Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Tanga Ajaib


__ADS_3

"As'salamuallaikum ...." Suara Hadi dan Aarav bersamaan. Ketika mereka sudah sampai di depan kediaman Aarav.


"Walaikumus'salam ...." Suara Mimin dan Lydia pun bersamaan menjawab salam mereka. Senyum terlihat dari wajah ke dua pasangan itu.


"Kok wangi banget, masak apa ini?" Aarav masuk lebih dulu memeluk sang istri begitupun Hadi kurang lebih melakukan hal yang sama.


"Mimin sedang belajar masak, kita makan bareng yuk." Lydia mengajak suaminya dan juga Hadi untuk makan bersama. Sedangkan Mimin hanya menunduk tertawa getir. Hadi yang tahu kalau istrinya tidak sebahagia Lydia, pun mencium keningnya. Mencoba menghibur sang istri.


"Semuanya butuh proses," balas Hadi dengan berbisik di balik indra pendengaran sang istri. Wanita bercadar itu pun menganggukan kepalanya dengan samar. Di dalam batinya tidak henti-hentinya menyemangati dirinya sendiri agar tidak patah semangat.


Bukan hanya Hadi yang memberikan semangat pada dirinya. Namun, Lydia yang sejatinya sahabat yang jangan ditanya hasil olahannya sudah tidak usah diragukan lagi pasti sangat lezat dan juga membuat lidah ingin bergoyang terus.


"Ayo sini Di, kita makan dulu sebelum kalian pulang." Aarav meminta Hadi agar segera menyusulnya ke meja makan. Tangan Hadi sendiri langsung menggenggam tangan Mimin lalu menganggukkan kepala memberi kode agar mereka segera menyusul Aarav dan juga Lydia. Mimin sendiri pun membalas dengan anggukan, mereka pun kini sudah ada di meja yang sama dengan pasangan Aarav dan juga Lydia. Siap menikmati hidangan yang diolah oleh Mimin.


"Ngomong-ngomong jagoan ke mana?" tanya Hadi yang tumben tidak melihat putranya yang makin tampan dan pandai.


"Barusan tidur. Mungkin kecapean habis bantuin mamahnya masak. Ayo makan." Lydia lebih dulu mengambilkan makanan untuk sang suami, setelahnya dirinya lalu Mimin yang melakukan hal yang sama dengan Lydia. Ia kini belajar melayani sang suami, meskupun Hadi tidak meminta kalau sang istri harus melayani dirinya. Beruntung Mimin yang memiliki suami benar-benar tidak menuntutnya melakukan apa pun. Hadi selalu memenangkan memperlakukan Mimin seperti ratu. Sangat berbeda dengan David dulu.


Namun Mimin yang saat ini menjadi pemburu surga tentu ingin kalau pernikahan yang ia jalani menjai pintu utama meraih surga-Nya.


"Terima kasih," ucap Hadi dengan sura lirih.


"Sama-sama, tapi kalau rasanya tidak karuan jangan ditertawakan yah," bisik Mimin yang merasa tidak percaya diri dengan hasil olahannya. Meskipun Lydia sempat terkejut karena ternyata masakan hasil olahan Mimin itu sangat lezat. Bahkan Lydia sampai tersedak kaget karena rasa masakan Mimin yang langsung lezat.

__ADS_1


Bahkan Lydia sampai tidak percaya dengan ucapan Mimin yang bilang kalau dirinya tidak bisa masak. Karena hasil masakan Mimin diluar ekspektasi Lydia.


"Ini siapa yang masak?" tanya Aarav membuat Mimin menunduk, ia sudah siap sekalipun akan dikritik pedas oleh papah Aarav.


"Mimin Mas, gimana kata Mas Aarav masakan hasil olahan Mimin? Karena tadi Lydia cobain dan katakan kalau hasil masakannya sudah sempurna Mimin malah tdak percaya. Dia bilang kalau Lydia hanya ingin membuatnya senang. Tapi enak kan masakan Mimin. Sama dengan lidah Lydia?" tanya Lydia. Yah, bukan hanya Mimin yang deg-degan dengan komentar orang-orang yang menikmati hidangan dari olahan tangannya. Lydia pun merasakan hal yang sama. Itu karena Mimin yang tidak percaya ucapan Lydia yang memuji masakannya.


Mimin mengira kalau Lydia memuji masakannya itu hanya ingin memberikan semangat untuk Mimin saja, dan takut kalau Mimin akan marah kalau tahu hasil masakannya.


"Iya ini enak masakannya. Apa tidak dicoba dulu kok tidak tahu hasil masakannya sendiri?" tanya Aarav dengan bibir terus mengunyah hasil masakan matan kekasihnya.


Hadi yang penasaran dengan ucapan Aarav pun memilih langsung menikmati makanan yang ada di hadapannya. Reaksi yang sama pun Hadi tunjukan dengan Lydia saat pertama mencoba masakan Mimin.


"Ini enak loh Sayang. Kamu cobain deh biar tahu bagaimana rasa masakan kamu sendiri. Mas nggak bohong." Hadi memberikan satu suap masakan hasil olahan istrinya yang ia akui rasanya sangat lezat.


"Gimana rasanya, enak?" tanya Aarav sembari tersenyum. Aneh itu yang ada dalam pikiran Aarav Mimin yang masak, tapi dia juga tidak tahu rasanya. Aneh memang, nah itulah Mimin saking tidak percaya dirinya sampai masakan yang ia sudah coba berkali-kali tidak tahu kalau rasanya itu bisa enak. Yang Mimin rasakan saat. pertama kali. mencoba makannya ya aneh aja.


"Aku bingung kenapa bisa enak," jawab Mimin spontan. Yang berhasil membuat ruangan makan menjadi riuh dengan tawa karena celetukan dari sang juru masak.


"Kok bingung emang siapa yang masak? Apa tadi tidak dicobain?" tanya Hadi lagi masih dengan sisa tawanya.


"Yang masak aku, Mas. Malah bisa dikatakan hampir seluruhnya aku. Lydia kan jaga Iko. Iya aneh, karena bumbu yang aku gunakan pun bisa dikatakan apa yang ada tidak mengikuti apa petunjuk dari Lydia semua. Karena jujur aku masih belum terlalu bisa membedakan bumbu-bumbu. Kaya kunyit, jahe, lada, ketumbar, kemiri bagi aku bentuknya hampir mirip dan tidak ada bedanya. Jadi Lydia menyebutkan nama bumbu apa, entahlah dengan kekuatan asal yang Mimin punya main ambil aja. Dan anehnya tadi sudah cobain, tetapi rasanya tidak terlalu spesial." balas Mimin dengan yakin. Dan langsung membuat Hadi dan yang lainya kembali tertawa.


"Kamu memang hebat Min, aku yakin habis ini Hadi makin cinta sama kamu." Aarav terus meledek Mimin yang sangat unik.

__ADS_1


"Tanpa dia bisa masak juga aku sudah cinta banget sama dia kok." Hadi memberikan tatapan cemburu pada Aarav karena memuji-muji Mimin terus. Yah, padahal sama halnya dengan Mimin, Aarav itu tidak ada perasaan lagi dengan wanita itu apalagi benar apa yang dia katakan kalau Aarav juga sudah punya bidadari yang bagi Aarav jauh dari Mimin.


Namun rupanya Hadi yang memang sedikit cemburuan langsung memberikan tatapan yang tidak suka ketika Aarav terus menggoda Mimin. Berbeda dengan Lydia yang jauh lebih santai.


Yah, kalau Lydia akan cemburu jelas sudah sejak lama bahkan bisa dikatakan sejak Mimin masih sendiri. Namun, Lydia jauh lebih santai dari pada Hadi.


"Santai Di, gue udah punya pawang nggak mungkin bakal mepet istri kamu." Aarav langsung kembali menikmati makan malam lagi.


"Udah yuk makan lagi, bukanya kalian akan ke rumah Julio." Lydia pun langsung kembali mengalihkan obrolan yang dirasa tidak penting untuk kembali menikmati makan bersama.


Hadi dan Mimin pun akhirnya makan kembali dan setelahnya ngobrol kembali dengan hangat sebelum akhirnya pamit untuk pulang ke rumah Julio karena di pukul delapan akan bertemu dengan pengacara almarhum ayahnya.


"Ini yakin Iko tidak apa-apa di sini?" tanya Lydia pada Mimin yang membiarkan Iko bermalam di rumah ibu angkatnya.


'Iya enggak apa-apa lah. Kan kalian juga orang tuanya. Mau bangunin tidak tega Iko kecapean. Tapi kalau nanti kalian repot chat aja yah biar Iko sementara sama aku dulu. Setidaknya sampai kalian tidak terlalu repot karena anak-anak kalian kembar," imbuh Mimin, itu adalah yang ia sempat bicarakan dengan suaminya.


"Ok deh. Kalau gitu kalian hati-hati yah. Sering-sering main dan masak bersama agar kamu lebih pandai untuk urusan masak memasak."


Lydia dan Mimin saling berpelukan begitupun dengan Hadi dan Aarav.


#Cie Baba Hadi cembukur sama Papah Aarav


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2