Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Menjadi Lebih Baik


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, tadi Siska ngomong apa aja? Maaf tadi datangnya telat nggak tahu kalau Siska juga datang, jadi. keasikan ngobrol," ucap Mas Aarav ketika kami sudah berada di dalam mobil.


"Sama dengan yang Mbak Siska katakan sama Mas," jawabku dengan santai. Justru aku merasa senang karena mas suami datangnya sedikit telat, sehingga aku bisa melihat wajah Mbak Siska yang kesal karena aku cuekin.


"Terus kamu jawab apa?" Kayaknya mas suami khawatir banget kalau aku salah sebut.


"Tidak Lydia jawab, itu sebabnya Mbak Siska ngomong lagi sama Mas Aarav, dan sama Mas baru ditanggapi."


Aku lihat mas suami terkekeh samar mendengar ucapanku. "Aku salut sama kamu, bisa-bisanya kamu tidak tanggapi, sedangkan mulut dia saja nggak sopan banget, kayak nggak di sekolahin. Mas heran kenapa Siska sekarang makin ke sini makin aneh-aneh saja. Padahal dia dulu tidak seperti itu perasaan, atau memang mas yang tidak tahu saja."


"Mungkin jawabanya yang akhir, yaitu Mas belum tahu semuanya. Kata orang semakin kita sering bersama, maka sifat aslinya akan makin ketahuan. Dan mungkin itu memang sifat asli Mbak Siska, atau malah memang semua berubah karena Mbak Siska kecewa dengan perceraian kalian, dan Mbak Siska berusaha membalas sakit hatinya. Lydia juga nggak nyangka kenapa sesama wanita bisa berbicara yang sangat menyakitkan. Malah tadi ngatain Iko hasil hubungan Zina. Padahal sudah jelas Iko lahir dari seorang wanita bersetatus istri yang suaminya sudah meninggal, tapi malah dikatakan hasil zina, dan menuduh yang tidak-tidak. Jujur tadi kalau nggak takut nimbulin kegaduhan ingin Lydia ladenin, tetapi Lydia tahu kalau niat Mbak Siska memang mencari keributan jadi Lydia diamin saja. Percuma di lawan juga tidak akan menang menasihati orang yang sudah benci pada kita, juga tidak akan mempan."


Mas Aarav menatapku dengan dalam. "Ajarin Mas buat sabar sih. Jujur kalau itu tadi terjadi sama Mas sudah pasti ada keributan, untuk kamu yang dengar ucapan Siska. Jadi aman dan berharap dia bisa berubah."


"Jujur Lydia juga tadi seneng banget dengar ucapan Mas. Entah masa lalu dan dulu mas seperti apa tapi untuk Lydia saat ini Mas itu sudah jauh sekali berbeda. Mas sudah bisa mengajak untuk berubah lebih baik sedikit-sedikit. Dan Lydia sih berharap Mbak Siska juga tergerak pintu hatinya. Yang mana kalau Lydia lihat, Mbak Siska itu hanya cari perhatian saja. Mungkin dia kurang teman sehingga cari-cari teman untuk berbicara. Kalau dilihat dari cara berbicara juga Mbak Siska tipe orang yang tidak mau kalah."


Kami pun sepanjang jalan pulang dari pesta, terus membahas Mbak Siska, yang mana biasanya kalau membahas mantan maka aku akan marah dan kesal, tetapi kali ini biasa saja. Apa mungkin karena tingkat sabarku yang sudah di upgrade. Atau justru aku yang tahu sifat Mbak Siska, dan seolah justru membuat dia semakin menjatuhkan dirinya sendiri. Aku merasa tenang dan juga senang karena setidaknya untuk hadir ke acara pesta yang sesungguhnya aku sangat ada kesempatan untuk ribut, tetapi aku bisa menahanya. Dan kalau saat ini saja aku bisa menahan emosiku, tandanya kalau Mbak Siska datang lagi itu juga aku harus lebih sabar lagi.


Seperti menerima keberuntungan yang tidak ada henti tepat sampai rumah yang masih cukup sore. Kami pulang pukul sembilan dan hanya selisih tiga puluh menit kini kami sudah ada di rumah dengan disambut Iko yang ternyata ada di lantai dua sedang bermain dengan Mbok Jum dan Bi Lilis. Padahal aku sudah berpikir kalau jagoan sudah istirahat.


"Loh, Iko belum Bobo Bi?" tanyaku tetapi tidak apa, kalau sekarang belum ngantuk itu tandanya nanti malam akan membiarkan bunda dan papahnya untuk istirahat.


"Belum Mbak, kayaknya memang sengaja nungguin Bunda dan Papahnya." Mbok Jum  yang mengambil kesempatan untuk menjawab.


"Kalau gitu Lydia nitip sebentar yah Bi, Lydia mau ganti pakaian dulu," ucapku dengan berjalan cukup tergesa agar tidak memakan waktu yang lama, mengingat aku sudah kangen banget dengan anak kami. Begitupun mas suami tidak lama menyusulku untuk berganti pakaian baru menjaga putra kami yang anteng bersama-sama.  Iko hanya nangis kalau lapar dan ada yang terasa sakit, seperti tergigit semut dan lapar sehingga bayi tampan itu akan menangis dengan nyaring. Selebihnya dia cukup pendiam.


"Bi, Mbok, biar Iko sama saya, Bibi dan Mbok istirahat saja dulu pasti cape seharian kerja dan malam hari menjaga Iko," ucapku yang mana besok adalah tarawih pertama, pasti akan sangat sibuk di hari esok karena waktu banyak digunakan untuk membersihkan rumah, agar lebih nyaman.


"Iko belum Bobo Bun?" tanya mas suami yang sudah segar juga.

__ADS_1


"Belum kayaknya ingin nunggu Papah dan Bundanya," jawabku sembari  mengayun jagoanku yang makin hari makin tampan.


"Biar Iko sama Papah saja, kalau Bunda masak mau nggak. Aku lapar banget niatnya tadi mau makan di undangan tapi belum sempat makan mood sudah hilang duluan. Jadi sekarang kelaparan," ucap mas suami sembari menunjukan wajah lemahnya.


"Sama Lydia juga tadi baru makan puding beberapa suap sudah datang Mbak Siska, jadi nggak sempat makan yang lain. Emang Mas mau dimasakin apa?" tanyaku, biar untuk menu mas suami yang menentukan.


Cukup lama Mas suami mikir kira-kira menu makan apa yang dia mau. "Terserah kamu ajah deh Sayang, yang penting makan."


"Makan berat apa sama seperti kebiasaan sarapan?" tanyaku lagi, berhubung mas suami itu orang yang sangat perhitungan dengan kalori yang masuk ke tubuhnya.


"Tinggi protein dan Serat saja Yang, maklum sudah ada Iko bawaannya males banget kalau mau olahraga, jadi nanti malah numpuk lemak." Nah kan Iko jadi tamengnya. Aku pun hanya tersenyum tipis, dan memberikan Iko pada mas suami.


"Sayur dan pilihan protein terserah Lydia yah, jadi nanti nggak boleh protes. Atau mau masakan Sirataki Mie?" tanyaku lagi mengingat akhir-akhir ini sedang suka makan mie.


"Siratakie besok lagi deh sekarang yang lain dulu."


Ok, aku pun tidak membuang waktu lama menyiapkan bahan-bahan sayur brokoli, paprika, daging dan telur sebagai tambahan protein. Tidak harus menunggu waktu lama karena memang yang aku masak adalah menu yang simpel setengah jam sudah selesai, apalagi daging yang aku gunakan sudah empuk sehingga tinggal tumis-tumis saja sudah jadi. Dan tambahan telur ceplok.




"Mas sini makanan udah jadi," ucapku mengingat mas suami masih betah mendongeng untuk jagoan kami. Yah, dia sejak adanya Jagoan jadi pandai mendongeng sebentar lagi juga pasti bisa bikin puisi jadi kalau aku membuat puisi Mas Aarav akan membalasnya.


Aku lihat mas suami nyengir kuda, seperti memberi kode kalau dia sedang repot dengan jagoannya. Aku pun yang tahu kode dari tatapan dan senyum mengandung arti hanya mencebikan bibir dan mau tidak mau aku harus terbiasa.


"Kalau gitu duduk di sini biar Lydia gampang menyuapinya!" Aku menunjuk kursi di mana aku sudah menyiapkan makan di meja makan, malas dan banyak semut juga kalau makanannya berantakan.


Tanpa menunggu lama mas suami pun mengembangkan senyumnya. Dan seperti hari kemarin aku menyuapi mas suami dan sesekali aku juga mengingat aku juga lapar. Makan sepiring berdua itu memang nggak ada obatnya. Enak pake banget, rasanya  laparnya nambah.

__ADS_1


"Mas besok udah mulai tarawih, dan Mas juga puasa kan?" tanyaku mengingat aku nggak tahu kebiasaan mas suami sebelum kenal dengan aku.


"InsyaAllah nanti belajar," jawabnya dengan santai, aku pun mengerutkan kening.


"Belajar? Berati selama ini Mas nggak pernah puasa?" tanyaku heran, perasaan bisa dibilang mamih dan papih mertua orang yang taat agama, masa sih anaknya tidak dibiasakan berpuasa.


"Puasa, tapi jujur kadang-kadang kalau cape dan lapar ya makan, dan kalau sholat tarawih hampir tidak pernah, bisa dihitung dalam satu bulan, malah pernah tidak sholat tarawih sama sekali selama satu bulan," jawab mas suami dengan setengah berbisik. Aku pun mencoba mengerti mungkin pergaulan yang membuat mas suami belum tergerak hatinya. Namun, aku bertekad kalau ingin mengajarkan yang baik untuk mas bojo, meskipun aku sendiri belum menjadi hamba yang sempurna dalam mengamalkan perintah Allah dan menjalankan semua perintahnya. Namun, setidaknya ada perubahan dari mas suami dari sebelum kenal dengan aku, belajar sedikit-sedikit yang penting jangan tidak sama sekali.


"Tidak apa-apa yang sudah-sudah, tapi untuk sekarang biasakan jadi yang jauh lebih baik lagi yah." Aku melihat mas suami mengangguk dengan senyum teduhnya.


"Lydia minta Mas lebih taat dengan agama, agar keturunan kita juga taat dengan agama kita. Karena  harta yang paling mahal adalah anak-anak sholeh dan soleha. Sehingga Lydia berharap Mas Aarav mau melakukan ini bukan karena dipaksa Lydia, tapi karena kesadaran sendiri."


Lagi, Mas Aarav mengembangkan senyum dan mengangguk cukup kuat.


"Kita hidup ibarat berlayar. Dihadang gelombang dan batu karang, dihempas ombak, dan juga sesekali badai melanda. Lalu pulang, dan kembali untuk meraih tepi pantai. Tanpa adanya pegangan keyakinan pada Allah bisa saja kita menyerah di tengah jalan, tetapi orang yang memiliki keyakinan pada Allah pasti akan terus optimis bahwa Allah, bahwa Sang Pemilik Semesta akan menolong kita, hingga kita bisa kembali bersandar dengan aman."


"Terima kasih sudah selalu mengingatkan Mas, InsyaAllah Mas akan belajar jadi lebih baik lagi. Justru Mas sangat bersyukur karena sejak kenal kamu pribadi Mas jauh lebih baik, tidak seperti dulu yang keras dan juga kurang peduli sama sesama. Bahkan Mamih rasanya sudah memberi tahu kamu bagaimana tabiat Mas sebelum kenal kamu."


Yah, aku pun kembali teringat ketika pertama kali datang untuk melamar sebagai pembantu entah berapa kali Mamih Misel mengatakan kebiasaan suami dan sifatnya yang keras dan sulit untuk menerima orang baru. Namun sekarang malah kami bisa sedekat ini. Tuhan memang Sang pembolak balik hati.


Bersambung...


Duduk santai sembari memakan apel


Ke kebun binatang melihat tapir


Lydia bawa rekomendasi nopel


Jangan lupa, yuk reader's mampir!

__ADS_1



__ADS_2