
Aarav dan Lydia pun bingung ketika tiba-tiba Hadi dan Mimin datang bersamaan.
"Kalian kok bisa datang bersamaan?" tanya Aarav dengan bingung. Dan yang dimaksud kalian datang bersamaan pun ikut bingung dengan ucapan Aarav. Dan justru saling pandang, seolah berkata siapa yang di maksud?
Wanita dan laki-laki yang disebut kalian pun bingung pasalnya mereka tidak saling kenal, setelah saling tatapan sekilas dua orang itu pun menggelengkan kepala pelan.
"Tidak, aku datang bareng suster Ria," ucap Mimin dengan menatap sang perawat yang baru datang. Begitupun sosok laki-laki yang berada di sampingnya, menggeleng pelan.
"Aku datang sengaja ingin bersilahturahmi dengan kalian, dan ingin bertemu dengan calon anak aku," ucap Hadi dengan setengah berkelakar. Yah, laki-laki itu memang suka bercanda hampir mirip dengan Lydia sehingga mereka gampang dekat, maklum dia tidak tahu kalau ibu kandungnya ada di samping dia.
Mimin pun bingung dengan laki-laki yang baru dia lihat kenal juga tidak sudah mengaku calon anak, yang artinya dia ngaku kalau laki-laki itu calon suami dirinya.
"Jangan main calon anak calon anak, kenal tidak ibunya?" ucap Aarav meledek Hadi sembari berpelukan saling bermaaf-maafan.
"Belum kenal, tapi kata pepatah kalau mau dapat ibunya dekati dulu anaknya, makanya ini mau dekati anaknya." Hadi pun tanpa basa basi langsung mengambil alih Iko dari gendongan Aarav dan membawanya ke dalam rumah dengan santai dia tidak sadar kalau ada wanita yang sudah sangat kangen dengan anaknya.
"Rada-rada tuh orang, jangan-jangan udah sarap. Atau malah dia pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa....?" gumam Aarav yang melihat suster Ria dan sang istri terkekeh, karena dengar ucapan laki-laki itu.
"Kira-kira gimana reaksinya yah, kalau ibunya yang dia maksud ada di sampingnya, mana anaknya langsung di bawa lagi." Lydia pun terkekeh sembari memegangi perutnya yang terasa kaku karena tertawa terus. Menertawakan Hadi yang terlalu PD mentang-mentang udah kenal dengan Iko serasa dia paling dekat.
"Min, kamu kayaknya harus siap-siap ada laki-laki yang ngaku-ngaku mau jadi papahnya Iko," ujar Lydia masih dengan tertawa renyah bareng dengan suster Maria. Sedangkan Mimin hanya menggelengkan kepala pelan. Wanita itu masih setengah lemas.
"Saya ingin lihat reaksi laki-laki tadi kalau ternyata ibunya Baby Iko ada di sampingnya," imbuh suster Maria yang sama seperti Lydia ingin lihat reaksi Hadi kalau tahu ibu dari Iko itu wanita bercadar yang ada di samping dia tadi.
"Yuk buruan masuk pengin lihat kira-kira dia salting atau gimana." Lydia pun setelah bersalaman dan berpelukan dengan sahabatnya menuntun Mimin masuk ke dalam setelah Aarav duluan nyusul Hadi tentunya.
"Kamu cantik banget Min, pakai cadar seperti ini?" ucap Lydia yang melihat Mimin semakin segar.
"Dokter Doni yang menyarankan, beliau bilang aku boleh ke luar tapi harus tertutup semuanya karena masih dalam tahap penyembuhan, dan itu juga sebenarnya tidak boleh terlalu lama di bawah sinar matahari langsung," ucap Mimin, pantas saja dia begitu turun langsung tergesa mencari tempat yang teduh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kan demi kesembuhan kamu juga, tapi kondisi kamu sendiri gimana? Ada perubahannya atau tidak setelah hampir satu bulan kamu menjalani segala macam terapi?" tanya Lydia lagi.
"Banyak Lyd, banyak banget. Aku bahkan menyesal kenapa dari awal aku merasakan sakit aku tidak langsung kontrol ke rumah sakit yang memadai seperti yang kamu katakan, andai mungkin dari awal aku melakukan kontrol itu mungkin aku tidak akan menyesal sekarang. Aku malah langsung drop dan berputus asa," balas Mimin dengan suara lembutnya.
"Tidak apa-apa toh kamu belum terlambat buktinya baru satu bulan kamu sudah banyak sekali perubahannya sangat jauh seperti aku lihat kamu."
Karena saking asiknya ngobrol kini Lydia dan Mimin pun sudah ada di dalam ruangan yang banyak keluarga dari Lydia dan ipar serta mertuanya, dan tidak ketinggalan tentunya calon papah baru untuk Iko. Itu Hadi yang ngaku-ngaku yah....
"Sini Min masuk aku kenalin dengan keluarga aku." Lydia meminta Mimin untuk masuk dan tentunya bersalaman masing-masing anggota keluarga Lydia.
"Wah akhirnya bisa ketemu dengan Iko yah Mbak Mimin, ngomong-ngomong udah gendong Iko belum?" tanya Papi Sony yang langsung di balas gelengan kepala oleh Mimin.
"Ikonya langsung diambil sama calon papahnya, sampai ibunya nggak kebagian," balas Lydia sembari menatap Tuan Hadi yang belum sadar juga karena saking serunya bermain dengan Iko dan ngobrol dengan Aarav.
"Oh Hadi calon suami Mbak Mimin toh, ternyata dunia sempit banget yah. Udah lama kenal sama ibunya Iko, Di?" tanya Papi Sony yang menganggap serius, sontak saja Hadi terkejut dan bingung.
"Mimin siapa, saya masih jomblo Om, ini mau deketin ibunya Iko, kata Mbak Lydia ibunya Iko udah pisah dari suaminya lumayan kan dapat ibunya bonus anaknya," kelakar Hadi yang masih belum ngeh juga kalau yang dimaksud Mimin adalah ibunya Iko.
"Nah, kalau itu Om setuju, biar kamu jangan sendiri terus sepuluh tahu berstatus duda sudah cukup, kini saatnya cari calon istri baru, biar seperti Aarav punya istri lagi, masa kamu kalah sama Aarav. Duit udah banyak, rumah udah punya, mobil udah baru lagi sekarang gas dong cari istri lagi." Papi Sony aura-auranya semakin senang ngomporin Hadi.
"Nah itu dia Om, sekarang carinya yang udah punya anak saja, maklum udah berumur belum juga dikasih anak." Hadi terlalu bersemangat menghalu sampai tidak sadar yang lain pada menahan tawa dengar ucapanya.
"Tapi masalahnya kamu udah tahu bagaimana kondisi ibunya Iko? Kok yakin banget bakal diterima?" Kembali Papi Sony menanyakan hal yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh Mimin.
Sedangkan Lydia sendiri menggenggam tangan sahabatnya yang sedang duduk bersebelahan dengan Mimin, untuk memberikan kekuatan. "Kita tidak tahu jodoh kita yang mana," ucap Lydia setengah berbisik dengan Mimi, dan wanita bercadar itu pun mengangguk tidak terlalu ambil pusing dengan candaan itu karena dia tidak terlalu fokus dengan jodoh untuk dia, wanita itu hanya fokus dengan kesembuhannya dan juga pada anaknya. Soal jodoh yang sedang dibahas wanita itu menganggapnya hanya candaan saja.
"Kalau kata Mbak Lydia sih lagi berobat karena sakit. Yah sembari usaha tidak ada salahnya dekati anaknya, siapa tahu anaknya dapat bonus emaknya," balas Hadi lagi sembari terus bermain dengan Iko yang terlihat sepertinya bocah itu sangat nyaman di gendong sama calon ayahnya.
"Yah Om setuju dengan cara berpikir kamu, langsung serius yang penting saling terima kekurangan dan kelebihan tanggung jawab, itu namanya laki-laki. Apalagi kamu umurnya sudah di atas kepala empat sepuluh tahun menyandang status duda, itu sudah sangat menunjukan kamu orang yang sangat setia dan baik semoga apa yang kamu inginkan terkabul sama Allah dan semua jalan untuk jodoh kamu di mudahkan oleh Allah," ucap Papi Sony dengan serius.
__ADS_1
"Amin..." Suara Amin menggema di rumah mewah itu.
"Tapi sekarang biar gantian yah Iko di gendong sama ibunya, kasihan udah kangen banget pengin gendong anaknya katanya," ujar Papi Sony lagi yang langsung membuat Hadi terkejut.
"I... Ibu yang mana Lydia atau siapa?" tanya Hadi setengah terbata dengan wajah memerah.
"Ibu kandungnya. Mbak Mimin itu ibu kandungnya Iko." Papi Sony menunjuk Mimin yang duduk bersebelahan dengan Lydia.
Sontak saja Hadi terkejut dah wajahnya memerah seperti orang yang ketahuan mencuri malu dan kaget. Apalagi orang-orang pada tertawa melihat reaksi Hadi yang sangat lucu itu.
"Ini serius, dia ibunya Iko?" tanya Hadi setengah tidak percaya.
"Serius Di, tanya aja orangnya?" jawab Papi Sony dengan nada yang lembut.
Brugg... Hadi menendang kaki Aarav yang dari tadi tertawa terpingkal-pingkal lihat reaksi rekan bisnisnya.
Awh.... Aarav mengaduh dan mengusap kakinya yang ditendang Hadi.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau cewek tadi ibunya Iko," geram Hadi setengah berbisik pada Aarav.
"Lah, kamu nggak nanya, mana langsung ambil Iko seperti anak sendiri aja." Aarav pun tidak mau kalah.
"Terus aku harus gimana?" tanya Hadi dengan bingung.
"Kasih Iko sama Mimin, kan dia ibunya, sama sekalian kenalan dan minta nomor ponsel," goda Aarav yang terlalu senang lihat Hadi jadi keki.
Bruggg... Hadi kembali menendang kaki Aarav yang duduk bersebelahan dengan dia. "Awas kamu yah, mana banyak orang lagi," gumam Hadi dalam hatinya, mengutuk rekan bisnisnya.
Bersambung....
__ADS_1
Kira-kira seperti ini gambaran Mbak Mimin yang masih proses penyembuhan.