
Pagi hari menyapa, meskipun rasanya malas sekali untuk bangun, tapi sebagai istri ia harus bisa melayani suaminya. Wanita cantik itu pun membuka matanya, dan bersiap akan melayani suaminya untuk pertama kali setelah kemarin ia resmi menikah dengan papah Hadi.
"Ya Alloh, ini sudah jam berapa?" batin Mimin, ketika melihat sinar matahari sudah masuk samar-samar dari sela gorden yang tebal. Pandangan mata wanita itu langsung terarah pada dinding di mana di sana ada jam besar yang terlihat jelas jarum pendek menunjuk ke angka sembilan dan jarum panjang sudah hampir menunjukkan angka dia belas.
"Ya Alloh sudah pukul sembilan," ringis Mimin dengan memejamkan matanya. Wanita itu merasa ia seperti gagal menjadi istri karena bangun kesiangan. Apalagi sang suami juga sudah tidak ada di kamar yang artinya Hadi pasti sudah berangkat kerja. Bukan main emang Hadi ini, pengantin baru langsung kerja. Cuti dulu Di, duit kamu udah gak berseri setidaknya istirahat kek baru juga pulang dari rumah sakit.
Pandangan Mimin menatap ke tempat di mana semalam suaminya tidur. Ia pun terfokus pada kertas yang diletakan di nakas samping tempat tidurnya. Mimin pun menyibakan selimut dan berjalan menghampiri kertas itu. Kertas yang ditulis suaminya.
Selamat pagi istri baruku ....
Kamu jangan merasa bersalah, karena bangun saat aku sudah berangkat ke kantor. Maaf aku tadi nggak bangunkan kamu, abisnya tidak tega lihat kamu pulas banget tidurnya. Aku berangkat kerja yah. Kasihan Aarav sudah merengek karena kerjaan numpuk. Untuk kamu kalau mau ke rumah Ayah, langsung minta supir antarkan saja. Tadi Mas sudah minta supir untuk antarkan kamu. Tapi kalau perut kamu masih sakit jangan ke rumah Ayah juga nggak apa-apa Julio sudah kasih kabar katanya Ayah sudah bangun. Jadi kamu nggak perlu terlalu khawatir. Kamu istirahat di rumah yah, nikmati waktu libur kamu. Selamat istirahat. Tertanda abinya Iko yang baru.
Mimin mengulas senyum ketika membaca pesan dari Hadi. Laki-laki itu bisa membuat ia makin sayang. Padahal baru dapat surat saja, tetapi hati Mimin sudah terbang ke mana-mana. Bahkan ia langsung menciumi surat yang di tulis oleh Hadi.
Sesuai yang Hadi minta Mimin pun kembali merebahkan tubuhnya, ia menikmati waktu liburnya. Nanti habis dzuhur ia akan tetap ke rumah Lukman, dan tidak lupa akan ke rumah Lydia untuk izin mengambil Iko, ingin juga Mimin mengajak Iko nginap di rumah abi barunya. Biar rumah ini rame.
Mimin mengambil ponselnya dan lagi-lagi ucapan Hadi benar kalau Lukman sudah bangun. Julio sudah mengabarkan berita baik itu. Bahkan Julio juga mengirimkan vidio yang jelas kalau Lukman sudah bangun.
Hati Mimin pun bisa lega setelah melihat vidio ayahnya. Sebenarnya dari dalam batin Mimin masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah dan ibunya, tapi Mimin juga takut kalau tahu sesuatu justru ia akan semakin sulit untuk bersikap baik pada ayahnya, ia takut kalau akan kembali marah dan kecewa. Sekarang Mimin ingin fokus menjaga ayahnya sehingga tidak mau ada pikiran-pikiran yang mengganggu Mimin untuk tetap baik dengan ayahnya.
Selesai bertukar pesan dengan Julio. Kini Mimin membuka pesan dari suaminya. Padahal Mimin belum membaca pesan dari Hadi tapi wanita itu sudah tersenyum-senyum sendiri. Karena ternyata Hadi cukup romantis.
[Jangan lupa makan.]
__ADS_1
[Jangan terlalu cape. Istirahat manfaatkan waktu untuk beristirahat agar cepat sembuh. I LOVE U.]
[Mas kerja dulu yah.]
Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Hadi pada uminya Iko. Mimin pun mengembangkan kembali bibirnya. Rasa yang aneh kembali menjalar di pikiran Mimin. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir kalau Hadi itu akan sealay ini, tapi jujur Mimin justru senang diperhatikan sebegini detail.
[Kenapa nggak bangunkan pas mau kerja. Padahal masih kangen. Pengin peluk dulu sebelum berangkat kerja,] Mimin mulai iseng dengan suami barunya.
[Pokoknya tidak mau tau pengin dipeluk dulu kalau mau kerja!]
[Gak semangat bangun, karena nggak ada yang peluk.]
Mimin terkekeh sendiri membaca pesan alay yang ia kirimkan untuk Hadi. Ya, padahal Mimin bukan tipe yang manja terlalu alay ala ABG tapi ia justru senang mengerjai suaminya. Dalam pikiranya ia justru ingin nemuin suaminya.
Tidak harus menunggu lama, Mimin sudah selesai membersihkan diri. Ia membuka pesan yang tadi dikirimkan pada suami barunya. Namun belum ada tanda-tanda kalau Hadi membaca pesan itu. Yah, ini kesempatan untuk Mimin datang ke kantor suaminya ingin memberikan kejutan.
Setelah ia bersolek dan memakai pakaian terbaik, Mimin pun langsung turun ke bawah. Baru beberapa langkah ia menapaki anak tangga sudah di sambut senyum hangat oleh Arum.
"Kamu sudah bangun Sayang," ucap Arum dengan suara lembut. Mimin pikir mertuanya akan marah karena dia bangun kesiangan dan bahkan suaminya sudah pergi kerja. Payah banget emang dia jadi istri, mana hari pertama udah kesiangan aja.
Mimin mengulas senyum samar di balik cadaarnya. "Maaf Mah, Mimin bangun kesiangan ..." ucap Mimin dengan suara pelan dan penuh penyesalan.
"Hay Sayang, tidak apa-apa. Lagian kamu masih sakit, memang kamu sebaiknya istirahat yang banyak. Termasuk Hadi, tapi suami kamu itu memang bandel kalau dibilangin suruh istirahat malah pergi kerja. Ayok sarapan. Mamah dan Papah baru saja sarapan." Arum menggandeng tangan sang menantu agar sarapan. Wanita itu selain sebagai ibu rumah tangga, ia juga mengembangkan hobby-nya dengan masak bahkan ia adalah pemilih catering yang sudah terkenal lezat dan kalangan atas. Ya meskipun itu sebenarnya hanya hobby yang dikembangkan, tetapi wanita dari dua orang anak mampu memberikan lapangan pekerjaan pada orang banyak.
__ADS_1
"Mimin sudah baikan kok Mah, tapi kalau Mimin sarapan di kantor aja gimana," balas Mimin dengan suara lirih karena ia tahu kalau Arum pasti bakal menolak kalau Mimin ingin ke kantor.
Benar saja wanita paruh baya yang masih cantik langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Kamu mau kerja juga? Udah lah Sayang kamu masih sakit baru pulang dari rumah sakit, jangan ikuti suami kamu yang gila kerja. Kamu tidak kerja juga Hadi bisa memberikan nafkah untu kamu kok. Anak Mamah pasti tanggung jawab dengan nafkah kamu dan anak kamu. Kalau Hadi gak kasih nafkah kamu, kamu bilang sama Mamah," balas Arum, sesuai pemikiran Mimin, kalau mertuanya tidak akan mengizinkan dia berangkat ke kantor karena dipikir akan kerja.
"Mimin nggak kerja Mah. Pengin ke kantor sarapan bareng Mas Hadi," balas Mimin malu-malu. Ia menunduk karena jujur malu yah ketahuan buncin tingkat akhir sama anaknya mamah Arum.
"Owalah Sayang, kalau mau numpang sarapan saja Mamah sih boleh-boleh saja. Kalau gitu Mamah siapkan sarapan untuk kamu dan Hadi yah. Tadi suami kamu makanya cuma sedikit, kamu bisa suapi dia agar semangat makannya dan cepat sehat." Dengan cekatan Arum kembali melayani Mimin menyiapkan sarapan untuk menantunya yang ingin makan bareng sang suami.
"Padahal Mimin bisa siapkan sendiri Mah. Mamah nggak usah cape-cape melayani Mimin seperti ini, jadi Mimin nggak enak," ucap Mimin berdiri menahan agar Arum tidak melayaninya berlebihan. Ia merasa sungkan.
"Hist tidak apa-apa Sayang, Mamah senang bisa melayani anak-anak Mamah. Lagian Mamah nggak selamanya di rumah ini, sebentar lagi Mamah akan pulang jadi biarkan Mamah melani anak Mamah," balas Arum tidak mengidahkan ucapan Mimin, wanita itu memang senang melayani anaknya sehingga tidak seperti mertua lain yang apa-apa mengandalkan anak dan menantu. Arum beda wanita itu benar-benar protektif pada anaknya terutama soal makanan.
"Ya udah terima kasih yah Mah. Mamah sudah mewujudkan impian Mimin, jujur Mimin senang diperlakukan seperti ini, karena Mimin merasa punya ibu lagi," balas wanita itu dengan suara bergetar. Arum yang mendengar suara Mimin bergetar pun langsung meletakan kotak bekal. Arum menghampiri Mimin yang sedang duduk dengan tatapan kosong.
"Kamu, boleh anggap Mamah itu Mamah kamu, jangan merasa kalau Mamah hanya mertua. Kita keluarga jangan sungkan. Mamah senang kalau kamu lebih terbuka dengan Mamah, jangan merasa berkecil hati. Mamah juga Mamah kamu." Arum menarik kepala Mimin ke dalam perutnya ia yang sedang berdiri dan Mimin duduk pun mengusap pucuk kepala Mimin.
"Jangan sedih, mamah kamu pasti bahagia kalau kamu bahagia. Udah jangan sedih, lebih baik kamu susul suami kamu kerja dan sarapan bareng. Cari hiburan biar makin romantis." Arum kembali menyiapkan sarapan untuk menantu dan putrinya.
Setelah semua beres Mimin pun berpamitan pada mertua yang baik dan membawa kotak bekal makanan untuk sarapan dengan suaminya. Bahkan Mimin sudah membayangkan kalau Hadi pasti kaget Mimin datang hanya untuk numpang makan pagi.
#Cie Mbak Mimin bucin juga....
__ADS_1
...****************...