
Dengan langkah yang berat dan juga bergetar tubuh ini, karena sejujurnya aku belum begitu siap bertemu dengan temanku ini. Ada rasa takut yang menghantui kalau aku justru tenggah menggali masalah dalam rumah tanggaku dengan kembali aku berhubungan dengan Mimin, yang mana dia ternyata mantan dari suamiku.
Namun, aku coba tepis ketakutan itu. Aku gunakan hati ini untuk membantu sahabatku yang pasti sedang membutuhkan bantuanku, jangan sampai penyesalan di belakang. Semua ketakutan aku serahkan pada Tuhan dan aku yakin Tuhan tidak akan menguji aku di luar batas kemampuanku.
Setelah menghirup nafas dalam, dan membuang kegugupanku. Aku kembali ayunkan kaki ini untuk masuk ke kamar di mana Mimin berada.
Kelopak mataku langsung menghangat ketika kedua mata ini menangkap sosok yang masih bisa aku kenali. Wanita kurus tidur dengan miring, wajah pucat sudah memberi tahukan padaku kalau wanita itu sedang sakit yang cukup parah.
"Mimin... apa kamu Mimin...?" tanyaku dengan suara yang berat. Aku hanya ingin memasikan apakah wanita itu benar Mimin atau bukan?
Kedua mata wanita itu membuka dan tangis langsung terdengar dari bibir pucatnya. Suara serak dan lirih membuat hatiku semakin sesak.
Cukup lama kami saling berpelukan dan terisak dalam tangis untuk saling melepaskan rindu. "Aku tahu kamu di sini dari Sari. Kamu selama ini ke mana saja?" tanyaku begitu aku sudah tidak melihat Mimin menangis lagi.
Pandangan mataku melihat Mimin tersenyum tipis, ada rasa nyilu di hati ini ketika melihat kondisi temanku ini, apalagi aku melihat di kulitnya banyak tanda biru seolah dia mengalami kekerasan fisik.
"Iya aku yang minta Sari agar mengabarkan pada kamu dan menemui aku. Banyak yang aku lewati tanpa ada kamu.di sisi aku. Banyak yang memaksa aku tetap hidup hingga kita ketemu lagi." Aku lihat Mimin, menunduk seolah dia tidak kuat untuk bercerita.
Tangan kurusnya aku raih dan aku usap punggung tangan temanku yang kurus dan kulit berkeriput itu. Padahal usia dia lebih mudah dari aku tapi sakit merubah fisiknya sehingga seolah dia jauh di atas usiaku.
__ADS_1
"Sari juga mengatakan kalau kamu punya anak, di mana anak kamu?" tanyaku lagi untuk mengalihkan topik pembahasan kita yang aku yakin Mimin belum siap bercerita.
"Itu dia Min, aku minta kamu datang ke sini. Aku ingin titip anakku. Aku tidak percaya pada Sari, aku takut nanti anakku diambil oleh ayahnya dan keluarga mantan suamiku," ucap Mimin dengan bergetar.
Aku mengernyitkan dahi, bingung. "Tapi bukanya kata Sari suami kamu meninggal ketika usia kehamilan kamu empat bulan?" tanyaku, mengikuti ucapan Sari.
"Aku yang bohong sama Sari soal itu. Kenyataanya suami aku kembali ke keluarga yang kaya itu. Dia tidak memperjuangkan aku. Dia tidak bisa hidup susah, dia memilih kembali ke keluarganya, dan menceraikan aku saat anak aku belum lahir dan belum tahu ayahnya siapa." Tangis Mimin kembali pecah. Aku sendiri beberapa kali menghirup nafas dalam untuk menghilangkan sesak di dadaku.
Yang mengalami ini semua Mimin, tapi kenapa aku yang sesak sekali dadanya. "Terus selama ini kamu ke mana? Lebih dari sepuluh tahu loh Min, kamu hilang begitu saja. Bahkan aku tanya sama teman-teman nggak ada yang tahu. Untung Sari tahu kamu dan kita bisa ketemu lagi.
"Aku kerja di Kalimantan Lyd, dan dua tahun lalu aku kembali ke Jakarta dan menikah dengan anak bos aku di Kalimantan hubungan kami dari awal memang tidak di restui. Bahkan dari sekolah kuliah kami sudah menjalin hubungan, tapi putus nyambung dan ketemu lagi dua tahun lalu hingga akhirnya kita memutuskan nikah karena aku pikir dia akan serius dengan hubungan ini nyatanya tidak Lyd. Aku ditinggal saat hamil dan dia kebali ke keluarganya. Itu sebabnya aku mengarang cerita kalau suamiku meninggal saat kerja, di Kalimantan. Andai aku bilang kalau suamiku masih hidup dan balik ke keluarganya pada Sari, bisa-bisa Sari melabrak ke rumah David, dan membuat masalah baru. Aku sudah cape berurusan dengan keluarga itu. Oleh sebab itu aku ingin kamu merawat anak aku, jangan berikan kalau keluarga David ingin mengambil anakku, karena aku tidak akan sudi anakku di besarkan oleh mereka."
Kembali aku mengusap punggung tangan Mimin. "Kenapa kamu lebih percaya anak kamu, aku yang menjaga, bukan justru Sari atau teman kamu yang lain?" tanyaku agar aku tidak salah paham.
"David tahu Sari, David juga tahu temanku yang lain, tapi David tidak tahu kamu. Sehingga anakku akan aman dengan kamu Lyd. Kalau dengan Sari, David bisa mengamil anakku begitupun dengan teman yang lain," jawab Mimin dengan yakin. Aku pun menganggukan kepalaku beberapa kali sebagai tanda kalau aku tahu maksud Mimin.
"Tapi apa Sari dan yang lain tidak akan mengatakan pad David soal keberadaan anak kamu?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Sejauh ini Sari bisa diandalkan," balas Mimin dengan yakin. Kembali aku menganggukan kepala dengan yakin.
__ADS_1
"Ok, aku anggap masalah anak kamu sudah selesai, sekarang sakit kamu. Kamu sakit apa? Kenapa tubuh kamu sampai seperti ini? Terus biaya pengobatan kamu dari mana selama ini?" tanyaku dengan suara yang bergetar karena membayangkan hidup teman aku yang sangat keras itu.
Lagi, aku melihat Mimin menangis. Aku tahu itu tandanya ujian dia yang paling berat adalah sakitnya itu.
"Aku mengindap kangker kulit, dulu saat aku mengindap Karsinoma Sel Skuamosa, dan sepat dinyatakan sembuh setelah menjalani pengobatan rutin. Dan sekarang sel kangker itu tumbuh lagi dengan jenis yang lain yaitu Melanoma, yang mana kalau jenis yang ini dokter mengatakan tidak akan bisa sembuh, karena ini adalah sel kangker yang paling fatal. Kamu bisa lihat kondisi tubuh aku seperti apa. Aku didiagnosa sakit lagi baru jalan lima bulan, tapi tubuhku sudah habis begini. Aku sekarang tinggal menunggu ajal saja Lydia makanya aku sangat berharap sama kamu titip Tiko, apapun kondisi kamu jangan serahkan Tiko sama orang lain, apalagi sama ayahnya. Aku tidak rela," ucap Mimin dengan gigi-gigi yang saling beradu menandakan kalau wanita dengan tubuh kurus itu sangat membenci keluarga suaminya.
Aku hanya termenung banyak sekali pikiran dalam otakku. "Apa keluarga kamu tahu sakit kamu?" tanyaku karena aku tahu Mimin masih punya keluarga.
"Aku hanya punya Ibu yang sudah di surga. Papah dan Abang, aku anggap sudah meninggal dunia," balas Mimin dengan nada yang aku tahu dia sangat membenci abang dan papahnya.
"Kamu berobat ke rumah sakit khusus kangker yah Min, kasihan anak kamu kalau harus kehilangan kamu," ucapku dengan suara yang setengah memaksa. Namun justru aku hanya melihat gelengan kepala yang lemah dari Mimin.
"Percuma Lydia. Aku akan tetap meninggal. Aku hanya akan membuang duit pada kenyataanya aku sekarang sedang menunggu ajalku. Kamu pulang saja, dan temui dokter Sera, beliau yang aku titipkan Tiko selama aku di rawat di sini," ucap Mimin dengan pasrah.
Aku pulang nanti tunggu Sari atau teman kamu datang untuk menggantikan aku menjaga kamu. Aku jug ingin dengar cerita kamu selama ini," ucapku dengan yakin. Lagian mana tega aku meninggal Mimin seorang diri lagi.
"Jangan Lydia. Nanti percuma dong aku titipkan Tiko dengan kamu, kalau temanku yang lain tahu kamu yang bawa Tiko. Ini alasan aku meminta tolong sama kamu, karena aku kurang percaya pada mereka. Aku percaya Tiko aman dengan kamu. Dan ingat setelah ini kalau bisa kamu jangan hubungi Sari lagi serta kamu jangan temui aku lagi, aku baik-baik saja," ucap Mimin yang justru seolah mengatakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
Cukup lama aku diam tidak menjawab ucapan Mimin. Aku bingung bagaimana cara menjelakan pada mas suami soal anak itu? Tidak mungkin aku mengatakan anak Mimin. Lagian orang tua mana yang mau memberi anak dengan cuma-cuma. Hanya Mimin itu pun karena terpaksa.
__ADS_1
Ada yang penasaran nggak kisah Mimin?