lantai dua. Tidak terlalu jelas sih, tapi cukup untuk aku mengetahu aksi-aksi kamu. Jadi kamu ceritanya bisa buka usaha tempat fitness itu dari mana? Karena kamu suka olahraga atau dari mana kenapa bisa tercetus tempat fitness yang lebih identik dengan tepat cowok untuk melatih kebugaran tubuh?" tanya Mas Aarav yang malah jadi sekarang berbalik pada aku pusat bertanyanya.


"Panjang ceritanya Mas, awalnya nggak sengaja punya tempat kaya gitu. Apalagi tempat kita kan desa yah, di mana pekerjaan orang desa saja sudah capek, dan juga Gym atau fitness identik dengan orang yang kurang gerak, dan juga orang yang mungkin bisa dibilang kaya dan banyak waktu nganggur. Sedangkan di kampung jangankan nganggur satu dua jam yang mereka habiskan di tempat fitness itu rasanya sangat mustahil banget. Karena perinsif orang kampung pastinya waktu adalah uang. Tapi karena dulu ada teman yang sakit dan ternyata dia adalah pemilik dari tempat itu, dengan alasan pinjam untuk berobat dengan jaminan surat tempat usaha itu, karena dia tidak ada jaminan yang bisa buat orang lain percaya. Akhirnya dia gunakan tempat itu. Karena uang yang dipinjam cukup banyak. akhirnya aku yang ambil alih kelola itu tempat, apalagi dia sakit yang cukup parah, dan juga Ibunya baru saja meninggal sedangkan orang tuanya berpisah, kakaknya ikut sang bapak dan juga teman aku sendiri ikut Ibu, tapi malangnya sang Ibu meninggal dunia tidak lama dari mereka pulang kampung. Abis itu karena dia trauman, dia pindah ke kota Lydia. dengan membuka usaha fitnes dengan uang-uang yang dia punya dan malangnya lagi baru lima tahu dia pindah ternyata dia juga ada sakit yang butuh uang banyak untuk menjalani pengobatan...."


Ucapanku tiba-tiba di putus oleh kang mas suami.

__ADS_1


"Tunggu kenapa kisah teman kamu sepertinya aku kenal. Apa nama wanita itu Jasmin?" tanya Mas bojo dengan wajah yang penasaran. Aku pun tidak kalah penasaran. Dalam batinku bertanya-tanya, ada hubungan apa Mas suami dengan orang yang bernama Jasmin? Apa ada mantan lain selain Mbak Siska?


__ADS_2