Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Kecemasan Lydia


__ADS_3

"Kamu kenapa kok tersenyum terus? Ada yang aneh?" tanya Mas Aarav ketika kita berjalan di lorong rumah sakit.


"Tidak Lydia hanya merasa lucu, dari awal Lydia takut kalau Mimin juga masih suka sama Mas Aarav, dan kalian saling bermain belakang mengingat Mas kayaknya masih cinta sama Mimin, tapi ternyata ketakutan Lydia justru tidak terjadi, Mimin malah seolah lupa dengan Mas, atau..."


"Kenapa kamu bisa terpikikan kalau Mas masih mencintai Mimin? Kenapa kamu harus punya pikiran seperti itu?" tanya Mas suami yang langsung memotong ucapan aku.


"Dari cara Mas berbicara, dan cerita, Lydia bisa simpulkan kalau Mas masih sangat mencintai cinta pertma Mas, mungkin memang Mas berkata tidak, tetapi Lydia bisa merasakan hal yang lain oleh sebab itu Lydia yakin kalau Mas masih mencintai Mimin," ucapku dengan nada suara yang serius.


"Bukannya Mas dulu bilang hanya ingin tahu keadaanya, bukan bilang masih suka, lagian mana mungkin Mas melepaskan istri untuk wanita yang belum tentu baik untuk Mas. Mas tidak sebodoh itu," balas Mas suami dengan nada bicara yang terdengar kecewa.


"Maafkan Lydia, kalau pikiran ini berpikir sampai sejauh itu. Yah, Lydia akui, Lydia memang masih sangat rendah kesabarannya, terutama untuk menahan cemburu, Lydia akan langsung merasa ketakutan kalau Mas akan meninggalkan Lydia untuk wanita lain, maafkan Lydia," ucapku yang sebenarnya aku hanya ingin menyudahi obrolan ini. Aku tahu Mas suami kecewa dengan tuduhanku, tetapi entah mengapa aku justru merasakan hal yang lebih, atau memang ini hanya perasaan aku yang terlalu berlebihan?


Yah, aku memang sangat posesif dengan apa yang jadi milikku, aku tidak sehebat orang di luaran sana yang bisa dengan sabar menatap pasanganya bercengkrama dengan lawan jenis dengan hangat meskipun itu adalah hubungan teman saja, tetapi aku tetap saja  merasa cemburu.


"Bukan kamu yang minta maaf, harusnya Mas yang minta maaf. Kita lupakan masalah itu," balas Mas suami yang mungkin dia bisa mengartikan arti nada bicaraku yang bisa dibaca kalau aku sangat kecewa dengan jawaban Mas suami.


"Lupakanlah, kita buruan yuk jalannya. Kasihan dokter Sera yang jagain Iko, takut lapar atau justru ngantuk," balaski, dan kami pun  bersama-sama melebarkan langkah kaki untuk segera sampai di mobil dan segera pulang, rasanya sudah sangat ngantuk.


"Dok, maaf yah lama. Abis tadi Mimin kebetulan sudah sadar jadi kami ngobrol sebentar," ucapku ketika dokter Sera terlihat sudah kelelahan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Lydia. Iko juga anteng tidak nangis, dan juga tidak bangun. Mimin udah sadar? Alhamdulillah, terus sekarang kondisinya bagaimana?" tanya dokter Sera dari nada bicaranya bisa diartiikan kalau wanita paruh baya itu sangat cemas dan juga sangat terlihat bahagia karena Mimin sudah sadar.


"Yang pasti jauh lebih baik dari Mimin yang dulu, Mimin yang sekarang bisa diajak untuk kerja sama, dan tentunya sudah banyak perubahan dengan semangat untuk sembuh," jawabku dengan senyum merekah bahagia, yah itu yang aku rasakan. Aku sangat bahagia karena pada kenyataanya semangat Mimin saat ini sangat berbanding terbalik dengan sebelumnya.


"Alhamdulillah, kalau gitu dokter mau lihat Mimin, kalian hati-hati yah. Dan titip Iko yah, dia anak yang baik." Dokter Sera langsung memberikan Iko padaku, karena ingin lihat Mimin yang sudah sadar. Dan kami pun langsung pulang ketika dokter Sera sudah masuk ke dalam rumah sakit.


"Sayang ngomong-ngomong kamu tadi kayaknya mau kasih info sesuatu, kira-kira info apa?" tanya Mas Aarav masih penasaran, sedangkan sebenarnya aku bukanya lupa, tapi takut saja, kalau semakin banyak yang tahu kebenaran Iko malah nantinya akan semakin mudah untuk bocor sampai keluarga ayah kandung Iko.


"Info yang mana lagi sih, kayaknya semuanya udah dibilangin?" tanyaku pura-pura lupa.


"Tadi yang bilang kalau Mimin yang minta, dan atas permintaan Lydia juga, Mas Aarav pasti akan kaget kalau Lydia cerita semuanya. Semua akan Lydia ceritakan, tetapi tidak di sini, ada waktu dan tempat yaang lebih baik, tapi bukan di sini." Mas Aarav mengikuti ucapan aku tadi.


"Kok Mas jadi berasa horor yah," ucap Mas suami, sembari menunjukkan rasa makin penasaran.


"Yah memang seperti itu, rahasia yang ini benar-benar penting dan kalau bocor resiko terbesar kita akan kehilangan Iko."


"Mas janji tidak akan membocorkannya. Ayolah cepat katakan biar nggak penasaran nih," balas Mas suami dengan nada bicara yang semakin tidak sabar ingin segera tahu rahasia yang aku maksud.


Aku pun menatap Iko, dan rasanya hati ini tercubit sakit ketika kembali ingat ucapan Mimin, kalau anak setampan dan sepandai ini mereka minta bunuh, meskipun Iko belum lahir pasti  dia juga bisa merasakan apa itu sakit ketika digugurrkan secara paksa. Untung Mimin tidak pernah terprovokasi dengan uang-uang yang mereka janjikan, meskipun untuk jumlahnya dua milliar sangat besar, tetapi wanita itu sangat teguh dengan pendiriannya tetap memilih mempertahankan buah hatinya yang sudah jelas hartanya tidak ternilai dengan materi.

__ADS_1


"Ini ada hubungannya dengan orang tua Iko, tepatnya dengan ayah biologis Iko," jawabku dengan suara yang lirih, entah mengapa setiap aku membahas masalah itu dadaku sakit tenggorokanku seperti ada yang mencekik, meskipun kiah ini tidak aku alami sendiri tetapi aku bisa merasakan sakit yang Mimin rasakan.


"Yah, tentang ayah biologisnya yang sudah meninggal maksud kamu?" tanya Mas suami dengan santai.


"Itu memang yang Lydia katakan, dan atas permintaan Mimin, tetapi kenyataanya ayah biologis Iko masih hidup, dan mungkin bisa saja mencari Iko dan mengambil Iko mengingat Mimin kondisinya tidak bisa merawat Iko. Itu sebabnya Mimin titipkan pada kita, tetapi lagi-lagi surat di mata hukum kita tidak kuat sehingga membuat Lydia semakin bingung dan takut kalau Iko nantinya akan jatuh ke tangan laki-laki itu, apalagi keluarga mantan suami Mimin cukup berkuasa,"jelasku dengan nada yang serius.


"Bisa jelaskan siapa keluarga suaminya, dan kamu bukanya besok akan temanin Mimin untuk menjalani pemeriksaan tolong tanyakan seberapa persen Mimin sembuh, kalau besar kita jangan buat surat adopsi, karena itu akan membuat pengadilan menganggap Mimin tidak bisa menjaga Iko, takutnya dalam waktu satu tahun setengah, keluarga ayah biologis Iko sudah tahu anak Mimin, malah makin mudah mereka untuk mengambil Iko karena status Iko yang sedang kita adopsi (Dalam kata lain orang tua kandung tidak mampu memberikan perlindungan untuk anaknya, dalam kasus Iko, Ibu). Sehingga dinas sosial akan mengambil Iko dan besar kemungkinan apabila ayah biologis mengajukan hak asuh, pasti akan lebih dulu jatuh ke orang tua secara biologis. Makanya untuk jaga-jaga kita harus sembuhkan Mimin, untuk memberikan perlindungan Iko, karena dalam kasus ini Mimin paling kuasa, apalagi kalau ada tindakan ancaman dari mantan suaminya, pengadilan tidak bisa memisahkan Mimin dengan anaknya. Karena pihak laki-laki (Ayah kandung) pernah melakukan ancaman mengenai keselamatan berdua," jelas Mas suami yang membuat aku semakin bingung.


"Terus yang kita harus lakukan apa? Mengingat Mas kenal betul dengan keluarga ayah biologis Iko," balasku, semakin merasa kalau Iko sangat terancam bisa saja jatuh ke tangah David.


"Siapa keluarga ayah biologis Iko, yang kamu maksud?" tanya Mas suami semakin penasaran.


"Tuan Wijaya, dan David adalah ayah biologis Iko," jawabku dengan suara bergetar.


"Sudah aku duga."


Bersambung....


Papah Aarav, Bunda Lydia dan Bayi Iko. mau nyapa pembaca dulu, semoga masih lancar puasanya. ....

__ADS_1



__ADS_2