Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Mencari Gara-Gara


__ADS_3

Aarav langsung turun dari mobil begitu ia sampai di rumah mewah kedua orang tuanya.


"Mang ini ada apa?" tanya Aarav ketika ia baru turun tapi ada yang ramai di pos satpam.


"Ini Den, barusan ada yang lembar bangkai kucing lagi," ucap salah satu security yang menunjukan plasik berwarna hitam dan isinya kucing dengan sadis dibunuh dan bahkan darahnya berceceran di dalam sana.


"Ya Allah kenapa tega banget sih orang membunuh kucing kaya gini." Aarav langsung menyingkir dan tidak tega melihat bangkai kucing yang ada di dalam plastik sana. Bahkan laki-laki itu hampir muntah karena melihat bangkai itu yang dibantaii dengan sangat sadis.


"Ini sih sudah perbuatan kriminal, ancaman yang tidak main-main. Sudah lapor polisi Mang?" tanya Aarav, siapa yang tidak cemas dengan terror yang terus berdatangan. Bukan hanya ke rumah kedua orang tuanya, tetapi juga ke rumahnya juga.


"Belum Den, soalnya belum ada perintah," balas salah satu security dengan menunduk sopan.


"Aduh Mang kalau kaya gini tidak usah nunggu ada perintah, ini sudah terror yang berbahaya, lapor polisi agar polisi bisa usut siapa yang buang-bangkai-bangkai ini ke rumah ini dan bisa mencari pelakunya dan juga motifnya. Lagian heran perasaan pagar cukup tinggi, tapi kenapa bisa orang-orang itu lepar ke sini?" Aarav langsung melihat kesekeliling pagar yang bagi dia sangat mustahil bisa melepar tepat masuk ke dalam.


Seorang security langsung melapor ke kantor polisi dan menyelesaikan kasus terror ini dan mencari pelaku sekaligus motifnya, meskipun Aarav sudah menjurus ke dua orang yaitu David dan juga Tuan Wijaya, tetapi ia tidak mau menuntut tanpa bukti dia harus punya keyakinan yang kuat atas apa yang dia tuduhkan agar semuanya semakin terbuka jelas.


"Kalian yang memulai untuk perang  jadi jangan salahkan aku, kalau aku yang akan memenangkan peperangan itu," batin Aarav dengan pandangan kembali tertuju pada tiga kantong hitam yang berisi dua bangkai ayam, dan satu bangkai kucing.


"Kalian tolong jaga yang benar yah Mang, siapkan rekaman CCTV rumah ini dan nanti kalau polisi sudah datang panggil saya. Saya akan lihat orang-orang dalam dulu." Aarav sekali lagi mematikan agar security juga ikut andil dan berusaha mengungkap kasus ini.


"Mami, Lydia dan Iko di mana?" tanya Aarav yang lihat sang ibu tercinta kayaknya syok banget dengan kejadian ini.


"Lydia dan Iko ada di dalam kamar, Rav ini kita kataknya harus pindah deh dari rumah ini untuk sementara waktu, rumah ini benar-benar tidak aman lagi. Seumur-umur baru kali ini Mami merasakan ketakutan gara-gara orang cari gara-gara," adu Mami Misel dengan menggosok-gosok tanganya yang pasti sangat tegang.

__ADS_1


"Aarav setuju, karena ini sepertinya ada yang sedang memberikan ancaman pada kita. Tapi Mami tenang saja yah, semuanya sedang diselidiki oleh polisi kalau semua ini ada hubunganya dengan David dan Mimin, maka David akan semakin sulit untuk bebas dari jeratan hukum karena bukti-bukti ia melakukan pembunuh berencana semakin kuat," ucap Aarav dengan mengusap punggung wanita yang telah melahirkanya dengan lembut. agar tidak cemas lagi.


Wanita paruh baya itu langsung menatap Aarav dengan tatapan penuh tanya.


"Apa maksud dari ucapan kamu? Mimin di bunuh?" Mata merah dan bibir bergetar terlihat dari wanita paruh baya itu. Meskipun Mimin bukan siapa-siapa dan tidak ada hubungan apa-apa dengan keluarga mereka, tetapi wanita paruh baya itu tahu kalau wanita itu orang baik, dan tidak mudah menyerah serta ramah dan sopan, rasanya kalau ada yang berniat untuk membunuh orang itu benar-benar tidak waras.


"Tapi, bisa digagalkan oleh Hadi, dan untuk sekarang pelakunya sudah diamankan di dalam penjara, tetapi bukan tidak mungkin orang-orangnya yang tidak terima dengan perbuatan kita akan melakukan terror agar kita tidak terlalu ikut campur dengan masalah ini."


Berat memang resikonya ketika berhadapan dengan orang-orang yang selalu menganggap dirinya kuat dan bisa menyelesaikan dengan materi, tetapi ini semua adalah ujian dan itu tandanya  Aarav harus menyiapkan semuanya agar keluarganya tidak jadi sasaran orang-orang yang merasa kuat tersebut.


"Ya Tuhan, terus bagaimana kondisi ibunya Iko sekarang? Apa semua ini ada hubunganya dengan David dan keluarganya?" tanya Mami Misel memegang dadanya yang terasa sesak, ketika mendengar berita buruk itu.


Aarav membalas dengan anggukan. "Mereka sudah tahu kalau Iko sepertinya diadopsi sama Aarav, dan tentunya mereka tidak akan diam saja sampai Iko mereka dapatkan lagi, Entah apa yang ada dalam pikiran David hingga dia benar-benar jadi seperti ini, tetapi semuanya akan terjawab, kalau Mimin sudah sadar dan bisa menceritakan semuanya."


"Untuk kondisi saat ini seperti apa, Aarav juga tidak terlalu tahu, karen Aarav belum sempat berkabar dengan Hadi. Tadi Hadi yang bawa Mimin ke rumah sakit, dan Aarav urus masalah di lokasi agar David tidak kabur, baru selesai Lydia telpon katanya rumah kita ada yang terror. Tapi mudah-mudahan semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,"  balas Aarav, ia sangat percaya kalau Hadi pasti bisa diandalkan, dan sekarang tugas dia menjaga anak dan keluarganya jangan sampai terlalu fokus dengan kondisi Mimin, malah kelengahanya dimanfaatkan untuk mengambil anaknya. Lagi pula dia juga bersaing dengan David bukan urusan anak dan keluarga saja. Bisnisnya harus bisa mengalahkan bisnis David, ini adalah kesempatan emas untuk dia bisa menggulingkan bisnis David yang belum setabil.


"Amin, nanti kalau ada info apa-apa kabarin Mami yah, Mami mau telpon Papi yang sedang cari rumah dulu untuk kita ngumpet," ucap Mami Misel, akan kembali di dalam kamarnya.


"Pantesan tumben sudah sore, rumah heboh dengan terror kenapa Papi belum pulang-pulang, baru Aarav akan marahi Papi tapi ternyata sepertinya Papi sedang ada misi yang penting," balas Aarav, laki-laki itu pun kini melanjutkan menemui istri dan anaknya yang sudah pasti Lydia juga ketakutan.


Dengan pelan ia membuka pintu kamarnya dan mengintip anak dan istrinya yang dia kira sedang istirahat tetapi salah, Iko sedang bermain dan Lydia sedang menemaninya.


Pandangan mata jagoan langsung tertuju pada sang papah, dan dengan gaya robotnya ia mencoba menghampiri sang papah untuk meminta gendong.

__ADS_1


"Alhamdulilah Papah senang lihat Iko yang sudah tidak rewel lagi," ucap Aarav sembari mengambil putranya dari gendonganya, Iko pun terlihat jauh berbeda dengan tadi, anak tampan itu kali ini sudah bisa bermain dan bercanda lagi dengan sang papah.


"Mas sudah lihat apa yang tadi Lydia bilang?" tanya Lydia menunjukan raut wajah cemasnya.


"Udah, dan tadi sudah panggil polisi untuk mengusut masalah ini, dan secepatnya akan di temukan pelakunya dan juga kita tidak akan tinggal diam semuanya pasti akan cepat terungkap.


"Amin. Mami tadi bilang kalau untuk sementara waktu kita pindah dari rumah ini."


"Iya, Mas juga tadi sudah diberitahukan oleh Mami, dan semoga saja semuanya akan tetap baik-baik saja. Kamu tenang saja, kita akan menghadapi ini semua orang yang iseng itu juga akan segera tertangkap." Kali ini Aarav menengankan istrinya yang tengah berbadan tiga, jangan sampai karena setres masalah ini malah mereka akan kehilangan anak kereka yang kembar itu sebabnya Aarav tidak menceritakan apapun yang sedang terjadi dengan sahabatnya karena laki-laki itu tahu kalau sang istri tahu kondisi Mimin dia akan sangat kepikiran.


"Ngomong-ngomong Mas tadi ketemu sama Mimin kan, bilang tidak kalau diminta kesini Iko rewel terus?" tanya Lydia yang langsung membuat Aarav bingung harus jawab apa.


"Ke...ketemu dong, kan kerja satu gedung, tapi kalau bilang itu Mas tidak lalukan, karena  lupa," balas Aarav dengan setengah terbata.


"Jadi aneh sama Mimin kenapa dia bisa-bisanya dihubungi telponya tidak bisa-bisa malah sekarang ponselnya mati. Sebenarnya Lydia agak curiga dengan tuh anak, tapi Lydia juga tidak bisa menuduh tanpa bukti. Sekarang susah banget untuk dihubunginya."


Aarav hanya menggaruk-garuk kepalanya bagaimana bisa dihubungi ponsel Mimin dan segala macam benda yang ada di dalam mobil di sita polisi untuk bukti.


"Ya Tuhan. mudah-mudahan istri hamba tidak tahu tentang semua yang terjadi dengan sahabatnya."


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2