
Di dalam kamar mandi, Mimin pun merasakan panas dingin. Ini bukan pertama kalinya ia menjalankan tugas sebagai seorang istri, tetapi jujur wanita cantik itu justru merasakan tremor. Melebihi saat pertama kali melakukan tugas bersama David. Kali ini rasanya jauh lebih deg-degan.
Wanita cantik itu pun menghirup nafas dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan. Tangannya digosok-gosok agar tidak grogi dan gugup.
"Mimin, kamu pasti bisa, tidak boleh malu. Ingat surga, surga Mimin," ucap Mimin seorang diri untuk memberikan semangat untuk dirinya yang merasa grogi dan malu. Yah, jelas ia malu, apalagi ini adalah pertama kalinya ia akan nunu nana dengan sang suami. Yang sudah lama berpuasa. Lebih dari sepuluh tahun.
Ada beban tersendiri yang Mimin rasakan apakah dia bisa melayani suaminya dengan baik atau justru dia akan membuat kecewa laki-laki itu.
Tangan Mimin yang dingin pun memegang handel pintu. "Tidak usah malu Min, suami kamu pasti senang dengan apa yang kamu lakukan," ucap Mimin kembali memberi semangat pada dirinya, yang kembali merasakan malu dan tidak nyaman.
Di saat Mimin bersiap ingin memberikan yang jadi hak suaminya. Ingin memberikan yang terbaik dan yang pasti beda. Sedangkan Hadi yang di luar justru ketiduran. Hadi sendiri yang niatnya rebahan justru pulas tertidur. dengan tangan masih memegang ponselnya. Dan tubuh masih setengah bersandar ke dasboard tempat tidur.
Wanita cantik itu pun terkejut dengan apa yang ia lihat. Sejenak wanita cantik itu termenung karena kecemasannya justru hanya dia yang rasakan. Nyatanya suaminya justru sudah menggapai mimpi lebih dulu. Kecewa? Tidak! Karena wanita itu tahu kalau sang suami pasti sangat lelah. Satu minggu kebelakang Mimin benar-benar melihat keseriusan Hadi untuk membuktikan cintanya. Bukan hanya sayang pada dirinya dan juga Iko, Hadi juga menunjukan cintanya dengan menyayangi keluarganya baik almarhum ibu dan ayahnya maupun Julio.
Dengan senyum terkembang Mimin pun melangkahkan kaki, menuju Hadi yang tidur dengan setengah bersandar, dan ponsel masih di tangannya. Terlihat jelas di wajah suami barunya. Mimin dengan perlahan pun mengambil ponsel yang sedang Hadi pegang. Wanita cantik itu langsung meletakan ponsel sang suami, tanpa ingin mengecek ponsel itu. Yah, sepercaya itu Mimin dengan Hadi, karena ia tahu bagaimana cintanya laki-laki itu pada dirinya.
Dengan pelan-pelan Mimin pun mengangkat kepala Hadi agar tidur dengan benar. Posisi seperti Hadi tidur saat ini sangat berisiko sakit leher.
Namun, Hadi yang merasa terusik pun menggeliat dan membuka kedua matanya.
Deg! Laki-laki itu langsung terkejut ketika kedua bola matanya terbuka, dan disuguhkan pemandangan pegunungan yang indah. Siapa yang bisa nolak kalau begitu membuka mata disuguhkan dengan pemandangan yang aduhai menawarkan keindahan surga. Alami dan langsung dari sumbernya. Mungkin seperti itu segarnya mata Hadi.
Glek! Hadi menelan salivanya. Padahal ia baru melihat sebagian pemandangan alami itu, tapi adik kecilnya langsung bangun. Sinyalnya kuat mungkin pakai provider dari telkomsel.
__ADS_1
"Eh, Mas maaf. Tadi Mimin kasihan dengan Mas yang tidurnya tidak nyaman. Makanya mau dibenarkan," ucap Mimin sembari langsung menarik tangannya, dan menutupi pakaian dinasnya yang benar-benar terbuka apalagi bagian dadanya. Bukit yang tidak terlalu besar cenderung seperti ABG pun membuat sensasi yang baru untuk Hadi.
"Tidak apa-apa. Jangan ditutupi dosa loh. Bikin hati suami senang kan dapat pahala," ucap Hadi dengan mengedipkan sebelah matanya.
Mimin pun mengulas senyum tipisnya. "Mas mau tidur lagi?" tanya Mimin dengan ragu-ragu.
Kini justru Hadi yang tertawa dengan renyah.
"Bagaimana bisa tidur lagi kalau adiknya sudah bangun? Kamu sudah tidak ada tamu kan?" tanya Hadi, ah itu sebenarnya hanya pertanyaan basa basi. Ia tentu tahu kalau istrinya sudah mengenakan pakaian dinas itu tandanya sang istri sudah siap untuk melayaninya.
Mimin justru menunduk, rasa malunya kembali menghampiri ketika sang suami menatapnya dengan senyum yang nakal.
"Sini duduk." Hadi menepuk sisi tempat tidurnya. Mimin yang memang wanita baik pun langsung patuh dengan perintah Hadi. Ia perlahan naik ke atas tempat tidur dengan menahan bagian bawah pakaian dinasnya yang sangat seksi. Melihat Mimin yang malu-malu Hadi justru tersenyum, lucu. Lucu dan menggemaskan Itu yang Hadi rasakan.
"Ini dari Lydia. Kado pernikahan, dan masih banyak lagi yang lain. Buat ganti-ganti kalau lagi tugas," jawab Mimin, jangan ditanya wajahnya seperti apa. Sudah pasti wajahnya merah padam. Ini adalah malam pertama yang menegangkan.
Dalam hati Mimin menjerit. Kenapa harus ada sesi tanya jawab membuat jantungnya semakin memburu saja, sedangkan Hadi justru senang melihat wajah Mimin yang malu-malu.
Hadi menggerakkan kepalanya naik turun. "Lydia pintar, tau ajah kalau suami itu sangat senang dengan penampilan istrinya yang seksi seperti kamu."
Kini gantian Mimin yang mengangguk.
"Kamu sudah siap kan?" tanya Hadi lagi yang sepertinya laki-laki itu sedang senang sekali menguji kesabaran Mimin.
__ADS_1
Lagi, Mimin mengangguk lemah. Dalam hatinya berkata. Yah jelas siap kan sudah memakai pakaian dinas itu tandanya tugas pertama sebagai istri dari laki-laki itu sudah siap.
"Aku dulu atau kamu duluan yang mulai?" Hadi kembali membuat Mimin gemas sekali ingin langsung dia saja yang mulai.
"Mas ... jangan bikin jadi suasananya horor. Ini kita mau bikin adiknya Iko kan? Harusnya suasananya romantis bukan justru horor," balas Mimin, wanita itu pada akhirnya berani menatap kedua bola mata Hadi. Yang mana laki-laki itu sebenarnya sedang menunggu momen ini.
Tangan Hadi menahan wajah Mimin. Wajah Hadi pun mendekat ke wajah Mimin. Sedangkan wanita cantik itu yang awalnya sudah menyiapkan mental justru memejamkan matanya.
"Jangan merem dong." Hadi kembali menguji Mimin.
Wanita cantik itu pun langsung memulai, kelamaan nunggu Hadi.
Silahturahmi bibir pun terjadi. Dari yang hanya icip-icip manja hingga yang panas seperti seblak level lima puluh. Yah, bahkan sekujur tubuh rasanya panas semua.
Hingga rasanya pendingin ruangan tidak ada fungsinya lagi. Jangan ditanya keahlian Mimin sudah jelas wanita itu adalah pemimpin yang handal. Memanjakan suami saat dia kedatangan tamu saja sangat lihai, apalagi sekedar membuat pakaian terlepas karena gerah. Sudah jelas berhasil, dan mereka pun sudah membuka pakaian mereka masing-masing.
Hadi tersenyum dengan Mimin yang memiliki kelebihan dibalik wajah dan penampilannya yang polos. Siapa pun akan menilai kalau dia adalah wanita yang malu-malu, tetapi nyatanya dia bisa diandalkan untuk memimpin produksi mochi.
Suasana malam pun semakin panas ketika dua pasangan suami istri sudah saling siap untuk mengarungi dalam samudera cinta.
Bersambung....
#Mohon maaf othor pamit mau angkat jemuran baju. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
...****************...