
David? Aku jadi teringat dengan cerita Mimin. Mungkinkah David yang jadi suami Mimin yang dikatakan meninggal itu adalah David yang sama dengan anak Tuan Wijaya, orang kaya yang tajir melintir?"
Batinku menjerit-jerit. Aduh otak ini harus berpikir lagi. Menghubungkan apa apakah tamu yang akan datang ke rumah kami, adalah orang yang ada hubungannya dengan anak yang aku asuh.
Rumah baru kami pun tampak sangat ramai dengan hadirnya Baby Iko. Bahkan asisten rumah tangga saling berebut ingin melihat bayi tampan yang aku bawa itu. Tidak kalah saudara-saudara mas suami juga saling melakukan panggilan telepon saking ingin melihat bayi Iko.
Keseruan masih terus berlanjut sampai datang dua buah mobil mewah. Yang aku yakin kalau mereka adalah Tuan Wijaya yang kaya raya itu. Sungguh aku sangat penasaran lebih kaya siapa dengan mertuaku.
Sungguh aku sangat beruntung karena aku bertemu dengan keluarga Mas Aarav yang tidak pernah memandang jodoh dari status kekayaanya.
"Assalamualaikum... ini ada apa kok ramai sekali," sapa Papih Sony yang aku yakin mertuaku sudah tahu kalau dalam rumah ini sudah hadir penghuni baru.
"Dek, Mas temui Tuan Wijaya dulu, yah. Ada David juga tuh," ucap Mas Aarav yang menujuk ke ruang keluarga di mana ada tiga laki-laki entah yang mana yang bernama David dan juga yang mana yang bernama Tuan Wijaya.
Aku membalas dengan anggukan.
"Pih, sini kita punya cucu laki-laki," ucap Mamih Misel dengan melambai tangannya pada sang suami, aku sendiri hanya diam tetapi mata ini seolah terus mencari tahu tamu yang berna David dengan Tuan Wijaya. Rasa penasaranku terus menggunung ketika hati ini meyakini bahwa David adalah ayah biologis dari Baby Iko.
"Aarav, kamu dapat mainan kayak gini dari man?"tanya Papih Sony dengan berbinar bahagia sedangkan ada aku di samping mamih mertua. Tetapi justru Papih Sony bertanya pada Mas Aarav yang sedang mengobrol hangat dengan tamu-tamu bisnisnya. Seolah laki-laki itu ingin pamer pada tamunya, kalau beliau memiliki Cucu laki-laki.
"Dapat, dari teman Lydia Pih." Mamih Misel menjelaskan dan juga aku memberikan surat perjanjian yang aku buat bersama Mimin. Sama halnya seperti Mamih Misel, Papih Sony juga justru memilih bermain dengan cucu barunya.
"Pih, malah main sama Iko, itu Tuan Wijaya dianggurin," bisik Mamih Misel dengan menujuk ke ruang tamu menggunakan dagunya.
"Biarin udah ada Aarav, lagian mereka hanya mau nawarin kebon kelapa sawitnya," jawab papih mertua dengan santai, dan menimang Baby Iko yang seolah tahu kalau yang menimangnya adalah sang Kakek.
"Loh kok di jual, emang kenapa?" tanya Mamih Misel masih main bisik-bisik tetangga. Untung aku masih jadi tetangganya sehingga aku bisa dengar juga apa yang mertuaku bicarakan.
__ADS_1
"Denger-denger, David mau nikah. Mungkin untuk modal pesta. Atau mungkin kebunnya sudah kebanyakan sehingga di jual sedikit saja," balas Papih Sony dengan tidak memalingkan pandangan matanya dari bayi tampanku.
"Terus Papih mau beli?"
"Semua terserah Aarav saja, kalau dia sanggup ngaturnya ya beli ajah, tapi kalau kesulitan mah nggak usah. Ngurus kebun sawit juga nggak sembarangan. Apalagi kita belum pernah terjun langsung," balas Papih Sony yang terlihat orangnya tidak mudah tergiur untuk besar, semuanya harus dipertimbangkan sesuatu kemampuan.
Cukup lama kami mengobrol dengan bisik-bisik. Eh bukan kami lebih tepatnya mertuaku, aku hanya sebagai penguping yang handal. Seolah tidak ingin tahu tapi kenyataan jiwa kekepoanku menjadi nomor satu.
Hingga Papih kembali bergabung dengan tamu-tamunya. Dan aku pun kembali berdua dengan mertuaku apalagi baby Iko juga sepertinya kecapean setelah menyambut keluarga baru.
"Sayang sini. Tuan Wijaya ingin kenal sama kamu." Mas Aarav memanggilku, jujur aku sangat senang karena aku ingin tahu mana-mana yang namanya Wijaya dan anaknya yang bernama David. Aku pun bangkit setelah Mamih Misel menganggukan kepalanya.
"Iko ajak Sayang, biar David pengin juga dapat bayi cowok dan cepat nikah juga," kelakar Mas Aarav yang aku balas dengan senyum masam.
Aku yang bahkan sudah berjalan beberapa langkah kembali lagi untuk mengambil Baby Iko yang sudah tertidur.
"Tiko Mas," balasku, sengaja aku ingin melihat reaksi laki-laki yang di sebut namanya David oleh Mas Aarav, aku tahu David memang laki-laki yang tampan, putih bersih.
Laki-laki yang bernama David itu pun langsung mengangkat wajahnya seolah penasaran ketika mendengar nama Tiko. Aku semakin yakin kalau David memang orang yang sama dengan David suami Mimin, eh mantan suami.
"Kenapa kalian nggak undang kami, kirain masih sama Siska," balas laki-laki yang berpenampilan rapih dan sepertinya umurnya tidak jauh berbeda dengan Papih Sony.
"Siska, udah pisah hampir satu tahu Wi," balas Papih Sony meluruskan tebakan Tuan Wijaya.
"Wah, ketinggalan jauh dong beritanya," balas laki-laki itu lagi. Aku tetap memberikan senyum terbaik meskipun hati ini malas untuk membahas mantan istri dari suamiku.
"Ya wajar kan kamu sibuk." Obrolan pun terus berlanjut aku hanya menyimak dengan pandangan sesekali mencuri pada laki-laki bernama David. Bukan naksir hanya saja ingin tahu bagaimana orangnya.
__ADS_1
Kalau aku lihat dari sekilas dan obrolan yang sesekali keluar dari bibirnya sepertinya laki-laki yang baik, tetapi kalau memang David ini adalah orang yang sama dengan suami Mimin, sesuai tegakan ku, kenapa tega sekali, menelantarkan Mimin?
Yah, aku katakan kejam, karena sepengetahuan aku Mimin untuk urusan hidupnya banting tulang sendiri, bahkan sampai untuk berobat saja harus menggadaikan ponselnya. Kembali hati ini nyeri ketika mengingat perjuangan Mimin untuk tetap bisa bertahan hidup.
"Kalau gitu nanti kalian datang yah di acara pernikahan David, undangannya nyusul," ucap Tuan Wijaya yang aku tahu laki-laki paruh baya itu lebih menjadi juru bicara. Karena putranya sendiri lebih banyak diam dan berbicara kalau ada yang penting.
Pertemuan yang singkat antara aku dan Tuan Wijaya, tetapi laki-laki itu dan David juga entah berapa kali memuji Tiko yang nggak rewel, Tiko yang ganteng, dan masih banyak lagi pujian dari bibir dua laki-laki itu. Aku sih nanggepinnya tetap santai. Selagi rahasia aku dan Mimin tidak bocah sekalipun David adalah ayah biologis anak asuhku.. Aku yakin akan tetap bisa menjaga amanah dari Mimin.
"Mas Lydia ke kamar dulu yah, kasihan Tiko udah cape banget dari tadi di gendong terus," ucapku sebelum tamu benar-benar pergi.
Setelah mendengar jawaban dari mas suami aku pun naik ke kamar dan juga Mamih Misel yang langsung ikut ke kamarku sembari nunggu tamu-tamu benar-benar pada pulang.
"Mih, ngomong-ngomong David itu saudara atau justru hanya kenalan saja, kelihatannya cukup akrab dengan Mas Aarav," ucapku penasaran pake banget.
"Tuan Wijaya teman bisnis Papih, dan David teman kuliah Masaya, dan teman main Aarav. Kenapa emang?" tanya Mamih Misel yang sejak tadi tidur dengan memeluk Iko.
"Tidak hanya penasaran aja, kayaknya dekat banget sama Mas Aarav," ucapku tetap bersikap sebiasa mungkin, sedangkan dalam batin ini perasaanku semakin tidak menentu.
Seolah dunia yang begitu luas, tetapi dalam takdirku, justru seolah saling berhubungan. Ada rasa sesakit, kecewa dan marah ketika tahu kalau keluarga suamiku cukup dekat dengan laki-laki yang aku yakini menelantarkan temanku.
Apalagi ketika tahu kalau David akan menikah, bagaimana kalau tebakanku benar dia memang laki-laki yang jadi suami Mimin, dan Mimin tahu kalau suaminya menikah lagi. Pasti sakit banget jadi Mimin, mungkin juga sakitnya kembali kambuh itu karena pikirannya yang pasti terus dipaksa memikirkan masalah dalam hidupnya. Apalagi berhubungan dengan perasaan. Lebih nyesek dari pada luka luar.
Aku dan Mamih Misel pun masih saling bercerita ringan sembari menunggu bayi tampanku yang sedang tertidur.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1