Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Permintaan Maaf Dari Dude (Revisi)


__ADS_3

Sebelum bab ini adalah revisi dari bab sebelumnya yang ada kesalahan copas. Yang sudah terlanjur baca maaf karena othor gak cek bab lagi, dan yang belum baca langsung loncat bab ini yah. Karena ini yang benar. Selamat membaca...


...****************...


Ruangan pun kembali sepi tidak ada ucapan dari Julio, Mimin, maupun pengacara Hilmi. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, termasuk Dude dan juga Hadi.


"Saya sebagai anak dari Pak Supri, meminta maaf atas kesalahan ayah saya. Saya juga baru tahu kalau ternyata ayah saya melakukan pembunuhan ini tiga tahun kebelakang, tepatnya saat Tuan Lukman jatuh sakit. Sebelumnya kami berpikir kalau ayah kami memang murni kecelakaan dalam meninggalnya tidak kepikiran kalau ayah melakukan bunuh diri, yang dengan sengaja menabrakkan diri pada pembatas jalan." Dude mulai membuka obrolan, dengan permintaan maaf meski itu bukan kesalahan laki-laki itu. Namun sebagai anak dari Supri ia menggantikan ayahnya yang tidak pernah meminta maaf baik secara langsung.


Kalau secara tertulis jelas dia sudah melakukannya dengan wasiat yang ditinggalkan dengan surat tulisan tangan dari Supri.


Mimin dan Julio pun mengangkat wajahnya hampir bersamaan, dan memberikan tatapan kecewa pada Dude.


"Aku tahu berada diposisi kalian, karena kalian juga posisinya tidak tahu. Biarkan ini semua berlalu, dan anggap saja kasus ini sudah selesai karena Pak Supri juga sudah meninggal dunia. Tidak pantas rasanya kalau kita membalas dendam pada keluarganya sedangkan keluarganya tidak tahu apa-apa. Saya sebagai perwakilan dari anak Ayah Lukman memaafkan semuanya dan menganggap semua ini sudah tidak ada dendam lagi." Hadi yang lebih dulu membuka obrolan, dan memang dari semuanya Hadi bisa dikatakan paling tenang. Bukan berati dia tidak ikut merasakan kesedihan yang menimpa Julio dan juga Mimin, tetapi Hadi tahu tidak sepantasnya dia marah pada keluarganya yang tidak tahu apa-apa. Hadi juga yakin kalau mereka juga yakin sedih mendengar berita seperti ini.


Apalagi kehilangan ayah juga cukup berat dan ditambah dengan berita seperti ini pasti Dede dan keluraganya juga sedih.

__ADS_1


"Yang dikatakan Hadi benar. Apalagi Dude adalah anak paling tua, dan ibunya pun sudah meninggal dunia. Dia punya adik dua yang masih menjadi tanggung jawab dari Dude. Rasanya kita tidak adil kalau memang harus melampiaskan kesalahan Pak Supri pada anak-anaknya yang tidak tahu menahu. Kita tutup kasus ini, jangan ada lagi dendam dari kita semua karena baik Supri maupun orang tua kalian sudah tenang di surga-Nya." Pengacara Hilmi kembali membuka obrolan yang cukup membuat Mimin dan Julio mengerti.


"Apa ada yang ingin disampaikan oleh Mbak Jasmin ataupun Mas Julio?" tanya pengacara Prabu, untuk beberapa saat menjeda ucapannya. Untuk memberikan waktu untuk Mimin maupun Julio menjawab. Namun baik Mimin maupun Julio memberikan jawabannya hanya gelengan kepala yang lemah.


Setelah Mimin dan Julio tidak ada yang ingin diucapkan itu tandanya dua orang ini sudah cukup bisa menerima kondisi meninggalnya Halimah, dan tidak ada dendam dengan keluarga Dude..


Pengacara Hilmi pun mempersilahkan Dude pulang karena pada kenyataannya obrolan yang menyangkut dirinya sudah selesai.


"Baiklah kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi kasus kematian Nyonya Halimah, saya rasa sudah jelas dan tidak ada lagi dendam kedepannya. Kita lanjutkan dengan wasiat Tuan Lukman mengenai harta bendanya. Mengingat anak Tuan Lukman ada dua, agar tidak ada kesenjangan sosial atau justru perebutan harta warisan. Meskipun saya yakin baik Mas Julio maupun Mbak Mimin tidak mungkin melakukan itu. Mbak Jasmin dan Mas Julio pasti akan menerima keputusan Tuan Lukman. Benar kan?" tanya pengacara Hilmi, dan dibalas anggukan oleh Mimin dan Julio.


Yah, jelas Mimin sendiri tanpa adanya warisan sudah jelas ia tetap bisa makan dan beli barang kesukaannya mengingat suaminya tajir melintir. Begitupun Julio yang bisa dikatakan pengusaha sukses, untuk hidup seorang diri jelas penghasilannya lebih dari cukup.


"Jujur Om Hilmi, masalah warisan saya tidak keberatan meskipun adik saya mendapatkan jauh lebih banyak. Karena bukan hanya ayah yang pasti merasa bersalah karena tidak memberikan nafkah untuk adik saya. Saya sendiri juga merasakan hal yang sama. Saya merasa bersalah dengan membiarkan adik saya mengalami kesusahan seorang diri. Meskipun saya berikan harta ini untuk adik saya semuanya. Saya yakin tidak akan membuat dosa-dosa saya selama ini dengan tidak ada saat adik saya membutuhkan akan ditebus dengan harta. Saya yakin Mimin pun tidak akan keberatan dengan semua keputusan ini?" Julio menatap sang adik yang sekarang jauh lebih tenang.


Mimin pun langsung memberikan anggukan kepala. Yah, Mimin sendiri bukan tipe wanita yang matre, dan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan pundi-pundi uang yang banyak.

__ADS_1


"Saya senang dengan jawaban kalian. Yah, saya sih yakin kalian tidak akan keberatan dengan wasiat ayah kalian. Haya saja saya harus memastikannya karena di sebagian orang harta warisan ada yang sangat berharga. Apalagi tidak sedikit kita mendengar ada banyak keluarga yang terlibat masalah mengenai harta warisan bahkan ada yang saling bunuh demi mendapatkan harta yang jauh lebih banyak. Itu sebabnya saya harus pastikan agar semuanya tidak ada perselisihan apalagi sesama saudara."


Pengacara Hilmi pun tanpa banyak berbicara lagi, setelah Mimin dan juga Julio tidak keberatan dengan keputusan wasiat dari Lukman pun membacakan semua isi wasiat terutama mengenai harta warisan dan semua surat menyurat penting yang selama ini disimpan oleh Hilmi, karena agar tidak diambil oleh Tizi, wanita yang datang ketika Lukman sudah berjaya.


Mungkin kalau surat-surat tidak dititipkan pada pengacara keluarga bisa jadi harta milik Lukman sudah habis diambil oleh istri mudanya. Terbukti setelah Lukman jatuh sakit dan bisa dibilang bangkrut karena biaya pengobatan yang tidak sedikit. Tizi memilih meninggalkan suaminya. Dengan alasan ketidak cocokan memilih menceraikan suami yang sedang sakit.


SesuaiĀ  yang dititipkan pada Hilmi. Mimin memang mendapat hak waris yang jauh lebih banyak. Dari pada Julio. Sebenarnya Julio mendapatkan warisan yang banyak karena Julio adalah laki-laki dan menurut hukum agama yang dianut mereka. Julio mendapatkan hak waris lebih banyak, tetapi Lukman ingin menebus kesalahannya sekitar lima belas tahun tidak memberikan nafkah pada putrinya, dan setelah berkonsultasi dengan Hilmi. Mimin mendapatkan tambahan materi senilai akumulasi kira-kira nafkah tahunan yang bisa Lukman berikan pada Julio agar tidak ada keirian, dan dikalikan dengan lima belas tahun yang sudah berlalu tanpa Lukman memberikan nafkah sebagaimana kewajiban orang tua pada anaknya.


Semua keputusan bisa diterima dengan baik, baik Julio maupun Mimin. Mereka menerima wasiat dari Lukman dengan lapang dada.


Hubungan Julio dan Mimin pun kembali membaik dan tidak ada masalah lagi. Julio berjanji mulai kali ini akan kembali menjadi abang yang baik untuk adiknya. Begitupun Mimin yang akan menjadi adik yang baik untuk Julio.


Bukan hanya Mimin dan Julio yang bahagia dengan hubungan yang kembali terjalin nyatanya Hadi dan Pengacara Hilmi pun sama bahagia. Karena sebagai orang tua pengacara Hilmi juga pasti sedih ketika ada saudara yang saling bermusuhan.


Julio dan Mimin memang pernah saling benci karena kesalahan pahaman tetapi bagaimanapun mereka tetap lah saudara yang hubungannya tidak akan terputus sampai kapanpun. Terlebih sekarang mereka tidak ada orang tua. Hanya tinggal dua saudara yang saling mengasihi dan menyayangi.

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2