
Aku terkekeh ketika melihat wajah mas bojo berubah menjadi merah padam setiap aku mengutarakan perasaanku dengan bait puisi. Ah, rasanya aku sangat ketagihan ketika mas bojo menunjukan wajah merah, malu-malu dan salah tingkah.
"Udah yuk ah, kamu bisa aja bikin aku nggak bisa nafas." ucap Mas Aarav dengan menggandengan tanganku. Kembali aku mengikuti langkah mas suami. Sedikit aku bisa melupakan ketegangan tadi karena pertanyaan-pertanyaan dari yang berwajib.
"Emang kenapa Mas malu?" tanyaku lagi selain penasaran bagaimana perasaan suamiku ketika aku gombalin dengan barisan puisi, aku juga seolah senang melihat suamiku yang salah tingkah dan bahkan sampai wajahnya memerah.
Kembali aku melihat wajah Mas Aarav memerah. Yah, aku bisa simpulkan kalau Mas Aarav memang malu setiap aku gombalin dengan kata-kata manisku. Sejujurnya aku juga bukan orang yang suka dengan gombalan, tapi entah kenapa membuat Mas Aarav melting aku jadi ketagihan.
"Mungkin karena belum biasa saja, jujur kamu yang pertama buat aku seperti itu. Aku yang tidak biasa dibaperin jadi baper beneran." Kami pun terkekeh dan untuk menunggu abis Dzuhur kami memilih duduk bersantai di sebuah lesehan dengan memesan makanan khas daerahku dan juga es kelapa dan es buah untuk menghilangkan pikiran kami yang rumit, panas bahkan seperti ada lahar di atas ubun-ubunku.
"Apa cita-cita terbesar kamu setelah menikah?" tanya Mas bojo di saat kami bersantai menatap hamparan sawah yang luas.
Aku menatap Mas Aarav dengan tatapan yang penuh arti. Yah, mungkin memang pembahasan orang sudah menikah seperti ini. Apalagi aku dan mas bojo bisa dibilang nikah modal nekad, tapi Alhamdulilah kami bisa saling melengkapi meskipun baru pertama-tama memang seperti itu. Tentu harapanya bukan pertama saja, tetapi memang untuk kedepanya akan lebih kompak dan baik lagi.
"Aku wanita, banyak yang bilang setinggi-tingginya pendidikan wanita maka karir tertingginya di rumah menjaga suami dan anak-anak. Guru pertama untuk buah hati, dan juga menjadi tempat ternyaman untuk mereka berbagi kisah. Kalau ditanya cita-cita terbesar wanita pasti punya anak dan hidup bahagia bersama pasanganya. Meskipun ada saja orang yang menginginkan Childfree, tetapi bagi Lydia cita-cita terbesar menginginkan anak, dan bisa merawatnya dengan baik, dengan penuh tanggung jawab, dan mengenalkan agama kita, dan mungkin karena Lydia itu tipe orang yang tidak begitu suka keramaian, jadi cita-cita terbesarnya ingin menjadikan rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk suami dan anak-anak nanti," jawabku dengan yakin dan percaya diri, dan lagi itulah yang aku rasakan selama ini. Itu cita-citaku. Meskipun aku sebenarnya tetap ingin berkarir, tetapi yang dari rumah saja, agar tetap bisa memantau keluargaku.
Mas Aarav nampak menganggukan kepalanya berkali-kali. "Aku suka dengan jawaban kamu, jujur aku sepemikiran dengan kamu, alias aku lebih suka wanita yang terkokus dengan keluarga. Maaf bukan bermaksud untuk membandingkan, tetapi belajar dari kegagalan rumah tangga aku sebelumnya semua berawal dari kami yang sibuk dengan karir masing-masing. Mungkin karena sifat manusia yang tidak pernah puas, sehingga pencapaian kami tidak membuat kami untuk saling mengyukurinya, tetapi justru di jadikan patokan untuk mendapatkan yang lebih lagi. Hingga waktu kami banyak tersisa dengan kegiatan yang untuk kamu sulit ketemu sulit untuk berkomuikasi dan banyak kesulitan lainya, hingga akhirnya datanglah orang yang mungkin bisa mejadi penyembuh luka-luka yang kami perbuat. Dari situlah hubungan tidak sehat kita berasal. Bukan Mas sedang menyesali perpisahan aku dan mantan, tetapi Mas sedang mencoba memperbaki agar hubungan kita nanti tidak seperti yang sudah-sudah, dan bisa cari solusi bersama apabila ada masalah," ucap Mas Aarav, sedangkan aku mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Mas bojo.
Aku terkekeh samar ketika melihat wajah Mas Aarav yang memerah dan seolah seperti merasa bersalah karena mungkin menganggap kalau aku itu sedang marah, ketika mas bojo bahas mantan.
"Enggak apa-apa loh Mas, bahas mantan asal jangan banding-bandingin terus terusan. Kalau sekilas bahas mantan aku rasa masih normal, lagian jujur Lydia malah bisa koreksi jadi istri agar lebih baik dari mantan Mas. Memperbaiki apa yang Mas tidak suka dari mantan, agar hubungan kita langgeng. meskipun tidak semuanya sama yah dalam arti setia orang pasti pembawaanya tidak akan sama. Selain berbeda sifat, dan kebiasaan. Aku juga berharap kalau Mas ada melihat atau menemukan sifat buruk aku yang Mas nggak suka bilang saja, jangan di simpan, kalau kelamaan di simpan jadi gas kebencian yang siap meledak kapan saja. Utarakan saja. InsyaAllah, Lydia akan perbaiki. Jadi selama Mas kenal ada nggak sifat atau kebiasaan Lydia yang Mas tidak suka?" tanyaku ketika aku melihat ada senyum di wajah kang mas bojo. "Jawab jujur yah, no pemanis buatan, no ngada-ngada pokoknya jujur jangan bikin baper, suka, bilang suka dan alasanya. Lalu kalau tidak suka bilang tidak suka dan tentunya beserta alasanya tidak sukanya kenapa, kalau alasanya masih bisa di terima Lydia nggak marah, tapi kalau alasanya terlihat ngarang Lydia akan protes dan kembali ke peraturan awal yaitu harus suka!" Aku yang sebenarnya memang suka bercanda pun ketika sudah cukup akrab dengan kang mas bojo rasanya garing banget kalau tidak ada candaan.
__ADS_1
Benar saja Mas Aarav tertawa dengan renyah ketika mendengar ucapanku yang terakhir padahal dari awal wajahnya sudah tegang bin serius, tapi pas dengan poin terakhir dia langsung tertawa. Sampai orang yang duduk di sebelah kami menengok ke arah kami, dan aku pun jadi malu ketika tau kalau mas suami itu kalau tertawa kenceng banget.
"Mas, kecilin, sebelah lihat kita. Dikira Mas kesurupan kali," bisikku niatnya serius aku meminta Mas Aarav mengecilkan tawanya, tetapi mungkin karena aku yang terlalu lucu, mas bojo malah ketawa lagi.
"Ya Alloh Dek, kamu itu lucu banget sih, aku sampe lupa pertanyaan kamu itu apa tadi?"
Sontak kali ini aku yang tertawa dengan kelakuan mas bojo.
"Udah ah nggak usah di jawab udah ketahuan jawabanya?" ucapku masih ada sisa senyum di wajahku. Aku tidak nyangka kalau kami bisa ngobrol serius tiba-tiba nggak tahu obrolan tadi itu apa, itu semua karena obrolan itu sebenarnya hanya basa- basi aslinya sedang mencoba menggali sifat masing-masing.
"Kamu emang kaya gini yah lucu, dan romantis serta bikin anak orang baper terus?" tanya Mas Aarav kali ini dengan tatapan yang serius.
"Mungkin bisa di jawab dengan kata 'IYA' dan kalau soal bikin anak orang baper tergantung yah, suasana kita dan suasana hati serta lawanya, kalau yang tidak aku inginkan jangankan bikin baper, untuk sekedar basa-basi juga rasanya sangat sulit, dan lebih baik di dalam rumah untuk mencari kesibukan sendiri, dan kalau romantis juga rasanya Lydia justru bingung yang romantis itu yang gimana, dan kalau yang Lydia lakukan itu lebih cenderung biasa saja dan tidak ada unsur romantis," jawabku dengan jujur.
"Mas pertanyaan kamu itu memancing aku untuk mengatakan, cinta, sayang, bahagia, dan luar biasa hatinya senang," jawabku dengan menatap Mas Aarav tanpa kedip, dan benar saja laki-laki yang ada di hadapanku ke bali salting, wajah merah serta tatapan mata yang malu-malu dan bibir bawah yang digigit membuat aku semakin suka untuk menggodanya.
"Mas..." ucapku dengan suara yang merdu mendayu-dayu.
"Tar dulu Dek, Mas belum siap."
Aku lihat Mas Aarav menggeserkan duduknya beberapa kali, dan duduk dengan tegap dan serius. Serta ada senyum tipis dan manis diwajahnya.
__ADS_1
"Kita sholat yuk udah masuk waktu Dzuhur!" ucapku menghacurkan suasana yang sudah Mas Aarav bangun karena laki-laki itu sudah pasti mengira kalau aku akan membuatkan bait puisi cinta untuk kang mas bojo.
"Yah, jadi ngajak sholat?" tanya Mas Aarav dengan bahu turun ke bawah menunjukan dia yang hilang gairah.
"Iyah, emang Mas kira apa?" tanya aku dengan serius, meskipun dalam hatiku ingin segera tertawa dengan renyah.
"Mas pikir mau dikasih hadiah puisi cinta lagi," jawabnya dengan tersenyum masam.
"Puisinya lain kali ada nih puisi untuk tikus berdaasi mau? Kalau yang cinta belum merangkai, masih tercerai berai bait katanya," jawabku ekstrim kan puisinya no kaleng-kaleng langsung pemimpin negara disentil.
"Jangan deh, yang tikus-tikus itu mah suka anti kritik, Mas nunggu ajah sampai kamu rangkai yang cinta-cintaan. Rasanya nggak sabar pingin dengar lagi."
Aku terkekeh renyah. "Mas jadi ketagihan di gobalin sih," goda aku.
"Hehe abisan dadanya langsung loncat-loncat, dan... ah berasa aku paling beruntung."
Kami pun setelah pembahasan yang entah berujung ke mana, dan juga entah nyantol atau tidak obrolan kita tadi, tapi hatiku jauh lebih baik. Aku bahkan sudah tertawa renyah dan sudah siap kembali lagi melawan badai-badai krikil yang mungkin akan membuat perjalanan hidupku sedikit terjan dan terluka. Namun, berkat ada Mas Aarav aku bebar-benar merasa tidak sendiri. Aku merasa ada teman untuk saling bahu membahu bangkit dan beranjak dari masalah ini.
"Terima kasih Mas Bojo telah membuat aku sebahagia ini."
...****************...
__ADS_1