Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kado Untuk Jagoan


__ADS_3

Tatapan Mas Aarav yang penuh tanya seolah tengah menguliti tubuhku, tetapi aku tegarkan hati agar tidak terlihat gerogi, aku tidak ingin ada kecurigaan dari pertanyaanku, yang justru membawaku dalam situasi yang sulit. Aku sudah berjanji di hadapan sahabatku agar aku merahasiakan seluk beluk Tiko, aku tidak ingin karena ketakutan sesaat justru aku mengingkari janjiku. Aku yakin kalau aku bisa menepati janjiku, janji adalah hutang. Aku tidak ingin berhutang sehingga aku akan tepati janji itu.


"David? Ada apa dengan David kenapa kamu sepertinya sangat penasaran dengan laki-laki itu?" tanya Mas Aarav dengan suara yang terdengar dingin dan juga penasaran.


"Lydia hanya penasaran saja apa Mas Aarav dekat dengan dia? Karena kata Mamih tadi David sudah menikah? Tapi kenapa tadi dia ke sini secara tidak langsung mengundang kita untuk menghadiri pernikahanya, apa dia poligami? Atau dia sudah cerai dengan istri pertamanya?" tanyaku tanpa membawa Tiko, real yang aku tanyakan adalah seluk beluk keluarganya, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan keluarga David, tanpa ingin tahu yang lainya, pikiranku terganggu hanya karena Mimin saja bukan yang lain.


"Oh cerita Mamih..." Cukup lama Mas Aarav tidak melanjutkan obrolanya, justru menatap jagoan kita yang seolah dia sedang mengajak ngobrol juga, atau justru bayi Iko tahu kalau yang sedang kita bahas adalah ayah biologisnya, sehingga seolah dia juga ingin berkisah mengenai penderitaannya selama ini.


"Tuh udah dijawab oleh jagoan," kelakar Mas Aarav yang membuat aku pun menarik bibir tipis meskipun rasa penasaranku masih sama. Yah, aku hanya butuh jawaban yang semakin meyakinkan kalau memang David teman mas suami adalah David yang sama dengan suami Mimin. Lalu kalau sudah tahu untuk apa? Dan apakah aku akan membuat Mimin bersatu dengan David sedangkan aku tahu sahabatku itu menderita karena laki-laki itu? Tidak aku hanya ingin tahu agar aku semakin berhati-hati supaya laki-laki itu tidak menyadari kalau Iko adalah buah hatinya. yang mana aku yakin seratus persen adai keluarganya tahu kalau putra yang aku asuh adalah cucunya pasti akan diambil mereka.


Yah, seolah mereka tidak mau dengan ibunya tapi kalau disodorkan cucu seperti Iko aku yakin mereka tidak akan menolak, tanpa tahu bahwa dibalik tawa kecil Iko ada tangisan dari sang ibu yang dihempaskan seperti sampah.


"Mas... Lydia serius, penasaran banget nih. Jujur Lydia takut kalau Mas Aarav main terus sama David itu nanti aura negativ laki-laki itu nular sama Mas Aarav, karena biasanya kalau dalam satu pertemanan ada yang poligami atau madu atau apalah itu teman lainya bukanya mengingatkan malah seolah mendapatkan dukungan dan justru mencontoh perbuatanya. Jujur Lydia sudah ketakutan duluan kalau Mas akan seperti itu. Karena mungkin Lydia sama dengan wanita di luaran sana yang paling takut jikalau suami akan memiliki istri lain," balasku justru membahas wanita, yah semoga saja dengan aku berbicara seperti itu Mas Aarav tidak bermain, atau kumpul, atau terlibat urusan yang terlalu sering terlibat dengan David, karena aku takut laki-laki itu memiliki ikatan batin yang kuat dengan Iko, tadi saja aku merasa kalau David seperti menatap Tiko berkali-kali seolah ikatan batin antara seorang ayah dan putranya terkonek dengan lancar.


Kembali Mas Aarav terkekeh mendengar ucapanku, terserah bagi dia lucu atau gimana tetapi memang itu yang aku rasakan aku takut juga kalau suamiku terkena aura negatif keluarga itu.


"Kalau untuk masalah David yang sesungguhnya sebenarnya Mas nggak begitu tahu, selain laki-laki itu cukup tertutup, juga keluarga David yang cukup kaya dan berkuasa mana mau urusan rumah tangganya, urusan pribadi bocor ke hal layak, tapi kalau yang Mas dengar dari Papih sih gitu. David punya istri, tapi karena istrinya nggak ada power atau keluarga miskin jadi nggak direstui, seperti yang Mas katakan tadi David kabur dan nikah lari dengan cewek itu, tapi katanya sih udah cerai nggak tahu cerai ceweknya yang minta cerai atau justru karena keluarganya karena baik David maupun Tuan Wijaya nggak mau urusan pribadinya ada yang tahu, ini juga tahu karena Papih cukup dekat dengan Tuan Wijaya," jawab Mas Aarav jujur aku belum menemukan jawaban yang pasti. Masih ambigu, tetapi hati kecilku sudah meyakini seratus persen kalau David adalah ayah bilogis Iko.


"Emang Tuan Wijaya kaya banget yah Mas?" tanyaku, membayangkan kekayaan orang itu, bahkan bagi aku keluarga mas suami aja udah kaya dan ini lebih kaya lagi, mungkin yang punya jalan tol kali.


"Keluarganya punya kebun kelapa sakit terluas, serta ada pabrik minyak sayur juga, dan ibunya punya usaha kampus, sekolah swasta atau apa gitu pokoknya cukup lah buat  anak cucunya tujuh turunan nggak abis, tapi malah anaknya cuma satu doang, jadi ya dihambur-hambur aja uangnya dia terkenal dermawan kok. Bahkan anak angkatnya banyak dengar-dengar gitu, tapi nggak tahu kenyataan aslinya. Hanya mereka yang tahu wong cukup tertutup orangnya."


Fix, udah nggak usah ditanya lagi tebakanku benar, aku bisa berhti-hati agar aku bisa melindungi Iko seperti amanah Mimin.


"Ngomong-ngomong Mas udah mandi belum?" tanyaku mencoba mengalihkan obrolan Tuan Wijaya atau David, jujur aku marah dan jadi benci dengan keluarga itu padahal aku belum tahu cerita dalam fersi aslinya seperti apa,.tetapi seolah yang diperlakukan buruk adalah aku sehingga aku langsung berpikir buruk terhadap keluarga kaya itu.


Mas Aarav kembali menatap aku. "Emang kecium belum mandi?" jawabnya, yang sudah mewakilkan jawaban kalau mas suami belum mandi.


"Dih pantesan bau, kirain tadi Baby Iko yang PUP, tapi ini sih kayaknya Papah yang belum mandi. Udah mandi sana dulu, biar wangi nanti Iko juga jadi bau lagi," balasku, sesuai dengan keinginanku kalau mas suami juga tidak membahas keluarga kaya raya itu lagi.

__ADS_1


"Nanti deh Bun lagi main sama Jagoan lagian tadi jagoan bisikin Papah katanya Papah wangi kok," bela Mas Aarav, dengan terus menimang jagoan.


"Ok baiklah, tapi kali ini saja yah, besok-besok jangan diulang lagi, kasihan Baby Iko kebauan," ucapku dengan santai.


"Baik Bunda yang cantik."


"Kalau gitu Lydia niti Iko yah, mau mandi dulu," balasku sebari tertawa tanpa dosa.


"Loh Bunda juga belum mandi?" tanya Mas Aarav dengan terkekeh.


"Udah sih, cuma mandinya tadi pagi, kalau mandi sore belum habisan tadi mau mandi malah keenakan rebahan sama jagoan jadi lupa deh. Abis mandi nggak mandi sama aja tetap cantik," jawabku dengan percaya diri.


"Hahaha... Lihat Iko, Bunda kamu kenapa jadi genit banget," adu mas suami yang semakin terlihat bahagia bahkan saking bahagianya untuk mandi dan meninggalkan putra kami rasanya enggan.


Bisa dibayangkan kan bagai mana kalau nanti Iko sudah bilang "Papah ikut." Mungkin mau mandi saja bilang dari subuh terlaksana nanti di magrib.


"Mas..." Aku kembali membuka pintu kamar mandi padahal sebelumnya tubuh ini sudah masuk ke dalam kamar mandi, tetapi rasanya aku memiliki ide untuk kado suamiku, eh maksudnya jagoanku.


Mas suami mengangkat ke dua alisnya seolah ia sudah hafal kalau aku akan memberikan sebuah puisi cinta. Gombalan versi ku.


\#**Kado Untuk Jagoan**\#


Mentari hilang di ufuk barat


Terpancar jelas aroma khas senja


Sementara camar menari di atas sana


Nampak keindahan pada sore di ujung kota

__ADS_1


Sinar bulan mekar memancarkan cahaya


Menerangi jelas pada lorong yang gelap gulita


Sementara bintang berkedip di sekitarnya


Nampak keindahan dipandangan mata


Aku duduk di sudut ruangan mengagumi rupamu


Menikmati keindahan itu


Untuk jagoanku


I love  you


Aku berikan simbol cinta, dengan membuat finger love.


"Protes-protes kok malah jagoan, puisi itu wajib untuk Papahnya jagoan, jagoan jangan di gombalin pake puisi. Aku nggak mau tahu aku iri yah," ucap Mas Aarav, sedangkan aku pun langsung menutup puntu kamar mandi dan terkekeh. Puas rasanya sudah mengerjai mas suami.


Yah, aku sudah tahu sebelumnya mas suami sudah tersenyum tertahan bahagia karena ia kira aku membuatkan puisi untuk kang mas bojo, tetapi salah sekarang aku memiliki ide untuk membuat barisan puisi dari jagoanku, papahnya sudah tergeser. Pesaing sesungguhnya datang.


"Bun, Papah nggak mau tahu harus dibikinkan puisi juga, kalau tidak bakal marah loh..." Aku kembali terkekeh ketika mas Aarav masih menginginkan dibuatkan puisi.


Ah rasanya dunia ini indah sekali. sekarang bisa mengerjai kang mas bojo.


#Ayok siapa yang punya ide puisi untuk papahnya Iko, biar nggak ngambek. Tulis di komen otak othor puasa jadi lemot. nggak bisa bikin kata-kata romantis lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2