
Sepanjang perjalanan Mimin, tidak banyak berbicara. Ia bener-bener hanya berdoa dan menyiapkan perasaannya. Begitu juga dengan Hadi. Ia memberikan waktu pada calon istrinya untuk mempersiapkan hati dan perasaannya.
Setelah menempuh perjalanan yang tegang kini mobil yang ditunggangi Hadi pun mulai masuk ke rumah yang sangat Mimin kenal. Dalam dadanya bergemuruh hebat. Pikirannya terbang ke masa-masa ia masih tinggal di rumah itu. Dari yang masih bahagia sampai yang berubah menjadi mencekam dan tidak menginginkan kembali ke rumah ini lagi. Namun, takdir justru menariknya kembali ke rumah ini.
Pandangan mata Mimin mengamati rumah masa kecilnya, dulu rumah ini menjadi rumah termewah di komplek ini. Namun, sekarang kemewahan ini sudah termakan dengan kemajuan jaman. Mungkin juga perawatan kurang sehingga terkesan seram dan kurang terawat.
"Apa kamu masih belum siap? Butuh waktu untuk menyendiri?" tanya Hadi sebelum memutuskan turun dari dalam mobil.
"Aku hanya teringat kenangan manis sekaligus pahit dalam rumah ini. Bohong kalau aku nggak sedih, ketika aku kembali datang ke rumah ini lagi. Apalagi aku datang tidak dengan Ibu, dulu pertama kami pergi. Aku pernah ingin kembali ke sini, tapi tidak sendiri. Aku pulang bersama dengan Ibu. Tapi takdir berkata lain. Takdir seolah tidak mengizinkan aku kembali pulang dengan Ibu." Mimin kembali menangis. Ia terlalu cengeng kalau membahas ibunya.
"Aku tahu, aku juga belum tentu sekuat kamu kalau berada diposisi kamu. Kalau kamu belum siap turun kita bisa kembali lagi. Tunggu perasaan kamu membaik," ucap Hadi, tidak ingin memaksa Mimin karena takut kembali jatuh pingsan.
"Jangan, aku juga takut kalau ini adalah pertemuan aku dan dia untuk terakhir kalinya. Aku tidak ingin durhaka. Aku untuk terakhir kalinya mengabulkan keinginannnya. Aku yakin aku kuat. Kesedihan ini, aku pikir wajar dan aku rasa semua orang pun sama, merasakan sedih ketika sudah lama tidak pulang ke rumah dan ketika pertama kali menginjakan kaki lagi pasti akan sedih. Teringat kenangan masa kecil."
"Kalau gitu, apa sudah siap akan tun sekarang?" tanya Hadi.
"Beri waktu lima menit lagi." Mimin langsung memejamkan matanya. Dalam batinnya ia langsung melafalkan banyak doa.
Sedangkan Hadi pun sama, memejamkan matanya. Laki-laki itu pun sama dalam batinnya merasakan doa agar semua yang terjadi lancar. Tidak ada halangan apa pun.
__ADS_1
Cukup lama Mimin menenangkan perasaanya. Hingga ia membuka matanya dan yakin kalau ia akan bertemu dengan Lukman.
"Aku sudah siap. Yuk turun sekarang," ucap Mimin. Hadi pun langsung membuka matanya, dan mengangguk.
Mereka pun berjalan beriringan. Ingin Hadi menggandeng tangan calon istrinya untuk memberikan kekuatan. Namun, ia menjaga apalagi sekarang Mimin sudah belajar agama lebih baik lagi.
"Assalamual'laikum...." Hadi dan Mimin mengucapkan salam hampir bersamaan.
"Wa'alaikumusalam ...." Seorang wanita umur empat puluh tahunan datang. Dan Mimin sangat kenal dengan wanita itu.
Pandangan mata Mimin langsung berkaca-kaca ketika melihat wanita paruh baya itu.
"Mbok Darsi ...." ucap Mimin dengan suara bergetar. Wanita paruh baya itu pun langsung tersentak kaget ketika mendengar suara yang masih sangat dikenalnya.
Mimin sendiri langsung mengangguk kaget dan juga terisak. Wanita bercadar itu pun langsung memeluk wanita yang disebut Mbok Darsi.
Wanita rambut bergelung asal pun langsung mengusap punggung Mimin dan terisak bahagia. Karena akhirnya Mimin mau kembali datang ke rumah ini.
Sedangkan Julio yang mendengar ada keributan pun ke luar kamar Lukman. Julio termenung di ambang pintu, terharu melihat pemandangan ini.
__ADS_1
"Neng dari mana aja? Tuan sakit, pengin ketemu Neng. Tuan tanya Mbok terus katanya Neng kuliah nggak pulang-pulang." Mbok Darsi mengusap wajah Mimin yang tertutup cadar.
Mimin langsung diam ketika melihat Julio berdiri di ambang pintu, dengan tersenyum dengan manis.
"Aku senang kamu akhirnya mau datang ke sini. Ayo masuk, Ayah sudah nunggu kamu dari tadi." Julio langsung mengajak Mimin masuk ke dalam kamar ayahnya.
Hadi pun berjalan ke arah Mimin. "Ayo kita masuk," ucap Hadi, dan benar saja ia pun langsung mengerjapkan pandangan matanya. Melamun, lagi-lagi Mimin melamun. Setelah Hadi menegur baru ia pun sadar.
"Mbok, Mimin masuk dulu yah." Tanpa menunggu lama kini Mimin dan Hadi pun masuk ke rumah yang lagi-lagi setiap ruangan rumah ini mengingatkan Mimin ke sebuah kenangan di mana ia menikmati masa kecilnya.
Kamar yang dulu selalu ia masuki, kini akhirnya setelah lima belas tahun ia pun menginjakan lagi di rumah ini.
"Ayah sudah menunggu kamu dari tadi." Julio duduk di samping kiri Lukman.
Deg!Jantung Mimin pun terasa berhenti berdetak. Ia tidak menyangka kalau kondisi ayahnya memang sangat memprihatinkan seperti ini.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Sembari nunggu kelanjutan kisah Mimin dan Om Lukman, mampir ke novel Om Handan Yuk.