Pembantu Spesial Untuk Om Duda

Pembantu Spesial Untuk Om Duda
Jalan-Jalan Keluarga Bahagia


__ADS_3

Ye, Iko juala Kakek dan Nenek kalah...." Iko berjingkrak bahagia karena anak kecil itu lebih dulu sampai di rumah sedangkan kakek dan neneknya baru sampai.


"Wah Iko hebat selamat yah Sayang sudah jadi juara." Baba Hadi pun memberikan selamat dan hadian ciuman bertubi-tubi pada anak tirinya yang makin hari makin pandai.


"Terima kasih Baba." Iko mengucapkan dengan senyum yang tidak ada hentinya.


"Kalian belum sarapan kan?" tanya Arum dengan meletakan hasil buruan pagi ini. Rasanya kurang afdol kalau ia tidak membeli aneka jajanan yang berjajar dengan rapi dan dengan rasa yang jelas nikmat dan lezat.


"Kebetulan belum. Mamah beli apa?" tanya Mimin dengan mengecek kantong makanan satu persatu.


"Ada baso, pecel, ketoprak dan ada cilok dan somay juga. Mamah tidak tahu kamu suka makanan apa jadi Mamah beli semua aja. Kamu bisa pilih sendiri mau makan yang mana," ucap Arum.


"Aku mau coba baso dan pecel Sayang." Hadi tiba-tiba pengin makan baso yang kayaknya pagi-pagi makan baso terasa segar. Dan pecel ia kangen dengan makanan yang terbuat dari sayuran direbus dan di tabur dengan bumbu kacang.


"Nah Mamah beli pecel juga karena ingat kamu Di. Kamu kan suka banget makan pecel dan mendoan," balas Arum yang sudah jelas tahu betul makanan apa kesukaan anaknya.


"Wah, Kok Mas makanan kesukaannya sama dengan Mimin."


Yah Mimin juga menyukai makanan yang sama dengan Hadi.


"Wah, itu memang ciri-ciri jodoh kata orang Sayang," sahut Hadi dan Mimin. Sementara Mimin dan Hadi menikmati sarapan bersama dengan makanan yang dibelikan oleh Arum dan Ahmad. Iko sendiri saat ini sedang bermain air dengan kakek dan neneknya. Sepertinya Arum memang ingin menikmati kebersamaan dengan cucunya secara full sebelum besok akan pulang ke Kalimantan. Maklum anaknya yang satu lagi juga butuh penjagaan yang ketat agar tidak kecolongan. Apalagi anak yang satu playboy senior jadi harus ada penjagaan ketat agar tidak pulang-pulang minta dikawinin karena hasil tabungan sudah jadi.


Di hari libur ini Mimin dan Hadi serta keluarganya benar-benar menikmati hari kebersamaan yang hangat. Apalagi esok hari sang mertua akan pulang ke kampung halaman mereka. Sehingga di hari ini mereka memanfaatkan waktu untuk berkumpul dan jalan-jalan bersama.


"Iko, Sayang ayo dong kita nanti kesiangan loh," titah Arum. Itu karena hari ini keluarga mereka mengajak Iko dan yang lainya untuk jalan-jalan mengunjungi taman impian jaya ancol. Iko ingin melihat wahana ikan dan juga lumba-lumba. Kebetulan mumpung kakek dan neneknya masih ada di Jakarta mereka pun langsung mengabulkan apa pun  yang jadi keinginan anak kecil itu.


"Iya Nek, ini mau pake sepatu," balas Iko, ia sudah tidak sabar ingin langsung berlari dan segera sampai tempat di mana banyak ikannya. Yah, anak kecil itu memang baru kali ini diperbolehkan keluar rumah dan menikmati kebersamaannya. Sehingga ia sangat senang. Itu semua karena kasus dengan wijaya yang membuat dia terkurung di dalam rumah terus menerus, dan baru kali ini semuanya aman setelah kakek dan ayahnya di penjara.


"Kalian sudah izin pada Lydia dan Aarav?" tanya Ahmad pada Hadi dan Mimin yang selalu berduaan. Maklum pengantin baru, jauh-jauh mana tahan.

__ADS_1


"Sudah Pah, bahkan tadi Mimin tanya mau ikut atau tidak. Kata mereka tidak ikut, maklum kehamilan Lydia sudah jalan sembilan bulan mungkin takut kenapa-kenapa, apalagi hamilnya Lydia itu kembar dan kasihan juga perutnya besar banget lebih besar dari ibu hamil normal," balas Mimin menjelaskan hasil komunikasi dirinya dengan bundanya Iko.


"Iya sih kasihan dia juga, bukanya menikmati leburan malah kecapean nanti. Kalau kamu sudah tanya pada Lydia kan setidaknya sudah tenang," balas  Ahmad, laki-laki. itu paham betul kalau Lydia dan Saran memiliki hak atas Iko lebih besar dari Mimin sebagai ibu kandungnya sendiri. Sehingga lebih baik bertanya lebih dulu dari pada Aarav dan Lydia merasa tidak dihargai.


"Mamah ...." Iko keluar dari kamar dengan berlari.


"Hai, ini siapa? Kok tampan sekali, anak siapa ini kok sangat tampan?" Hadi justru mengangkat tubuh anaknya yang terlihat sangat modis dengan kemeja kotak berwarna hitam dan merah dengan sepatu yang sewarna membuat anak itu seperti sudah berusia lima atau bahkan enam tahun.


#Aduh ini udah telat harus jemput gebetan. Yang kangen Iko nih disapa sama si Tampan.



#Astaga, Iko lupa belum punya gebetan... Cus bari aunty yang mau jadi gebetan Iko deh.



"Kok anak Mamah doang, berati bukan anak Baba dong." Hadi berpura-pura merajuk, tetapi Iko langsung menatap Hadi dengan tatapan bersalah.


"Anak Babab juga sekalang. Kan Baba sama Mamah suami istli jadi Iko anak Baba juga dong ...." jawab Iko dengan menatap Arum yang ternyata membisikan jawaban dari pertanyaan Hadi.


"Emang kamu anak pinter." Hadi kembali memcium Iko dengan gemas.


"Udah yuk Sayang, ini sudah siang nanti malah macet dan juga rame lagi. Meskipun datang awal tapi namanya hari libur tetap saja rame dan macet." Ahmad dan yang lainya pun langsung naik ke dalam mobil masing-masing. Yah, mereka memang memiliki alasan menggunakan kendara sendiri-sendiri. Iko terus bersama Arum dan Ahmad.  Sedangkan Mimin bersama Hadi. Yah mereka memang sengaja diberi waktu untuk bersama. Meskipun alasan sesungguhnya adalah Arum dan Ahmad yang ingin menikmati kebersamaan bareng dengan cucunya, sebelum mudik.


Kalau Arum dan Ahmad akan berpisah esok hari. Sedangkan Hadi dan Mimin bisa kapan saja bertemu dengan Iko, itu alasan sesungguhnya Iko selalu dengan kakek dan neneknya.


Drettt ... ponsel Mimin bergetar yang menandakan ada pesan masuk. Tanpa menunggu lama wanita cantik itu pun langsung membuka pesannya.


Hadi menatap Mimin, yang nampak terkejut dengan sikap Mimin setelah membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


"Ada apa Sayang, aku lihat kamu seperti terkejut seperti itu? Pesan dari siapa?" tanya Hadi dengan suara yang sangat nyaman di dengar.


"Julio ..."  Mimin menunjukkan ponselnya di mana Julio meminta agar Mimin dan dirinya menemui pengacara keluarganya. Untuk mengetahui wasiat dari Lukman, dan juga rahasia di balik kematian ibunya. Yang mana Mimin sudah memaafkan ayahnya dan mencoba untuk berdamai apa pun yang terjadi di antara mereka yang sudah lewat belasan tahun.


Hadi membaca pesan yang dikirimkan oleh kakak iparnya. Setelah membaca pesan itu Hadi pun langsung menatap Mimin dengan tatapan yang mengandung seribu pertanyaan.


"Aku tidak bisa memberikan solusi karena untuk jawabannya ada di kamu. Apakah kamu siap mengetahui fakta itu?" tanya balik Hadi pada Mimin yang wajahnya tak seceria tadi saat pertama berangkat akan menikmati liburan bersama.


"Jujur kalau dibilang penasaran, pasti penasaran banget, tapi Mimin juga ada rasa takut kalau ternyata apa yang Mimin takutkan memang benar adanya sehingga rasa ikhlas yang sudah Mimin  bangun akan roboh dan kembali membenci Ayah. Hati ini belum sepenuhnya memaafkan baru belajar memaafkan sehingga bisa saya kembali membenci. Lalu menurut Mas bagaimana? Aku butuh masukan dan nasihat dari orang lain. Agar aku tidak salah mengambil keputusan?" tanya Mimin dengan menatap suaminya meminta masukan dengan keputusan yang akan dia ambil.


Hadi mendengarkan jawaban sang istri dengan sangat teliti. Setelahnya ia mengulas senyum dan mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut sebagai dukungan dari laki-laki itu.


"Kalau kamu minta pendapat dari aku, jelas aku akan minta kamu tetap temui pengacara ayah kamu, dan kamu dengarkan semua wasiat ayah kamu. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh kamu. Ketika tahu kebenaranya dan tidak sesuai dengan apa yang kamu katakan maka kamu akan kembali marah dan benci dengan almarhum ayah kamu, tetapi setidaknya kamu tahu kebenaranya, dan mungkin kamu juga bisa tahu apa yang dirasakan oleh ayah kamu sampai beliau melakukan itu semua. Atau justru kamu selama ini memang ada salah sangka, dan apa yang kamu pikirkan ternyata tidak seperti yang terjadi sebenarnya. Jadi lebih baik kamu temui pengacara ayah kamu, bersama dengan Julio juga. Agar kalian bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Sebagai seorang suami yang diminta memberikan masukan, jelas Hadi ingin istrinya bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi agar semuanya terbuka dengan jelas sejelas-jelasnya. Besar harapan setelah semuanya diketahui, maka Mimin akan jauh lebih tenang dan dalam pikirannya tidak ada lagi pikiran-pikiran yang negatif.


Mendengar nasihat dari sang suami. Mimin pun membuang nafas kasar. "Tapi nanti Mas bisa temenin Mimin kan untuk bertemu dengan pengacara ayah dan juga Julio?" tanya Mimin dengan memberikan tatapan mengandung permohonan.


"Jelas dong Sayang, Mas akan temenin kamu. Kamu bisa balas pada Julio kapan pertemuan itu akan diadakan. Mas akan selalu ada di samping kamu kapanpun kamu butuh Mas akan selalu menyempatkan waktu untuk kamu," balas Hadi. Laki-laki itu sekarang bisa bernafas lega karena Mimin kali ini jauh bisa dinasehati. Dan itu tandanya Mimin kali ini bisa menerima apa pun nanti yang akan terjadi.


Mendengar jawaban Hadi. Mimin memberikan senyum terbaiknya. Lalu wanita cantik itu meletakan kepalanya di dada bidang suaminya. "Terima kasih, karena selama ini sudah ada di samping Mimin, mungkin tanpa dukungan dari Mas Hadi dan yang lainya Mimin masih menyimpan kemarahan pada ayah. Dan Mimin akan menyesal seperti yang Julio rasakan pada almarhumah ibu." Air mata Mimin luluh. Rasa cinta paska menikah itu nyatanya jauh lebih indah dari apa yang Mimin rasakan dulu dengan mantan suaminya, dan itu adalah anugrah dari Tuhan yang luar biasa besar.


"Sama-sama, aku senang kamu sekarang jauh menjadi wanita yang lebih baik, dan perlahan bisa memaafkan masa lalu kamu yang kelam. Hati ini tidak salah memilih kamu." Hadi mencium pucuk kepala Mimin cukup lama. Kini pasangan pengantin baru itu sudah cuek meskipun di dalam mobil ada sopir pribadinya. Paling juga mamang sopir iri dan cenat-cenut lihat kemesraan Baba Hadi dan Mamah Mimin.


#Baba, kasih tuh Amang supir, takutnya istrinya jauh....


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2