Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Keterkejutan Lydia dan Aarav


__ADS_3

"Mimin ini ada apa?" tanya Lydia ketika pukul tiga pagi ia dibangunkan, dan ternyata Mimin datang dengan menggendong Iko.


"Maaf Lyd, aku janggu malam-malam, Iko ingin pulang," balas Mimin, yang tengah menggendong Iko sempat tertidur lagi di jalan.


"Tidak apa-apa, Iko nangis yah?" tanya Lydia merasa tidak enak dengan Mimin.


"Bunda, ikan Iko pada mati tidak?" tanya Iko dengar suara serak karena baru bangun tidur.


Mendengar pertanyaan Iko, Lydia pun kaget.


"Ya Alloh, Iko jadi pulang malam-malam karena kepikiran ikan pada mati?" tanya Lydia dengan mengusap dadanya. Jantungnya hampir saja mau copot terlalu was-was dengan apa yang terjadi pada Iko, tetapi malah kali ini ia ingin tertawa dengan renyah mendengar jawaban Iko.


"Tidak Sayang ikannya tidak mati. Iko mau lihat?" tanya Lydia dengan bersiap menggendong Iko.


"Biar aku saja yang gendong Iko, kamu lagi hamil." Mimin dan Lydia pun berjalan ke ruangan keluarga di mana ikan-ikan Iko disimpan.


"Ini ada apa Sayang?" tanya Aarav dengan suara berat khas bangun tidur.


"Loh, Jagoan udah pulang?" Aarav langsung memeluk putranya yang katanya mau nginap malah minta pulang malam-malam hanya karena takut ikanya mati.


"Loh, kok kamu sama Hadi datangnya?" tanya Aarav kaget pada Mimin, ketika melihat Hadi masuk dengan setengah menunduk.


"Panjang ceritanya," balas Mimin dengan wajah setengah mendung.


"Min ini ada apa sih?" tanya Lydia apalagi Hadi juga tiba-tiba mengantarkan Mimin padahal ini jam tiga pagi, apa mereka sudah menikah? Itu yang ada dalam pikiran Lydia.


"Lyd, aku merasa bersalah banget sama Mas Hadi," ucap Mimin dengan setengah berbisik, ia sejak dalam perjalanan sudah berkali-kali minta maaf pada Hadi, dan laki-laki itu sih bilang tidak apa-apa tapi Mimin masih tidak tenang, karena ia tahu Hadi sangat kesakitan, bayangkan saja dipukul berkali-kali oleh Pak Sono karena disangka maling mana di pukulnya dengan gagang sapu pasti sangat sakit sekali.


"Ini ada apa sih Min?" tanya Lydia dengan suara yang sama-sama berbisik dengan Mimin.


Untuk sesaat Mimin hanya diam dan seperti ragu akan bercerita. "Ini semua kesalahan aku Lyd." Mimin pun  menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Hadi, mulai ia terbangun lalu menelepon Hadi dan terjadilah pukul dan dipukul. Hingga kini Mimin merasa sangat bersalah dengan Hadi.


"Astaga Mimin, kamu serius?" tanya Lydia ia merasa prihatin dengan Hadi yang jadi salah sasaran, tetapi ia juga tertawa dengan cerita Mimin yang sangat ceroboh.


"Masa aku bercanda, sekarang aku harus gimana yah Lyd, jujur aku merasa bersalah banget. Panggil tukang urut atau gimana?" tanya Mimin masih dengan suara lirih dan setengah berbisik.


"Kok tukang urut. Ini paling resiko terbesarnya memar, jangan diurut, kamu nanti  belikan salep saja anti memar biar nanti tidak pegal. Banyak pasti di apotik. Lagian emang Hadi masuk tidak lihat ada orang, kok bisa dikira maling?" tanya Lydia sembari terkekeh karena cerita Mimin sangat lucu.

__ADS_1


"Pak Sono ketika tahu ada yang naik pagar langsung ambil sapu dan bersembunyi nah begitu ada kesempatan langsung deh dihajar, karena lampu yang tidak begitu terang mungkin jadi Pak Sono tidak begitu kenal siapa yang masuk. Lagian Mas Hadi datang dengan membawa motor bukan mobil. Jadi  Pak Sono tidak kepikiran kalau yang masuk Hadi. Atau entahlah namanya juga salah paham aku juga tidak begitu tahu kejadianya maklum aku masih di dalam kamar jaga Iko."


Mendengar ucapan Mimin, Lydia pun tidak tega. "Ya udah kamu jangan merasa bersalah seperti itu, inikan salah paham. Kamu nanti sempatkan saja beli salep untuk lebam, dan berikan pada Hadi aku yakin dia tidak akan marah berkelanjutan. Dia pasti tahu kalau kamu sangat cemas kalau akan terjadi apa-apa dengan Iko, Hadi pasti tidak marah kok. Kamu udah minta maaf kan?"


Mimin memberikan anggukan yang lembut. "Sudah, bahkan bukan hanya sekali."


"Ya udah, aku yakin Hadi tidak akan marah."


Setelah bercerita dengan Lydia, Mimin pun merasa lega. Dan ia nanti akan membelikan salep untuk mengurangi lebam. Tanpa dibelikan salep pun Mimin tahu kalau Hadi tidak akan marah, tetapi untuk menebus kesalahannya Mimin akan memberikan perhatian kecil. Toh semua yang terjadi dengan Hadi atas kesalahannya.


*****


Melihat Hadi yang mengantarkan Mimin di jam yang tidak wajah Aarav pun langsung menghampiri rekan kerjanya.


"Apa ada yang gue nggak tahu dari hubungan kalian?" cecar Aarav begitu Hadi duduk dengan lesu di kursi.


"Tidak ada."


Mendengan jawaban Hadi, Aarav pun menujukan tatapan tidak percaya. "Tidak ada? Tapi jam segini loe antar Mimin ke sini? Itu tandanya loe sedang tinggal dalam satu rumah kan?"


"Panjang ceritanya Rav, besok gue ceritain."


"Ok-ok gue cerita, tetapi ini tidak seperti yang loe pikirkan ini benar-benar dalam keadaan darurat."


Hadi pun menceritakan dengan detail dengan apa yang terjadi sampai ia bisa sampai di rumah dokter Sera dan sekarang mengantarkan Mimin sampai di rumah Aarav.


Hahaha.... Aarav pun tertawa dengan kencang ketika mendengar cerita Hadi.


"Kayaknya loe terlalu banyak dosa Di," seloroh Aarav yang langsung dapat plototan dari Hadi.


"Tapi nggak apa-apa demi calon anak daan istri mah tidak sakit kok, itu hanya pukulan kecil untung dulu waktu sekolah sering tawuran jadi sudah biasa dapat pukulan."


"Jadi sekarang sudah ada titik terang?" Aarav dipancing ya makin kepo dong, sembari menaik turunkan alisnya.


"Alhamdulillah, tinggal tunggu semua urusan dia selesai. Semoga tidak ada yang usil lagi biar segera akad," jawab Hadi dengan setengah berbisik.


"Amin, kayaknya kalau ini sih kabar bahagia. Pantesan rela digebugin ternyata ada udang dibalik bakwan." Aarav pun tidak ada henti-hentinya meledek Hadi.

__ADS_1


"Wey bukan begitu konsepnya, kalau di gebugin memang aku kayaknya lagi apes aja."


"Tapi sakit?" Aarav menujuk punggung Hadi.


"Enggak, untungnya dipukulnya pakai gagang sapu, yang kayunya nggak begitu besar, coba kalau pukulnya pakai balok, bisa-bisa tuluangnya langsung rontok."


"Hahaha bisa-bisanya udah dipukul masih bilang untung, namanya udah dipukul ya tidak ada yang untung."


Aarav dan Hadi pun berbincang dengan sesekali bercanda, malah lebih banyak bercandanya. Begitupun Mimin, ia memutuskan pulang ketika adzam subuh berkumandang.  Iko sendiri langsung kembali main dengan ikannya dan tampak tidak mengantuk lagi.


*******


Hari terus berganti tanpa terasa sidang putusan kasus Mimin dan David pun memasuki sidang terakhir. Sementara kasus Aarav dan Mimin melawan Wijaya pun sudah mulai memasuki persidangan. Tahap pertama seperti pada persidangan dalam kasus perdata pada yang lainya, yaitu upaya damai dari Mimin, Aarav, Lydia maupun Wijaya. Namun, Wijaya menolak upaya damai, begitupun Aarav dan Mimin, semuanya sudah sepakat dilanjutkan hingga putusan pengadilan mengatakan apakah tuduhan Wijaya terbukti atau tidak.


"Sayang besok kita akan menghadiri putusan sidang David dan Iko juga akan ikut untuk ketemu dengan ayahnya, tapi kamu nanti datangnya kalau sidang sudah setengah jalan, jadi kamu masuk kalau sidang sudah selesai," ucap Aarav dengan mengusap rambut Iko yang sedang tidur.


"Apa nanti Wijaya tidak akan datang?" tanya Lydia memastikan, kalau kakek tua itu tidak akan ada di dalam ruang sidang dan membuat suasana jadi serba salah.


"Untuk datang atau tidaknya Mas tidak tahu karena itu yang menentukan dia, tetapi untuk sebelum-sebelumnya Tuan Wijaya tidak pernah datang dalam persidangan David."


"Mudah-mudahan besok juga nggak datang."


"Ya kalau datang tidak apa-apa, dia tidak akan bikin keributan kok, Mas yakin dia sekarang hanya sedang mempertahankan sifat keras kepalanya dalam kenyataanya Wijaya juga sudah tahu kalau ia akan menelan kekalahan."


"Kok Lydia seneng yah dengarnya."


"Harusnya kita bikin selamatan besar-besaran kalau semua masalah ini selesai dengan hasil yang memuaskan, tapi yang kasihan David karena obsesi orang tuanya sekarang ia terancam penjara paling lama sembilan tahun penjara."


"Hah selama itu Mas?" Lydia sangat tidak menyangka kalau tuntuntanya cukup lama.


"Tapi kembali lagi dengan hakim, sampai berapa tahunnya, tetapi pasti menjalani hidup di penjara tidak mudah lah, apalagi dia terbiasa hidup enak dan apa saja dilayani ketika dalam masalah seperti ini pasti sangat berat."


"Semoga nanti kalau sudah keluar Hadi tidak bikin onar lagi."


"Amin.... biarkan dia hidup dengan normal, dan bisa menemukan wanita yang baik bisa menuntun David ke jalan kebenaran."


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2