Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Ada Yang Kangen Cucu Terus


__ADS_3

Seperti biasa kami sarapan bersama bedanya ada Iko, dan juga ada Mamih Misel. Meskipun mamih mertua tidak ikut sarapan karena menurutnya sudah sarapan di rumah bersama papih mertua, tapi cukup membuat kita jauh lebih hangat dengan candaan dari beliau.


"Sayang Mas berangkat kerja dulu yah. Kamu di rumah jangan cape-cape. Kalau cape jaga Iko minta gantian sama Mamih. Jagoan, Papah kerja dulu yah. Iko di rumah sama Bunda dan Oma, jangan rewel yah Nak, titip jaga Bunda yah."


Aku terharu karena mas suami, meminta Iko menjaga aku, meskipun Iko masih belum tahu, tetapi itu menandakan kalau harapan mas suami Iko kelak bisa menjaha bundanya.


"Mas juga, kerja hati-hati yah. Jaga mata dan jaga hati, ada Lydia dan Iko di rumah yang selalu nunggu mas suami pulang dengan sehat," balasku dengan menatap mas suami yang terlihat sepertinya sangat berat ketika akan meninggalkan kami kerja.


"Iko belum boleh di bawa kerja yah Bun? Rasanya berat banget ninggalin Iko, kalau kerja ditemanin anak istri enak kali yah semangat pasti jadi lebih tinggi," eluh mas suami sembari terus menatap jagoan.


"Yang ada nggak bisa kerja Mas, apalagi kalau Iko sudah bisa lari sana lari sini, sudah pasti bakal tambah nggak bisa kerja," balasku, ini sudah lebih dari lima belas menit mas suami pamitan untuk kerja, tetapi masih belum juga pergi karena masih berat dengan sang jagoan.


Di menit ke dua puluh baru mas suami benar-benar berangkat kerja. Itu pun setelah Mamih Misel yang mengusir mas suami untuk kerja. Yah setelah mendengar sang ibu memekik karena dianggap terlalu lebai mas bojo pun baru pamitan sungguhan.


"Duduk Lyd," ucap mamih Misel dengan menepuk kursi di sampingnya. Aku jadi deg-degan karena sepertinya Mamih Misel ada yang sedang ingin diobrolkan denganku.


"Kenapa Mih, Lydia lihat kayaknya ada yang penting?" tanyaku dengan kepo. Pasalnya dari cara berbicara Mamih Misel seperti ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya meminta kamu besok untuk bersiap kita akan meghadiri pernikahan David," ucap Mamih Misel dengan mengambil alih Iko untuk dia gendong.


Deg!! Jatungku seolah berhenti bedetak.


"Besok? Bukanya mau persiapan puasa yah. Lagian bukanya kemarin David bilang katanya dalam waktu dekat ini akan menikah. Kok malah besok?" tanyaku yang seperti ada yang aneh dengan keluarga itu.


"Biasa lah, anak muda sekarang bergaulnya kebablasan. Tadi sih Papih bilang katanya ceweknya sudah hamil duluan," tapi nggak tahu juga sebenarnya seperti apa karena memang keluarga itu cukup aneh. Biarkan saja, yang penting besok kita datang untuk menghormati undangan mereka. Perihal apa yang terjadi dengan keluarga mereka biarkan menjadi urusan mereka," balas Mamih dengan santai. Iya sih seharusnya aku juga bisa berkata seperti itu urusan dia ya tanggung jawab mereka dan bukan urusan kami, tetapi rasanya hati ini tetap marah.


Jujur lebih baik aku tidak tahu urusan temanku dari pada sekarang aku seolah jadi ikut membenci David yang entahlah kelakuanya buruk sekali. Mana menghamil anak orang lagi, di saat istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati. Sangat menjijikan bukan


Aku yang melihat kehidupan Lyra sangat menyebalkan, tetapi sepertinya ada lagi yang lebih menyebalkan yaitu kelakuan David. Namun, aku juga tidak bisa memungkiri kalau ada rasa senang ketika mendenar David akan memiliki anak dari wanita lain, yang pastinya kalau dia punya anak tidak akan mengambil Iko yang terlahir dari anak wanita yang tidak diinginkan oleh keluarganya.


"Entahlah, yang jelas kasihan, bahkan Tuan Wijaya pernah bilang terus terang kalau dia meminta menggugurkan anak David yang di kandung wanita itu. Soal digugurkan atau tidak Mamih tidak tahu, cuma heran saja kenapa ada orang yang sangat kejam seperti itu terutama dengan cucunya. Mamih malah berharap wanita itu tidak menggugurkan anaknya, dan suatu saat biar dia yang mencari cucunya karena ternyata David tidak bisa memberikan keturunan, tetapi sepertinya harapan Mamih tidak akan terkabul. Karena saat ini saja Mamih dengar-dengar calon istrinya sudah hamil empat bulan."


"Hehe... kenapa harapan Mamih sama dengan Lydia, jujur Lydia ada rasa kecewa ketika David ternyata sudah hampir punya keturunan dari wanita yang setara, tapi tidak apa-apa mungkin itu lebih baik, dari pada keluarganya setres karena ternyata David tidak bisa memberi keturunan.Tapi ngomong-ngomong calon istrinya keluarga sultan atau keluarga raja?" tanyaku dengan kepo. Rasanya tidak mungkin kalau rakyat jelata.


"Kalau tidak salah, anak dari perusahaan  yang mengurus impor barang-barang mewah. Pastinya kelas yang setara lah Sayang, mana mau nikah sama yang kelas biasa saja, tapi jujur kalau anak Mamih salah satu di jadikan menatu oleh keluarga Wijaya. Mamih akan menolak, rasanya tidak terima kalau jadi besan dengan mereka. Terlalu banyak sandiwara, dan terlalu banyak memanfaatkan kekayaan untuk lebih banyak mendapat keuntungan."

__ADS_1


Kami pun pagi ini sangat senang bergosip terutama mengenai keluarga Wijaya yang ternyata sangat buruk tabiatnya. Bersyukur Mimin dijauhkan dengan keluarga itu dari pada dia dibuat sakit hati terus dengan dinikahi oleh David. Lebih baik sakit sekarang tetapi setelah itu akan baik-baik saja.


Hampir seharian ini aku pun menjaga Iko dengan bergantian dengan mamih mertua. Aku yang memang sangat awam dengan menjadi Ibu berkat adanya Mamih Misel aku pun banyak belajar bagaimana cara merawat Iko, dari memandikan bayi dan menidurkan serta kebiasaan bergadang dan mengubah jam tidur agar tidak biasaan kalau malam justru bergadang.


Tidak hanya mengasuh. Hari ini juga cukup lelah karena ternyata mas suami beli perlengkapan Iko cukup banyak dan aku harus mengatur dan merapihkan semua barang-barang baby Iko. Untung saja ada Mamih Misel yang dengan senang hati menjaga Iko selama aku merapihkan barang-barang untuk jagoan.


"Loh Mas, kamu sudah pulang?" tanyaku yang tidak seperti biasanya sore ini mas suami pulang jauh lebih awal dari biasanya.


"Hehe... udah kangen sama Iko, ngomong-ngomong jagoan di mana?" tanya mas suami ketika melihat Iko tidak ada dan kamar kami yang justru berantakan.


"Ada di kamar ujung, di jagain sama Mamih, abisan Lydia lagi nyusun perlengkapan Iko." Aku menunjukan di mana jagoan sejak tadi berada.


"Kalau gitu Mas ke Iko dulu bentar. Habis itu akan bantuin Bunda." Tanpa menunggu jawabku mas suami sudah pergi ke kamar mamih mertua.


Aku pun tentunya sangat bersykur karena tanpa aku meminta mas suami nyatanya mau membantu merapihkan barang-barang anak kami yang baru datang semua.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2