
Seperti kebanyakan orang pada umumnya, puasa hari pertama pun masih lancar meskipun banyak sekali dramanya. Yah, mudah-mudahan bukan hari pertama saja yang lancar hari-hari selanjutnya pun terus lancar, dan semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta yah.
Drama pun dimulai begitu mas suami pulang kerja. "Aduh lemez..." eluh mas suami ketika baru pulang kerja dan langsung meletakan tas di atas sofa dengan rebahan di samping jagoan kami.
"Iya itu sudah biasa Mas, tujuan kita diperintah berpuasakan memang salah satunya menahan haus dan lapar, agar kita tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang kekurangan," jelasku dengan suara cukup pelan, yah meskipun pengertian ini sepertinya anak usia tujuh tahun juga selalu ngerti, tetapi kadang semakin besar justru kurang memaknai perintah puasa hanya menahan haus dan lapar setelah itu maka kurang paham maknanya sehingga banyak di antara kita melampiaskan di saat kita buka, membeli banyak makanan tanpa tahu dimakan semua atau tidak, tanpa mau perduli di belahan bumi yang lain masih ada yang kelaparan. Bahkan mereka terpaksa berpuasa karena tidak punya uang untuk membeli makanan.
"Iya Mas tahu, mungkin karena teman-teman bisnis banyak yang nggak puasa jadi berasa godaanya besar banget," akunya dengan menyengir kuda.
"Makanya bentengi diri dengan niat yang besar, kalau niatnya setengah terpaksa jelas hal seperti itu dianggap godaan, harusnya bersyukur karena kalau godaan besar seperti itu tandanya Mas itu harus semakin kuat agar tidak mudah tergoyahkan dengan godaan itu, pahalanya berlipat ganda loh," ucapku memberikan semangat.
Karena aku ajak ngobrol terus dan sesekali mas suami menemani aku masak sehingga tanpa terasa jam buka puasa pun tiba, dan aku lihat wajah bahagia mas suami menyambut buka puasa pertama kalinya.
Puasa adalah saat di mana kita mengalunkan niat dengan penuh ketulusan di antara belantara kepalsuan, dan godaan. Menurunkan puncak hidung, yang terkadang terlalu tinggi menengadah. Menjinakkan tatapan yang terkadang terlalu liar menelanjangi objek yang ia tangkap. Memampas liarnya belukar pikiran yang menutupi akal sehat, dan meluaskan hati bak luasnya cakrawala.
Kami terlalu menikmati puasa tahun ini hingga tanpa terasa sudah sepuluh hari berlalu, dan selama sepuluh hari banyak sekali yang kami ambil hikmah puasa di tahun ini. Jujur puasa pertama berjauhan dengan orang tua tetap ada yang aneh menu-menu bukaan khas masakan Ibu dan kebiasaan warga yang hanya ditemui di pedesaan, menambah rasa rindukan akan kampung halaman.
"Sayang, nanti setelah sholat Isya kita ke rumah sakit yah," ucap Mas suami yang membuat aku tersentak kaget. Pikiran ini yang terlalu kepo pun langsung menerka-nerka kira-kira siapa yang sakit.
"Ru... rumah saki Mas, mau ngapain? Siapa yang sakit? Bukan Mamih dan Papih atau orang di rumah Mamih kan?" cecarku, sebab tidak mungkin Mamih, di mana hampir setiap hari Mamih selalu ke rumah ini untuk bermain dengan Iko, dan pulang ketika papih mertua sudah pulang. Sepertinya Mamih akan merasa rugi kalau tidak bermain dengan Iko, bahkan mungkin kalau usianya sudah bisa diajak jalan-jalan bisa-bisa diajak bermain ke mall terus sama mamih mertua.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, yang sakit bukan Mamih, Papih atau orang rumah. Yang sakit istrinya David, barusan memberi kabar kalau istrinya keguguran. Berhubung saat ini kita sedang terlibat kerja sama jadi kita tengok yah, kasihan juga mereka sangat sedih karena ini adalah anak pertama, dan cucu pertama dari anak satu-satunya," ucap Mas suami yang membuat hati ini lega karena ternyata bukan. Mamih atau Papih yang sakit.
"Alhamdulillah... kapan kita pergi," ucapku secara sepontan yang membuat Mas Aarav kaget.
"Kok Alhamdulillah?" tanyanya heran, dan aku pun baru sadar kalau ternyata aku berucap yang salah.
"E... maksud Lydia itu, Alhamdulillah yang sakit bukan Mamih, Papih atau Bibi dan yang bekerja di rumah Mamih. Bukan bermaksud menyusukuri musibah yang menimpa keluarga David," balasku dengan sedikit terbata, tetapi tidak memungkiri di dalam hati ini aku merasakan segurat bahagia. Seperti orang yang kehausan dan di berikan air minum, ada rasa yang sebenarnya tidak boleh ditunjukkan di atas kesedihan orang yang sedang kesusahan.
"Nanti habis sholat teraweh kita jenguk saja yah. Kasihan, denger-denger kondisi istrinya cukup parah," jelas mas suami yang membuat aku semakin penasaran kenapa bisa, apakah karena ada masalah dalam kandunganya atau justru karen adalanya kecelakaan yang membuat istri David mengalami keguguran.
Aku berusaha sabar hingga aku menemukan jawabanya setelah aku berkunjung ke rumah sakit.
"Siap Mbak, Mbak Lydia jangan khawatir. Iko anak baik, jadi mau seharian jagaian Bibi juga seneng," balas Bi Lilis yang mana memang Iko anak baik siapa pun yang dekat dengan Iko pasti akan langsung suka, itu karena pesonanya sudah ada sejak orok.
"Iya Bibi dan Mbok Jum senang kalau jaga Iko, tapi Lydia yang sedih kalau sampai ninggalin Iko sampai lama apalagi sampai seharian," balasku setengah berkelakar. Setelah berpamitan aku pun langsung meninggalkan rumah kami, dan menuju rumah sakit di mana istri David di rawat. Lagi dan lagi baru sampai parkiran saja sudah terlihat kalau aura uang banyak memang sudah tercium, rumah sakit internasional yang terdiri dari beberapa lantai dan ruangan yang super nyaman sudah bisa terbayangkan begitu lihat bangunan rumah sakit.
"Ngomong-ngomong Mas tahu kenapa istri David bisa keguguran?" tanyaku nyatanya jiwa kepo sulit sekali untuk dihilangkan.
"Dengar-dengar karena kecelakaan, naik mobil dan sempat terjadi kecelakaan, tapi yang jelas juga nggak tahu yang mana, malah teman kerja ada yang bilang karena terpeleset di tangga. Kita lihat nanti yah sekalian Mas juga penasaran."
__ADS_1
Yah, akhirnya kami pun mengayunkan langkah kami lebih kencang, dan setelah melewati beberapa lorong rumah sakit yang sepi dan mewah, kami pun sampi di rungan di mana istri David di rawat.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, kami pun masuk ke dalam ruangan yang luas, bahkan terkesan seperti sebuah kamar hotel, yang mana ada dapur tempat untuk menerima tamu dan untuk pasien sendiri ada kamar yang cukup nyaman jadi tidak terlalu terganggu dengan tamu yang menjenguk.
Kesan pertama kami masuk rasa kesedihan sudah jelas terasakan. Yang mana mungkin saja mereka baru selesai menangisi nasib buruknya, bahkan mata merah David sudah menggambarkan kalau laki-laki itu sedang sedih yang luar biasa.
"Maaf Vid, baru sempat menjenguk. Ngomong-ngomong bagaimana kondisi istri kamu?" tanya mas suami memulai obrolan, dan aku yang memang datang ke sini untuk menemani mas suami pun hanya menyimak, apalagi aku benar-benar tidak mengenal istri David, sehigga ingin mendahului menyapa rasanya kurang yaman.
Yah jangankan untuk menyapa sang istri. Dengan David sendiri aku hanya bertemu dua kali. Obrolan pun hanya berapa kata.
"Tidak apa-apa Rav, gue yang berterima kasih karena loe sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini. Tapi maaf Joe baru saja istirahat dia sangat terpukul dengan musibah yang menimpa kami," ucapnya, yang mana David langsung menunduk dan kembali suara berat nan parau menggambarkan kalau laki-laki itu juga sangat sedih karena kehilangan buah hatinya.
Sedih? Yah, aku pun merasakan kesedihan ini yang mana siapa sih yang tidak sedih ketika kehilangan buah hatinya. Namun, aku kembali teringat akan semua penderitaan Mimin, kalau memang yang terjadi pada David adalah sedikit balasan Tuhan akan kesedihan dari Mimin, kenapa aku justru merasa semakin sedikit puas.
Aku tahu Tuhan tidak akan sia-sia memilih menempatkan aku dalam situasi ini. Aku yakin Tuhan sedang mengutus ku untuk memberikan pertolongan pada seseorang yang tengah terzolimi. Aku tahu Tuhan tidak serta merta memberikan nasib buruk pada David dan Joe, sang istri. Pasti ada rahasia dari semua serangkaian kejadian yang aku saksikan. Cepat atau lambat semuanya akan tahu siapa Iko dan wanita yang telah melahirkannya. Siap atau tidak kami akan terbawa dalam ini semua, dan saat ini aku tengah menata hati dan perasaan untuk mempersiapkan ini semua.
**Singkirkan Kelemahan**
Kehidupan kita akan terus berjalan, langkah demi langkah menapaki ruang kehidupan. Jangan larut dalam keluhan, bangkitlah dengan pelan-pelan, dan keluarlah dari zona kelemahan.
__ADS_1