
Hadi yang sangat kangen dengan calon anaknya pun mengangkat angkat Iko dan perutnya dicium gemas oleh Hadi hingga Iko menggeliat geliat karena kegelian. Iko pun tertawa dengan renyah karena perutnya dicium oleh Hadi. Tidak bertemu selama satu minggu membuat mereka saling melepaskan rasa kangenya.
"Aduh ... Aduh ..." Hadi meringis ketika di bagian perut tepatnya pusarnya seperti ada yang menarik dengan keras hingga ia merasakan sakit, dengan cekatan Hadi menurunkan Iko. Laki-laki itu terus meremas perutnya yang terasa nyeri. Matanya memejam menikmati rasaa yang sangat luar biasa di bagian perut bawahnya.
"Kenapa Mas?" tanya Mimin dan Lydia hampir bersamaan. Cemas, pasti itu yang mereka rasakan. Apalgi melihat reaksi Hadi yang sangat kesakitan.
"Kenapa Di?" Aarav pun tidak ketinggalan langsung menghampiri sahabatnya yang dari wajahnya Aarav bisa melihat kalau Hadi memang benaran sakit sungguhan. Dia tidak sedang bercanda.
"Entahlah, mungkin faktor U (umur) kali yah, kaya ada yang ketarik di perut gitu," jawab Hadi dengan setengah berkelakar, meskipun dibagian perutnya masih sakit, tentu agar yang lain tidak cemas, ia lalu duduk dengan kaki lurus ke depan dan tubuh bersandar ke dinding. Mungkin dengan bersandar perut yang sakit bisa sembuh.
"Minum dulu Mas." Mimin mengulurkan satu gelas air hangat mungkin dengan minum segelas air hangat akan membaik perutnya. Hadi pun mengambil gelas yang Mimin berikan dan menenggak dengan perlahan hingga air di gelas tandas. Laki-laki itu mengatur nafasnya agar lebih rileks.
"Terima kasih." Hadi memberikan gelas yang kosong pada calon istrinya.
"Ah loe mah bikin orang deg-degan aja. Makannya olahraga biar nggak keropos tuh tulang, masa belum juga tua sudah banyak pernyakit, gimana nanti kalau punya anak," balas Aarav dengan menepuk pundak Hadi.
"Iya ini kayaknya efek gue yang sekarang malas banget olahraga, apalagi belakangan kerjaan banyak mana sempat olahraga, jadi gini deh faktor umur sangat berpengaruh."
"Apa ini ada hubunganya dengan yang tadi kita obrolkan?" tanya Mimin dengan memberikan tatapan cemas pada Hadi.
"Kayaknya bukan deh Min, yang aku rasain itu kaya ada urat yang ketarik gitu." Hadi pun langsung duduk dengan tegap dan menepuk pahanya agar Iko duduk lagi di atas pangkuanya. Anak laki-laki itu terlihat seperti ketakutan setelah melihat Hadi kesakitan.
"Sini Sayang, Om nggak apa-apa kok, ini udah sembuh." Hadi menunjukan senyum agar Iko tidak ketakutan lagi.
"Om sakit?" tanya Iko dengan tetap memeluk Lydia seperti ketakutan.
__ADS_1
"Om nggak sakit Sayang, Om hanya sudah tua jadi kaya gitu. Makanya bilangin sama Abang. Om olahraga biar nggak sakit," ledek Aarav dengan nada yang mengejek Hadi.
Mendengar ejekan dari temannya Hadi pun memberikan tatapan tajam pada Aarav.
"Sialan loe umur gue sama umur loe nggak beda jauh yah, jadi jangan bilang gue tua, hanya mateng saja," balas Hadi dengan kembali menepuk pundak Aarav.
"Yeh sama aja kali itu adalah akibat orang malas gerak. Aarav terus meledek Hadi, sedangkan Hadi sebenarnya perutnya masih tidak nyaman sehingga ia dari tadi hanya menyimak obrolan Mimin dan juga Lydia. Mereka sedang bercerita pengalaman di kampung halaman Lydia. Ya meskipun sesekali Hadi ikut tertawa dan merespon obrolan mereka. Agar yang lain tidak tahu kalau sebenarnya perutnya memang masih sedikit tidak nyaman.
"Di, makan dulu biar jangan sakit." Aarav dan asisten rumah tangga pun menyiapkan makan malam bersama.
"Emang Hadi sakit apa?" tanya Papi Sony, diikuti anggukan oleh Mami Misel. Mereka baru turun dari kamar setelah membersihkan diri dan bersiap akan main kembali dengan cucunya. Mengobati rasa kangen.
"Tidak ada sakit Om, itu mah akal-akalan Aarav saja lagian siapa juga yang sakit nggak ada yah." Hadi dan yang lainya pun makan malam bersama. Hingga di jam sembilan Mimin dan Hadi pamit pulang dengan Lydia dan keluarganya tentu sebelum benar-benar pulang Hadi pun mengantarkan Mimin pulang. Saking serunya ngobrol bercerita pengalaman ketika mudik, Hadi sampai lupa kalau dia tidak minta izin kalau dia akan bawa Iko pulang kembali ke kampung halaman Lydia untuk mengunjungi makan calon mertuanya.
"Udah, tadi itu mungkin karena angkat-angkat Iko yang makin berat, dan benar kata Aarav jarang olahraga jadi sakit karena ketarik uratnya. Sekarang udah enakan kok," jawab Hadi dengan menunjukan sikap tenangnya.
"Awas yah jangan bohong. Dan ingat kata Mimin nanti periksa, dan kalau sudah ada Aarav bisa ambil cuti." Demi kesehatan Hadi, Mimin harus super duper bawel. Ini yang harus Mimin lakukan agar Hadi jangan menyepelekan kesehatanya.
"Iya-iya, ini rencananya besok sebelum ke kantor mau priksa dulu."
Tanpa terasa karena keasikan mengobrol Hadi pun sudah sampai di rumah dokter Sera.
"Mas nggak mampir dulu?" tanya Mimin, seperti biasa ia hanya berbasa basi.
"Kalau libur aja deh mampirnya sekarang sudah malam juga, salam buat dokter Sera dan keluarga."
__ADS_1
Mimin pun turun dan kali ini setelah Mimin turun Hadi langsung melanjutkan mobilnya kembali. Namun bukannya pulang, Hadi lebih dulu mampir ke rumah sakit.
Laki-laki itu masih penasaran ada apa dengan perutnya karena tadi makan di rumah Aarav pun tidak banyak. Rasa tidak nyaman ketika diisi makanan membuat Hadi tidak makan banyak. Tidak biasaanya dia ada masalah di perutnya, dan sekalinya ada masalah sangat terasa sakit yang luar biasan.
Sesuai yang ia katakan pada calon istrinya, ia memilih langsung menuju ke rumah sakit. Dari pada nunggu sampai besok, yang aada takut nanti tidak bisa tidur, jadi lebih baik diobati dulu biar bisa tidur nyenyak. Tidak harus menempuh perjalanan jauh, kini Hadi pun sudah sampai di rumah sakit yang tentunya elite dan bertaraf internasional. Ia pun tidak harus mengantri Hadi pun langsung menemui dokter umum. Ia menjalani pemeriksaan seperti pasien pada umumnya. Di cek tensi darah, tekanan jantung, dan lain sebagainya.
"Kira-kira kenapa yah Dok kok bisa sakit perut saya. Dan akhir-akhir ini saya juga kurang nafsu makan dan tubuh lemas terus." Hadi langsung mencecar dokter begitu selesai menjalani pemeriksaan.
"Untuk memastikan lebih pastinya saya kasih rujukan ke dokter spesialis dalam yah Mas. Kayaknya ada masalah di usus besar Anda."
Deh! Hadi langsung bergeming, niat hanya periksa biasa kenapa malah dirujuk ke dokter spesialis dalam? Apa separah itu sakit yang dia rasakan?
Hadi ke luar dari poli umum dengan perasaan yang tidak menentu. Ia tidak langsung menuju ke dokter spesialis dalam, justru duduk termenung di kursi tunggu. Tidak menyangka sama sekali kalau sakit yang ia rasakan tadi justru tanda-tanda ada masalah yang cukup serius di usus besarnya.
"Ya Tuhan, semoga ini bukan sakit yang serius," gumam Hadi.
Bersambung...
...****************...
Teman-teman sembari nunggu jawaban sakit Abang Hadi. Mampir yuk ke novel OTHOR yang baru, masih sepi banget kayak kuburan keramat.
Mampir yah dukung Mbak Gatot dan Dokter Doni Mahendra mendapatkan cinta sejatinya.
__ADS_1