
David menatap laki-laki paruh baya yang ada dihadapanya. Tatapan mereka saling bertemu, seolah mereka tengah menunjukan kekuatanya.
"Kenapa kamu keras kepala sekali. Coba kamu tidak gegabah, mungkin saat ini kamu sudah asik bermain dengan anak kamu," ucap Wijaya, dengan gigi yang saling beradu gemas, dan suara yang tertahan agar tidak ada yng mendengar obrolan mereka . Akhirnya setelah cukup lama saling diam dengan tatapan yang saling beradu, akhirnya Wijaya membuka obrolan terlebih dahulu.
"Itu baru perkiraan Papah, yang artinya belum tentu terjadi," jawab David dengan santai dan cenderung meremehkan rencana sang papah.
"Itu pasti terjadi, ANDAI kamu tidak keras kepala ngeyel dan melakukan apa-apa sesuka hati." Wijaya kembali menunjukan sifat kesalnya setelah melihat anaknya justru semakin sulit diarahkan.
"Jadi ini semua salah David?" tanya laki-laki itu dengan menunjukan senyum mengejek.
"Siapa lagi, hanya kamu yang mengacaukan rencana ini. Papa bilang alihkan perhatian orang-orang pada Mimin, agar Papa bisa mengambil anak kamu. Semua ini Papa lakukan untuk kamu. Tapi apa yang kamu lakukan malah berakhir di dalam penjara, bodoh kamu."
"Semua ini Papa lakukan untuk aku, atau ada rencana lain dengan yang Papa lakukan sekarang ini dengan obsesi Papa selama ini? Bukankah David juga korban obsesi Papah, lalu bagaimana dengan anak aku nantinya?" David justru membuat Wijaya meradang dan kesal. Kedua mata laki-laki paruh baya itu langsung melebar sempurna ketika mendengar ucapan dari putranya.
"David! Apa yang kamu katakan. Ini yang Papah takutkan kalau kamu ngobrol dengan wanita itu, otak kamu pasti sudah dicuci oleh wanita itu," balas Wijaya dengan suara yang meninggi.
"Ini bukan tentang wanita itu ataupun siap, tetapi ini tentang Papa sendiri. Coba tanyakan pada Papah, apakah tujuan Papa benar ingin membantu David mendapatkan anak David, atau Papa ingin membuat anak David adalah adalah generasi penerus pemimpin perusahaan yang Papa bangun, dan membuat anak David...." David sengaja menggantung kata-katanya agar sang papa terpancing dengan apa yang ia katakan.
"Lancang kamu David. Susah paya aku membantu kamu dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memuluskan rencana ini, tetapi apa balasan kamu. Kamu justru terus mencari-cari kesalahan yang Papa tidak lakukan."
"Sudahlah, David cape ngomong dengan Papa, biarkan David mendekam di dalam penjara, karena memang ini semua akibat dari yang David lakukan," ujar David, meskipun laki-laki itu sebenarnya tidak terima dengan dirinya yang dipenjara tetapi David juga tidak bisa terus bersitegang dengan papanya, apalagi terus membuat sang papa berusaha mengambil anaknya. David harus bisa mengalihkan sang papa agar tidak merencanakan hal buruk dengan sang putra.
__ADS_1
Laki-laki itu tahu bagaimana kerasnya sang papa, ia bisa saja mengalah dan pasrah. Toh apa yang dikatakan Mimin ada benarnya Aarav dan sang istri pasti memberikan yang terbaik untuk putranya. Untuk saat ini yang terpenting adalah Iko dalam keadaan sehat dan disayangi. Ia sendiri juga sebenarnya tidak yakin kalau anaknya bersama dengan dirinya. Iko akan mendapatkan kebahagiaan, ada rasa takut dalam hati David kalau putranya akan mendapatkan tekanan sama seperti dirinya.
"Papa tidak akan biarkan kamu dipejara. Ini semua salah wanita itu." Seperti yang David pikiran semakin David terlihat pasrah dan menerima takdir ini maka sang papa tidak akan terima.
"Lalu Papa bisa apa? Untuk mengeluarkan David dari tempat ini, Papa tidak bisa meremehkan Mimin karena dia juga sekarang punya orang-orang yang mendukungnya dan mereka bukan orang yang sembarangan," balas David seolah ia tengah memancing sang Papa agar menunjukan kemampuanya.
"Mereka bisa Papa urus." Dengan yakin Wijaya berkata demikian.
"Ini semua juga karena Papa, semua yang terjadi dengan David itu semua karena Papa. Harusnya Papa yang ada di dalam sini bukan David," pancing laki-laki itu lagi.
"Semua ini karena kamu yang tidak bisa menahan nafsumu. Coba saja kamu bisa menahanya barang sedikit saja cari tempat yang aman dan semua ini tidak terjadi." Wijaya kembali membahas hal yang sudah berlalu.
Ck... David berdecak cukup kencang. Ketika mendengar ucapan sang papa.
"Wanita murahan itu tidak pantas untuk kamu."
"Lalu yang pantas yang seperti apa? Dari mana Papa tahu kalau wanita itu murahan, apa Papa sudah pernah menikmatinya dengan memberikan iming-iming rupiah?" David bertanya dengan tersenyum sengit. Karena ia tahu Papahnya tidak bisa memberikan jawaban.
"Ini bukan soal pernah atau tidak, tetapi wanita baik-baik tidak akan membawa anak laki-laki orang kabur, ia akan sabar mendapatkan restu dari kami."
"Sudah berapakali David katakan, yang memutuskan kabur atau tidak itu David, bukan Mimin. Lagipula kami sudah pernah meminta izin dengan sangat baik dan sopan tetapi bertahun-tahun penuh dengan penolakan, jadi sekarang Papa jangan berkata seperti itu. Karena sumber masalah itu dari Papa. Sekalipun melakukan pembelaan yang kuat, tidak akan pernah bisa mengalihkan semua fakta ini."
__ADS_1
"Nyesal Papa datang ketempat ini, karena kamu sama saja sudah keras kepala." Wijaya beranjak dari duduknya.
"Yah, ketika orang sudah kalah debat memang jalan satu-satunya adalah menghindar."
"Jaga mulut kamu David. Aku ini Papa kamu. Kamu tidak akan bisa jadi apa-apa selain ada aku di belakang kamu," Wijaya kembali duduk dengan tatapan yang semakin sengit pada sang putra.
"Saya tidak pernah ingin dilahirkan ataupun memiliki Papa seperti Anda. Saya bukan anak Anda, saya hanya aset Anda, seolah apa yang saya jalani hidup di dunia ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memenuhi semua obsesi Anda."
Plakkk.... jaga mulut kamu David.
"Kenapa orang lain diminta menjaga mulut, tapi Anda sendiri tidak bisa menjaga perbuatan Anda, Tuan Wijaya." David memberikan tatapan yang sengit pada papahnya.
"Karena kamu bilang masalah, kamu hanya besar badan, tetapi tidak dengan pikiran kamu. Kamu masih seperti anak kecil semua yang kamu lakukan hanya membuat masalah yang semakin runyam." Wijaya lagi-lagi berucap agar bisa membungkam mulut David.
Ck... Kembali David berdecak.
"Lalu apa pemikiran Anda sudah paling benar? Bukankah justru semua yang terjadi baik dengan David atau dengan Iko dan Mimin adalah akibat pemikiran dari Papah? Jangan lempar batu sembunyi tangan. Semua tidak akan seperti ini, kalau bukan hasil dari pemikiran Papah."
Brakkkk...
"David.... "
__ADS_1
Bersambung....