Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Usaha David


__ADS_3

"Assalamualaikum..." sapa Lydia dan yang lainnya ketika pertama kali masuk ke rumah baru mereka. Pandangan Lydia yang pertama masuk ke rumah mewah itu langsung terperangah ketika melihat dekorasi rumah yang akan mereka tempati. Ia akui selera keluarga suaminya memang keren-keren, bahkan untuk rumah sementara saja senyaman ini.


"Bagaimana Sayang apa kamu suka rumahnya?" Aarav yang sedang menggendong Iko pun langsung menghampiri sang istri yang tampak kagum dengan dekor rumah mereka.


"Suka, rumahnya sangat nyaman."


"Uka..."


Lydia dan Iko serempak memberikan jawaban dengan wajah yang terlihat bahagia. Bahkan Iko langsung menggerakkan kakinya yang tengah digendong oleh Aarav ingin segera turun.


"Kamu pilih mau tidur di kamar mana Sayang." Kali ini dari belakang kedua mertuanya masuk, dengan membawa koper masing-masing.


"Kamu pilihnya yang di lantai bawah Rav, apalagi istri kamu lagi hamil, jangan terlalu naik turun tangga. Rumah kamu juga kayaknya mesti direnovasi agar di lantai bawah di tambahkan kamar untuk kalian, anak-anak kalian nanti kembar belum Iko juga masih kecil terlalu bahaya kalau naik turun tangga." Kali ini Sony memperingati anaknya.


"Iya Pih, nanti bakal direnovasi lagi, kalau tidak tangganya dibikin ada perosotan untuk anak-anak gitu biar mereka bisa sekalian main, dan di beri matras biar aman untuk mainan anak-anak, kalau harus renovasi kayaknya akan sulit karena lahan minim dan semua ruangan sudah berfungsi sebagaimana mestinya."


Aarav harus mulai mengatur dari sekarang apalagi untuk merenovasi agar aman untuk sang istri dan anak-anaknya nanti butuh waktu yang cukup lama.


"Yah, kalau itu terserah kamu saja yang penting aman untuk Lydia dan anak-anak kamu nantinya.


"Kalau gitu kalian istirahatlah ini sudah malam. Iko mau bobo sama Bunda dan Papa atau sama Oma dan Opa?" tanya Misel dengan berjongkok di depan anak yang sedang berdiri sembari pandangan matanya menonton acara kartun kesukaanya.


"Opa..." Iko menunjuk Opanya yang sedang membujuk dengan tatapan mata agar cucunya mau tidur dengannya.


"Yeh." Sony sangat senang karena akhirnya Iko memilih tidur bersama dengannya.


"Loh kok, malah tidur dengan Opa, nanti nangis nggak?" Aarav memastikan lagi apakah Iko benar-benar ingin tidur dengan kakek dan neneknya atau hanya ikut-ikut karena bujukan opanya.


Iko menggeleng dengan kuat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Rav, kan sudah biasa ini tidur sama Mami dan Papi, kalau nanti nangis ya kasihin lagi kekalian. Yuk sekarang Iko bersih-bersih sikat gigi dan ganti baju mau bobo." Misel mengajak cucunya yang mana Iko langsung menggandeng tangan omanya.


"Dadah dulu dengan Papah dan Bunda, Sayang." Lydia berjongkok di depan Iko.


"Abang jangan nakal bobo sama Oma dan Opa yah, nanti kalau mau pipis bangunkan Opa atau Oma, jangan ngompol yah Sayang." Lydia mengusap rambut putranya.


Iko mengangguk sebagai tanda kalau anak kecil itu sudah paham dengan apa yang di bicarakan bundanya. "Dadah Bunda... Dadah Papah..."


Lydia dan Aarav langsung membalas lambaian tangan Iko, anak belum genap usia dua tahun itu memang sudah biasa tidur dengan opa dan omanya, bahkan tidur dengan mamahnya juga sudah beberapa kali, dan terbukti tidak nangis sehingga Lydia dan Aarav bisa tenang mempercayakan Iko dijaga opeh  mami dan papinya.


"Ayok kita juga istirahat Sayang." Aarav menggandeng tangan istrinya dengan romantis melebihi saat ia pertama kali menuntunnya ke dalam kamar paska sah menjadi suami istri.


****


Di tempat lain.


David sangat tahu berbicara dengan papahnya tidak bisa dengan memohon dan memelas. Entah lah saat ini ia benar benar dilanda dengan ketakutan kalau anaknya akan benar-benar diambil oleh papahnya. Andai Iko tetap ditangan Aarav dan istrinya, David yakin ia bisa beretemu dengan anaknya meskipun hal itu tidak akan sama dengan dia yang tinggal bersama dengan anaknya, tetapi setidaknya kesempatan itu akan ada, tetapi apabila dengan papahnya, David sendiri tidak yakin karena polah asuh Wijaya pasti akan sama dengan dirinya dulu sangat dikekang baik pendidikan maupun lingkungan bermain. David akan sangat sulit apabila David tidak mengikuti dengan apa yang papahnya mau bisa-bisa akan dibatasi untuk pertemuannya.


"Apa ini yang membuat Mimin memberikan anak kami pada Aarav, dan istrinya. Yah, ini pasti alasan utama Mimin meberikan Iko pada mereka. Mimin ingin Iko aman dari aku dan papah.


Kembali rasa cemas menguasai David, meskipun ini sudah larut malam, bahkan sebagian besar penghuni hotel prodeo itu sudah terlelap dalam alam mimpinya, tetapi justru David masih terjaga dan semakin tidak tenang.


"Pak..." David memanggil petugas sipir yang dengan telaten mengajari ia untuk beribadah sholat dan mengenalkan banyak kewajiban dan tugas dan larangan seorang muslim padanya.


"Anda belum tidur...?"


"Belum, ada yang mengganggu pikiran saya, apa saya bisa minta bantuan pada Pak polisi...?" tanya David akhirnya memberanikan bercerita dengan orang yang ia anggap bisa membantunya.


"Panggil Yanto. Nama saya Yanto."

__ADS_1


"Kalau gitu panggil saja David, saya lihat Anda jauh lebih berumur dari saya Pak Yanto."


"Senang kenal dengan anak muda seperti kamu, David." Meskipun terhalang dengan pembatas besi, tetapi mereka tetap terlihat sangat akrab dan saling berjabat tangan.


"Saya juga sangat senang dipertemukan dengan Pak Yanto." David membalas jabatan tangan laki-laki berseragam coklat dengan peci berwarna putih di atas kepalanya. Dari penampilanya laki-laki itu sudah terlihat sangat religius begitupun dengan sikap dan tutur katanya, tidak pernah memandang manusia dengan perlakuanya ia selalu akrab dengan para napi dan apa yang keluar dari bibirnya cukup memberikan motifasi dan. semangat untuk mereka yang tengah menjalani hukuman.


"Ngomong-ngomong apa yang membuat pikiran kamu terganggu sehingga ingin bercerita dengan saya."


"Saya ingin meminta bantuan Anda apa bisa?" tanya David dengan ragu.


"Kalau saya bisa, kenapa tidak. Ceritakan saja apa yang mengganggu pikiran kamu."


"Jadi gini tadi papah saya datang dan dari ucapan papah seperti ingin mengambil anak saya, saya ingin memberitahu pada yang menjaga anak saya agar waspada dengan papah saya. Saya tidak ingin anak saya diambil paksa oleh papah." David menceritakan semua kecemasanya, dan tentunya satu alasan yang cukup masuk akal kenapa laki-laki tampan itu tidak ingin anaknya diambil oleh sang papah.


"Caranya saya bantu bagaimana, kalau kamu saja tidak hafal nomor orang yang mengasuh anak kamu itu."


"Surat, saya akan menulis surat, dan saya minta bantuan pada Anda antarkan ke kantor orang yang menjaga anak saya, saya yakin dia akan membaca surat saya. Dan dia bisa waspada dengan papah saya." David memberikan tatapan yang mengiba.


"Baiklah, kebetulan besok saya juga jaga malam, jadi saya bisa membantu kamu di pagi atau siang hari, untuk mengantarkan surat itu."


"Anda serius Pak Yanto." David nampak sangat bahagia dengan ucapan laki-laki yang bernama Yanto itu.


"Iya, kamu tulis saja surat itu, dan nanti berikan pada saya. Tunggu saya akan ambilkan kertas dan penanya."


Tanpa menunggu lama laki-laki itu meninggalkan David dengan kebahagianya.


"Ya Tuhan, kenapa Engkau baik sekali dengan hamba, padahal hamba adalah orang jahat." David justru kembali diselimuti kesedihan karena baru juga ia berdoa, tetapi Allah permudah rencananya untuk melindungi Iko.


"Andai Engkau beri kepercayaan lagi pada hamba, rasanya ingin sekali hamba memeluk Iko ya Allah. Tapi apakah hamba pantas ya Alloh?"

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2