
Aku segera berlari dengan riang ketika mobil mas bojo sudah sampai gerbang. Sebagai orang yang sudah satu bulan lebih tinggal bersama aku bahkan sudah sangat hafal suara mobil kang mas bojo. Aku sambut dengan wajah yang ceria dan senyum yang mereka. Padahal baru beberapa jam aku tidak bertemu dengan mas bojo tapi rasa kangenya sudah menggunung.
Meskipun lelah mas suami pun membalas senyumanku dengan senyum terbaiknya. Segera ku ulurkan tangan dan meraih tas kerja lalu mencium punggung tangan mas suami begitu pun mas suami memberikan kecupan yang hangat.
"Kangen banget tau Mas," ucapku ketika menghambur ke dalam pelukanya, wangi parfum dan tetsan keringat dari mencari nafkah yang mengandung pahala, membuatku nyaman berlama-lama di dalam pelukan mas bojo.
"Padahal nggak ketemu belum ada sepuluh jam, gombalanya memang tidak main-main," balas mas bojo, sembari jalan ke dalam rumah.
"Hehe, mungkin karena biasanya seharian manja-manjaan dan juga cerita nggak jelas, ditinggal kerja rasanya lama banget harinya."
Sembari bercerita ringan mengenai rumah ini dan juga rumah yang kami akan tempati aku menyiakan air untuk mas bojo mandi.
"Mas tadi udah bilang sama Amora, dia ada rumah di Jakarta baru dibangun beberapa bulan lalu, rencananya dia tadinya akan pindah ke Indonesia, tapi katanya suaminya nggak bisa meninggalkan pekerjaanya. Makanya rumahnya kosong. Terus Mas bilang mau di beli saja, dan Amora nggak keberatan, dari pada sayang nggak ditempati. Besok pulang kantor kita lihat yah. Lumayan dari pada cari-cari kadang tempatnya kurang cocok, dan juga kadang tidak tahu kualitas bangunanya. Kalau punya Amora sudah jelas bangunanya pasti bagus, tahu sendiri dia mau pilih material terbaik di dunia juga tinggal tunjuk, suaminya sultan di negaranya," jelas Mas Aarav sembari menunjukan foto rumah sang adik yang mau dibayar untuk dijadikan hunian kami nantinya.
Aku tersentak kaget ketika lihat rumah yang dua kali lipat bagus dan luas dari rumah ini. "MassyaAllah, Mas ini harganya berapa? Jangan ini lah sayang uangnya pasti bukan harga yang ecek-ecek. Kalau belum nemu rumahnya kita ngontrak dulu nggak apa-apa jangan terlalu gegabah, nabung dulu," usulku yang melihat modelnya mewah dan besar pasti bukan harga yang receh.
"Kamu tenang saja, bayar keadik mah bisa di cicil," balas mas bojo dengan santai.
__ADS_1
"Enggak-enggak masa cicil sih, kalau nggak ada uang nggak usah mas cari yang setandar saja, yang penting pas dengan kantong kita," balasku lagi, dari jaman aku sekolah aku tidak pernah dibiasakan mencicil kalau ada uang beli dan kalau tidak ada ya tahan dulu bukan membiasakan berhutang sekali pun pada adik atau kakak sendiri. Takut nanti gara-gara hutang tali silahturahmi terputus.
"Tenang saja, tabungan Mas masih ada kok, lagian Amora kasih harga setengah harga, katanya buat kado abang tercintanya," jawab Mas Aarav lagi entahlah itu memang benar adanya atau kebohongan agar aku tidak cemas.
"Ok setengah harganya berapa?" tanyaku kembali sembari menyiapkan baju ganti untuk mas bojo.
"Dua puluh..." jawabnya dengan santai.
Tanganku langsung terhenti ketika akan mengambil pakaian mas bojo. " Enggak mungkin kan dua puluh juta pasti dua puluh milliar. Mas... itu terlalu mewah untuk sekedar tempat tinggal."
"Tidak apa-apa lagi Sayang, biarkan rumah ini diberikan pada Siska saja, tadi Mas sudah bercerita sama Papih dan juga pastinya Papih sudah cerita sama Mamih, dan mereka nyaranin untuk tetap pindah, dan rumah ini berikan pada Siska, biar nggak ada masalah lagi. Didatangin terus menerus sama orang yang sudah tidak ada hubungan juga risih kali. Apalagi dia cukup nekad," ucap mas bojo.
"Kamu tenang saja Sayang, semuanya bisa diatur," balas Mas Aarav selalu saja santai saja bisa diatur, seperti itu terus.
"Ya udah Mas mandi dulu, Sholat. Lydia lagi libur dan habis itu kita makan malam. Lydia udah bikin menu spesial untuk kita," balasku, mengakhiri obrolan rumah. Toh aku protes juga mas suami yang akan membeli rumah tetap dengan pendirianya, aku hanya wajib mendukung saja, dan berdoa semoga saja dengan tinggal di rumah baru kami tidak lagi terbayang-bayang dengan mantan istri mas bojo. Apalagi dengan kejadian tadi pagi aku berharap Mbak Siska pikir-pikir lagi kalau mau mengganggu mas suami, mengingat pawangnya cukup galak. Kecuali kalau Mbak Siska juga sudah ada bekal ilmu bela diri untuk persiapan lawanan dariku.
Namun, bukan buru-buru beranjak dari duduk santainya mas bojo malah menatapku dengan tatapan yang tajam. "Ada tamu? Kenapa cepat banget?" tanyanya dengan wajah lesu.
Aku terkekeh ketika melihat wajah manjanya. "Ini memang jatah bulanan Lydia dapat bersyukur malah, itu tandanya nanti puasa pertama masih bisa mengikuti tarawih dan puasa di awal Ramadhan," balasku mengingat puasa masih sekitar satu minggu lagi.
__ADS_1
Meskipun dengan wajah ditekuk nyatanya Mas suami masih bisa menerima datangnya tamu. Aku menunggu sembari menatap pintu kamar yang ada di dalam kamar ini juga. "Oh iya bukanya itu adalah kamar anak Mas Aarav, tapi kira-kira anak Mas Aarav ke mana yah?" batinku mengingat pertanyaan pertama aku datang ke sini, sampai lupa bertanya soal anak sedangkan lagi-lagi ketika tadi mas bojo bersitegang dengan mantan istrinya tidak ada bahasan soal anak.
Aku bertekad malam ini akan betanya soal anak, agar rasa penasaranku tidak makin menggunung. Sembari aku menunggu mas suami mandi yang selalu lama, aku pun membuka ponselku kembali aku bertukar kabar dengan Ibu. Yah, meskipun aku berjauhan, aku ingin tahu bagaimana keadaan keluargaku.
Aku cukup kaget ketika Ibu mengatakan kalau Bapak sudah resmi mengundurkan diri dari kepala desa. Banyak warga yang menyayangkan sikap Bapak, karena mereka berpikir kalau Bapak gagal mengawasi keluarganya, tetapi tidak gagal dalam mengurus masyarakat, tetapi Bapak ingin lebih fokus pad Lyra. Ingin dia mendapatkan perhatian dan jadi pribadi yang baik. Belum Lyka juga memutuskan pergi kerja dan membiarkan anak-anaknya di rawat oleh orang tuaku, dan anak Lyra sendiri baru dirawat oleh orang tua Samsul.
Jujur aku lebih setuju Bapak tidak menjabat kepala desa lagi, tidak enak punya orang tua menjabat kepala desa, lagi pula usaha Bapak masih lancar dan juga sawah-sawah masih panen dengan melimpah bisa untuk biaya untuk mereka saja sangat cukup, jadi tidak harus pusing lagi mengurusi urusan yang rumit.
Seperti pada biasanya hatiku teduh ketika melihat mas suami berpenampilan sholeh dengan baju koko, sarung dan peci. Aku pun beberapa kali mengabadikan gambar mas bojo ketika beribadah, untuk kenang-kenangan saat berjauhan seperti tadi siang.
"Ya Tuhan entah kebaikan apa yang pernah hamba perbuat hingga memiliki suami yang sempurna seprti Mas Aarav, saya tidak pernah mau tahu dengan kisah masa lalunya, yang saya ingin tahu bagaimana masa depannya."
Kembali aku mengembangkan senyum ketika Mas Aarav sudah selesai beribadah.
"Kurang rasanya kalau ibadah sendiri," ucap Mas Aarav sembari mengulurkan tangannya dan aku menyambut dengan hangat.
"Tapi, Mas kalau di Kantor ibadah juga kan?"
Aku melihat wajah Mas Aarav seperti berbeda, dan berubah masam. Apa mungkin Mas bojo beribadah kalau di rumah saja. Alias karena aku yang menginginkannya terus sehingga dia seperti terpaksa?
__ADS_1