
Pernikahan Mimin, dan Hadi pun berjalan dengan lancar. Kini Mimin dan Hadi sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Keluarga Hadi, Lydia dan Dokter Sera pun sudah pulang ke rumah masing-masing.
Setelah acara yang cukup sederhana selesai kini Mimin masih setia duduk di samping Lukman. Sudah lebih dari empat jam Lukman tidur, tapi tidak juga bangun-bangun. Perasaan Mimin pun semakin tidak menentu. Takut kembali menghampiri kalau ayahnya akan menyusul ibunya.
"Min, kamu jangan terlalu cape kamu harus istirahat," ucap Hadi yang baru masuk ke kamar Lukman. Siang sudah berganti malam, tapi Mimin masih juga belum beranjak dari duduknya. Bahkan wanita yang baru saja resmi menyandang status istri juga belum makan, ia berdalih belum lapar.
Mimin menatap Hadi dengan tatapan kosong. "Mas, apa tidak lebih baik Ayah di bawa ke rumah sakit? Kenapa Ayah dari tadi tidur terus. Mungkin kalau di bawa ke rumah sakit Ayah masih bisa diobati dan ada kemungkinan untuk sembuh," balas Mimin, yang justru mengabaikan ucapan Hadi sebelumnya.
"Ayah yang tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sebelumnya sudah berbulan-bulan Ayah dirawat di rumah sakit, tapi tidak ada perubahan bahkan bisa dikatakan kalau Ayah justru semakin memburuk kondisinya. Hingga dokter menyarankan agar Ayah dirawat di rumah, mungkin dengan dirawat di rumah untuk biaya pengobatan lebih ringan juga Ayah bisa dekat dengan keluarga jadi lebih tenang. Dokter juga mengatakan kalau Ayah untuk sembuh sudah sangat kecil, bisa dibilang Ayah hanya tinggal menunggu ajal, jadi Dokter pun menyarankan Ayah di rawat di rumah." Julio yang baru masuk ke kamar Lukman pun menjelaskan kenapa ayahnya tidak di bawa ke rumah sakit.
Yah, memang biasanya pasien yang sudah dalam tahap sakit stadium akhir dan sakit yang sangat kecil kemungkinan untuk sembuh dokter akan menyarankan untuk di rawat di rumah, alasanya tidak ada lain agar mereka bisa lebih nyaman tinggal di rumah, dan dekat dengan keluarganya. Seperti yang disarankan pada Lukman.
"Apa itu artinya Ayah akan menyusul Ibu?" tanya Mimin, ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk dirinya. Karena di hari ini dia sudah menikah, kebanykan di dunia ini menikah adalah hal yang sangat dinanti dan menjadi hari spesial dan paling bahagia, tapi justru hati Mimin tidak bisa dikatakan bahagia.
"Kita tidak pernah tahu kapan kita akan menghadap ke Tuhan kita. Lebih baik kamu dan Hadi istirahat saja. Kalia juga baru pulang dari rumah sakit," titah Julio. Apalagi Julio ternyata baru tahu kalau Hadi juga baru pulang dari rumah sakit, dan baru selesai operasi.
"Mimin, pengin tunggu Ayah," balas Mimin dengan pandangan mata kembali menatap Lukman.
"Min, mungkin kamu bisa bilang baik-baik saja, tapi kamu juga coba lihat Hadi, dia baru kemarin menjalani operasi loh dan hari ini dia aktifitasnya cukup banyak dan menguras pikiran, jangan sampai nanti malah suami kamu jatuh sakit lagi. Setidaknya kamu temani suami kamu istirahat." Julio tidak ingin gara-gara menjaga ayahnya, Hadi. malah kembali sakit.
Mendengar nasihat Julio, Mimin pun melihat Hadi yang memilih rebahan di atas sofa yang ada di kamar ayahnya. Pandangan Mimin beralih menatap Julio, seolah meminta izin untuk pamit meninggalkan ayahnya.
"Ayah baik-baik saja dengan Abang, nanti kalau ada apa-apa Abang akan kabarkan pada kamu," imbuh Julio. Bagaimanapun ia tidak ingin kalau Hadi kembali sakit. Bukan hanya karena biaya berobat yang mahal, tetapi tubuh yang sakit itu sangat mengganggu.
__ADS_1
"Kalau gitu Mimin, akan pulang dulu yah. Besok Mimin akan ke sini lagi," balas Mimin. dan mendapat anggukan oleh Julio.
"Yah, Mimin pamit pulang dulu yah. Besok Mimin akan ke sini lagi jenguk Ayah. Cepat sembuh, dan sehat lagi, agar kita bisa berkumpul lagi." Wanita bercadar itu meraih tangan sang ayah yang sangat lemah. Kemudian mengecup dengan hangat, dan cukup lama.
Setelah ia yakin kalau Lukman mendengar apa yang Mimin katakan. Akhirnya ia pun pamitan untuk pulang. Ia dan suami barunya tidak membawa pakaian sehingga mau tidak mau Mimin pun harus pulang untuk mengganti pakaian mereka, besok baru ia berencana untuk datang kembali.
"Mas, bangun!" Mengusap wajah Hadi yang ternyata justru pulas tertidur. Padahal barusan saja masih menegur Mimin. Hatinya terenyuh ketika melihat tidur suaminya. Ia tahu pasti Hadi juga sangat cape, dengan serentetan kejadian hari ini.
Tangan Mimin kembali mengusap wajah suami barunya. Dengan perlahan Hadi pun membuka kedua matanya. Padangan mata Hadi dan Mimin saling bertemu, apalagi jarak wajah mereka sangat dekat.
"Pulang yuk , sudah malam," ucap Mimin dengan suara pelan, mengagetkan lamunan Hadi, padahal laki-laki itu mengira kalau Mimin akan memulai pertualangan rahasia, tapi ternyata justru mengajak pulang. Hadi mengalihkan pandangan matanya.
"Oh, astaga ternyata masih di rumah mertua," gumam Hadi dalam batinya, merutuki pikiran tidak-tidaknya.
"Tidak apa-apa Ayah aman dengan aku." Lagi, Julio yang ambil alih pertanyaan Hadi. Pandangan mata Hadi pun menatap iparnya.
Dengan perlahan Hadi pun berjalan mendekat ke Lukman. "Yah, Hadi dan Mimin pulang dulu yah, besok kita akan ke sini lagi." Sama halnya dengan Mimin, Hadi pun berpamitan dengan Lukman.
"Kalau gitu, kita pulang dulu Jul, kalau nanti ada apa-apa kamu infokan kita yah," pamit Hadi pada Julio dan langsung di balas anggukan oleh adik iparnya.
Dengan berat hati, Mimin dan suami barunya pun meninggalkan Lukman dan juga Julio.
"Kamu pulang ke rumah aku yah," ucap Hadi begitu Mimin dan dirinya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tapi mampir dulu ke rumah Dokter Sera, ambil baju-baju. Aku nggak bawa pakaian ganti," balas Mimin. Hadi pun melihat jam dipergelangan tangannya di mana saat ini sudah pukul sepuluh malam, mampir mall pun sudah pada tutup.
"Ya udah. Kita mampir rumah Dokter Sera dulu yah Pak," titah Hadi pada sopir yang sudah jelas tahu di mana rumah dokter Sera karena mereka sering mengantarkan Mimin.
"Baik Pak."
"Kamu masih ngantuk Mas?" tanya Mimin ketika melihat Hadi menyendekan kepalanya di hand rest.
"Agak pusing," balas Hadi dengan tangan memijit pelipisnya, yang terasa berdenyut.
"Mau dipijat?" tanya Mimin dengan menepuk pahanya agar Hadi merebahkan kepalanya agar Mimin bisa memijat dengan nyaman.
"Apa kamu tidak capek?" tanya Hadi sebelum ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.
"Tidak, justru Mimin takut kalau Mas Hadi kecapean, nanti malah sakit lagi."
"Ya udah kalau kamu maksa. Mungkin dengan dipijit oleh istri baru langsung sembuh."
Bersambung....
...****************...
"Mau di pijit?" tanya Mimin.
__ADS_1