Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Otw Pulang Kampung


__ADS_3

Hari terus berganti tanpa terasa sudah dua minggu paska sidang putusan gugatan Wijaya. Surat-surat perusahaan Wijaya pun sudah diurus dengan baik. Semua masalah perusahaan Wijaya dengan karyawanya sudah diatasi tanpa takut akan adanya tuntutan macam-macam, dari karyawan dan pemilik perusahaan sebelumnya.


Kondisi Wijaya pun belum bisa dikatakan baik-baik saja. Penyembuhan pada pasien pecah pembuluh darah memang tergolong lambat. Wijaya bahkan lebih banyak diam dan tidak banyak berkomunikasi. Begitupun Risa tidak banyak mengajak interaksi Wijaya karena takut hal buruk terjadi pada suaminya. Wijaya akan berkomunikasi kalau lapar, haus dan ingin buang air besar, selebihnya ia seperti orang yang hilang ingatan hanya bisa diam dan memandangi ke luar jendela. Bahkan untuk berbicara terbata tidak selancar dulu.


Tubuhnya kaku, untuk digerakanya. Sehingga kedepanya Wijaya akan banyak melakukan terapi untuk melatih saraf-saraf yang rusak, yang diakibatkan pembuluh darah dalam kepala bagian belakang pecah. {Kasus pecah pembuluh darah yang Wijaya alami hampir sama dengan yang dialami oleh komedian Tukul}


*******


Di rumah Lydia.


"Sayang apa kamu kangen dengan orang tuamu dan adik-adikmu?" tanya Aarav ketika ia baru pulang kerja.


"Kangen Mas, bahkan kagen banget," jawab Lydia dengan jujur. Sejak menikah Lydia jarang bertemu dengan keluarganya kecuali kalau hari raya. Meskipun setiap hari Lydia selalu bertukar kabar dan menceritakan apa saja yang terjadi dengan dirinya, begitupun bapak dan ibunya, tetapi semuanya akan terasa berbeda tanpa adanya pertemuan.


"Ya udah berhubung masalah kita sudah selesai dan juga kerjaan Mas bisa diserahkan pada Hadi dan Mimin. Besok kita mudik sekalian ajak Iko jalan-jalan. kasihan dia hampir nggak pernah jalan-jalan dikurung di rumah terus." Pandangan mata Saraf dialihkan pada Iko yang sudah pulas tertidur.


Mendengar ucapan sang suami Lydia pun langsung melebarkan kedua bola matanya, kaget pasti karena rencananya kemarin akan pulang sekalian acara empat bulanan, tetapi semuanya gagal karena Wijaya yang melakukan banding atas putusan sidang pertama. Namun, rupa-rupanya Aarav tidak tega juga melihat istrinya yang sudah lama tidak ketemu dengan keluarganya.


"Mas serius?" tanya Lydia, dengan wajah cerianya.


"Iya Sayang, calon ibu dari anak-anakku," jawab Aarav sembari menjawil hidup Lydia yang mungkil. Mungkin cenderung mancung, tapi ke dalam.


"Ya Alloh terima kasih Mas. Terima kasih banyak akhirnya Lydia akan ketemu dengan Ibu dan Bapak juga, udah kangen banget dengan ponakan-ponakan juga." Lydia memeluk suaminya dengan gemas meskipun sekarang kalau pelukan sudah sedikit kesulitan karena perut Lydia yang sudah semakin membuncit.


"Iya sama-sama Sayang, Mas suka kalau kamu seneng. Besok siap-siap saja yah. Begitu Mas pulang kerja kita akan langsung pulang ke kampung halaman kamu. Mas juga kangen suasana kampung di sana."


Wajah Lydia pun terlihat sangat bahagia. "Kalau gitu, kira-kira Lydia harus kasih tahu Bapak dan Ibu nggak?"


"Kalau itu terserah kamu saja Sayang, mau kasih tahu boleh, kalaupun tidak juga nggak apa-apa, itung-itung kasih kejutan untuk keluarga kamu."


"Baiklah, kayaknya nggak usah harus dikasih kabar dulu deh biarkan kasih kejutan buat Bapak dan Ibu."


"Itu juga ide yang bagus, besok Mas akan selesaikan kerjaan dulu, dan izin juga sama Hadi dan Mimin, maklum sultan satu itu sering cari-cari Mas kalau nggak lihat barang satu jam pun."


"Ok, kalau gitu besok Lydia juga akan beres-beres barang yang akan dibawa. Apalagi Iko ikut pasti bakal banyak yang akan dibawa."

__ADS_1


"Yah, tapi jangan lupa minta bantuan Bibi, kamu siapkan apa saja yang harus di bawa, tapi untuk merapihkan ke koper Bibi saja. Terus jangan lupa vitamin, susu dan segala macam, punya kamu dan Iko. Jangan sampai udah sampai sana malah lupa nggak bawa."


"Iya Mas iya."


*******


Keesokan harinya.


[Kalau tidak sibuk ke ruangan gue!] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Aarav pada bestie-nya.


Hadi yang sebenarnya jarak ruanganya dari ruangan Aarav tidak jauh ketika melihat Aarav berkirim pesan pun hanya menatap malas. Seperti biasa Hadi akan membuka dan membalas pesan yang dikirimkan oleh Aarav setelah beberapa jam. Biarkan saja intinya pura-pura sibuk. Meskipun sebenarnya sibuk benaran.


"Ini kebiasaan banget si Hadi pasti sengaja nggak mau baca pesanku," gerundel Aarav sudah hampir setengah jam ia berkirim pesan tetapi belum juga dibalas oleh Hadi.


Tanpa pikir panjang Aarav pun langsung melakukan panggilan telepon pada Hadi.


[Ada apa sih ganggu orang kerja aja," sembur Hadi begitu mengangkat telpon dari Aarav.


[Ke ruangan gue penting!] Aarav juga sama menggunakan suara yang tegas tanpa basa basi.


[Sok sibuk iya. Gue besok mau cuti selama satu bulan.] Kali ini Aarav sih yakin kalau Hadi tidak akan mengelak. Pasti langsung ke ruanganya.


[Gila loe yah, loe mau cuti apa males kerja. ] sungut Hadi, dari balik telepon. [Jangan mentang-mentang loe bos cuti seenaknya aja, satu bulan cuti lebih baik sekalian saja satu tahun.] imbuh Hadi, dengan suara yang ketus.


Mendengar nada bicara Hadi, Aarav sih malah terkekeh dengan renyah.


[Ya udah gue cuti satu tahun yah, loe urus kerjaan sama pembagian penghasilan lima puluh banding lima puluh," kekeh Aarav, sengaja banget mancing Hadi.


[Bodo amat ah, gila gue punya teman kaya loe.]


Nut ... Nut ... Nut .... Sambungan telepon pun terputus.


"Hahaha, paling juga mentar lagi ke sini."  Aarav yang sudah hafal betul tabiat Hadi pun tetap santai, meletakan ponsel di atas meja dan kembali melanjutkan pekerjaanya.


Brakkk .... Benar saja apa yang Aarav katakan, Hadi langsung datang ke ruangan Aarav.

__ADS_1


"As'salamualaikum dulu Di. Enggak malu apa sama calon istri," ledek Aarav pura-pura nggak terjadi apa-apa.


"Iya, wa'alaikumussalam," balas Hadi, laki-laki itu langsung mengambil duduk di depan Aarav.


"Dih gila memang kebalik itu salamnya, malu sama calon anak, yang jauh lebih pinter." Aarav memang cari-cari gala-gara terus, enggak tahu apa dia Hadi datang ke ruanganya karena mau marah bin kesel. Ok kalau cuti satu minggu Hadi bisa menggantikan posisinya, tapi kalau satu bulan apa nggak bikin darah langsung mendidih.


"Loe mah ke mana sih, kenapa ambil cuti satu bulan, mau lahiran loe. Yang kira-kira aja Aarav gue ajah mau cuti mikir-mikir, terutama kasihan sama loe dan Mimin, lah ini orang satu malah dengan enaknya bilang mau cuti satu bulan." Hadi mengabaikan ucapan Aarav, ia sudah mode kesel ya jangan harap baik-baik deh dengan Aarav.


"Lydia pengin ketemu dengan keluarganya, besok gue mau ke kampung Lydia, jadi loe gantiin kerjaan gue satu bulan," balas Aarav tetap menggoda Hadi, padahal dia juga tidak mungkin cuti selama itu paling juga satu minggu di kampung halaman sang istri, tapi kan kalau tidak lihat Hadi marah-marah rasanya kurang seru.


"Ya tapi nggak satu bulan juga Rav, emang loe di sana mau ngapaian aja, bosen juga kali berlama-lama di kampung orang mana nggak ada kerjaan. Loe udah biasa kerja mana enak hanya lontang lantung tanpa arah tujuan. Satu minggu loe harus udah balik ke sini," balas Hadi, benar-benar menganggap apa yang Aarav katakan itu serius.


"Loh kok bilang lontang lantung, gue juga di sana bisa melakukan pekerjaan lain, bantu-bantu kerjaan mertua, jagain Iko. Loe tahukan Lydia sedang hamil tidak mungkin jagain Iko yang aktifnya minta ampun, jadi harus gue dong yang bekerja gatian jagain Iko. Lagian kasihan kalau Lydia pulang hanya sebentar di kampung halaman. Masa di sini sampai berbulan-bulan pulang kampung hanya setor muka, kasihan amat," balas Aarav, biarkan sekali-kali kerjai Hadi, toh Hadi sendiri juga sering kerjai Aarav.


"Jadi loe tetap mau satu bulan cuti Rav, pikir-pikir lagi deh Rav, nih kerjaan lagi banyak-banyaknya kerjaan gue juga banyak nggak mungkin gue ngandalin Mimin semuanya seorang diri, dia kan juga cewek, penjualan juga berat loh Rav pekerjaanya, kalau Mimin sendirian ya kasihan," balas Hadi tetap dalam mode memelas.


"Cuma sebulan aja Di, kan setelah itu juga nanti loe kan mau cuti juga kan menikah sama Mimin, malah kalau loe nikah sama Mimin gue sendirian apa nggak jauh lebih berat."


"Jangan satu bulan deh Rav, dua minggu aja gimana, itu sudah kerjaan paling numpuk loh. Lagian gue nikah juga nggak sampai satu bulan juga kali cutinya." Hadi tetap usaha agar Aarav merubah keputusanya agar tidak cuti selama satu bulan.


"Ya udah lah bagaimana nanti aja, yang jelas gue besok udah mulai berangkat dan loe pegang kerjaan gue. Ingat kerja yang bener jangan pacaran terus mentang-mentang nggak ada yang ngawasin nanti pacaran terus kerjaanya."


Plakkk .... Kali ini map pun melayang ke pundak Aarav.


"Emang kapan pacaran, udah ah gue mau lanjut kerja lagi, banyak kerjaan, jangan sampai nanti ketahuan ngerumpi terus gaji gue di potong lagi sama Tuan Sony. Ngomong-ngomong salam yah buat Lydia dan Iko, hati-hati di jalan dan jangan lupa oleh-olehnya." Hadi pun langsung meninggalkan Aarav, untuk kembali bekerja.


Sementara Aarav justru terkekeh bahagia. "Hadi-Hadi, bisa aja gue kerjain."


Bersambung.....


...****************...


Intip Om dan Tante dulu lah. Iko mau pulang kampung nih Om Tante, mau dibawain oleh-oleh gak?


__ADS_1


__ADS_2