Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Iko Alarm Untuk Sahur


__ADS_3

"Jadi kapan kita akan menemui ibu kandung Iko?" tanya Mas suami, dengan pandangan mata terus menatap jagoan kami.


"Apa Mas akan ikut mengantarkan Lydia dan Iko untuk menemui teman Lydia itu?" tanyaku untuk memastikannya meskipun sudah pasti kalau mas suami pasti tidak akan membiarkan aku dan Iko hanya pergi berdua saja.


"Oh ya jelas Sayang, mana mungkin Mas membiarkan kalian pergi hanya berdua. Mas harus ikut," balas Mas suami membuat hati ini sangat bahagia karena ternyata Mas suami benar-benar peduli dan memastikan keamanan kita. Bahkan rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengantar kami.


"Lydia sedang tunggu kabar dari dokter Sera kalau sudah boleh menjenguk pasti secepatnya, lagian Lydia lihat kalau Iko itu juga sepertinya sangat rindu dengan ibu kandungnya, buktinya saat tadi Lydia berbicara dengan dokter Sera jagoan kita tersenyum-senyum, meskipun matanya terpejam, yang artinya dia juga seolah merasakan bahagia karena sebentar lagi akan ketemu dengan wanita yang telah melahirkannya."


"Tapi apa kalau nanti ibunya sembuh dan mau merawat Iko lagi, apa kamu tidak akan keberatan?" tanya Mas suami dengan suara yang seperti berat.


"Jujur, kalau Lydia nggak yah, bagaimanapun wanita itu adalah ibu kandung Iko, anak laki-laki sampai kapanpun surganya ada di ridho sang ibu, dan Lydia yang sesama wanita tidak ingin menghancurkan mimpi wanita lain, dan kalau memang wanita itu sembuh dan ingin mengambil Iko lagi dan Iko juga betah dan tercukupi, Lydia tidak akan keberatan, Lydia tetap akan berterima kasih karena sudah diberikan kesempatan untuk merawat bayi yang sangat lucu seperti Iko, dan tentunya apabila itu terjadi semoga saja kita sudah memiliki keturunan dari rahim Lydia, tapi itu semua juga terserah pada Mas juga kalau Mas keberatan Lydia tidak akan memaksakan kehendak Lydia, kita tetap bisa mengambil keputusan bersama," jawabku yang melihat wajah mas suami seperti berubah murung. Yah, Iko adalah anak pertama kami sehingga pasti ada rasa berat apabila harus dikembalikan pada ibu kandungnya. Meskipun pasti Iko juga masih akan sering main ke rumah kita.


"Apa yang kamu katakan semuanya benar, dan kita tidak boleh egois."

__ADS_1


Kami pun malam ini benar-benar bercerita dengan santai, tetapi bagi aku ini sangat berharga, karena hampir semua unek-unek aku bisa di ceritakan pada Mas suami, dan Mas suami pun terlihat bisa diajak untuk berdiskusi dengan hangat hingga tanpa terasa kami pun terbuai ke alam mimpi.


Seolah menjadi kebiasaan Iko akan bangun sebagai alarmnya kami, yah bayi tampan itu seolah sudah tahu kalau di jam dua ia harus minum susu sehingga di jam dua ia akan menangis dan suaranya selalu menjadi alarm paling ampuh, yah karena berkat tangisan Iko aku pun langsung bangun.


"Selamat malam ganteng. Kamu haus yah. Tunggu yah Bunda akan buatkan susu untuk kamu. Susu paling enak buatan Bunda untuk jagoan," ucapku selalu mejadi kebiasaan untuk mengajak ngobrol jagoanku. Dan seperti biasa lagi setelah kenyang jagoan akan ngoceh kali ini untuk membangunkan papahnya.


"Papah bangun Pah, Yuk kita sahur. Besok puasa loh. Iko aja udah bangun."



"Jagoan pinter banget sih bangunkan Papah tiap hari. Tahu yah Sayang kalau Papah harus bangun untuk sahur," ucap Mas suami dengan bermain dengan Iko, dan aku pun sama seperti biasanya akan membersihkan tubuh dulu setelah itu mengajak Iko ke bawah untuk menyiapkan sahur selagi Mas suami bergantian untuk membersihkan tubuh.


"Hari ini ada makanan yang ingin Mas makan tidak? Atau seperti biasa terserah Lydia?" tanyaku untuk memastikan lagi menu makan sahur.

__ADS_1


"Terserah Bunda, untuk pilihan makanan dari Bunda itu sejauh ini tidak ada yang gagal," jawab Mas suami yang membuat aku semakin gede rasa. Yah, dengan di temani Iko kami pun masak bersama dan selalu sahur bersama-sama dengan Bibi dan juga yang lainya.


"Mas untuk lebaran tahu ini kita tidak mudik, katanya Ibu dan Bapak yang akan main ke rumah kita kamu tidak keberatan kan? Mungkin Ibu dan Bapak ingin merasakan lebaran dengan suasana yang berbeda," ucapku setelah aku membaca pesan yang Bapak tuliskan. Ya, meskipun kalau aku menebak Bapak dan Ibu hanya ingin mengurangi rasa sedihnya karena lebaran Tahun ini anak-anaknya pada tidak merayakan lebaran di rumah Lyra dan Lyka sudah tidak pulang ke rumah dan pulang mungkin dua atau tiga tahun ke depan, dan soal Lysa pasti juga akan ke rumah mertuanya sehingga pasti Ibu dan Bapak akan merasakan kesepian, dan itu sebabnya mereka mungkin lebih memilih merayakan lebaran di rumah kami, mengingat mereka juga selama ini belum pernah berkunjung ke rumah kami dan juga ke rumah besannya.


"Wah itu malah ide bagus dong, kita jadi tidak usah jauh-jauh untuk mudik apalagi ajak Iko rada ribet kasihan juga kalau diajak berpergian jauh. Iya kalau Amora pulang itu bisa pinjam pesawat pribadinya, tapi juga kayanya tetap beresiko kalau Iko naik pesawat juga masih terlalu kecil, udah paling benar tetap di rumah dan Ibu dan Bapak yang lebaran di sini."


Aku pun langsung mengabarkan ucapan Mas suami yang tidak keberatan kalau Bapak dan Ibu lebaran di rumah kami, malah Mas suami bahagia, dan aku juga sangat senang itu tandanya rumah ini akan ramai dengan keluargaku yang akan main ke sini. Ah rasanya malah jadi tidak sabar untuk segera datang hari raya itu.


#Sabar Lydia, baru juga puasa lima belas hari.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


Mampir ke novel othor yuk, ini novel Event mungkin aja ada yang mau mampir buat beri dukungan sama Mbak Livy dan Oliv.



__ADS_2