
Aku melangkah dengan rasa yang cukup berat, tetapi genggaman tangan mas suami berhasil membuat aku semakin percaya diri. Di depan pintu berwarna coklat aku berhenti sesaat, dan mas suami pun mengikuti langkahku yang tiba-tiba berhenti.
"Kenapa?" tanya mas suami setengah mendayu merdu.
"Tunggu Lydia ambil nafas dulu," jawabku dengan setengah gugup.
Aku lihat mas bojo setengah terkekeh. "Emang dari tadi nggak nafas?" godanya, membuat aku tambah gerogi.
"Nafas, tapi ini nafasnya beda lebih untuk buang kegugupan," balas aku lagi, mungkin dengan banyak ngobrol aku jadi lebih santai.
"Kamu jangan gerogi, kamu cantik, bahkan aku rasa setelah perkenalan kita nanti banyak yang iri sama kamu. Karena aku dapat istri jauh dari sebelumnya."
Aku tahu mas bojo ingin menghiburku, ingin meningkatkan rasa percaya diri aku. Aku bersyukur atas apa yang dia lakukan setidaknya aku tidak terlalu gugup lagi. Meskipun aku tahu yang diucapkan mas bojo hanya ingin membuat aku percaya diri.
Cup... Aku terkejut ketika mas suami menciumku. Kedua mataku langsung awas menatap sekeliling.
"Tidak ada yang lihat kok, aku sudah lihat, hanya ada kita berdua dan Tuhan di hati kita," ucapnya seolah tahu kalau aku takut ada yang lihat aksinya mencuri cium.
"Eh tapi ada ding yang lihat." Mas Aarav menunjuk kamera CCTV di atas kita. "Kelupaan ada CCTV, tapi nggak apa-apa paling diketawain sama anak buah," balasnya sembari terkekeh. Jujur rasa gugupku jadi hilang bercampur malu.
"Sayang kamu lagi dapat, coba kalau tidak nanti kita mampir pulangnya ke hotel. Biar nggak bosan mainya di rumah terus. Cari suasan baru kali aja suasananya dapat kayak waktu kita malam pertama. Kamu adalah kedua bagiku, tapi serasa kamu yang pertama. Karena aku yang pertama membuat jalan pembuka sensansinya nggak ada lawan," ucap mas suami makin ngelantur.
"Mas, ini kita jadi masuk nggak. Malah bahas yang tidak-tidak nanti ada yang denger loh." Aku mencubit pelan mas suami agar tidak bicara ngelantur lagi. Apalagi ini adalah tempat umum. Ada yang lewat, bahaya bocor rahasia rajang kita.
"Eh, iya-iya ayo kita masuk," ucapnya sembari menggandeng tangaku yang masih dingin.
Deg!!! Jantungku kembali berdetak semakin kencang ternyata orang yang hadir diacara ini cukup banyak. Dan, Oh ya Tuhan ini bukan acara perkenalan aku sebagai menantu saja ternyata ini adalah acara ulang tahun mas suami. Ya Tuhan aku sangat bodoh kenapa aku tidak tahu kapan hari ulang tahun mas suami. Lagu selamat ulang tahu langsung menggema ketika aku dan mas suami masuk ke dalam ruangan meeting yang luas itu.
"Mas, kamu ulang tahun?" tanyaku sembari setengah berbisik di balik daun telinga mas suami.
Mas Aarav tersenyum dengan lembut, dan pandangan mata tetap tertuju pada depan serta tangan kami yang saling bertaut.
"Mas, aku nggak tahu kalau kamu ulang tahun. Bahkan aku tidak membawa kado," bisikku lagi. Ketika banyak orang-orang membawa kado. Bahkan kedua mertuaku mebawa kado. Dalam pikiranku semakin gugup dan juga takut. Pasti akan ada momen memberikan kado, dan aku tidak memberikan kado apa pun. Ya Tuhan aku tak henti-hentinya merutuki nasibku ketika bisa-bisanya aku tidak menyadari hari ulang tahun suamiku. Padahal beberapa kali aku melihat surat nikah dan data diri mas suami tapi kenapa mata ini seolah tertutup untuk melihat berapa tanggal lahir mas suami.
"Tidak perlu, kadonya nanti aku yang beri," balasannya dengan santai. Makin ngaco kan acara ulang tahun mas suami malam aku yang dapat kado, orang kaya memang aneh.
"Selamat ualng tahun Sayang, semoga panjang umur, murah rezeki, dan cepat dapat momongan, dan yang paling penting apa yang kamu cita-citakan di umur kamu yang ke tiga puluh empat ini kamu bisa mewujudkanya." Mamih Misel adalah orang yang pertama mengucapkan ulang tahun pada mas suami. Aku hanya menundukan kepala.
Rasa penasaran tidak kunjung berhenti. Banyak 'kenapa' yang aku sesali. Bahkan semalam aku tidak bisa tidur mungkin itu juga pertanda alam yang seharusnya aku memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk mas suami, tetapi lagi-lagi aku tidak peka dengan lingkungan sekitar. Mungkin karena terlalu lama sendiri sehingga aku tidak begitu tahu bagaimana cara memberikan kejutan manis termasuk kejutan dihari ulang tahun.
Setelah Mamih Misel, Papih Sony pun tidak kalah mengucapkan selamat dan juga doa-doa untuk mas suami. Aku masih menunduk, tetapi telinga ku menangkap semua doa kedua mertuaku dan meng-Aminkan di dalam batinku.
__ADS_1
Setelah ucapan selamat dari kedua mertuaku acara selanjutnya Papih Sony selaku juru bicara pun mengenalkan aku sebagai menatu baru dalam keluarga mereka. Aku pun menatap semua rekan-rekan yang ada dihadapan kami.
Setelah papih mertua memberikan sambutan. Kini Mas Aarav pun berdiri ke depan menggantikan Papih Sony. Aku pun masih duduk bersebelahan dengan Mamih Misel yang tampil dengan cantik. Ingin aku menegor Mamih mertuaku, tetapi jarak duduk kami cukup jauh sehingga aku hanya menyapa lewat senyum terbaikku.
"Aku di sini tidak akan banyak memberikan sambutan kata. Karena hampir semua apa yang akan aku katakan sudah dikatakan oleh Papih Sony. Terima kasih Pih sudah mewakilkan, sehingg Aarav tidak harus banyak berbicara. Maklum sudah kecapean semalam, dapat kado spesial dari istri jadi sekarang hanya ingin duduk manis," ucap mas boko, yang aku tahu dia hanya ingin aku tidak terlihat buruk di mata yang lain. Masa suami ulang tahun tidak tahu.
Aku pun semakin menunduk ketika mas bojo bercanda yang sedikit nganu. Padahal kan semalam tidak dapat kado spesial apa-apa. Bahkan aku saja lagi palang merah. Namun, aku akui memang ekting mas suami keren. Mungkin setelah ini aku akan berikan kado spesial sungguhan untuk mas suami.
Tawa teman-teman yang hadir dalam ruang meeting pun saling bersahutan.
"Yah, tujuan aku berdiri di sini selain mengucapkan terima kasih dan Alhamdulillah atas semua doa baiknya, sehingga di tahun yang ke tiga puluh empat saya masih berdiri dengan sehat di kadapan kalian. Selain itu saya juga mau mengenalkan istri spesial yang Tuhan kasih di ulang tahun ke tiga puluh empat ini. Sungguh jodoh yang nggak terduga. Kalau ada yang tanya hadiah terindah di ulang tahun ke tiga puluh empat apa? Yah, hadiahnya adalah istri, yang istri yang sholehah semua yang aku minta selama ini terjawab dari sosok istri yang sekarang. Tidak usah pake lama, dan pake bertele-tele karena pasti banyak yang penasaran sama istri saya yang paling cantik. Ya udah saya panggil saja. Sayang sini! Temanin suami kamu menyapa tim suksesnya. Kenalkan ini adalah istri saya namanya Lydia, dia adalah gadis desa yang nyasar ke kota dan malam terpincut sama Om Duda. Terima kasih sudah jadi kado terindah," ucap Mas Aarav yang langsung membuat aku haru.
Mungkin Mas Aarav tidak tahu kalau aku adalah orang yang sangat cengeng. Apalagi diperlakukan spesial seperti ini rasanya air mata ini sudah menggenang di pelupuk mata. Ingin segera bermain air terjun.
Sesuai yang mas suami minta aku menghampiri mas suami dan memberikan senyum terbaik untuk menyapa tim sukses mas Aarav. Setelah acara perkenalan aku, satu persatu acara pun kami lewati hingga tidak terasa pukul satu acara baru selesai. Tidak terasa hampir tiga jam kita gunakan untuk seru-seruan. Hingga aku merasa dekat dengan semua karyawan mas suami. Mereka menyapaku dengan ramah.
"Lyd, Mamih dan Papih pulang dulu yah. Kalian kalau mau ambil waktu bulang madu bilang sama Papih biar dia atuh untuk orang pengganti suami kamu kerja," ucap mamih mertua, tetapi segera aku tepis.
"Mungkin kalau bulan madu setelah lebaran saja Mih, Pih, untuk sekarang sepertinya nggak bisa. Lydia dan Mas Aarav kan juga harus ngurus pindahan jadi mungkin sampai awal puasa akan fokus dengan pindah rumah, dan kalau Ramadhan ingin beribadah dengan Khusu di rumah," balasku dengan berhati-hati agar jawabanku tidak menyakit ucapan mamih ataupun papih mertua.
"Oh iya, Mamih lupa kalau kalian harus pindah rumah. Mamih juga nggak nyangka mantannya Aarav kayak gitu. Padahal dulu baik banget giliran udah nggak ada jodoh dengan anak mamih kenapa semua ingin jadi milik dia. Padahal Aarav juga udah kasih di bagian sendiri, tapi mungkin semua kurang jadi ngejar-ngejar yang bukan miliknya. Biarin kalian yang sabar yah. InsyaAllah rezeki kalian makin berlimpah," ucap Mamih Misel, ternyata kesal juga dengan aksi Mbak Siska.
"Amin, Mamih dan Papih hati-hati di jalan," balasku dengan kembali menemani mas suami yang masih ngobrol dengan beberapa teman kerjanya. Tidak ikut nimbrung sih hanya saja menemani agar terlihat makin kompak.
"Mas, kenapa nggak ngomong kalau Mas hari ini ulang tahun. Masa Mamih, Papih dan yang lain kasih kado Lydia hanya diam saja. Merasa paling nggak ngehargai Mas tau nggak," ucapku pertama kali masuk ruangan mas suami. Unek-unek ini sudah aku tahan sejak tadi, dan baru bisa aku sampaikan ketika sudah sampai di dalam ruangan mas suami.
"Emang sengaja. Kalau kamu tahu pasti kamu akan ribet-ribet siapkan kejutan ini dan itu. Kalau kaya gini kan kelihatan lebih natural, dan beda dari yang lain. Bukan yang ulang tahun yang dapat kejutan tapi justru pasanganya yang dapat kejutan," balas Mas suami dengan terkekeh renyah.
Aku pun langsung mencebikan bibir, bener kata mas suami aku yang dapat kejutan kalau ini.
"Emang kamu mau kasih Mas kado apa? Kan sudah tahu Mas sekarang ulang tahu, kadonya apa emang?" tanya Mas suami sembari mengedipkan matanya genit pake banget.
"Enggak tau, Lydia dari tadi mikir juga nggak nemu. Apalagi Mas sudah punya semua pasti," ucapku lagi. Benar-benar kasih hadiah untuk sultan itu sangat sulit.
"Ya udah hadianya ini ajah gimana?" Mas suami menunjukan satu kotak yang dihias menarik. Aku pun kaget karena Mas suami bisa punya kotak cantik untuk aku, mana bentuknya cukup besar kenapa aku nggak tahu. Ah aku memang sangat payah lagi-lagi aku tidak tahu apa yang mas siapkan untuk kejutan aku.
Aku pun menerima kota bagus itu. "Apa ini? Kenapa malah Lydia yang dapat kado?" tanyaku dengan bingung, kan yang ulang tahun mas suami yang dapat kado malah aku.
"Itu memang kado untuk kamu, dan tugas kamu memakainya. Untuk menyenangkan aku," ucap Mas bojo semakin membuat aku semakin penasaran.
"Apa boleh Lydia buka sekarang?" tanyaku untuk menghargai pemberian Mas Aarav.
__ADS_1
"Boleh, tapi hanya lihat, pakainya nantu di rumah," ucap mas suami membuat aku tambah-tambah penasaran. Karena aku yang sangat penasaran pun mencoba mengintip kado apa yang mas Aarav berikan untuk aku dan mas Aarav bilang itu juga kado untuk dirinya.
"Astaga Mas ini apa?" tanyaku kaget bin terkejoot ketika melihat isi kado tersebut.
Hayo kira-kira kado apa yang Om Duda kasih?Mana bungkusnya cantik banget dan gede apa mungkin isinya bola kasti?
#Untuk Readers tercinta#
Saya bukan yang pandai bersastra
Saya bukan pula pemain kata yang pintar bercerita
Saya hanya manusia biasa
Yang terbangun dari cita-cita, yang mencoba menghibur saja
Saya pun tak luput dari dosa
Sebelum Ramadhan tiba
Izinkan saya meminta maaf, apabila dari kata-kata yang tidak disengaja menciptakan dosa
Selamat menyambut bulan puasa
Semoga kita semua banjir pahala
Tangan menengadah panjatkan doa
Semoga para pembaca selalu dalam lindungan_Nya
Marhaban Yaa Ramadhan
Atas izin-Nya semoga bulan Ramadan
Menghapus segala kerinduan
Dan meningkatkan keimanan
...****************...
__ADS_1