
Tak terasa doaku akan jodoh saat ini sudah aku akhiri, Tuhan memberikan aku jodoh dengan cara yang aku tidak pernah pikirkan. Ternyata rahasia takdir itu sangat indah. Aku bertemu dengan mas bojo kala hati ini sudah berada di titik pasrah, saat itu aku akan terima apa pun takdir Allah. Di saat aku bimbang apakah aku harus terus berdoa meminta jodoh atau aku menghampirinya. Ternyata Tuhan justru mengirimkan teman hidup yang terbaik.
Nyatanya dari sekian banyak laki-laki yang pernah dekat denganku tidak ada satu pun yang memberikan kenangan berarti, semuanya berakhir dengan luka hati yang baru dan dengan cara yang berbeda. Sampai Tuhan membuktikan bahwa setiap hambanya yang dengan sabar dan tulus terus berdoa makan Allah akan mengabulkan setiap harapannya.
"Kamu kenapa, kok menatap Mas kaya gitu banget?" tanya mas suami berhasil mengagetkan aku yang sedang asik mengagumi ciptaan Tuhan.
Aku mengerjapkan kedua bola mataku, menandakan kalau aku cukup kaget manakala aku terpergok menatap mas bojo dengan penuh cinta. Senyum terkembang sebagai tanda kalau aku cukup malu dengan kegiatanku. Aku sendiri bingung kenapa setiap hari rasa cinta pada mas suami bertambah banyak. Sampai aku bingung mau aku letakan di mana lagi rasa sayang ini, sedangkan isi hatiku sudah penuh cinta olehnya.
Aku mengusap wajah mas suami yang baru saja selesai ibadah.
"Mas, kode demi kode ini aku berikan pada kamu sebagai tanda sayang dan cinta
Entah bahagia seperti apa lagi yang aku rasakan kala cintamu menyala dengan terang benderang di hatiku
Seolah kamu adalah lah lampion yang bertahta di angkasa kegelapan
Kamu sungguh manis
perlakuan halusmu sungguh indah menenangkan segenap kegundahan jiwa
Kau adalah keajaiban yang ditakdirkan Semesta
Aku sungguh berterima kasih pada Yang Maha Kuasa, ruang dan waktu
Yang sudah mempertemukan aku dan kamu
Kamu telah memberikanku ketenangan, dalam sanubari
Jangan pernah bosan menegurku, apabila aku berbuat salah
__ADS_1
Jangan pernah bosan menuntunku yang sedikit keras kepala ini
Jangan pernah bosan melangitkan doa akan mimpi-mimpi yang indah untuk keharmonisan rumah tangga kita
Jangan lelah apabila krikil-krikil kecil datang menghadang untuk membuat luka diperjalanan rumah tangga kita
Kamu adalah imamku
Tetaplah menjadi pemimpin yang aku banggakan
Aku mencintaimu, saat ini hingga nanti
Entah mengapa hati ini seperti ada rasa gundah. Terlebih setalah mamih mertua mengatakan kalau besok aku dan mas suami diminta untuk menghadiri pernikahan David. Seolah aku yang akan ditinggal menikah, ada rasa sakit di hati ini yang tidak bisa aku katakan pada mas suami. Namun sakit itu cukup mengganggu perasaanku.
Mungkin karena aku yang terlalu takut kalau nanti mas suami melakukan hal yang sama seperti David, meskipun rasanya mustahil, tetapi tidak bisa dipungkiri aku merasakan rasa takut itu.
"Aku sedang tidak bermimpi kan? Akhirnya kamu membuatkan aku kata yang indah, tapi kok kamu nggak ngasih tahu kalau kamu akan membuatkan puisi. Padahal harusnya aku rekam, biar sebagai bukti kalau kamu itu memberikan hadiah yang indah," ucap mas suami dengan mengambil ponselnya yang ternyata dia diam-diam mengabadikan puisi yang aku sering buat untuk kang mas bojo.
"Terus yang tadi masuk ke dalam golongan yang sedang bahagia atau sedang galau?" tanya mas suami, terlihat wajahnya sangat penasaran.
"Yang tadi lebih masik ke dalam perasaan yang sedang cemas, galau dan cukup mengusik relung hati," jawabku jujur. Sebagai seorang istri dari laki-laki tampan dan juga bisa dibilang mapan secara ekonomi, malah aku menganggapnya kalau mas suami sangat mapan. Aku manusia yang terlalu rakus ini, takut kalau suamiku memiliki nafsu yang sama dengan laki-laki lain di luar sana. Memiliki nafsu yang tinggi dan iman yang rendah, atau justru pemahaman agamanya yang terlalu tinggi sehingga menduakan cintaku yang tulus. Aku masih ingat betul laki-laki diuji ketika ia memiliki segalanya. Aku yang imannya masih setipis kulit bawang selalu merasakan ketakutan itu.
Aku melihat mas suami mengerutkan keningnya dengan dalam. "Kenapa cemas galau, dan kira-kira apa yang mengusik kamu sampai kamu seperti itu?" tanya mas suami yang semakin penasaran, dan yah ini adalah kesempatan aku untuk mengutarakan apa yang mengganjal di dalam hati ini.
"Tadi Mamih bilang kalau kita besok harus datang menghadiri pernikahan David, entah benar atau tidak yang aku dengar, kalau teman mas itu menikah yang kesannya terlihat buru-buru karena sang calon pengantin wanitanya sudah hamil empat bulan, dan entah benar atau tidak juga, status David bukanya dia pernah memiliki istri yang ditinggalkan begitu saja. Lydia jadi merasa takut sendiri. Meskipun Lydia tahu mas suami tidak mungkin melakukan hal yang sama dengan David. Namun entah mengapa Lydia merasakan sakit hati itu. Lydia merasakan rasa sesak seolah wanita yang ditelantarkan laki-laki itu adalah Lydia," ucapku dengan suara yang lirih dan berat.
Aku lihat mas suami mengirup nafas dalam.
"Maafkan Lydia, mungkin Mas bosan mendengarkan curhatan yang seperti ini, mungkin Lydia yang terlalu takut kalau mas akan selingkuh. Lydia akan berusaha percaya dengan Mas. Lydia tahu Mas tidak akan melakukan itu. Lydia yakin Mas tentu berbeda dengan David," ucapku lagi, sebelum mas suami menjawab curhatan hatiku.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, Mas sendiri sesungguhnya takut kalau Mas tidak bisa membahagiakan kamu. Makanya bantu Mas, tegur Mas kalau memang Mas sudah jauh berbuat yang mengacuhkan kalian. Mas takut tanpa Mas sadar sudah membuat kamu sedih." Aku pun membalas dengan senyum yang lembut.
"Pasti Lydia akan ingatkan Mas, tapi jangan cap Lydia bawel yah," balasku dengan setengah berkelakar. Malam ini kami pun kembali menikmati malam untuk mengobrol hangat di saat jagoan sudah tertidur dengan damai.
Sabat yah Iko, aku tahu kamu pusing, tapi maklumin ajah yah emak, dan bapak kamu sedang bucin...
Waktu terus bergulir tanpa terasa sore hari pun sudah datang, aku yang sebenarnya malas untuk ikut menghadiri acara pesta pun mau tidak mau harus bersolek cantik juga, ketika mamih mertua mengingatkan aku kalau di jam tujuh malam kami harus segera berangkat karena undangan kami datang di jam delapan. Sebagai orang yang tidak suka menunggu, aku pun mengusahakan kalau datang tidak telat.
Entah mengapa juga perasaan aku tidak tenang, mungkinkah aku masih menyimpan rasa kesal pada David atau memang ini pertanda kalau akan terjadi hal yang kurang menyenangkan di pesta orang kaya nanti?
Tidak perlu pergi ke salon untuk memoles wajahku, dengan kemampuanku yang tidak terlalu buruk aku pun sudah selesai menyulap wajahku semakin terlihat segar, dan yang penting tidak menor tetapi terlihat cocok di wajahku.
"Udah siap Sayang?" tanya Mas suami yang malam ini tampil dengan pakaian dengan warna yang sama.
Aku cukup mengangguk sebagai jawabanku. "Tunggu kita pamitan sama jagoan dulu. Padahal Mas ingin bawa jagoan kondangan tapi masih terlalu kecil," ucap Mas suami, sembari terus berbicara pada bayi tampan kami, seolah Iko sudah paham apa yang Mas suami katakan.
"Jangan Mas, Iko masih terlalu kecil, lebih baik di rumah saja. Lagian, kasihan kalau masih kecil belum terlalu mengerti untuk diajak ke pesta," ucapku juga, aku takut kalau terlalu sering diajak ketemu David malah laki-laki itu akan semakin memiliki ikatan batin dengan Iko.
Setelah kami pamitan dengan Jagoan Iko, kami pun langsung menuju ke gedung di mana diadakannya pesta. Mamih Misel juga sedang menuju tempat yang sama dan kami akan menghadiri pesta bersama-sama.
Semoga saja di pesta nanti tidak ada hal yang tidak mengenakan hati mengingat dari tadi perasaanku tidak enak sekali.
Sebelum berangkat foto dulu dong. Jangan bilang wajah mas suami kayak terpaksa, dia memang seperti itu wajahnya dingin, tapi kalau malam menghangatkan kok....
Seperti kebanyakan pada laki-laki lain Mas Aarav juga kalau diajak foto agak susah, harus ada janji manis dulu baru mau diajak foto.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...