
Kebahagiaan tengah dirasakan oleh keluarga Jasmine. Kehadiran putri ke dua membuat keluarga itu pun menyambut bahagia putri cantik yang bernama Zahra Sidra Hanifah. Bagaimana reaksi Baba Hadi kalau bangun-bangun lihat putri cantiknya yah?
setelah cukup lama Hadi pingsan, kini laki-laki itu pun merasakan pendengarannya terganggu. Terusik dengan tangisan bayi. Kedua bola matanya langsung terbuka ketika ia ingat kalau barusan istrinya melahirkan. Namun, betapa kagetnya Hadi ketika dalam ruangan itu ternyata ada banyak orang termasuk papahnya juga. Ia jadi bingung seberapa lamanya kah ia pingsan?
"Papah, kenapa ada di sini?" tanya Hadi dengan pandangan mata yang bingung. Apalagi ia juga melihat dalam ruangan dia dan istrinya tidur bersama dalam satu ranjang yang sama.
"Kamu kenapa payah banget. Istri kamu yang lahiran kenapa kamu yang pingsan," sembur Ahmad, bukanya menjawab pertanyaan dari Hadi, malah kesempatan emas mengejek putranya.
"Pusing Pah," jawab Hadi dengan menggaruk tengkuk lehernya, karena laki-laki itu pun tidak menyangka bakal pingsan.
Setelahnya ia menatap Mimin yang sedang duduk bersandar di tumpukan bantal yang cukup tinggi. Pandangan Hadi dan Mimin bertemu, lalu laki-laki itu pun menangis sedih, campur bahagia.
"Terima kasih, sudah berjuang buat anak kita," ucap Hadi dengan suara yang parau.
"Sama-sama Mas, ini sudah jadi tugas seorang ibu, semua ibu di dunia ini pasti akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk anaknya." Mimin pun merasakan hal yang sama terharu dan bahagia karena kelahiran anak keduanya, sang suami pun benar-benar mendukung, menemani bahkan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Begitupun ke dua mertuanya.
Bahkan Ahmad pun langsung melakukan penerbangan ke Jakarta saat itu juga. Dan langsung menyusul Mimin ke rumah sakit. Beruntung sekali bukan memiliki mertua yang baik seperti mereka. Kebahagiaan mereka pun bertambah dengan lahirnya anak perempuan yang sangat lucu dan menggemakan apalagi cucu pertama dari keturunan keluarga mereka adalah perempuan. Bayi yang sejak lama ditunggu-tunggu kehadirannya.
"Tapi Mas nggak tega saat lihat kamu digunting dan dijahit anu-nya, sampai kebayang-bayang sampai sekarang."
Arum yang sedang menggendong cucu keduanya pun langsung kaget mendengar ucapan sang putra.
"Jadi kamu pingsan karena lihat jalan lahir Mimin digunting dan dijahit? Lagian kenapa dilihat?" tanya Arum, kenapa berani sekali Hadi melihatnya.
"Penasaran Mah, Hadi lihat semua dari anak Hadi mau keluar sampai keluar makanya kepalanya langsung pusing," balas Hadi masih merasakan pusing dan ngeri setiap mengingat kejadian beberapa jam tadi.
"Harusnya jangan dilihat Mas, lagian kenapa Mas lihat kebawah sih harusnya di samping Mimin aja," ucap Mimin yang tidak sadar kalau ternyata suaminya menonton diam-diam proses lahirannya.
"Kan kamu ada Mamah yang temenin. Karena penasaran Mas lihat aja nggak nyangka kalau segitu mengerikannya. Jadi takut buat punya anak lagi," ucap Hadi dengan serius.
"Loh kok takut. Aku malah pengin nambah lagi loh Baba, kasihan Iko dan Zahra kalau hanya punya adik satu minimal nambah satu lagi lah," goda Mimin yang langsung di dukung ke dua mertuanya.
__ADS_1
"Jangan lah Sayang dua aja udah cukup, kan keluarga berencana. Mamah dan Papah juga anaknya dua doang." Yah, Hadi nampaknya bener-bener trauma dengan lihat istrinya melahirkan.
"Mamah, dan Papah anaknya cuma dua karena memang udah nggak bisa nambah lagi Di, kalau bisa nambah pasti kamu punya adik bukan hanya Handan." Arum langsung menimpali. Yang mana Hadi langsung menoleh ke sang mamah.
"Punya adik satu aja ngeselin nya sampai ubur-ubur apalagi banyak," balas Hadi, masih ingat aja kejahilan adiknya.
"Kan nggak semua adik sifatnya kaya adik kamu. Mungkin saja yang satu ngeselin yang satu bisa diajak kerja sama," balas Ahmad.
"Jadi nggak apa-apa kan yah Mah kalau nambah cucu lagi satu atau dua," balas Mimin dengan semangat.
"Ya kalau Mamah dan Papah mah seneng malah, kalau kalian nggak mau ngurus. Mamah dan Papah siap nampung, mau berapa saja yang dititipkan bakal Mamah urus dengan baik, bahkan Mamah akan berhenti kerja demi cucu." Jelas Arum semangat banget kalau nambah cucu lagi.
"Tuh Mas, Mamah dan Papah juga setuju kalau nambah lagi." Biasanya yang semangat buat anak dari pihak suami meskipun istrinya masih panas di bagian bawah, walaupun itu hanya bercanda. Namun, kali ini beda justru Mimin yang nampak semangat meskipun ya wanita itu juga bercanda. Ya kali di bawah aja masih nyeri dan berasa sakitnya, udah mau nambah aja.
"Jangan deh Yang, ampun deh kalau Mas harus temani lahiran," jawab Hadi masih kekeh juga hanya ingin anaknya dua saja.
"Kan ada cesar Mas. Bisa cesar kaya Lydia kalau nggak boleh normal lagi." Mimin pun nggak kalah usaha agar suaminya mengizinkan punya anak lagi. Benar kata mertuanya kalau bisa punya anak jangan dua biar hari tuanya bahagia dengan banyak anak. Mumpung masih usia produktif, produksi anak yang cukup biar rame rumahnya.
Mimin pun mengembangkan senyum bahagianya. Karena boleh hamil lagi. Meskipun dengan syarat cesar. Mungkin Hadi belum tahu kalau cesar juga lebih sakit dari lahiran normal.
"Mah, ngomong-ngomong sini dong anak Hadi. Masa dari tadi dikuasai sama kakek dan neneknya." Hadi bahkan belum menggendong anaknya.
"Ngomong-ngomong Hadi harusnya Adzan di telinga si cantik kan?" tanya Hadi ketika melihat anaknya yang sedang pulas tertidur.
"Kalau kamu mau nggak apa-apa diulang, tadi Papah sudah gantikan. Abis kamu malah pingsan," Ucap Arum. Hadi pun langsung menatap Ahmad yang sedang duduk santai tanpa dosa.
"Kenapa jadi Papah yang Adzanin anak Hadi. Padahal ini momen yang ditunggu-tunggu sama Hadi." Laki-laki itu tidak terima ketika Ahmad mendahului mengadzankan si cantik.
"Makanya nanti kamu bikin anak lagi, terus pas istri habis lahiran jangan pingsan. Biar nggak keduluan ayah kamu." Arum jelas membela suaminya.
"Udah nih sekarang adzankan anak kamu. Biar tahu suara babanya." Arum memberikan cucu cantiknya. Hadi pun langsung mengambil anaknya dan melakukan kewajibannya sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Tidak henti-hentinya Hadi mengagumi anaknya yang sangat cantik. "Mah, kok kayaknya wajah Hadi nggak ada di anak Hadi yah. Masa mirip mamahnya semua. Padahal bikinnya berdua," keluh Hadi ketika anaknya lebih mirip istrinya.
"Ya udah bikin lagi Mas, siapa tau anak ke tiga nanti mirip Mas." Mimin tak henti-hentinya meledek suaminya.
"Nanti dulu deh Sayang, ini aja masih kebayang melahirkan itu seperti apa, lah kamu malah mau nambah-nambah terus. Nanti lah tunggu si cantik dua atau tiga tahun," jawab Hadi dengan pasrah. Seharusnya yang bilang gitu Mimin bukan kamu Baba.
"Berati puasa yah Ba," goda Mimin dengan mengembangkan senyum santai.
"Ya tidak puasa juga Sayang, kalau ngadon mah sekarang juga ayo, tapi jangan dijadiin." Lah siapa sih yang kuat puasa sampai tahun-tahunan sedangkan istri ada di sampingnya.
"Yeh, kirain kalau nggak mau punya anak itu tandanya puasa."
"Jangan Sayang, gak kuat lah kalau puasa." Hadi berbisik di belakang telinga sang istri takut dijewer mamah Arum. Istri baru brojol ngomong ngadon kalau tegang ya gawat.
Zahra pun nampak betah banget di gendongan babanya bahkan yang lain istirahat karena hari sudah larut Baby Zahra justru ngajak bergadang Baba Hadi. Hadi sendiri pun sangat menikmati peran pertama jadi ayah sesungguhnya. Untung tadi udah pingsan sampai berjam-jam jadi sekarang bisa diandalkan jaga anaknya di saat yang lain istirahat.
...****************...
Adik Zahra lagi main sama Baba.
Abang Iko mau jemput Adik Zahra, mau diajak naik motor keliling komplek.
...****************...
#Mohon dukungannya novel baru othor yah, biar rame gak kaya kuburan baru di malam jumat.
__ADS_1