
Cukup lama aku diam tidak menjawab ucapan Mimin. Aku bingung bagaimana cara menjelakan pada mas suami soal anak itu? Tidak mungkin aku mengatakan anak Mimin. Lagian orang tua mana yang mau memberi anak dengan cuma-cuma. Hanya Mimin itu pun karena terpaksa.
"Lydia, apa kamu tidak mau merawat anak aku?" tanya Mimin dengan suara lemahnya. Dengan cepat aku membalas pertanyaan Mimin dengan gelengan kepala.
"Bukan nggak mau Min, tapi aku bingung harus mengatakan apa sama keluargaku, terutama suamiku. Aku nggak mungkin mengatakan anak kamu juga kan? Terus aku tadi pamit ingin jenguk teman yang lahiran, masa pulang-pulang bawa anak. Apa kata suami aku," jawabku jujur. Cukup lama aku lihat Mimin diam.
"Bagaimana kalau kita buat surat perjanjian. Agar suami kamu nggak salah sangka."
Kini gantian aku yang diam. "Perjanjian isinya apa? Suami kamu meninggal dan kamu nggak punya biaya untuk merawat anak kamu?" tanyaku karena kalau sedang bingung kadang otaku susah loadingnya.
"Boleh seperti itu juga Lyd yang penting suami kamu nggak nuduh kamu macam-macam." Setelah runding bersama kami pun membuat surat pernyataan dari Mimin tentu aku minta namanya Mimin di ganti karena aku nggak mau mas suami tahu anak siapa itu. Dari satu urusan berlanjut ke urusan lain pukul satu pun semuanya beres cukup melelahkan sih karena ternyata banyak yang harus diurus termasuk surat kelahiran Tiko dan pernyataan Mimin yang butuh tanda tangan dari dokter Sera danΒ aku juga memberikan Mimin uang untuk tambahan biaya rumah sakit, dan tentunya untuk menebus Hp. Agar aku bisa tahu perkembangan Mimin.
"Min, kamu yakin aku nggak harus nunggu kamu sampai Sari atau teman kamu datang?" tanyaku jujur aku nggak tega meninggalkan Mimin hanya seorang diri.
"Lyd, aku minta kamu datang untuk urusan Tiko saja, soal aku ada dokter Sera yang sangat baik bahkan perawat di rumah sakit ini sudah aku anggap keluarga mereka baik semua. Itu sebabnya aku lebih nyaman di rawat di sini. Toh rumah sakit mana saja tetap sama muaranya kematian," ucap Mimin, lagi-lagi membuat aku bingung.
"Kalau gitu aku akan pulang dan mengambil Tiko di rumah dokter Sera. Kamu jangan sampai lupa tebus ponsel kamu dan hubungi nomer aku, dengan nama kamu yang tertera di surat perjanjian yah," ucapku sebelum benar-benar pamit. Aku juga berjanji akan mengirim uang kalau Mimin butuh uang lagi. Aku sudah menitipkan sejumlah uang pada dokter Sera, dan selama Mimin belum punya ponsel. Aku sudah meminta izin sama dokter Sera yang mungkin akan sering mengganggu waktunya untuk menanyakan kabar Mimin.
Meskipun hati dan tubuh ini berat untuk meninggalkan Mimin, tapi aku juga harus kembali ke rumahku karena aku juga punya keluarga yang harus diurus. Setidaknya aku sekarang sedikit tenang setelah mendapatkan surat penyataan dari Mimin yang menitipkan anaknya padaku.
"Semoga Mas Aarav tidak keberatan aku membawa seorang anak untuk diasuh. Dan semoga juga dengan adanya Tiko rumah tangga kami jadi lebih bahagia." Kakiku melangkah ke ruangan dokter Sera dan setelah menunggu kami pun menuju rumah beliau di mana Tiko berada.
"Jujur Mbak Lydia, sebenarnya aku juga sudah berapa kali menawarkan pada Mimin agar Tiko, aku saja yang merawatnya, tapi Mimin tetap tidak mengizinkan katakanya takut merepotkan saya dan keluarga. Jadi kalau memang Mimin lebih yakin Tiko dirawat sama Mbak Lydia nggak masalah. Tapi kalau saya kangen boleh yah sesekali main ke rumah Mbak Lydia. Abis Tiko ganteng banget. Ya wajar sih, Mbak Mimin juga sebenarnya cantik apalagi katanya suaminya juga ganteng jadi anaknya cakep, putih juga." Sepanjang perjalanan aku dan dokter Sera terus berbincang terutama mengenai Mimin, kondisinya dan banyak lagi yang kami bahas, hingga kami sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tetapi hunian yang nyaman dan teduh.
Kesan pertama milihat Baby Tiko aku langsung jatuh cinta apalagi sesuai yang dikatakan dokter Sera kalau Tiko itu sangat menggemasakan.
__ADS_1
"Ini Susu Tiko, pempesnya pakai merek ini, dan pakaian dan kalau malam dia suka bergadang," jelas Dokter Sera, menjelaskan kebiasaan Tiko juga, setelah berbincang lagi aku pun berpamitan mengingat ternyata hari sudah sore belum juga perjalanan pulang yang lama.
"Tiko, kita pulang yah. Tiko sekarang sudah jadi anak Bunda, jangan rewel yah," ucapku sebelum membawa Tiko pergi. Aku pun melihat dokter Sera yang merwat Tiko sejak lahir seperti berat dan sesekali tanganya mengusap sudut matanya. Aku tahu beliau menahan tangisnya.
"Dok, Lydia pamit yah, kalau Dokter mau ketemu dengan Tiko, nanti Lydia kasih alamat rumah Lydia. Tiko pasti senang ditengok oleh Dokter. Dan saya nitip Mimin yah Dok, kalau ada apa-apa kabarkan saya saja, InsyaAllah saya akan bantu biaya pengobatan Mimin," ucapku sebagai rasa terima kasih karena Mimin menitipkan Tiko kepada aku. Coba kalau aku mau adopsi ke panti asuhan, akan sangat ribet apalagi aku baru nikah nggak boleh langsung adopsi anak, harus menunggu bertahun-tahun dan ngurus adopsi cukup ribet pula, tapi justru dari Mimin aku punya mainan baru.
"Mabk Lydia tenang saja, saya akan jaga Mimin dengan baik." Setelah berbasa basi aku pun melanjutkan pulang.
"Loh itu anak siapa Mbak?" tanya sopir Mamih Misel sebut saja Mang Dudung. Hal yang wajar ketika aku masuk ke mobil dengan membawa bayi yang lucu.
"Anak teman Mang, dia nitip ke Lydia karena tidak ada yang jaga," jawabku sesuai dengan faktanya. "Kita pulang langsung ke kantor yah Mang."
Sebelumnya aku sudah bertanya pada Mas Aarav dan ternyata mas suami masih di dalam kantor. Aku sampai detik ini masih belum mengatakan kalau aku pulang dengan membawa bayi. Sepanjang perjalanan aku pun terus berdoa agar Mas suami tidak bertanya yang macam-macam. Dan juga semoga saja kehadiran Tiko menghangatkan rumah kami yang mana aku bisa lihat mas suami sudah menginginkan punya momongan.
"Loh, Den Aarav belum tahu kalau Mbak Lydia bawa bayi pulang?" tanya Mas Dudung nampak kaget.
Aku pun hanya tersenyum kecut. "Belum Mang, niatnya ngomong nanti langsung aja tadi urusanya repot jadi belum sempat kasih kabar juga," elakku padahal aku yang tidak suka kalau ngomong penting lewat telpon aku lebih suka berbicara secara langsung agar aku bisa tahu reaksi mas suami.
"Kalau Mang Dudung lihat sih pasti seneng yah. Apalagi Den Aarav kanΒ belum punya anak semua adiknya udah punya anak Apalagi Nona Masaya sekarang sudah hamil anak ketiga. Cuma Mas Aarav yang belum punya anak, pasti adanya Bayi Tiko bakal seneng banget," jawab Mang Dadang yang langsung membuat hatiku yakin kalau Mas Aarav tidak akan marah aku pulang-pulang bawa bayi. Apalagi anak yang aku bawa cowok. Semua ponakan Mas Aarav cewek.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam karena macet kami pun sampai di kantor mas suami bertepatan jam pulang kerja.
"Mang tolong bawain perlengkapan Tiko yah. Mungkin dia tidak biasa naik kendaraan jadi sedikit rewel," ucapku, entah tidak biasa naik kendaraan jadi rewelnya, atau justru bayi ini tahu kalau dia berpisah dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
Sama seperti saat aku akan bertemu dengan Mimin kini aku pun merasakan tubuhku berat bahkan langkah kakiku pun sangat berat dan lamban. Sepanjang perjalanan menyiapkan mental untuk mengatakan pada mas suami nyatanya tidak berhasil membuat aku tenang.
Tiinng...suara lift terbuka menandakan aku sudah sampai di lantai Mas suami kerja, yang artinya hanya hitungan menit aku akan bertemu mas suami. Dengan segala doa aku panjatkan agar mas suami tidak marah.
"Assalamualaikum..." sapaku. Sepanjang perjalanan aku memang selalu bertukar kabar dengan mas suami sehingga begitu aku masuk Mas Aarav seolah sudah tahu kalau yang datang itu aku.
"Walaikumsallam Sayang, kenapa kamu perginya lama se....ka li..." ucapan mas suami tertahan ketika melihat aku masuk dengan menggendong bayi. Aku melihat wajah mas suami langsung berubah.
Oh ya Tuhan apakah Mas Aarav akan marah karena aku tidak izin dulu membawa Tiko pulang ke rumah?
#Kira-kira Om Duda marah, atau justru suka Lydia bawa mainan baru yang bisa nangis....?
Berdasarkan masukan dari komen, kisah Mimin, akan dibahas kalau Tiko sudah besar, atau kalau keluarganya nyariin, termasuk suaminya David kalau nyariin anaknya. ππ»ππ»ππ»
Salam dari Tiko, anggota baru...
Selamat datang Tiko
Semoga hadirmu, seperti lilin dalam keluarga
Menerangi, menghangatkan, melindungi, dan memancarkan cahaya
Di tengah kami semua
__ADS_1
Semoga kamu memberi ketentraman dalam kehidupan sepanjang hari, sepanjang bulan, dan sepanjang musim
Besar harapan kami agar hadirmu adalah rezeki yang tersembunyi