Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Doa yang Terkabul


__ADS_3

Perasaan baru juga terlelap, tetapi alarm sudah meraung-raung membangunkan Hadi yang masih menikmati mimpi indahnya. Dengan malas Hadi meraba nakas untuk mengambil ponselnya untuk mengecek jam.


"Astaga ...." Hadi terlonjak kaget hingga langsung duduk dari rebahannya, ketika melihat jam di ponselnya menunjukan pukul delapan lewat lima belas menit. Laki-laki itu yang tidak percaya dengan apa yang dilihat pun menggosok-gosok matanya dan mematikan kembali untuk melihat layar telponnya.


Tidak hanya sekali Hadi melihat jam di ponselnya ia juga memastikan melihat jam di dinding. Benar apa yang ia lihat sebelumnya bahwa sekarang sudah jam delapan lewat.


"Ini gara-gara doa Aarav, gue jadi kesiangan. Kira-kira Mimin sudah berangkat kerja belum yah," gumam Hadi. Niat hati mau jemput Mimin sampai nyalakan alarm lebih pagi agar tidak kesiangan, tapi malah ternyata yang ada ia yang kesiangan. Untuk memastikan Mimin sudah berangkat kerja apa belum Hadi pun lebih dulu menghubungi Mimin, dan setelahnya ia akan protes pada Aarav yang berdoa asal-asalan, alhasil ia kini kesiangan dan yang jelas gagal total rencananya untuk menjemput calon ibu dari anak-anaknya.


Hadi mencari kontak Mimin untuk memastikan apakah calon istrinya sudah berangkat kerja atau belum. Kalau belum kan ia bisa menjemputnya.


[Hallo, as'salamuallaikum ...] Suara lembut Mimin berhasil membuat Hadi langsung segar, tidak lagi ngantuk.


[Wa'alaukumussalam, Min kamu di mana sekarang?] tanya Hadi tanpa membuang-buang waktu lagi.


[Ada di ruangan kenapa Mas? Ada yang perlu dibantu?] tanya balik Mimin, ia berpikir mungkin Hadi butuh bantuan sesuatu.


[Tidak, aku hanya memastikan saja apakah kamu sudah sampai kantor apa belum. Aku juga minta maaf karena nggak jemput kamu. Aku kesiangan ini baru bangun.] Meskipun ini bukan kesalahan Hadi tetapi ia yang merasa bersalah pun akhirnya meminta maaf, padahal Mimin sendiri tidak meminta Hadi untuk menjemputnya. Ia benar-benar mengerti kalau Hadi tidak juga menjemput toh keadaan sekarang sudah aman, jadi Mimin jalan sendirian ke kantor pun bisa.


[Ya Alloh Mas, jangan merasa bersalah seperti itu, lagi pula Mimin juga bisa berangkat sendiri kok. Kalau Mas Hadi cape juga istirahat aja nanti akan Mimin sampaikan pada yang lain untuk gantikan pekerjaan Mas Hadi, dari pada nanti dipaksa malah sakit,] balas Mimin dengan suara yang berubah, menunjukkan kecemasan. Takut kalau Hadi sakit.


[Tidak usah Min, mungkin ini efek semalam sempat telponan dengan Aarav, ngobrol-ngobrol soal kerjaan jadi kesiangan. Aku akan siap-siap dan berangkat ke kantor kok. Tapi ngomong-ngomong tadi kamu berangkat naik apa?" tanya Hadi, ia masih cemas denga Mimin kalau berangkat sendiri ke temapt kerjanya.


[Naik taxi Mas, lagian sekarang kendaraan umum banyak, kalau malas nunggu di halte, tinggal oder taxi via online.]

__ADS_1


Di dunia yang super canggih ini, tidak usah harus bingung untuk mencari kendaraan, tinggal pencet dijemput sampai depan rumah. Lapar tinggal pencet mau makan apa diantar sampai depan rumah.


[Ya udah kalau kamu naik taxi, aku takutnya kamu naik ojek. Kalau gitu udahan yah, aku mau bersih-bersih dan berangkat kerja.] Setelah memastikan Mimin udah di kantor, bahkan sudah bekerja, Hadi pun tidak langsung bersih-bersih seperti yang ia katakan tadi dengan Mimin, ia lebih dulu menghubungi orang yang membuatnya kesiangan dan gagal bangun pagi dan menjemput calon istri. Siapa lagi kalau bukan Aarav. Meskipun doanya dalam keadaan bercanda, ternyata Alloh langsung mengambulkan, dan alhasil Hadi pun kesiangan gagal menjemput calon istri.


Tangan Hadi langsung mencari kontak sahabatnya, dan menekan ikon telepon berwarna hijau, hingga tidak lama tulisan berganti dari memanggil ke berdering. Tidak harus menunggu lama seperti semalam Aarav pun sudah mengangkat telepon dari sahabatnya.


[As'salamuallaikum, kenapa lagi Di, telpon gue di jam pagi-pagi. Orang mah lagi sarapan loe malah ganggu lagi," cerocos Aarav ketika Hadi telpon.


[Wa'alaimumussalam ... Gue cuma mau protes, gara-gara loe yang mendoakan gue supaya kesiangan gue benaran kesiangan dan sekarang Mimin bahkan sudah kerja,] balas Hadi dengan nada yang ketus. Sontak Aarav langsung tertawa dengan renyah. Puas banget kayaknya papah Aarav mendengarkan temanya apes.


[Tuh kan gue sih sudah tebak loe malah bakal tertawa dengan renyah. Memang teman nggak tahu diri. Udah doa yang jelek-jelek pake segala ketawa lagi.] Hadi  yang lagi sensi dalam mode datang bulan pun langsung ngoceh ke Aarav karena kelakuanya yang mendoakan buruk.


[Enggak gue sebenarnya prihatin dengan kabar yang loe bawa, cuma gue penasaran aja kenapa doa gue bisa-bisanya manjur banget, padahal gue hanya bercanda Bro. Serius gue hanya bercanda, ya kali masa gue tega loe gagal ngejemput Mimin.]


[Nah itu dia, lo kerja enak banget sudah hampir jam sembilan masih di atas kasur. Kayaknya kalau punya karyawan kaya gini sih memang baiknya di potong gajinya. Orang lain sudah kerja dari satu jam yang lalu lah ini malah baru bangun, berasa bos situ.] oceh Aarav.


[Yeh gue kaya gini juga gara-gara loe yang cuti, gue kecapean kerja jadi kesiangan. makanya situ balik buruan. Kerjaan banyak banget. Ngomong-ngmong Iko ke mana? Kangen banget udah beberapa hari nggak dengar suaranya.]


[Iko lagi ikut Eyangnya ke sawah sekalian ambil ikan di sawah banyak ikan. Gue juga tiap hari ke sawah buat mancing belut dan cari ikan. Loe kapan-kapan wajib ke sini Di, asli betah dan nggak mau pulang. Gue juga udah mulai betah dan kayaknya bakal nambah cutinya.] Aarav pun terlalu senang meledek temanya, sehingga ia memancing Hadi untuk marah lagi.


[Awas aja yah Rav, kalau loe benar-benar nambah cuti. Gue dan Mimin bakal ngambek dan nggak akan kerja, biarin dah kacau-kacau kerjaan kita semua.] Nah, kan sesuai yang Aarav mau Hadi langsung nyolot. Memang gampang banget ngerjai Hadi ini.


[Wah itu kayaknya ide bagus Di, gue harus pertimbangkan lagi, bukanya kita udah kaya-kaya sekarang kayaknya saatnya bersantai di rumah dengan uang  terus mengalir bagai air sungai.] Aarav kembali ke mode nyebelinya.

__ADS_1


[Tau ah gue lama-lama ikut sinting kalau ngomong sama loe. Heran gue, Lydia yang hamil kenapa loe yang ngidam kaya gini sih. Untung gue orangnya sabar jadi nggak pernah balas. Coba kalau nggak sabar udah gue pites noh orang satu.] Hadi pun tampa menunggu lama langsung matikan ponselnya sedangkan Aarav justru tertawa dengan renyah mendengar ocehan Hadi.


"Kenapa sih Mas, suka banget ngeledek Mas Hadi. Kasihan nanti dia kira kita beneran mau lama tinggal di kampung padahal lusa kita kan juga sudah pulang." Lydia mengingatkan suaminya yang terus-terusan meledek Hadi.


"Dia itu lucu Sayang, marah-marah terus, padahal yang ngidam kayaknya dia baperan banget, tapi selalu salahin Mas. Nanti kita cari oleh-oleh buat orang-orang rumah Mimi, Hadi dan keluarga dokter Sera juga. Mumpung masih ada waktu kita cari oleh-oleh biar kelihatan memang benaran mudik.


"Ya udah nanti kita cari, biar Iko sama Ibu dan Bapak dulu dan main sama sepupunya." Yah, Iko terlihat sangat antusias sekali pulang kampung karena banyak temanya.


"Ok lah atur aja, lagian biar Bunda dan Papahnya pacaran dulu."


"Pacaran dari mana perut udah gede gini." Lydia menujukan perutnya yang semakin membuncit.


Sedangkan Aarav hanya tersenyum melihat istrinya yang semakin seksi. Para tentangga Lydia pun sekarang tidak ada yang berani menggosipkan macam-macam tentang Lydia, apalagi setelah tahu suaminya yang tajir melintir, udah ngeri duluan. Mereka juga banyak yang kagum dengan Lydia dan suaminya yang terlihat sangat harmonis dan kompak. Tidak ada yang menyangka orang yang sering mereka gunjingkan dalam segala hal justru nasibnya sangat baik sekarang.


Roda kehidupan memang berputar, itulah yang Lydia rasakan saat ini. Namun, Lydia juga tidak dendam dengan para tetangganya. Lydia tetap bersikap hangat dan menegur dengan sopan ketika berpapasan dengan para tetangganya.


Bersambung....


...****************...


Sembari nunggu kelanjutan Mbak Lydia mampir yuk ke novel besti othor.


__ADS_1


__ADS_2