Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Pertemuan Dengan Wijaya


__ADS_3

"Mami mau pulang atau mau ikut ke kantor? Lydia dan Iko akan ikut ke kantor Mas Aarav?" tanya Lydia pada mami mertuanya begitu mereka ke luar dari kantor pengadilan.


"Boleh deh Mami ikut ke kantor, sekalian mau temanin Papi kerja juga."


"Cie, nggak mau kalah banget sama anaknya. Anaknya kerja ditemanin istrinya. Mami juga nggak mau kalah menemani romeonya," ledek Aarav.


"Iya dong, biar kata kita sudah tidak lagi muda tapi tetap harus saling dukung, dan biar Papi semangat kerjanya Mami pun harus temani," balas Mami Misel dengan yakin, dan tentu jawabanya sangat membuat Aarav bangga dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, karena meskipun menikah sudah lama menikah bahkan sudah punya anak dan cucu tetapi mereka tetap kompak dan bahagia selalu.


Tidak harus menunggu lama karena jalanan ibu kota kalau sedang di jam siang memang selalu lancar begitupun hari ini perjalanan Lydia dan Aarav lancar sampai kantor, tanpa ada masalah apa pun.


"Sayang bangun, kita sudah sampai di kantor Ayah, turun yuk!" Lydia dengan sabar membangunkan putranya yang sedang tidur dengan pulas.


"Biar saja Sayang, Mas gendong Iko, mungkin kecapean abis nasehatin ayahnya." Aarav pun langsung mengambil alih putranya sedangkan Lydia membawa perlengkapan Iko. Aarav lebih dulu berjalan dengan menggendong Iko seperti induk koala.


Tubuh Aarav langsung mematung sesaat ketika melihat ada orang yang selama ini tengah dihidari. Aarav pun dengan sigap menyembunyikan wajahnya.


"Selamat siang Aarav dan Lydia. Sangat senang sekali saya bisa bertemu anak berbakat seperti kamu di sini," sapa Wijaya dengan nada bicara yang terkesan lebih meledek Aarah.


"Siang juga Tuan, saya juga sangat senang bertemu Anda di sini, tadi saya pikir Anda hadir dipersidangan memberikan dukungan Anda untuk David," balas Aarav dari nada bicaranya sih terlihat tenang, tetapi Aarav juga tidak hanya diam saja ia pun memberikan sindiran balik untuk Tuan Wijaya.

__ADS_1


"Saya yakin David jauh lebih baik tanpa adanya dukungan dari saya." Mata Wijaya pun berusaha melihat wajah cucunya, tetapi untungnya Iko yang sedang tidur sehingga wajahnya pun tidak terlihat karena tertutup oleh jas Aarav.


Lydia dan mami mertuanya pun sama kaget ketika tiba-tiba justru bertemu dengan Wijaya di kantor suaminya.


"Tapi David adalah anak Anda, bagaimanpun dukungan Anda sangat berharga untuk David," balas Aarav yang mungkin saja setelah mendapatkan wejangan dari Aarav, laki-laki tua itu mau menemui anaknya. Meskipun Aarav marah dan kecewa dengan sikap David yang sudah-sudah, tetapi ia mendukung seseorang ketika memutuskan untuk berbuat yang baik, apalagi seperti David yang memang berlatar dari keluarga kurang pendidikan agama dan sekarang sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tentu Aarav sangat mendukungnya. Bukan malah seperti Wijaya, anaknya menjalani sidang putusan dia malah tetap sibuk mengurus usahanya, tanpa ada satu pun keluarganya yang perduli dan memberikan dukungan pada David.


Wijaya mengulas senyum sinisnya. "Kami lebih tahu mana yang terbaik untuk anak kami, bahkan dari dulu pun kami selalu bilang pada David kalau dia tidak mau ikut aturan kami, tidak ada larangan dia mau pergi atau kabur. Jadi sekarang bukan saatnya kami mengurus anak itu."


Deg!! Jatung Aarav sangat panas dan marah mendengar ucapan Wijaya, sangat egois sekali.


"Kalau begitu saya masuk dulu Tuan, maaf keluarga saya sudah cape karena memberikan dukungan pada kerabat kami." Aarav pun langsung menggandengan tangan sang istri agar cepat mengikutinya. Sedangkan mami Misel pun langsung mengekor di samping Lydia dengan bergandengan tangan dengan sang menantu.


"Ya, aku berharap agar secepatnya kamu dan kerabat serta istri kamu yang menyusul David." Wijaya dengan sengaja memancing keributan karena ia tahu Aarav panti tidak akan terima kalau didoakan secepatnya menyusul David.


"Astaghfirullahaladzim...." Aarav beristigfar tiga kali dan mata terpejam mencoba menenagkan emosinya. "Kalau tidak bawa anak dan istri habis tua kakek kakek tua," gumam Aarav dia memang beristigfar, tetapi tetap saja ada caranya untuk meluapkan emosinya.


"Benar kata istri kamu, jangan tanggapi laki-laki itu biarkan dia berbuat suka-suka dia yang penting kita tetap waspada." Mami Misel pun mencoba menenangkan putranya, dan benar saja Aarav pun kembali mengayunkan kakinya segera masuk ke ruanganya tidak ada gunaya meladeni Wijaya yang mungkin saja sudah menunjukan ciri-ciri gangguan jiwa, karena anaknya dipenjara selama lima tahun. Tentu itu tandanya ia harus berjuang mengurus bisnisnya seorang diri.


"Kalau gitu kalian nikmati waktu kebersamaan kalian di kantor, Mami akan ke ruangan papi kamu," ucap Mami bela.

__ADS_1


"Tidak usah ke ruangan Papi, orang Papi juga mau ke ruangan Aarav." Laki-laki paruh baya yang berpenampilan rapi dan tampan pun memeluk istrinya dengan mesra, bahkan Lydia dan Aarav selalu kalah romantis dengan papi dan mamihnya.


"Ngapain ke ruangan Aarav sih Pih, kan Mamih juga bisa jelaskan apa hasil sidangnya." Iyah, kanjeng Mamih kayaknya cemburu nih.


"Ini bukan soal hasil sidang Mamih sayang, tapi ini soal pekerjaan ada yang ingin Papi bicarakan sama anak Mami yang paling ganteng ini." Papi Sony merayu sang istri agar tidak baperan lagi.


"Apa ini semua ada hubunganya dengan Tuan Wijaya?" tanya Aarav, ya tentu ia bisa menebak ke arah sana pasalnya seorang Wijaya tidak mungkin datang ke kantornya tanpa adanya maksud tertentu.


"Yah, kamu pasti sudah tahu jawaban Papi." Akhirnya Mami Misel pun mengikuti suaminya untuk kembali masuk ke ruangan anaknya.


"Kalau gitu kita pesan makan dulu Sayang, kita belum makan jangan sampai gara-gara Wijaya jadi sakit," ucap Aarav.


Lydia pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi untuk membeli aneka kuliner via online.


"Sayang biasa yah ...." Aarav pun langsung menaik turunkan alisnya memberi kode pada sang istri agar memesankan apa yang jadi favoritnya.


"Jangan setiap hari juga dong Mas, nanti kamu sakit perut loh. Masa makan rujak setiap hari," protes Lydia, ia yang hanya melihat kebiasaan sang suami pun merasakan perutnya bermasalah apalagi Aarav.


"Sekali ini saja Sayang, dari pada nanti anak kita ileran." Aarav menggunakan jurus rayuan sedang Lydia kalau sudah suaminya merengek seperti itu tidak bisa menolak. Maka diperankannya rujak untuk sang suami.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2