
"Ayah ..." Mimin bahkan lupa kapan terakhir ia memanggil laki-laki yang sedang terbaring dengan lemah di hadapanya dengan sebutan ayah.
Tes ... Lukman pun terharu karena pada akhirnya Mimin memanggilnya dengan sebutan ayah lagi. Tangan Mimin mengusap air mata yang keluar dari sudut mata laki-laki tua itu. Wajahnya keriput dan tirus, bahkan tulang wajah tercetak jelas dibalik kulit tuanya, membuat Mimin semakin sesak dadanya.
"Jangan nangis, bukanya kata ayah laki-laki tidak boleh nangis," bisik Mimin, entahlah dari bibirnya kata-kata itu keluar begitu saja. Ia sendiri justru heran dengan dirinya kenapa dia bisa sehangat itu. Sedangkan dalam dadanya masih gemuruh, saling berperang dengan perasaanya sendiri.
"Ma ... maaf ..." Lagi, hanya kata maaf yang sejak tadi keluar dari bibir Lukman. Meskipun Mimin sudah beberapa kali mengatakan kalau dia sudah memaafkan Lukman, tetapi laki-laki itu akan kembali mengatakan hal yang sama.
"Jasmin sudah maafkan Ayah, apa Ayah senang?" tanya Mimin. Dan dia bisa melihat senyum samar dari wajah tua Lukman, di mana pandangan matanya terus melemah. Hingga Lumkan memejamkan matanya.
"Ayah, apa Ayah cape...?" tanya Mimin dengan suara pelan.
"Ay ... ayah ba ... ha ... gia ...." jawab Lukman dengan suara terbata dan juga matanya yang masih terpejam.
"Ayah bertahanlah. Jasmin pernah berjanji akan ajak Ayah mengunjungi makam Ibu, jadi bertahanlah Jasmin ingin Ayah minta maaf pada ibu?" lirih Mimin di samping telinga ayahnya.
Kembali Mimin melihat bibir Lukman melengkung memberikan seulas senyum terbaik. Meskipun Lukam masih terpejam tapi, ia masih bisa mendengar apa yang Mimin katakan.
"A ... ayah mau..." Lukam berbicara dengan lirih, dan mata yang masih terpejam.
"Ayah mau apa?" tanya Mimin kembali berbisik lembut di samping telinga sang ayah.
"Mau di ... ma ... kam ...kan bareng ibu kamu ..." ucapnya dengan terbata.
Deg! tubuh Mimin seperti tersengat alus listrik ribuan volt. Ketika mendengar ucapan ayahnya.
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah harus kuat dan datang ke makam ibu dengan keadaan sehat. Pasti Ibu senang," ucap Mimin, ia kini justru menjadi banyak bicara. Di kamar orang tuanya dulu Mimin justru merasakan hal yang sangat ketakutan. Takut kalau ia akan kembali menyaksikan detik-detik ayahnya berpulang sama halnya yang terjadi saat ibunya meninggal dunia. Rasa takut itu kembali hadir.
__ADS_1
"Abang .... Abang ...." Mimin yang merasa kalau ayahnya justru tidak merespon ucapannya lagi ia pun menjerit memanggil saudara laki-lakinya. Sama halnya dengan memanggil ayahnya. Ini pun panggilan pertama kali untuk Julio dengan panggilan abang.
Hadi yang barus saja mengurus semua urusan pernikahan dadakanya, memesan makanan dari restoran yang terkenal lezat, menyiapkan semua kebutuhan tamu alakadarnya. Setidaknya ada jamuan meskipun tidak mewah seperti pernikahan pada umumnya.
Mendengar jeritan Mimin, Hadi pun tersetak kaget. Tanpa pikir panjang Hadi mengayunkan kakinya berlari ke kamar calon mertuanya. Ia bahkan lupa kalau dirinya baru pulang dari rumah sakit, bahkan luka jahitan di perutnya masih basah.
#Abang hati-hati Othor takut kamu kembali masuk ke rumah sakit.
"Kenapa?" tanya Hadi cemas, tubuhnya seperti kehilangan tenaga, ia takut ada apa-apa dengan Mimin ataupun calon mertuanya.
"Mas, coba kamu lihat Ayah ..." Mimin menujuk Lukman yang tertidur dengan bibir melengkung sempurna. Perlahan Hadi pun mendekat ke ranjang di mana Lukman terbaring. Sama halnya seperti yang Mimin rasakan. Hadi pun takut kalau Lukman sudah berpulang, dan tidak menyaksikan pernikahan dirinya.
Pandangan mata Hadi saling bertemu dengan pandangan mata Mimin. "Tadi Ayah bilang ingin dimakamkan di samping makan Ibu," ucap Mimin sepertinya ia tahu arti dari tatapan Hadi. Laki-laki itu mendekatkan jari telunjunya di pergelangan tangan Lukman.
Cukup lama Hadi diam mengecek denyut nadi di pergelangan tangan laki-laki tua itu, sedangkan air mata Mimin sudah luluh, membasahi niqab yang menutupi sebagian wajahnya.
Wanita bercadar itu mengangguk lemah, dan mengucapkan hamdalah berkali-kali. Bersyukur karena ketakutannya tidak terjadi.
Tidak lama pun pemuka agama datang, bersama dengan Julio. Begitupun pesanan makanan yang Hadi pesan. Dengan dibantu oleh Mbok Darsi dan pekerja restoran meja prasmanan ala kadarnya pun sudah tertata dengan rapi tentu dengan menu yang lezat. Meskipun pernikahan mereka adalah pernikahan dadakan, tapi semua makanan yang Hadi pilih adalah makanan dengan kualitas dan rasa yang terbaik.
Satu persatu pun sahabat, keluarga Hadi dan juga Mimin datang memenuhi kamar yang di sulap ala kadarnya di mana di kamar itu akan diadakan pernikahan yang sangat sederhana.
Julio menatap Mimin yang terus menangis. "Apa kamu siap menikah sekarang?" tanya Julio sebelum menikahkan adiknya. Mewalikan tugas ayahnya yang sudah tidak bisa mengambil alih tugas sebagai wali utama untuk menikahkan Mimin.
Meskipun Mimin menangis, tapi ia pun menganggukan kepalanya. "Aku menangis hanya ingat Ibu yang tidak bisa hadir di pernikahan aku," balas Mimin, kali ini ia jauh lebih lembut menjawab pertanyaan abangnya. Padahal yang membuat Mimin sedih bukan hanya itu, tapi dalam batinnya yang paling dalam dia tidak rela kalau ayahnya akan menyusul ibunya.
Ia ingin melihat ayahnya sembuh ia memang marah, kesal dan benci pada laki-laki yang masih terpejam, tapi ia juga tidak ingin melihat kalau ayahnya menyusul sang ibu.
__ADS_1
Arum mendekat pada Mimin, yang duduk dengan pandangan kosong menatap ayahnya yang masih terpejam. "Ayah kamu menunggu kamu menikah, apa tidak sebaiknya pernikahan ini segera dilaksanakan," ucap Arum ketika melihat kalau suasana semakin memprihatinkan.
Mendengar ucapan Arum. Mimin pun tersentak kaget, ia langsung melihat kesekeliling yang ternyata memang di kamar itu sudah banyak orang dan semuanya adalah orang yang di kenal oleh Mimin, hanya satu yang tidak Mimin kenal yaitu pak ustad yang akan menikahkan Mimin dan Hadi nanti.
"Tapi Ayah masih tidur," jawab Mimin sembari pandangan kembali menatap Lukman.
"Ayah memang tidur, tapi Ayah mendengar apa yang kita ucapkan. Jadi benar kata calon Tante Arum. Lebih baik disegerakan nikahnya. Biar Ayah tenang ketika tau putrinya sudah ada yang menjaga." Julio sependapat dengan Arum.
Mimin pun akhirnya mengangguk. Ia tidak keberatan untuk menikah secepatnya.
Hadi perlahan berjalan ke tempat tidur Lukman, dan kembali bersimpuh dan mendekatkan bibirnya ditelinga Lukman.
"Ayah, saya Hadi, calon suami putri ayah. Saya minta izin untuk menikahi putri ayah. Saya berjanji akan menjaga, melindungi dan membahagiakan Jasmin. Ayah jangan khawatir Hadi akan menyayangi putri ayah dengan tulus," bisik Hadi dengan suara lirih. Ruangan yang tidak terlalu luas itu pun jadi berubah penuh haru.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Mimin.
"Ayah, izinkan Jasmin menikah dengan Mas Hadi. Ayah jangan cemaskan Jasmin, karena Mas Hadi pasti akan menjaga putri ayah."
Lukman menarik bibirnya menandakan kalau ia menyetujui pernikahan Mimin. Benar kata Julio meskipun laki-laki tua itu memejamkan matanya, tapi ia dengar semua yang diucapkan oleh Mimin.
Tes air matanya terus menetes, tidak terbayangkan oleh Mimin kalau pernikahannya akan seperti ini. Disaksikan oleh ayah yang sudah sakit parah.
"Ibu, Jasmin akan menikah do'akan agar pernikahan ini adalah pernikahan terakhir untuk putri ibu dan pernikahan yang penuh berkah. Jasmin tau ibu tidak ada di sini, tapi ibu pasti ikut merasakan kebahagiaan ini kah?"
Bersambung....
...****************...
__ADS_1