Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Trauma Itu Masih Ada


__ADS_3

[Hai Min, kamu ke mana aja, aku baru aja telpon kamu, tapi nggak diangkat-angkat.] sapa Lydia dengan gaya santainya. Bukan gaya santai, tetapi lebih tepatnya mencoba untuk santai.


Ckkk... Mimin dari sebrang telepon berdecak cukup keras, tentu ia tahu kalau sahabatnya yang ketahuan sedang ghibah dirinya mencoba untuk mengalihkan agar ia tidak kesal.


[Bagus yah... ghibah terus yah...]


[Ma... maksud kamu apa sih Min...?] tanya Lydia dengan terbata.


[Kok tanya sama aku, kamu tadi ngomong apa? Aku denger semua yah Lyd...] balas Mimin, berbicara dengan nada yang ketus.


[Hehehe... itu hanya hiburan saja Min, jangan baper lah. Eh lihat nih Iko tahu kalau Mamahnya telpon dia langsung lihatin gitu.] Lydia pun pada akhirnya mengalihkan perhatian agar Mimin tidak membahas apa yang tadi dia bicarakan dengan suaminya.


Iko pun yang sedang main, karena merasa namanya dipanggil langsung mengangkat wajahnya, dan menatap Lydia.


"Sini Sayang, Mamah telpon." Sekali lagi Lydia memanggil Iko, untuk membantu mengalihkan Mimin dari rasa marahnya. Ya meskipun Lydia yakin Mimin tidak benar-benar marah.


Sementara Aarav sendiri terkekeh dari hadapan Lydia, yang ia akui kalau sang istri sangat pandai membuat Mimin lupa dengan perbuatan mereka, ia memang payah sekali bisa-bisanya sedang telpon dengan Mimin, malah gosipin orangnya. Sontak wanita itu kesal lah. Tapi tenang Mimin tidak sebaper yang lainya kok, dia tetap santai meskipun sama temanya dighibahin berjamaah.


"Ma... mama..." oceh Iko sebari berjalan ke arah sang bunda.


"Iya ini Mamah. Coba Iko tunjukkin gigi barunya." Lydia menunjukan gigi baru sang putra pada Mimin.


[Lihat deh Min, gigi Iko sudah banyak banget, sebentar lagi bakal penuh.]

__ADS_1


[Ma... Mama... ] Iko menyapa sang ibu dengan melambaikan tangannya. Mimin pun membalasnya dengan sapaan yang sama dan sangat gemas karena anaknya sangat pandai, dan tentunya tampan.


Mimin pun terus mengalihkan pandangannya pada Lydia, setelah puas ngobrol dengan Iko menggunakan bahasa bayi.


[Emz... pinter banget emang Bunda kamu Sayang. Dia bikin Mamah nggak bisa marah lagi,] Mimin dari tempat lain pun tidak jadi menyentil sang sahabat, karena pada kenyataanya ada Iko yang sangat dia rindukan. Dan bisa meredam marahnya.


[Hehe... anggap aja tadi itu dukungan untuk kamu Min, lagian kami ngomongnya bukan hal yang jelek-jelek kok, malah semua yang kita omongin adalah harapan kita. Emang kamu nggak mau berumah tangga lagi.] Lydia malah membahas masalah lain di saat ada Iko di hadapannya.


[Entahlah, gak kepikiran,] jawab Mimin, singkat dengan melihat putranya yang sedang asik bermain lego lagi.


[Jangan gitu, kamu masih muda masih banyak yang mau dengan kamu, kalau memang laki-laki itu baik dan bisa menerima kamu apa adanya, dengan banyak kekurangan dan kelebihan kamu. Kamu jangan tutup hati kamu.]


[Tapi aku masih belum siap untuk memulai lagi ke hubungan yang lebih serius.]


[Yah, sebagian ada sangkut pautnya dengan David, dan sebagian lagi ada dari masalah lalu keluarga aku. Kamu pasti tahu bagaimana hubungan aku dengan keluargaku. Sebenarnya dari sebelum dulu aku memutuskan hubungan dengan David ada keraguan dan rasa takut yang sangat besar dengan pengalaman yang aku lihat dari rumah tangga ayah dan ibuku, tetapi aku mencoba percaya bahwa setiap laki-laki itu memiliki perbedaan dan tidak semuanya sama. Tapi lagi-lagi benteng kepercayaan yang aku bangun dengan segala keyakinan, justru menambah citra buruk terhadap suatu hubungan pernikahan, aku benar-benar nggak tahu bagaimana biar percaya bahwa rumah tangga itu ada nilai positifnya. Aku sudah terlalu buruk dengan pandangan kalau berumah tangga itu hanya akan membuat hati sakit. Aku lebih nyaman dengan sendiri.]


Lydia yang merasa kalau obrolan ini memang cukup serius pun memberikan kode pada sang suami agar membawa buah hatinya ke luar dulu. Agar dirinya bisa berbicara hanya berdua dengan sahabatnya.


Aarav pun yang tahu kode dari sang istri pun langsung mengajak Iko bermain bola di ruang keluarga.


[Aku tahu bagaimana perasaan kamu, dan aku juga kalau berada diposisi kamu, entah sanggup atau tidak untuk menjalani ini semua. Tetapi kita sebagai hamba Allah, selalu berpikir positif tidak selamanya Allah memberikan ujian pada kita. Allah pasti tahu kapan kita diuji dan kapan Allah akan mengatakan kita bahagia, karena sudah melewati ujian yang berat itu.]


[Yah aku tahu apa yang kamu katakan, Abah dan Ambu juga selalu mengatakan hal yang sama. Bahkan aku sendiri kadang iri dengan kamu yang bisa bahagia dengan Aarav. Tidak memungkiri aku ada rasa ingin seperti kalian, bisa saling memberikan energi positif. Bisa saling mendukung satu sama lain, bahkan aku melihat kalau rumah tangga kalian adalah rumah tangga yang sempurna. Tapi satu sisi aku juga masih tidak bisa percaya sepenuhnya, karena pengalamanku benar-benar pahit. Bahkan, kadang kalau sendiri aku masih suka bertanya pada diriku sendiri, mampukan aku melewati ujian ini semua? Ini berat banget puluhan tahu aku di uji yang benar-benar berat, tidak gila saja aku masih bersyukur, makanya untuk percaya lagi itu sulit Lyd.]

__ADS_1


Suara dari sebrang sana makin melemah, yang Lydia tahu kalau sahabatnya sedang merasakan kesedihan yang luar biasa. Ingin ia memeluk dan memberikan dukungan untuk sahabatnya itu. Tetapi posisi mereka jauh.


Sedangkan Hadi sendiri yang dari awal memilih rebahan di sofa, ia mendengar semua obrolan yang keluar dari bibir Mimin, matanya memang terpejam tetapi tidak dengan indra pendengarannya. Indra pendengarannya bekerja dengan sangat baik.


[Aku yakin, Mimin itu wanita yang paling kuat yang pernah aku temuai. Kamu ingat tidak pertama kita kenal, kamu itu wanita yang jago bela diri, ketus dan dingin, tetapi kita bisa sedekat ini. Aku padahal dulu takut kalau mau berdekatan dengan kamu, takut kamu tersinggung dengan omongan aku, tetapi kamu itu lain. Hanya kamu yang bisa mempertahankan persahabatan kita sampai sekarang. Aku tahu begitu banyak cobaan yang berat dan berat banget yang sekarang  sudah kamu hadapi. Kini kamu saatnya berbahagia. Berumah tangga itu memang ada yang gagal, tetapi kamu jangan ada rasa trauma, karena tidak semua laki-laki itu memiliki sifat yang sama. Aku yakin dan sangat yakin, kalau nanti pasti ada satu laki-laki yang benar-benar bisa menyembuhkan luka dan trauma kamu. Akan ada laki-laki yang menghapus air mata kamu dan memberikan kebahagiaan itu, dan apabila itu terjadi aku yakin David akan sangat menyesal.]


"Kamu tidak tahu Lyd, hari ini saja. Aku hampir mati karena laki-laki yang pernah menjadi imamku," batin Mimin, dengan mengusap butiran bening yang sudah menetes di pipinya.


[Amin, aku juga mengharapkan itu semua terjadi,] balas Mimin dengan suara yang lemah.


[Yah, kalau gitu kamu harus belajar memilih laki-laki yang benar-benar baik untuk kamu, jangan lupa kamu minta petunjuk pada Allah. Sertakan Tuhan untuk memberikan keputusan.]


[Iya, tapi ngomong-ngomong ke mana anak aku. Aku telpon mau ngobrol dengan Iko, kenapa kamu jadi membahas jodoh...] Mimin mulai sadar dan mencoba mengalihkan obrolan yang berat ini. Kalau dibahas terus pasti akan nangis, sehingga caranya ngobrol dengan jagoannya.


[Oh astaga Mimin, Kita terlalu asik ngobrol, sampai-sampai Iko sudah keluar bermain di taman kayaknya. Biar aku panggil...] Lydia segera beranjak dari duduknya.


[Dasar emak-emak, pikun...] sungut Mimin dengan berkelakar karena mereka sudah menghabiskan waktu lama hanya membahas jodoh, yang utama untuk ngobrol dengan anaknya malah kelupaan.


Bersambung....


...****************...


__ADS_1


__ADS_2