Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Hanya Kuli?


__ADS_3

Aku menangis  tergugu ketika kedua mertuaku menyambut kepulangan kami dengan hangat. Bahkan aku diperlakukan melebihi anaknya sendiri, wajahku dihujami ciuman oleh mamih Misel, sungguh hal yang tidak aku dapatkan di keluargaku. Bahkan asisten rumah tangga juga sangat menyangiku.


Perasanku yang sempat campur aduk karena masalah dalam keluargaku, luluh ketika bertemu dengan keluarga suamiku. Tuhan memang maha adil, di saat aku merasa seperti tersisih dikeluargaku sendiri. Namun keluarga baruku sangat sebaliknya menerimaku dengan tangan terbuka.


"Kamu datangnya telat Sayang, adik ipar kamu baru pulang kemarin, tapi rencananya kita habis lebaran akan kumpul lagi dan juga umroh bersama, kamu juga yah ikut, nanti ke rumah Amora, Ainun dan Masaya. Sekalian biar kamu tahu kalau sebenarnya Mamih punya empat anak, tapi yang tiga perempuan semua ikut suaminya ada yang di Saudi, Turki dan Ainun sebenarnya dekat di Negri sebrang, tapi kalau main ke sini pas ada acara saja. Maklum suaminya sibuk." Mamih mertua ternyata banyak omong juga, padahal sebelum aku menjadi menantunya Mamih sangat diam dan lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan.


"Kalau Lydia gimana Mas Aarav saja Mih. Kalau Mas Aarav ikut Lydia ikut," balasku sembari melirik mas bojo yang sedang bercerita dengan papih mertua. Lagi Mas Aarav juga aku perhatikan sangat dekat dengan papih mertua bahkan sesekali aku melihat tawa renyah dari mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi dari gestur tubuhnya sepertinya sangat seru.


Aku dan mamih mertua pun terus ngobrol ringan terutama bercerita anak-anaknya yang ada di luar Negri. Bisa aku simpulkan dari keluarga baruku, bahwa mereka memang tidak pernah membedakan menantunya satu sama lain, buktinya hampir satu jam kami bercerita panjang bin lebar tidak sekali pun mertuaku membanggakan si A atau pun menjelekan si C dan mengomentari si B. Mamih Misel cerita yang alami saja seperti cucunya anak-anaknya bisa dapat jodoh jauh-jauh, jadi selain kuliah di luar negri juga mereka justru bekerja di luar negri. Sedangkan mas bojo tetap di Indonesia untuk menjaga orang tuanya. Itu sebabnya Mas Aarav dapatnya yang lokal punya.


Mertuaku juga tidak membahas keluargaku yang aku yakin sebenarnya mertuaku tahu apa yang terjadi di antara aku dan adik-adikku. Pasti Bisa Lastri sudah cerita sama mamih mertuaku. Namun mereka bukan orang yang kepo dengan urusan orang lain. Idaman banget deh mertuaku.


"Mih sudah Adzan Magrib. Lydia pamit bersih-bersih dulu yah," ucapku mengakhiri obrolan kami. Saking asiknya ngobrol sampai tidak berasa matahari sudah mulai berganti dengan rembulan.


"Oh, astaga Mamih juga lupa, kamu pergilah ke kamar istirahat sebentar nanti makan malam bersama."

__ADS_1


Aku pun tanpa menunggu lama memasuki kamar mas suami dan membersihkan tubuhku yang lengket dan gerah.


"Dek, sudah masuk Magrib, kita mandi bareng biar cepat," ucap mas suami berhasil menghentikan langkahku. Aku pun menatap dengan tajam, dan keningku mengerut sempurna. Dua kali mas suami berbicara seperti itu, tetapi ujung-ujungnya bukan makin cepat malah makin lama.


"Kali ini serius mandi saja, waktu ibadah magrib cuma sebentar mana bisa curi olahraga, yang ada nanti nggak kebagian ganjara," imbuh mas suami yang pasti tahu arti tatapan tajamku.


"Hanya mandi yah Mas, soalnya sayang masa nggak Sholat," tawarku, untuk memastikan ucapan mas bojo itu benar dan tidak aneh-aneh lagi.


"Iya-iya Sayang, tapi nanti malam bikinin satu puisi cinta yah." Seolah menjadi kebiasaan Mas Aarav justru jadi kebiasaan meminta puisi cinta, padahal untuk merangkai kata aku harus memeras otak dan cari susana yang mendukung.


Meminta agar masalah-masalah dalam keluargaku disegerakan menemukan perdamaian. Syukur-syukur lebaran tahun ini kami bisa membuka lembaran baru tanpa adanya keirian. Kembali seperti jaman kecil, selalu akur, sekali pun marah hanya sesaat setelah itu kembali akur, dan bermain bersama-sama.


"Mas tidak berasa sebentar lagi Ramadhan yah,  nggak pernah kepikiran Ramadhan ini Lydia sudah punya suami dan bisa memperbaiki amal ibadah bersama-sama saling melengkapi dan saling mengingatkan," ucapku sembari duduk di sisi ranjang yang bahkan luasnya hampir dua kali lipat luas ranjang di kamarku.


"Nah itu juga sama Mas nggak pernah berpikir punya istri dalam waktu dekat mengingat dulu Mas itu pernah bilang nggak mau nikah dulu sampai benar-benar urusan dengan mantan selesai, tapi malah kenalan hitungan hari langsung yakin bakal nikah lagi. Rencana Tuhan memang tidak bisa di tebak," ucap Mas Aarav.

__ADS_1


"Oh iya Mas, Lydia boleh tahu sesuatu nggak? Mas Aarav itu kerjanya apa sih? Rasanya aku lihat hidupnya sangat mewah, dari pakaian, kendaraan bahkan untuk belanja tinggal WA dengan Mbak Suli sudah datang tuh barang. Apa Mas itu pemilik supermarket?" tanyaku entah berapa kali aku ingin menanyakan ini tetapi kesempatan itu selalu saja hilang, karena aku merasa bukan momen yang tepat, tapi saat ini di mana suasana hati kami sedang sangat tenang sembari merebahkan diri menunggu ibadah Sholat Isya.


"Kenapa emang, apa kamu nggak percaya kalau uang yang Mas beri sama kamu itu uang halal?" tanyanya balik, sebari setengah bergurau.


"Ya bukan seperti itu sih. Lebih ingin tahu saja. Kan namanya sudah rumah tangga, istri wajib tahu usaha atau pekerjaan sang suami, biar Istri juga selalu mendoakan suami rezeknya berkah dan bertambah," balasku agar tidak ada salah paham.


"Ok... Ok... baiklah  Mas kayaknya harus kasih tahu kerjaan Mas biar istri tercinta tidak mengira kalau Mas memelihara tuyul," kelakarnya.


"Seperti yang kamu katakan Mas memiliki supermarket khusus untuk segala kebutuhan rumah tangga, termasuk buah dan sayuran, dan juga pegang bisnis Amora yaitu toko bangunan khusus yang moderan, hampir kayak supermarket gitu tapi khusus jual perlengkapan bangunan termasuk granit khusus Impor dari turki yang biasa para sultan-sultan itu pakai, tapi kalau bisnis yang itu punya Amora, Mas hanya kuli, kerja sama dia nanti di gaji," balas Mas suami merendah untuk melangit. Nggak apa-apa selagi melangit di depan aku.


Jujur aku kaget ketika mengetahui bisnis yang pasti omsetnya banyak. "Mas nggak cape ngatur dua bisnis gitu?" tanyaku, aku ngatur bisnis GYM yang hanya tiga cabang saja cukup keteter waktunya, apalagi ini yang bisnis besar dan pasti cabangnya banyak.


"Cape, tapi kalau dijalanin dengan ikhlas kan jadi pahala, apalagi buat nafkahin istri yang sholehah insyaAllah berlihat ganda pahalanya," balas Mas bojo membuat wajahku merah merona.


"Ah, kamu bisa ajah Mas, aku jadi malu," kelakarku, kami pun menunggu waktu sholat Isya sebari berkelakar ringan, setelah itu kami akan makan malam bersama dengan mertuaku dan para pekerja di rumah ini.

__ADS_1


#Sembari Nunggu kelanjutan kisah om Duda, yuk intip karya baru Othor judulnya (Rahasia Kebaikan Ibu Mertua) Ini novel event semua isi cerita hanya fiksi nggak ada niat merendahkan mertua di luar sana. 🙏🏻


__ADS_2