
Untuk pertama kalinya Hadi bersentuhan yang cukup intim dengan Mimin. Jantungnya seolah memompa lebih kencang. Ketika kepalanya ia rebahkan di atas pangkuan Mimin. Jangan ditanya bagaimana perasaan Mimin, sudah jelas jantungnya sama dengan Hadi, seperti genderang mau perang. Sama-sama deg-degan.
Mimin memijit kepala Hadi dengan pelan. Sementara Hadi pun memejamkan matanya, laki-laki itu sedang berjuang untuk bersikap biasa saja. Ini bukan pernikahan pertama bagi Hadi, tapi cukup membuat Hadi kembali merasakan gerogi dan canggung untuk memulai bermesraan. Seharusnya mengingat ini adalah pernikahan bukan yang pertama kalinya tentu ia harusnya bisa lebih mengontrol perasaanya, dan juga memulai untuk hal yang romantis, tapi tidak Hadi justru bingung harus memulai dari mana, bahkan untuk sekedar basa basi Hadi pun kaku.
Udara dalam mobil pun terasa seperti semakin dingin. Karena mereka hanya diam tanpa saling bercerita, seperti saat belum menikah.
"Maaf yah Mas, gara-gara masalah aku kamu malah jadi sakit lagi. Apa kamu mau ke rumah sakit lagi? Aku takut kamu nanti malah jatuh sakit seperti kemarin. Terlalu meremehkan keadaan kamu," tanya Mimin, tangannya dengan lembut masih memijat kepala suami barunya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, lagian ini sakit kepala biasa, nanti istirahat juga sudah baikan," balas Hadi, dengan membuka matanya. Ingin membuka niqab sang istri, agar ia bisa melihat wajah cantik istrinya, tapi di dalam mobil ada sopir yang bukan mahram dari Mimin. Sehingga mau tidak mau laki-laki itu menahan keinginanya.
"Tadi Iko pulang ke rumah Lydia atau ikut Mamah lagi?" tanya Hadi yang bingung mereka akan membahas apa. Pernikahannya dulu justru tidak setegang ini. Namun, aneh di pernikahan ke duanya justru Hadi tegang dan bingung, mau bermesraan juga ada rasa deg-degan takut kalau Mimin tidak menyukainya.
"Ikut Lydia, kata Lydia takut kalau malam pengin pulang makanya belum diizinkan ikut Mamah, takut malah merepotkan malam-malam pengin pulang ke rumah Lydia. Maklum Iko dari bayi sudah terbiasa tidur dengan Aarav dan Lydia."
"Mungkin Lydia pengin kasih waktu buat kita, takutnya kalau Iko nginep dengan kita, malah nggak bisa bikin adik untuk Iko," balas Hadi sembari berbisik agar sopir tidak mendengar ucapan mereka.
Mendengar jawaban Hadi, Mimin pun cukup terkejut. "Mas, jangan ngomong kaya gitu, ada sopir," bisik Mimin dengan tangan membekap mulut Hadi. Ya, meskipun ia berbicara pelan tapi tetap saja takut kalau sopir dengar apa yang Hadi katakan. Malu itu yang Mimin rasakan.
Sedangkan Hadi justru terkekeh ketika melihat kalau Mimin panik dengan tingkahnya.
"Mas aku masuk dulu yah, Mas mau ikut turun nggak?" tanya Mimin ketika sudah sampai di rumah Dokter Sera.
"Tidak usah, lagian kamu nggak akan nginap di rumah Dokter Sera kan? Salam aja buat Dokter Sera dan Orlin." Hadi memilih menunggu di dalam mobil, apalagi hari sudah semakin larut, kalau kelamaan mampir-mampir nanti malah nggak kebagian lembur, di rumah.
__ADS_1
"Ya udah, Mimin cuma bentaran kok."
Ibu satu anak itu pun langsung turun dan masuk ke rumah yang selama ini menjadi tempatnya bernaung. Ia akan mengambil pakaian untuk ganti sekaligus pamitan, terutama sama Orlin, yang mana pasti gadis itu sedih karena tidurnya sendirian lagi.
"Assalamu'alaikum..." sapa Mimin ketika masuk ke rumah dokter Sera.
"Yeh Mbak Mimin pulang." Orlin yang melihat Mimin masuk rumah pun langsung berjingkrak gembira. Karena ia mengira kalau Mimin akan kembali tidur di rumah orangtuanya.
"Loh, kamu tidur di sini Min? Hadi gimana?" tanya Dokter Sera ketika Mimin justru pulang ke rumah mereka.
"Saya pulang ambil pakaian Dok, di rumah Mas Hadi nggak ada pakaian, mau beli sudah malam," balas Mimin sembari duduk bergabung ngobrol dulu sebentar untuk menghormati tuan rumah.
"Yah, jadi Mbak nggak tidur sini lagi dong. Masa tega sih Orlin tidur sendirian," balas Orlin dengan menunjukkan rasa sedihnya. Mana dia penakut minta ampun.
"Kamu tenang saja, nanti kapan-kapan Mbak akan nginap di sini lagi kok," balas Mimin, nggak tega juga, apalagi selama ini Orlin sudah sangat dekat dengan dirinya. Bahkan sudah seperti adik kandung sendiri.
"Tapi nginapnya ajak Iko yah." Gadis itu sangat senang kalau Iko nginap karena ada yang diajak main dan di godain terus.
"Iya, kalau tidak nanti kamu nginap di rumah Mbak, biar sekali-kali main, jangan di rumah terus. Boleh kan Dok?" Mimin sih yakin Dokter Sera selama Orlin dengan Mimin pasti boleh nginap.
"Iya boleh."
"Yeh, benar yah Mah. Nanti Orlin bakal nginap di rumah Mbak Mimin deh." Orlin nampak sangat bahagia karena Dokter Sera mengizinkan ia nginap di rumah Mimin.
__ADS_1
Setelah berbasa basi kini Mimin dan juga dibantu Orlin pun menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke rumah Hadi, tidak harus banyak, dan lama. Tidak sampai setengah jam Mimin sudah keluar dengan tas ransel yang berisi beberapa pakaian Mimin. Setelah pamitan dengan keluarga Dokter Sera, Mimin dan Hadi pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah suaminya.
Ini adalah kali pertama Mimin pulang ke rumah Hadi, selama ini dia tidak peranh tahu di mana tepatnya rumah calon suaminya. Pukul sepuluh malam Mimin dan Hadi sudah sampai di rumah yang tidak kalah mewah dari rumah Aarav. Mimin dan suaminya pun di sambut hangat oleh Mamah Arum dan Papah Ahmad.
Mereka tampak sangat bahagia ketika Hadi sudah punya istri lagi. Yah, mereka pun kalau mau meninggalkan Hadi di kota ini tidak khawatir lagi. Karena Kini Hadi sudah ada yang menjaga.
"Selamat datang, Sayang." Arum merentangkan tanganya ketika Mimin dan Hadi masuk ke rumah mereka nantinya.
"Maaf Mah ganggu istirahat yah." Mimin memeluk mertuanya yang baik dan ramah.
"Tidak, memang kita belum tidur kok, sengaja nunggun kalian. Belum makan kan?" tanya Arum, yang benar-benar sangat ramah. Bahkan Mimin rasanya terharu dengan sikap ramah dan baik dari orang tua Hadi. Sebelumnya ia tidak pernah sedekat ini dengan keluarga suaminya yang pertama.
Namun di pernikahan kedua dia justru sangat berbanding terbalik dengan pernikahan pertamanya. Mertua mereka baik dan ramah. Padahal keluarga Hadi kaya raya, tapi tidak membedakan menantinya. Tidak hanya pada Mimin, pada Iko pun baik.
"Ayo kita masuk dan makan dulu, pasti kalian belum makan. Tadi Mamah sudah masak pas kalian bilang mau pulang."
Siapa yang tidak terharu dengan perlakuan romantis seperti ini. Mungkin bagi orang lain ini biasa, tapi bagi Mimin yang tidak pernah diperlakukan romantis seperti ini dia justru kembali terharu. Bahagia yang dia rasakan karena bukan hanya suaminya yang baik tapi juga mertuanya.
"Benar kata Aarav dulu rezeki yang tidak semua orang dapat di pernikahan adalah mertua yang baik dan pengertian. Aku beruntung karena dinikahi oleh laki-laki yang sayang denganku sekaligus keluarganya yang juga menyayangi aku dan anakku."
Bersambung....
...****************...
__ADS_1